ログイン"hmm, lakukanlah!" Sahut Alina dengan wajah memerah. Biasanya ia hanya memuaskan dirinya sendiri dengan beberapa alat. Ntah kenapa? Hasrat seksnya selama hamil malah semakin menggebu. Kaiden mengangkat tatapan lembut ke wajah Alina, kemudian dengan hati-hati ia mulai melepaskan baju dan celana Alina dengan lembut. Tangannya bergerak pelan, penuh kasih sayang, seolah takut melukai kulitnya yang kini tampak semakin halus dan memancarkan kehangatan baru. "Perutmu sekarang sudah besar sekali," ucap Kaiden dengan nada hangat yang menyimpan kekaguman, bukan ejekan. Namun, Alina segera menanggapi dengan bibir yang menekuk dan alis berkerut, matanya menyipit penuh curiga. "Kamu mengejek aku ya, gara-gara hamil jadi jelek. Ya udah, kemarikan bajuku, aku nggak jadi." Suaranya sedikit meninggi, mencerminkan rasa tidak percaya diri yang tiba-tiba muncul dari dalam hatinya.Kaiden cepat-cepat meraih tangan Alina, menatap matanya dengan tulus, "Sayang, maaf, aku nggak niat mengejekmu. Aku..
Alina terkejut, matanya membelalak lebar saat pintu kamarnya tiba-tiba terbuka. Seorang wanita paruh baya, berusia sekitar 45 tahun, masuk bersama seorang gadis remaja yang tak lebih dari 15 tahun, keduanya tampak canggung dan tergesa-gesa. Wanita itu, Camelia, melirik tajam ke arah Kaiden yang sedang duduk santai di tepi ranjang, sementara Alina masih terdiam di balik selimut yang tersibak sedikit, wajahnya mengembang oleh rasa malu dan geli."Sialan kamu, Kaiden," suara Camelia meninggi, setengah marah dan setengah bingung. "Katanya kamu akan membantuku mengurus vendor untuk pernikahan dadakan yang akan aku laksanakan dengan calon suamiku..." Ucapannya tiba-tiba terhenti, matanya membelalak melihat Alina yang duduk berdekatan dengan Kaiden, keduanya tampak begitu akrab, bahkan Alina dengan santai menyandarkan punggungnya ke dada Kaiden.Gadis remaja di samping Camelia menunduk, wajahnya memerah, terlihat sangat malu atas suasana canggung itu. Camelia segera menarik tangannya dan
Alina terbangun perlahan, hangat tubuh Kaiden yang membungkusnya membuat jantungnya berdegup tak beraturan. Matanya yang berat terbuka, dan pandangannya langsung tertuju pada wajah lelaki itu, wajah yang dulu pernah membuatnya terluka, kini terasa begitu dekat, begitu nyata. Napas Kaiden yang tenang dan rambut hitamnya yang sedikit berantakan menambah rasa nyaman yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Tanpa sadar, Alina mengangkat tangannya, jari-jarinya menyentuh hidung mancung Kaiden, kemudian bergeser ke bibirnya yang sedikit terkatup. Perlahan, hatinya berperang antara luka masa lalu dan perasaan yang masih membara. Dalam diam, ia merasakan kehangatan cinta yang mengalahkan segala rasa sakit yang pernah menggores."Tunggu, kenapa nggak kamu cium?" suara Kaiden terdengar lembut, penuh harap namun menyimpan sedikit keusilan. Matanya menatap Alina dengan tatapan menggoda, seolah ingin meyakinkan bahwa semua janji yang pernah ia ingkari kini tergantikan oleh kejujuran dan keri
Kaiden membuka pintu kamar, para pelayan yang sebelumnya ada di dalam kamar berbondong keluar setelah Kaiden mengibaskan tangannya. Mata Alina membelalak sesaat saat melihat ruangan itu, terlihat begitu mewah dengan lampu gantung kristal yang berpendar lembut, tirai tebal berwarna krem yang menggantung di kedua sisi jendela besar, dan ranjang king size dengan sprei sutra berwarna putih gading yang rapi terhampar. Di balik jendela besar itu, terhampar pemandangan laut yang begitu indah. "Ternyata rumah ini berada di atas bukit, pemandangannya begitu indah," gumam Alina dengan takjub. Dalam hatinya, ia berharap jika Kaiden sengaja membeli rumah ini untuk dirinya. Walaupun suara Alina pelan, namun tetap sampai ke telinga Kaiden. "Asal kamu senang, aku akan melakukan apapun. Aku sudah berkonsultasi dengan para ahli, rumah ini cocok untuk memulihkan kesehatan mental kita dan sangat cocok untuk kamu yang sedang hamil." ujar Kaiden. Alina terpaku, napasnya tercekat oleh keindahan yan
Kaiden membuka pintu kamar, para pelayan yang sebelumnya ada di dalam kamar berbondong keluar karena mendapatkan kode tangan dari Kaiden. Mata Alina membelalak sesaat saat melihat ruangan itu, terlihat begitu mewah dengan lampu gantung kristal yang berpendar lembut, tirai tebal berwarna krem yang menggantung di kedua sisi jendela besar, dan ranjang king size dengan sprei sutra berwarna putih gading yang rapi terhampar. Di balik jendela besar itu, terhampar pemandangan laut yang begitu indah. "Ternyata rumah ini berada di atas bukit, pemandangannya begitu indah," gumam Alina. Walaupun suaranya pelan, namun tetap sampai ke telinga Kaiden. "Asal kamu senang, aku akan melakukan apapun. Aku sudah berkonsultasi dengan para ahli, rumah ini cocok untuk memulihkan kesehatan mental kita dan sangat cocok untuk kamu yang sedang hamil. Alina terpaku, napasnya tercekat oleh keindahan yang persis seperti yang selama ini ia impikan.Bukan itu saja, hatinya berdebar-debar karena kegigihan dan ke
Karena ciuman itu tidak mendapatkan penolakan darinya, Kaiden malah memeluk Alina dengan erat. Bahkan tubuh Kaiden bergetar hebat. "Terima kasih, karena kamu tidak menolakku Alina. Aku janji, aku nggak bakalan sakiti kamu lagi, aku akan menghilangkan rasa posesif dan kecembuan yang sering membuatmu terkekang," kata Kaiden dengan suara bergetar. Selama sebulan lebih, ia hanya bisa menahan kerinduan dan melihat Alina dari jauh. Itu sungguh sangat menyiksa. Sekarang, semuanya sudah menunjukkan arah yang lebih baik. Alina juga membalas pelukan Kaiden, ia merasakan rasa aman dan nyaman. "Kai, aku merindukanmu. Sangat merindukanmu ... " Kata Alina tulus. Ia tahu, Kaiden sangat menyakitinya bahkan memberikan luka dan trauma yang dalam. Namun, di bandingkan itu semua. Kaiden sudah banyak berkorban sejak ia masih kecil, bahkan berkali-kali Kaiden rela terluka demi menyelamatkannya. Jika dirinya bisa dengan mudah memberikan maaf kepada Nolan, apa salahnya ia memberikan maaf dan kesem
"Kamu begitu senang berada di sisi Dika, ya? Sampai enggan ikut denganku." Kata Kaiden dengan wajah yang menakutkan. "Aku nggak nyangka, ternyata hal yang aku lakukan sia-sia," imbuhnya dengan senyuman getir. "Bukan begitu .... " Sahut Alina, air mata mengalir deras dari kedua pelupuk matanya.
Alis Kaiden mengerut setelah mendengar ucapan ibunya. Ia ingat, jika sebelum orang tua Alina meninggal, keluarga Alina termasuk keluarga berada. Kaiden bertanya memastikan, "Dulunya kakek Alina hakim agung? Soalnya kalau bisa memvonis pengusaha kelas atas, seharusnya jabatan hakim agung yang dia
Kaiden meletakkan telunjuknya di bibir saat tatapannya bertemu dengan Alina. Alina mengerti dan segera mengalihkan pandangannya. Jantung Alina berdetak begitu cepat, baru sekarang ia menyadari bahwa dirinya benar-benar jatuh cinta pada Kaiden. Ntah kenapa Alina merasa begitu merindukan sosok K
Alina menatap Kaiden dengan tatapan serius. "Biarkan aku kembali, aku janji pasti aku akan kembali sama kamu." Kaiden malah memeluk Alina, "ibuku pasti akan setuju dengan keputusan ku." "Aku memilihmu." Imbuhnya dengan suara berat. Alina langsung menjauhkan tubuh Kaiden dengan kasar, "Kak Kai,







