Seseorang berdiri di sana, di ambang pintu kamar perawatan Ane sambil menyimpan kedua telapak tangannya di saku celana. Rambut platinum blonde pucat dan wajah khas bermata abu yang sangat familiar. Pun dengan ekspresi wajah dingin bak kutub utara, menatap Ane tanpa suara. Lelaki ini melangkah masuk, menampilkan kaki jenjang dengan tubuh proporsionalnya, 189 sentimeter, mendekat ke ranjang tempat Ane membeku. "Tuan Rein," panggil Tante Ery hormat. Benar, sosok ini, si mempesona yang sangat misterius tapi berwajah sangat tampan, sama persis dengan sang meneer suami Ane di berabad yang lalu. Ia menoleh pada Tante Ery, tanpa senyum, sorot matanya menusuk, sangat mengintimidasi."Biarin kami ngobrol berdua," ucap suara berat Rein, manipulatif sekali nadanya. Tante Ery langsung beranjak, ia manggut-manggut tanpa suara dan meninggalkan Ane kaku di ranjangnya. Sungguh, kini, perasaan takut dan sesak di dada itu kembali menyerang Ane, membuatnya bahkan tak berani bergerak sedikitpun. Tidak
Last Updated : 2026-05-21 Read more