ログインKevin menoleh ke arah pintu. “Pelanggan baru, aku handle—”
“Tidak usah,” potong Noah dengan nada tenang, langkahnya mantap mendekat. “Aku hanya ingin berbicara dengan salah satu staf yang bersama kamu itu.” Kevin menatap Zelda sekilas. “Kau kenal dia?” Zelda menggeleng cepat. “T-tidak!” Sembari ia buru-buru bangkit dan kembali di balik counter. Alis Noah naik sebelah sambil tersenyum licik. Ia berdiri di depan counter sekarang. “Long Black, 2 shots espresso. Tidak pakai gula. Takeaway” Suara itu membuat Zelda kehilangan napas. Ia berusaha tampak profesional, meraih gelas plastik tanpa menatap wajahnya. “Baik, Profesor.” “Profesor?” Kevin menatap mereka bergantian, keningnya berkerut. Noah hanya menatap Zelda lebih lama, seperti mengingatkan siapa yang memegang kendali. Saat minuman sudah siap, Noah menerimanya dengan dingin dan membayar pesanannya. “Sampai jumpa setelah kau selesai bekerja,” katanya pelan. “Kita belum sempat bicara panjang.” Lonceng pintu kembali berbunyi ketika ia keluar. Zelda masih terpaku, tangan dingin menggenggam cangkir kosong. Kevin mengerjap bingung. “Zelda, itu tadi siapa?” Zelda menatap pintu yang baru tertutup, dada berdebar. “Bukan siapa-siapa. Cuma … seseorang yang seharusnya tidak aku libatkan dari awal.” Tepat pukul 22:10, Zelda keluar dari Kedai Kopi yang sudah tutup sambil mengelus tangan kanan yang masih berdenyut perih karena terkena air panas. Wajahnya tampak lelah—bukan hanya karena pelanggan yang datang tanpa henti, tapi juga karena pikirannya belum bisa lepas dari Noah. Sosok itu muncul tiba-tiba di kedainya tadi, seperti badai kecil yang datang tanpa aba-aba dan pergi meninggalkan perasaan aneh di dadanya. Saat melewati dua orang yang berpapasan dengannya, ia merasa diperhatikan. Seketika udara di sekelilingnya menebal. Naluri membuatnya menoleh sekilas ke belakang. Dan benar saja—dua pria itu kini mengikuti, dengan botol miras di tangan dan tatapan yang terlalu lama untuk disebut kebetulan. “Hei, cantik! Sendirian malam-malam begini?” seru salah satu pria itu sambil mengayunkan botol di tangannya. “Ayo ikut kami, hanya mau … bersenang-senang, kok.” Nada suaranya sengau, disertai tawa mabuk yang membuat Zelda refleks melangkah lebih cepat dari biasanya. Namun sialnya—sebelum sempat menjauh, seorang pria bertubuh gempal muncul dari persimpangan dan menghadang jalannya. “Halo, Nona! Kenapa diam saja, hah? Mau kabur, ya?” katanya dengan nada kesal, langkahnya mantap mendekat. Zelda menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang, tapi tubuhnya seperti membeku di tempat. Ketiga pria yang kini berdiri di depannya tampak lusuh, kotor, dan berbau menyengat. Sangat jelas mereka adalah kelompok pemabuk yang tak tahu waktu. Dan sialnya lagi, malam ini Zelda menjadi sasaran mereka. Tak lama, salah satu pria di belakang Zelda dengan cepat mengunci tangannya dan mulai menahan tubuhnya dengan kasar. “Ayo, ikut kami! Kalau kau berontak, kau akan tahu akibatnya!” “Ouch …!” teriak Zelda meringis kesakitan. Zelda terhuyung jatuh ke tumpukan box dan kardus bekas di sudut gang sempit itu. Suara benda-benda berjatuhan bergema lirih di antara dinding kusam yang basah oleh embun malam. Aroma sampah dan alkohol bercampur di udara, membuat kepalanya semakin pusing. “Diam, jalang! Jangan berani berontak!” tukas pria gempal itu dengan nada marah. Pria yang lain dengan kasar menarik rambutnya ke atas, memaksa wajah Zelda menghadap ke cahaya lampu jalan yang remang. “Lihat ini, teman-teman. Jalang ini tersesat ke tempat yang salah,” ucapnya dengan tawa serak, diikuti tawa mereka yang begitu menakutkan baginya. Zelda mencoba berontak, tapi tangannya sudah lebih dulu diikat ke belakang menggunakan tali rafia yang mereka ambil dari salah satu box. Nafasnya tersengal, tubuhnya gemetar di antara dingin dan ketakutan. “Lepaskan aku!” teriaknya, namun hanya dibalas tawa mengejek. Pria gempal itu mendekat, menepuk pipinya dengan kasar. “Tenanglah, Nona. Kami hanya mau mengobrol sedikit … lebih lama.” Sembari menekan setiap katanya, pria itu mendekatkan wajahnya ke telinga Zelda sambil berbisik dengan nada penuh geraman, “kami ingin menikmati tubuh molekmu sebentar. Setelah itu, kami akan melepaskanmu dengan pakaian yang compang camping.” Bulu kuduk Zelda meremang sekejap. Ia tak bisa menahan tangisnya—tubuhnya gemetar hebat. Jantungnya berdebar cepat hingga perasaan panik menderainya tanpa peringatan. Dengan kedua mata yang sudah basah, Zelda menarik napas dan berteriak sekencang-kencangnya. “T-TOLONG —!!” “Brengsek! Sudah kukatakan jangan berontak! —” Buk!! Salah satu pria memukul wajah Zelda dengan keras, hingga darah segar perlahan keluar dari sudut bibirnya. Pria satu lagi dengan cepat membekap mulut Zelda dengan sangat kuat dan kasar dari belakang tubuhnya. “Ayo! Kita lepaskan pakaiannya. Cepat!” teriak pria itu yang sudah menahan tubuh Zelda dengan posisi bertahan. Dan kedua pria lainnya mulai melakukan aksinya pada gadis yang kini sangat tak berdaya. “Mmhh—!” Zelda menjerit tertahan, napasnya tersengal di balik genggaman pria yang menutup mulut dan menahannya terlalu kuat. Sesekali ia meringis kesakitan di sekujur tubuhnya. Salah satu pria menarik baju seragamnya dengan kasar, hingga kancingnya terlepas. Dada Zelda menyembul keluar dengan liar, hanya dibungkus renda abu-abu. “Mmhhn—!!” Kedua mata Zelda membulat hingga ia semakin meronta tak berdaya dan panik ketakutan secara bersamaan. “Sial!” geram pria gempal itu pelan. Dan tangan gemuknya dengan gusar meremas kuat salah satu buah dada Zelda yang masih ditutupi oleh bra. “Lihat dada sintal ini! Dia benar-benar jalang yang sangat pantas sebagai pelampiasan birahi kita!” Salah satu pria yang lain mulai menahan kedua kaki Zelda sembari merobek celana denimnya dengan kuat dan tergesa-gesa. Selanjutnya, ia menahan kedua kaki telanjangnya dengan paksa, agar Zelda membuka kakinya lebih lebar. “Cepat! Lebarkan pahamu atau kita yang memaksamu sampai kakimu patah!” Cengkeraman mereka terlalu kuat. Udara di gang itu semakin menipis dan mencekik dari segala arah. Zelda hanya bisa gemetar, diliputi ketakutan yang melumpuhkan. Ia pun merasakan bahwa nyawanya juga akan ikut terancam seiring berjalannya waktu—jika ia tak bisa membebaskan diri dari sini. Hingga suatu ketika, derap langkah kaki terdengar di ujung lorong gang sempit itu, dan muncul sosok yang selama ini tidak pernah diharapkan Zelda untuk datang. “Lepaskan dia!”“Tuan, penembak sniper sudah kami tangkap.”Noah perlahan melepaskan pelukannya dari Zelda. Tangannya sempat tertahan di bahu gadis itu—sejenak, seolah memastikan ia benar-benar baik-baik saja—sebelum akhirnya menjauhIa menekan nomor dengan cepat. Nada sambung terdengar singkat di telepon.“Ya, Tuan,” suara di seberang terdengar tegas. Salah satu bawahan Halden.Noah melangkah sedikit menjauh dari kaca ICU, menurunkan suaranya.“Penembaknya?” tanya Noah langsung, suara rendah tapi tajam.“Sudah kami amankan, Tuan. Namanya Victor Kane. Mantan tentara bayaran—rekam jejaknya panjang. Dia disewa melalui perantara.”Noah menegang. “Bukti?”“Ada. Ponselnya, transfer uang, komunikasi terenkripsi. Semua mengarah ke Christopher Vayne.”Noah menghembuskan napas pendek. “Baik. Urus dia dan serahkan langsung ke Interpol.”Ada jeda sepersekian detik. “Kami punya kontak agen Interpol yang menangani kasus Vayne, Tuan. Sudah siap dihubungi.”“Bagus,” jawab Noah singkat. “Nanti malam aku ke sana.”Na
Zelda masih terpaku di kursi rodanya. Pandangan gadis itu tertuju pada satu sosok di kejauhan—Noah. Berdiri di dekat coffee truck, dikelilingi mahasiswa yang tertawa, dan secangkir kopi di tangannya. Wajahnya tenang, seolah dunia memang seharusnya sesederhana itu. Hangat, normal.Dan Aman.Zelda menghela napas pelan tanpa sadar. Dadanya terasa penuh oleh perasaan yang sulit ia namai.Lalu—Ia melihat sesuatu yang membuat jantungnya bergetar aneh.Noah sedikit memiringkan kepala. Tangannya naik ke telinga. Baru saat itu Zelda menyadari—ada earbuds kecil terpasang di telinga Noah.Sejak kapan …?Noah tidak bicara. Tapi, rahangnya mengeras. Tatapan matanya berubah—bukan panik, melainkan fokus yang tajam dan siaga.Perasaan tidak enak menghantam Zelda seketika.“Kenapa …?” gumam Zelda lirih.Belum sempat ia memahami apa pun—“Tuan Noah! Awas!!”Suara teriakan keras memecah udara hingga Zelda tersentak.Dari arah kiri halaman kampus, seorang pria berlari cepat—terlalu cepat untuk pria set
Kevin berdiri tegak di atas atap van yang dimodifikasi itu, satu tangan masih terangkat. Senyumnya santai, tapi cukup percaya diri untuk menarik perhatian ratusan pasang mata. Beberapa detik hening berlalu. Lalu, bisik-bisik mulai menjalar seperti riak air. “Eh, itu siapa?” “Kenapa ada coffee truck …?” “The Daily Grind? Bukannya itu kedai terkenal di dekat sini?” “Temannya Zelda, ya?” “Seriusan? Bagi kopi di kampus?” “Ini acara apa, sih?” Zelda sendiri justru paling kebingungan. Ia menatap logo The Daily Grind di sisi van itu lama, alisnya berkerut halus. Jantungnya berdegup tidak sinkron. Sejak kapan …? Kevin punya coffee truck? Selama ia bekerja shift dulu—menutup kedai, menyeduh kopi, dan melayani pelanggan sampai larut malam—Kevin tak pernah sekalipun menyebut soal ini. Tidak ada bocoran, tidak ada rencana, maupun tidak ada isyarat sekalipun. “Apa yang aku lewatkan …?” gumam Zelda berbisik. Sebelum pikirannya semakin liar, suara tepuk tangan tunggal terd
Mobil berhenti tepat di depan gerbang utama. Zelda menatap keluar jendela, mata membulat perlahan—seolah tak percaya apa yang dilihatnya.Ratusan mahasiswa berdiri berbaris rapi di dua sisi jalan setapak menuju gedung fakultas. Mereka memegang spanduk kecil berwarna putih dengan tulisan tangan ….“WELCOME BACK, ZELDA!”“MAAFKAN KAMI.”“KAU INSPIRASI KAMI.”Dan spanduk besar di tengah bertuliskan ….“SELAMAT DATANG KEMBALI, ZELDA LYNN!”Bunga-bunga segar—mawar putih, lily, dan daisy—digantung di pagar dan dipegang oleh mahasiswa. Udara sore dipenuhi aroma bunga yang manis, bercampur suara tepuk tangan pelan yang mulai bergema saat mobil berhenti.Zelda menutup mulutnya dengan tangan. Air mata langsung menggenang.Noah membuka pintu mobil, lalu mendorong kursi roda Zelda keluar dengan hati-hati. Zara mengikuti di belakang, matanya berkaca-kaca tapi senyumnya lebar.Begitu Zelda muncul, tepuk tangan meledak.“Zelda!!”“Selamat datang!!”“Maafkan kami!!”Suara-suara itu bercampur—ada yang
“Zelda …” suara Michael parau, rendah. “Terima kasih sudah mau datang.”Zelda tidak langsung menjawab. Ia menatap pria itu lama—mencari sesuatu di wajah yang selama ini hanya jadi bayangan buruk di cerita ibunya.Michael menelan ludah. “Aku … tidak tahu harus mulai dari mana.”Zelda mengangguk pelan. “Mulai dari mana saja, Sir.”Michael tersenyum kecil—pahit. “Aku sudah gagal sebagai ayah. Untuk Noah. Untuk Noelle.”Zelda menegang. Zara di sampingnya diam saja, tapi tangannya menggenggam tangan Zelda lebih erat.Michael menghela napas panjang dengan suara rendah yang tercekat. “Sebelas tahun yang lalu ….”Ia mulai melanjutkan. “Selama ini, aku tahu semua yang terjadi di St. Andrews,” lanjut Michael pelan. “Aku tahu Noelle yang sebarkan rumor itu. Aku tahu itu salah. Tapi aku diam—karena takut kehilangan kontrak Vayne.”Suara itu bergetar halus. “Aku pilih uang daripada kebenaran. Daripada martabat seorang wanita yang tidak bersalah.”Ia mengangkat wajahnya, mata berkaca-kaca. “Dan sek
Beberapa hari berlalu sejak pesan ancaman itu masuk. Noah tidak banyak bicara soal itu—hanya bilang “semua sudah ditangani”. Tapi, Zelda tahu pria itu tidak main-main. Saat itu juga Noah merekrut dua bodyguard dari tim Halden yang kini selalu ada di sekitar mereka.Satu mengikuti Zara setiap kali ibunya keluar masuk rumah sakit—membeli makanan, mengambil obat, atau sekadar bernapas di luar. Yang satu lagi berjaga di depan pintu kamar Zelda, bergantian shift tanpa suara.Hingga hari itu telah tiba, Zelda sudah boleh rawat jalan. Tubuhnya masih lemah—setiap langkah terasa berat, perban di dada dan perut masih menempel rapat—tapi dokter mengizinkan pulang dengan syarat istirahat total. Kuliah masih harus ditunda. Aktivitas berat dilarang keras.Sore itu, apartemen terasa lebih tenang dari biasanya. Cahaya senja menyusup lewat jendela besar, membentuk garis kuning lembut di lantai marmer. Zelda duduk di sofa, selimut tipis menutupi kakinya, secangkir teh hangat di tangan. Zara duduk di







