LOGIN...Bab 83Pandangan berkabut hasrat dari sorot mata Ryuga membuat kepercayaan diri Dara mendadak memudar. Ia melangkah makin dekat, lalu tangannya meraih dagu Ryuga. Mengangkatnya agar pandangan mereka bertemu.“Jangan diliatin gitu, ih! Aku malu, Mas.”“Saya hanya mengapresiasi pemandangan yang sangat luar biasa, malam ini,” aku Ryuga jujur. Baginya ini adalah pemandangan perdana yang sangat mengagumkan.Ditariknya pelan pergelangan tangan Dara, tubuh mungil itu tergerak merapat tepat berada di depan Ryuga. Tali yang mengikat piyama Dara, ditariknya pelan sampai terlepas dan memperlihatkan kulit bersih mulus yang membalut lekuk tubuh istrinya.Ryuga memeluk Dara dan membenamkan wajah di perutnya. “Kamu cantik,” gumam Ryuga.Mereka terus berinteraksi saling mengagumi tubuh masing-masing dalam bentuk ciuman dan decapan yang berujung dengan berbagi desah penuh damba. Hin
...Bab 82***Hari sebelum insiden dengan Dara, Ryuga dipanggil menghadap Letkol Desta. Panggilan yang terbilang mendadak itu untuk mengkonfirmasi tugas mereka selanjutnya.“Kita baru saja mendapat foto kiriman dari pihak kepolisian, saat ini semuanya masih dirahasiakan. Tapi,…” Letkol Desta menjeda ucapannya untuk mendorong sebuah map ke hadapan Ryuga.“Kamu cek sendiri saja,” perintah Letkol Desta.Map berwarna putih dengan stempel kepolisian itu segera Ryuga buka. Dari dalamnya Ryuga mengeluarkan dua lembar berkas dan sebuah foto yang turut jatuh dengan posisi terbalik. Di sana tertera sebuah anam yang ditulis menggunakan bolpoint. Driga Satriya.Ketika Ryuga mengambil foto dengan tersebut dan membaliknya, didetik itu juga dadanya mencelos. Seluruh darahnya seperti mengalir dan berpusat di kepalanya.Jemari Ryuga sedikit bergetar. “Semoga penglihatan saya bermasalah,” gumamnya, parau.“Saya pun berharap demikian.” Letkol Desta mendengus panjang sembari menghempaskan punggungny
...Bab 81“Saya hanya tidak ingin melewatkan.” Ryuga menarik napas berat. Ada hal yang masih ragu untuk meluncur dari mulutnya, meski sangat ingin ia sampaikan.Senyum Dara mengembang, sudah lama dia tidak mendengar seseorang mengkhawatirkannya sedalam ini. Entah mendapat keberanian dari mana, kaki Dara tiba-tiba berjinjit untuk memberikan kecupan singkat pada bibir suaminya.“Mas, sebelum ada kamu aku udah terbiasa melewatkan semuanya sendiri dan masih hidup sampai sekarang,” ucapnya, setelah melepas ciuman mereka lebih dulu. “Jadi, kalau kamu khawatirin aku karena bakal ada tugas panjang mulai sekarang buang jauh-jauh perasaan itu, ya?”Ryuga menatap manik mata istrinya yang jernih. Benar juga, Ryuga ingin percaya semua keyakinannya. Namun, itu dulu. Dara tetaplah seorang wanita, terlebih lagi kali ini tugas yang Ryuga emban mau tidak mau akan mempertaruhkan keselamatan dirinya.“Mulai besok, kamu harus ikut saya lari pagi. Biar badan kamu jadi terbiasa berolahraga. Dan ingat-ing
...Bab 80Nadia setengah berlari mengejar langkah Ryuga. Dara tidak ingin tahu apa yang mereka bicarakan, memilih masuk ke mobilnya lebih dulu. Tapi, rasanya itu keputusan yang salah.Dari dalam mobil justru Dara bisa melihat jelas interaksi suaminya dengan Nadia. Perempuan itu jelas sekali sedang berujar akrab sembari bergelayut manja pada lengan Ryuga. Dan, lelaki itu hanya mengangguk singkat sebelum melepaskan tangan Nadia, lalu berjalan kembali memasuki mobil.Dara buru-buru mengalihkan pandangan saat pintu mobil terbuka.Perjalanan pulang mereka hanya saling diam. Dara berkutat dengan ponselnya, walau hanya sekedar keluar masuk beranda saja. Karena pada dasarnya Dara tidak terlalu suka bermain media sosial atau sejenisnya.Dia biasanya lebih sering menonton drakor, tapi kali ini juga tidak ada drakor yang mampu mengenyahkan bayangan Nadia yang menari-nari di kepalanya. Ryuga yang duduk di belakang kemudi tak bertanya apa-apa. Sesekali ia melirik, menyadari istrinya masih meren
...Bab 79Dara hanya mengaduk-aduk nasi di piringnya yang kian dingin. Topik pembicaraan di meja makan tidak asing bagi Dara, tetapi Dara rasa akan menjadi aneh kalau tiba-tiba ikut menyahutnya, dia akan terdengar seperti penyusup yang tidak mengerti dunia mereka..Dari sekian banyak obrolan mereka, yang paling Dara ingat adalah ibu-ibu sibuk memuji Nadia yang katanya sudah siap berumah tangga setelah beberapa tahun menjadi relawan PBB di luar negeri.Dara hanya tersenyum menikmati kebahagiaan di ruang makan malam itu. Tidak ada yang mengapresinya, bahkan Ryuga sekali pun. Pria itu sibuk sendiri dengan makanannya.Sampai akhirnya Zio muncul berlarian dari kamar sambil berteriak kecil memangilnya. “Bunda,… bau ikan gorengnya enak!”Seketika itu juga Dara berasa dihujani salju setelah merasakan panasnya suasana di sana. Sebelum Dara sempat membalas, seseorang m
...Bab 78Dari tempat latihan, pasutri itu menuju kediaman orang tua Ryuga. Dara yang kelelahan sempat tertidur di mobil dan baru dibangunkan saat mesin kendaraan dimatikan. Begitu kesadarannya penuh, Dara melihat sekeliling.Di pekarangan rumah terparkir mobil lain yang Dara yakin itu bukan mobil mertuanya.“Mas, mama ngundang siapa? Saudara?”Ryuga turut melihat ke arah pandang istrinya. “Itu teman Papa.”Dara ingin bertanya lebih jauh, tetapi Mama Amanda sudah membukakan pintu menyambut kedatangan mereka.“Halo sayang, gimana kabarnya? Sehat?” sapa Amanda, langsung memberi Dara sebuah pelukan hangat.“Sehat, Ma. Mama sama papa sehat?”“Kebetulan sore ini mama juga ada tamu, nih. Mama mau kenalin menantu mama yang cantik ini sama mereka.”Dara tersipu dibuatnya. Diperkenalkan dengan bangga sebagai seorang menantu adalah sebuah prestasi yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.Mereka berdua dibawa masuk ke ruang tamu yang di samping rumah letaknya. Ruang tamu mereka memang ada dua







