LOGINAwalnya Alina berpikir, Kaiden akan bermain dengan kasar. Wajah dingin dan kejam yang biasanya Kaiden tunjukkan sekarang lenyap, bahkan Alina merasanya wajah atasannya itu terlihat lembut dan ramah. Kaiden menariknya di dalam sebuah kamar rahasia yang ada di ruangan mewah perusahaannya. Kaiden menarik Alina dengan tenaga yang tak terduga, membawanya memasuki pintu tersembunyi di balik rak buku ruangan itu. Alina terdiam sejenak, matanya membelalak saat melihat kamar rahasia yang mewah: lampu kristal menggantung lembut, dinding berlapis panel kayu halus, dan ranjang besar berbalut linen putih yang mengundang. Jantung Alina berdetak lebih cepat, campuran antara kaget dan gugup.Tanpa menunggu jawaban, Kaiden mendekat, bibirnya menyatu dengan Alina dalam ciuman penuh hasrat yang membakar. Sentuhan tangannya lembut tapi tegas, seolah menyampaikan semua rasa yang selama ini terpendam. Saat ciuman itu berakhir, Kaiden menuntun Alina ke ranjang, menindihnya dengan kelembutan yang kontr
"Tante, aku itu memanggilmu kesini untuk membantuku ... Alina itu sudah bersuami ... " Keke dengan cepat memotong ucapan Viola. "Kalau kamu ingin tetap menjadi tunangan Kaiden sekarang, lebih baik kamu segera keluar dari sini." "Jangan berani-berani menyebarkan berita yang tidak benar di luar!" imbuh Keke dengan suara tajam dan penuh ancaman, bagaimana pun juga. Viola sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan Alina yang dulu menyelamatkan nyawa putranya. Jadi Keke memilih untuk tidak bersandiwara lagi pada Viola, dari awal ia memang tidak menyukai tunangan palsu putranya yang bawel dan penuh dengan drama. Dylan yang di lirik oleh Kaiden, tentu saja mengerti apa maksud atasannya itu. Ia berniat untuk menarik lengan Viola, mengajak gadis itu keluar. Tapi dengan dingin Viola berkata, "jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu. Aku jijik ... Aku bisa keluar sendiri dari ruangan ini dengan hormat." Kaiden memberikan kode pada Dylan agar melepaskan Viola. Setelah keluar d
Saat langkah Keke semakin dekat, Alina memejamkan matanya. Ia sudah bisa menebak, ibu Kaiden pasti akan memukul atau menjambaknya. Apalagi melihat betapa dramatisnya Viola, saat melebih-lebihkan masalah yang terjadi. Alina merasa dirinya semakin kecil. Walaupun Viola bukan berasal dari keluarga kaya setara Kaiden, dia tetaplah anak orang kaya kelas menengah yang memiliki orang tua. Dibandingkan dengan dirinya, anak yatim piatu tanpa marga, Alina jelas tak sebanding dengan Viola. Namun, tiba-tiba tangan lembut mengusap pipinya. Alina membuka mata perlahan. "Kamu Alina, dan lehermu ada tanda lahir," kata Keke, ibu Kaiden. Kaiden yang melihat drama itu sama sekali tidak terkejut, hal berbeda yang di tunjukkan oleh Alina, bahkan Viola ekspresinya nampak masam. Bahkan teriakan histeris, drama kesakitan yang di lakukan Viola, langsung ia hentikan. Setelah di usir Kaiden, dan tidak di beri akses masuk perusahaan, Viola yang panik mengubungi Keke. Ia berhara
Hati Alina seperti di remas, rasa sakit tak tertahankan menghantam dirinya, hal ini bukan hanya rasa sakit karena penghianatan, tapi juga rasa sakit karena di abaikan dan tidak di anggap oleh Nolan. Bagiamana tidak, peresmian perusahaan baru yang di hadiri keluarga besar Nolan, tapi tanpa mengundang dirinya dan tanpa ia di beritahu. Kedua bola mata Alina nampak berkaca-kaca, Vivi yang melihatnya sontak tersenyum miring. Bagaimana pun juga, Ghea sahabat baiknya. Bahkan Ghea sangat royal kepadanya, jelas ia sekarang ini ada di kubu siapa. Alina sudah tidak bisa berkata-kata lagi, ia berusaha menahan sekuat tenaga untuk menahan tangisannya. Awalnya Alina merasa sedih, saat mendengar dari Kaiden, kalau suaminya membuka perusahaannya sendiri, tanpa memberitahu dirinya. Tapi ia segera menekan rasa sedihnya untuk berpikiran positif, kalau suaminya pasti memiliki alasan kenapa tega membohonginya. Setelah pikirannya positif, akhirnya Alina sudah tidak merasa sedih. Tapi sek
Alina melangkah pelan menuju mesin kopi di sudut ruangan, berharap sesaat bisa melepas penat dari kekacauan yang sebelumnya di buat oleh tunangan Kaiden. Alina tahu, alasan Viola marah padanya. Karena menuduhnya menggoda Kaiden, tapi memang faktanya ia memiliki hubungan dengan Kaiden. Walaupun hubungan itu terjadi karena Kaiden yang memaksanya. Tapi bagi Viola dan para karyawan wanita yang begitu mengagumi Kaiden, pasti mereka tetap menuduhnya menggoda Kaiden. Sekarang ini Alina hanya bisa menghembuskan napas kasar, seraya menempelkan es batu pada pipinya yang lecet karena cakaran Viola. Namun, sebelum tangannya menyentuh tombol mesin, terdengar suara sumbang dari beberapa karyawan wanita yang sedang berkumpul di dekat sana. Alina tertegun, saat melihat rombongan mereka yang mendatanginya sampai mesin kopi. "Eh, Alina, kamu yakin nggak sih naik jadi asisten pribadi Kaiden cuma karena kerja keras? Atau… kamu sengaja ‘menggoda’ bos kita yang ganteng itu?" celetuk
Kaiden melirik ke arah Dylan. Dylan tahu, kalau sekarang ini atasannya itu menatap ke arahnya, tapi sekarang ia memang memilih untuk berpura-pura menjadi orang bodoh dan tidak peka. Kaiden berdiri dari kursi kerjanya dengan langkah berat, wajahnya yang biasanya tenang kini berubah menjadi bayangan yang dingin dan mengerikan. Matanya menatap tajam, otot rahang mengeras seolah menahan amarah yang meledak. Suaranya melonjak tinggi, menusuk ruang itu dengan kekuatan yang tak bisa diabaikan. "Dylan, kalau kamu nggak mau gajimu aku potong. Cepat bawa Viola keluar dari ruanganku!" perintahnya tanpa kompromi. Dylan terkejut, tetapi segera mengiyakan dengan suara terbata-bata, "Ba... Baik bos." Tanpa banyak basa-basi, ia meraih lengan Viola dan menariknya dengan kasar. Viola terhuyung, matanya membelalak penuh kebingungan dan luka. "Kak Kaiden, aku itu tunanganmu. Kamu nggak bisa usir aku begini!" teriak Viola, suaranya pecah penuh keputusasaan dan penolakan yang tersisa dal







