MasukDan seperti keinginan Rein, makan siang itu benar-benar terlaksana. Aldric datang memenuhi undangan Rein setelah sebelumnya mengirim pesan pada Ane demi membatalkan janji dengannya. Ketika ia sampai, wajah kagetnya sudah tak bisa disembunyikan, ia tentu tak menyangka bahwa Rein akan datang bersama Ane. "Pesen dulu Dok, kami udah pesen duluan," sambut Rein sangat ceria. Ia bahkan seolah tak menganggap di sebelahnya ada Ane tengah menatap Aldric tegang. Sebaliknya, Aldric mengangguk kikuk, ia menarik kursi tepat di seberang Ane, matanya tak lepas dari Ane yang juga menatapnya. Mereka seakan tengah saling melempar kebingungan melalui sorot mata yang berbicara. "Saya ngajak Mbak Ane nggak pa-pa kan?" tanya Rein tersenyum penuh arti. "Nggak pa-pa Dok, lebih banyak orang lebih ramai," balas Aldric."Lagi nggak ada praktik poli kan?""Enggak Dok, baru aja selesai jam 11 tadi," Aldric mulai menguasai keadaan, ia kembangkan senyum sangat tampannya ke arah Ane. "Mbak Ane sudah benar-benar s
"Keputusan yang tepat," kata Tante Ery keesokan harinya, saat ia dan Ane tiba di kantor maskapai. "Dari dulu targetmu kan Maha Dahsyat Rein, kenapa setelah makan jamur kamu jadi linglung! Untung cepet sadarnya deh," tukasnya lega. "Hari ini dia dateng, mau bahas soal kesepakatan kerjasama. Tapi dia ada operasi dulu, nggak tau selesai jam berapa," ucap Ane tanpa semangat. "Tuan Besar nggak nanya banyak kan?" tanya Tante Ery teringat tadi pagi masuk panggilan dari Belanda, orang tua Ane. Ane menggeleng, "Aku cuma melapor soal rencana kerjasama," jawabnya. "Aku siapin dokumennya, kamu periksa beberapa laporan yang ketunda kemarin ya," pinta Tante Ery seraya menyerahkan Macbook di meja pada sang nona. "Aku ada janji makan siang sama Aldric," tahan Ane membuat Tante Ery berhenti di pintu ruangan. "Tolong aturkan jadwalku," perintahnya. "Oke," Tante Ery mengangguk. "Kalau bisa jalan dua, kenapa harus satu," kekehnya gemas. "Aku cuma butuh Aldric!" teriak Ane bersaing dengan gedebam p
Rein meneguk air putih di botolnya hingga hanya tersisa setengahnya. Tatapannya sudah mengarah entah mencari fokus di mana, tak lagi mengintimidasi pada Ane. Sementara, Ane bahkan tak menyentuh makanan yang dipesannya, pikirannya kacau. "Kuanter kamu pulang," kata Rein akhirnya, sengaja setelah meminta seorang waitress mengambilkan bill untuknya."Aku bisa minta sopirku buat jemput ke sini," tolak Ane secara halus. "Kamu nggak pulang ke apartemen?" tanya Rein. "Pulang," sahut Ane singkat. "Dan?""Menjaga jarak dan batasan menurutku lebih baik setelah semuanya, Tuan Rein.""Ariane," Rein tertawa gamang, "setelah selesai bercinta, kamu pengin kita nggak saling menyapa? Kamu pelacurku? Begitu? Yang setelah selesai melayaniku, urusan kita juga selesai?" "Lalu apa maumu?" "Kita pulang, baru kita bahas lagi apa mauku di mobil," kata Rein tak mau dibantah. Ia segera beranjak meninggalkan mejanya. Tak memiliki pilihan lain, Ane terpaksa melibatkan dirinya lagi dengan seorang Reinier. L
"Aku nggak bisa makan pake lauk tangisan begini," keluh Rein segera mengusap air mata di pipi Ane. "Aku udah bilang nggak akan melepaskanmu, kan?""Lepaskan aku, Rein," mohon Ane memelas. "Bahkan setelah kita bercinta, kamu masih mau lepas dariku? Kasih tau aku satu hal, Ariane. Gimana caramu membayar hutang padaku? Hem?" tantang Rein. "Aku akan bekerja di bawah kendalimu, kuberi semua yang kamu perlu untuk melanjutkan proyek trauma center itu," bujuk Ane seperti memiliki secercah harapan. Rein tersenyum miring, selera makannya hilang tiba-tiba, "Aku bisa aja menghancurkan Aldric karena menghalangiku memilikimu," sebutnya memberi ancaman, kartu AS yang Rein miliki untuk menekan Ane. "Jangan! Dia udah hancur di masa lalu, jangan hancurkan lagi dia di masa depan!" cegah Ane ketakutan. "Imajinasimu soal kehidupan yang lalu masih nyala ya?" "Jangan menyentuhnya!" sambar Ane tak mempedulikan ucapan Rein yang menganggapnya sebagai pembual. Rasa sakit itu nyata, bagaimana Rein meminta
"Aku memang bajingan, Ariane, baru tau?" kekeh Rein sangat tampan, ia berjalan menuju pintu lain di dekat ranjang pasien, ternyata ada ruang kecil di sana yang berguna untuk berganti. "Bajingan, brengsek, orang gila!" sungut Ane masih mengomel meski Rein sudah pasti tidak mendengarnya. Sambil menunggu Rein selesai, Ane mengitarkan pandangannya ke sekeliling. Seperti unit apartemen yang ditempatinya, ruangan Rein ini juga terkesan sederhana, rapi dan cukup nyaman. Tidak ada foto terpajang, hanya ada beberapa piagam penghargaan menghiasi dindingnya. "Kita cari makan siang," ucap Rein begitu keluar dengan pakaian yang berbeda. "Aku laper," keluhnya seraya mengusap perut. "Aku perlu ngomong soal semalam, apa bisa sambil santai makan siang?" "Aku bisa pingsan kalau nggak makan sekarang. Dari semalam aku nggak tidur. Kamu mau ngobrol sama orang yang nggak sadarkan diri?" serang Rein menang posisi. Ane membuang pandangan, ia tidak bisa melawan Rein, apalagi saat ini ia ada dalam posisi
Ane tak lagi merintih kesakitan, ia tertidur pulas dengan selimut tebal milik Rein membalut tubuh polosnya. Sementara Rein masih duduk di sofa tunggal yang menghadap ke jendela balkon, bertelanjang dada, berbalut black boxer brief dengan sepuntung rokok di jemarinya, masih belum dinyalakan. Rein gusar, Ane yang setengah sadar itu, akankah ia sudah membuat kesalahan? "Gila," desis Rein bermonolog. "Segila ini menginginkannya," ujarnya tak habis pikir. Rein beranjak dari sofa, ia buka pintu balkonnya, menyalakan rokok dan kembali duduk di kursi besi, ditemani embusan angin pagi dini hari yang menusuk. Namun, sepertinya, kulit telanjang Rein tidak terpengaruh hawa dingin itu, otaknya sedang sibuk membuat perintah lain, membujuk hatinya.Dan ponsel Rein berdering, sebuah panggilan darurat dari rumah sakit. Setelah memastikan Ane masih terlelap karena lelah, Rein mengganti pakaiannya dan pergi menuju rumah sakit. Sebelum pergi, ia sempat menghubungi Tante Ery agar pergi ke unitnya demi m







