Masuk"Ampun Meneer, aku tidak bohong," Ane meronta ingin melepaskan diri, tapi cengkeraman Rein terlalu kuat pada rambutnya. "Meneer bisa bertanya pada Leli, aku benar-benar tidak menemui Aldric," erangnya. "Terlalu banyak suara sumbang yang masuk ke telingaku mengenai hubunganmu dengan pedagang bajingan itu!" sambar Rein bernada marah. "Jika kamu tahu apa yang sudah dia dan keluarganya lakukan terhadapmu, kamu tidak akan sudi bahkan untuk sekadar memikirkannya!" geramnya penuh emosi."Aku tidak akan menemuinya lagi dan berhentilah membawa-bawa dia dalam tuduhanmu, Meneer," mohon Ane. "Yanto!""No, kumohon Rein, jangan kurung aku di bawah sana, kumohon!" teriak Ane panik."Kuberitahu satu hal," Rein menempelkan pipinya di pipi Ane, "aku begini agar kamu tidak mati disiksa ibuku," bisiknya serius, tapi tanpa belas kasihan. "Meneer!" Ane berusaha melepaska diri saat Yanto menarik rambutnya paksa. "Hei Yanto!" panggilan Rein menghentikan langkah Yanto di ambamg pintu. "Dia istriku, sekali
"Masih punya energi?" bisik Rein mengecup mesra telinga Ane, embusan nafasnya hangat menyapu tengkuk sang nona. "Aku harus minum obat," kata Ane sengaja menghindar, bukan ia tak ingin, hanya saja, bercinta saat ini bisa membahayakan janinnya."Oke," Rein menjauhkan wajahnya dari Ane, ditatapnya sebentar perempuan yang penuh dengan misteri ini. Ia yang begitu tunduk dan tidak bisa meninggalkannya. "Mana obatnya?" "Tolong ambilin aja air putihnya lagi," pinta Ane. Hanya mengangguk, Rein beranjak ke dapur. Secepatnya Ane mengambil obat miliknya, mengupas satu per satu, dan menggabungnya agar Rein tak melihat. Ia yakin, jika Rein tahu jenis obat yang diminumnya, Rein akan menyadari bahwa ia tengah hamil. "Rein," Ane menghela nafas panjang saat Rein kembali dari dapur. "Jangan bilang apapun ke Aldric soal kita ya," pintanya. "Kamu setakut itu ditinggalin Aldric kalau dia sampai tau selingkuhanmu itu aku?" Rein tertawa gamang. "Aku nggak mau dia ngeliat kamu dengan citra jelek.""Ngga
"Kalau Tuan Besar De Wit menentang? Rein ...," Ane memberi jeda pada kalimatnya. Ia tatap Rein dalam, "kita nggak mungkin menikah," ucapnya lirih. "Kenapa? Takut kamu bakalan mati diracun lagi?" tantang Rein. Ane mengangguk, "Aku hidup lagi kan bukan untuk mengulang deritaku di masa lalu," katanya. "Aku bakalan membahagiakanmu, Ariane!""Siapa yang bisa menjamin?" "Aku yang bakalan menjamin!" "Nggak bisa Rein, aku nggak bisa percaya sama kamu," elak Ane penuh keraguan.Rein tertegun, "Tapi kamu mau kutiduri, Mevrouw," desisnya terpukul."Mau bukan berarti percaya kan?" Ane mengusap lembut pipi Rein, "aku siap nanggung resikonya, artinya, aku nggak percaya 100 persen sama kamu.""Jadi, selamanya kita bakalan begini?" Ane membasahi bibirnya sebentar, "Kalau kubilang sampai aku bosan, kamu marah nggak?" tanyanya. Rein tak langsung bereaksi, ia duduk di sisi ranjang Ane, diusapnya lembut kepala perempuan yang sudah mengisi seluruh hati dan kepalanya. Rein tahu, mungkin saja Ane mem
"Kenapa ngide bawa sop ayam seger gini, tau aja aku lagi pilih-pilih makanan banget," gumam Ane sambil serius mengunyah sup ayam bumbu rempah yang disuapkan Rein untuknya. "Kamu kan sempat muntah, pasti nggak enak banget rasa perutmu," balas Rein. "Aman kan kalau kuah ini? Nggak bikin mual?" tanyanya. "Aman banget, enak," puji Ane senang. "Enak karena disuap suami?" canda Rein. "Iya kayaknya," Ane nyengir cantik, terlihat manja. "Gimana trauma center? Aman kan?" "Rada sibuk, ruang VIP ditambah, sekarang aku minta orang buat ngurus pembagian tugas dokter. Kita mau rekruitmen lagi untuk tambahan untuk support home visit," terang Rein. "Semoga makin berkembang pesat," harap Ane tulus. "Semua yang kamu rencanakan dan rancang bisa berjalan lancar," tambahnya. "Kamu kapan-kapan harus ikut jemput pasien naik heli, biar tau gimana adrenalinmu terpacu sampai titik paling tinggi.""Kalau nggak muntah-muntah duluan kali ya," sahut Ane. "Udah, aku kenyang banget. Kamu mau ke rumah sakit la
"Udah aman kan? Nggak ada muntah nggak ada ngeluh pusing?" tanya Rein. Malam harinya, Rein datang lagi mengunjungi Ane, melihat kondisi perempuannya itu. Tante Ery masih ada di sana, setia menjaga Ane, mempersiapkan segala yang Ane butuhkan, tanpa sepengetahuan Rein. "Enggak Pak, udah mau makan sedikit-sedikit juga," jawab Tante Ery. Setelah dibujuk Tante Ery untuk makan setidaknya sesuap demi menjaga kesehatan janin di perutnya, Ane bersedia memaksakan diri untuk makan. Dokter kandungan juga sudah dipanggil, Ane diberi anti mual, multivitamin, zat besi serta beberapa obat lain untuk memperkuat kesehatan tubuh sang bumil. "Ariane," panggil Rein saat mendekat ke ranjang Ane. "Gimana? Udah enakan?" tanyanya. "Lumayan," Ane memaksakan senyum. "Makasih udah ke sini lagi buat mastiin kondisiku," katanya. "Aku khawatir, seharian ini takut kamu tambah parah. Tiap denger ada orang IGD minta bantuan dokter jaga, aku was-was, takut kamu yang dibawa ke sana," ungkap Rein jujur. "Makan lagi
"Kondisinya udah stabil, saya nggak bisa nungguin, ada telepon dari rumah sakit," pesan Rein saat Tante Ery tiba di apartemen. "Dia sekarang tidur?" Tante Ery melongok ke dalam kamar. "Tidur," jawab Rein. Ia lalu masuk ke dalam kamar lagi, dikecupnya kening Ane sekejap, di depan mata Tante Ery. "Kalau ada apa-apa, kasih kabar ke saya ya, ke saya dulu, jangan ke Aldric," ujarnya serius. "Oke, noted Pak Rein," kata Tante Ery sedikit bingung, tapi senyumnya terkembang, senang karena Rein perhatian lagi pada Ane. "Maaf Pak, mungkin kalau ada Aldric di rumah sakit, sebaiknya jangan kasih tau juga kondisi Ane yang begini, mereka sedang perang dingin," pesannya. "Saya nggak mungkin kasih kesempatan ke saingan saya, Bu Ery," tandas Rein songong, ia lantas beranjak pergi setelah menoleh Ane yang tampak pulas, sekali lagi. Sepeninggal Rein, Ane terbangun. Beruntung, Tante Ery datang membawakan sop ayam yang masih hangat, jadi, saat Ane mengeluh lapar, ia sudah tidak perlu lagi mencarikan A
"Udah bangun?" satu wajah ayu dengan senyum indah menyambut pandangan Ane saat membuka mata. "Keracunan dan gampang pingsan, apa sih yang lagi kamu pikirin, Ane?" tanyanya bernada mengomel. "Aku masih hidup?" gumam Ane lirih, masih belum bisa menguasai dirinya 100 persen. "Kenapa aku tidak mati da
"Kita tunggu mobil jemputan di lobi dulu yuk!" ajak Tante Ery menggandeng lengan Ane seraya melangkah. Setelah dirawat selama 3 hari di rumah sakit, akhirnya, Ane bisa pulang hari ini. Selama itu juga, ia mempelajari banyak hal mengenai dirinya yang baru. Ane tahu, meski hidupnya yang lalu hanya t
Plak!! Tamparan Ane sukses mendarat di pipi Rein tepat saat pagutan mereka berhasil terlepas. Rein menjauhkan wajahnya, sementara Ane terengah, nafasnya tersengal. Air mata mengalir di pipinya, kesakitan masa lalunya membayang begitu kentara. "Apa mati nggak membuatku bisa melepaskan diri darimu?
Seseorang berdiri di sana, di ambang pintu kamar perawatan Ane sambil menyimpan kedua telapak tangannya di saku celana. Rambut platinum blonde pucat dan wajah khas bermata abu yang sangat familiar. Pun dengan ekspresi wajah dingin bak kutub utara, menatap Ane tanpa suara. Lelaki ini melangkah masuk







