LOGIN"Udah bangun?" satu wajah ayu dengan senyum indah menyambut pandangan Ane saat membuka mata. "Keracunan dan gampang pingsan, apa sih yang lagi kamu pikirin, Ane?" tanyanya bernada mengomel.
"Aku masih hidup?" gumam Ane lirih, masih belum bisa menguasai dirinya 100 persen. "Kenapa aku tidak mati dan membusuk di neraka saja? Menjadi Mevrouw di rumah iblis Rein benar-benar lebih menyiksa ketimbang hidup abadi di neraka," keluhnya. "Heh, ngaco!" perempuan di sebelah Ane mengerutkan dahinya. "Kamu cuma keracunan jamur tapi kepala kamu kayaknya yang eror deh Ane," ucapnya. "Dan Mevrouw? Neraka? Ngimpi apa anak ini," dumalnya. "Kamu siapa? Apa mertuaku membuangku di kanal dan kamu yang menemukan dan menyelamatkanku?" tanya Ane lagi. "Aku Tantemu! Tante Ery, orang yang merawatmu sejak kecil, sekarang aku adalah asistenmu Tuan Putri," kata perempuan bernama Ery ini, gemas. "Dan kamu belum menikah, Ane, berhentilah bicara ngawur!" "Aku bicara kenyataan, Tante Ery. Mereka menjejalkan racun ke mulutku tanpa sepengetahuan Tuan Rein, setelah keluargaku memberi apa yang mereka inginkan!" desis Ane geram. "Apa sih? Ane, kamu masih gadis, belum menikah, belum ada mertua," ucap Tante Ery geli. "Kamu masuk rumah sakit dan harus dirawat karena alergi jamur, ada riwayat sakit pernafasan, bukan karena diracun sama mertuamu!" kekehnya. "Ya?" mata Ane membulat, "gadis? Aku masih gadis? Belum dipaksa menikah dengan Tuan Rein?" tanyanya mengejar jawaban. "Dipaksa menikah gimana? Bisa kabur kamu kalau dipaksa menikah jaman sekarang." "Jadi aku kembali ke masa lalu?" wajah Ane berbinar, seakan ia menemukan harapan. "Aku kembali di tahun 1620?" tanyanya antusias. Kini, giliran mata Tante Ery yang membulat, "Ane, kamu kenapa sih, ini tahun 2026, bukan tahun penjajahan!" desisnya bingung. Hening. Ane tercekat, begitu pula dengan Tante Ery yang merasa bahwa Ane memang sedikit aneh. Cara bicara Ane yang sangat kaku, juga bahasannya yang tidak masuk akal membuat situasi terasa sangat rumit. "Jadi, aku terlahir kembali," gumam Ane setelah menyusun potongan puzzle di kepalanya yang tadi bertebaran. "Aku adalah Ariane?" tanyanya menatap Tante Ery lekat. Tante Ery mengangguk gamang, "Ariane Catharina Sabine, putri tunggal Willem Sabine dan Rachel Ardini Subagya, jangan bikin Tante takut ih, Ane!" sergahnya. Ane meremas rambutnya kuat, bukan, ini bukan mimpi. Jemarinya berpindah ke lengan, mencubit kulit arinya sembarangan, terasa perih tentu saja. Masih belum puas, ia turun dari ranjang sembarangan, membiarkan tiang infusnya ambruk karena tarikan yang tiba-tiba. Darah mengalir dari bekas luka infus di punggung telapak tangannya tapi Ane tak peduli. Di depan jendela kaca, Ane membeku tanpa kata. Benar, semua sudah jauh berbeda, mobil-mobil yang terparkir di luar sana sudah bukan lagi kendaraan yang dipakai Gubernur Jenderal VOC, mobil itu tampak asing dan lebih canggih. "Aku lahir lagi sebagai Ariane," desis Ane meraup wajahnya sendiri. Tidak puas, Ane mendekat pada cermin kecil di atas nakas, ia raba pipinya. Wajah khas Belanda yang masih sama tapi dengan campuran Indo nan cantik jelita. Rambut pirangnya menjelma coklat kemerahan cantik, mata biru warisan keluarga keturunan bangsawan Belanda masih ada di sana menghias paras ayu pucatnya. "Ane, infusnya lepas, darahmu bercecer menetes," ucap Tante Ery panik. "Jadi, Aldric yang kutemui sebelumnya, dia juga lahir kembali? Iya kan?" "Cukup Ane, kamu harus istirahat!" ajak Tante Ery jengah, ia raih pergelangan tangan Ane agar kembali ke ranjang. "Wah!" Ane berteriak girang, "akhirnya, aku bisa lepas dari iblis itu, ini keajaiban! Selamat tinggal neraka jahanam!" jeritnya dengan air mata berderai bahagia, berjingkrak penuh rasa syukur. "Selamat malam Tuan Rein," sapa Tante Ery menjeda selebrasi Ane saat menyadari seseorang berdiri di ambang pintu kamar perawatan Ane. "Rein!" Ane menoleh arah pandangan mata Tante Ery dengan ekspresi horor sambil menahan nafasnya. "NGGAK MUNGKIN!" pekiknya histeris, lemas seketika. ###"So far semua baik ya Mbak, mungkin kondisi kemarin itu karena kondisinya belum stabil aja," terang Aldric seraya duduk di kursinya. "Nggak ada kondisi yang mengkhawatirkan ya Dok?" tanya Tante Ery cemas. "Tadi malam kenapa nggak dianter ke sini Bu?" tanya Aldric dengan mata yang tak berpindah dari layar laptopnya."Kata Dokter Rein saya hanya perlu memantau saturasi dan nadinya, selama tidak semakin buruk, Ane cukup istirahat aja," terang Tante Ery sambil melirik ke arah Ane."Dokter Rein?" dahi Aldric berkerut. "Ah, saya tau," katanya seolah tersadar. "Kami ada di apartemen yang sama," sergah Ane seakan perlu membuat klarifikasi. "Unit kami bersebelahan, kondisi darurat, jadi Dokter Rein datang menolong," tambahnya hati-hati sekali. "Alangkah baiknya begitu Mbak, jadi ada yang memantau kondisi Mbak Ane dengan intens," tukas Aldric. "Kami hanya tetanggaan, dokter saya tetap Dokter Aldric," sahut Ane sedikit emosional, ia ingin sekali memeluk lelaki ini, mengatakan rindunya yang
Tepat setelah Rein membaringkan Ane di ranjang, Tante Ery muncul terburu. Ia terlihat panik, dihampirinya Ane yang tampak masih sangat lemah. "Pak Rein, apa kita perlu ke rumah sakit lagi?" tembak Tante Ery. Rein menggeleng, "Jangan tinggalin dia sendirian. Otaknya kacau, kalau perlu, anter aja dia ke psikiater," ucapnya setengah menyindir. "Ke mana aja sih!" protes Ane pada Tante Ery. "Aku mandi, Ne, berendam dan nggak denger ada suara bel di depan. Tau-tau pas keluar papasan sama orang keamanan yang baru aja bantu buka pintumu," terang Tante Ery. "Kamu nggak pa-pa kan? Sempat pingsan?" tanyanya. Ane menggeleng, "Aku ditolong Tuan Rein," katanya jujur. "Sengaja membuat situasinya kayak gitu mungkin," cibir Rein. "Awasi dia, jangan biarin dia berkeliaran di sekitar lorong kayak tadi," pintanya pada Tante Ery. Ia lantas meraih pergelangan tangan Ane tanpa ijin, meraba nadinya lagi. "Kalau sampai malam nadinya masih lemah bawa lagi ke rumah sakit. Aku nggak sempat cek saturasinya,
Ane bisa melihatnya dengan jelas saat dengan begitu seksinya Rein menegakkan punggung setelah berusaha mengintimidasinya, lalu membuka jas tanpa peduli ada sepasang mata yang menatap adegan itu penuh curiga. Meski tahu Rein tidak mungkin menyakitinya dalam kondisi seperti ini, Ane yakin, sifat kejam Rein di masa dulu pun juga dimilikinya sekarang. "Kupanggil asistenmu," kata Rein singkat, padat dan melegakan. Ane lagi-lagi hanya memberikan anggukan tanpa berniat untuk mengobrol lebih banyak. Atmosfer akan memanas jika ia dan Rein membicarakan lagi hal-hal penting mengenai kerugian 560 triliun itu sekarang. Mengambil kesempatan saat Rein memanggil Tante Ery ke unitnya, Ane mengitarkan pandangan lebih teliti. Tidak banyak hiasan dinding yang ada di ruangan besar itu. Rein seperti sengaja membiarkan isi dalam unit apa adanya, tanpa warna baru yang merepresentasikan mengenai dirinya. Meski ada dua lemari besar yang memenuhi isi kamar tidur, Ane yakin isinya pasti tidak penuh. "Asistenm
Meski ingin memberontak, kabur dari situasi menekan ini, tubuh Ane tidak kuasa. Seperti segenap tulang di tubuhnya lebur, tanpa bekas. Ia hanya bisa berbaring lemah di ranjang Rein, meski matanya terbuka, berbicara pun ia enggan. "Doktermu, Aldric?" tanya Rein mendekat ke ranjang. Ia datang membawa segelas air putih dan satu butir obat berbentuk kapsul yang Ane jelas tidak tahu obat apa itu. Ane tak menjawab, ia hanya membasahi bibirnya berkali-kali untuk menghilangkan kecemasan. Ditatapnya Rein yang duduk di sisi ranjang, betapa wajah tampan ini tampak lebih mengerikan jika hanya diam dan tanpa ekspresi begini."Kamu telat minum obatmu, ke mana asistenmu yang punya tanggung jawab memastikan itu," omel Rein tidak tampak seperti lelaki kejam yang penuh perhitungan, lebih mirip seorang dokter yang perhatian terhadap pasiennya. "Tante Ery baru saja masuk ke unitnya, barangkali dia mandi," cerita Ane, tersadar jika mungkin saja Tante Ery memang tidak tahu bahwa Ane terjebak bersama Rei
"Kamu mengikutiku? Bahkan tinggal di sebelahku? Benar-benar tidak ingin melepaskanku?" tuduh Ane mencecar Rein tanpa jeda. Alis Rein terangkat sebelah. Ia yang semula ingin segera masuk ke dalam unitnya, akhirnya urung. Dengan gayanya yang intimidatif, ia mendekat pada Ane, membungkukkan tubuh tingginya tepat di depan Ane. "Jangan memutarbalikkan fakta," gumam Rein. "Kamu yang memilih pindah di sebelahku setengah bulan yang lalu, otakmu eror karena racun jamur?" desisnya kesal. "Ya?" Ane terhenyak, hatinya mencelos. "Tapi bagus," Rein kembali menegakkan punggungnya. "Aku jadi lebih gampang menagih hutang," tandasnya."Berhenti menghantuiku, Tuan Rein," lirih Ane lemah. "Aku sudah tidak ingin terlibat denganmu!" "Kayaknya kepalamu emang penuh sama racun jamur makanya sikapmu serandom ini sekarang. Setelah berhasil mendapat perhatianku, kamu mau main tarik-ulur begitu? Hei, Sabine, aku bisa aja menghancurkan bisnis keluargamu saat ini juga, tapi nggak kulakukan," geram Rein gemas j
Tiba di apartemennya, Ane memandang seisi ruangan takjub. Dirinya yang baru memiliki selera terhadap seni merangkai bunga dan seni menari yang sangat baik. Terbukti dari beberapa pajangan di ruangannya yang mewakili semua kegemaran itu, sungguh, kehidupan baru yang sangat sempurna seharusnya, tentu saja harus tanpa adanya Rein yang mengusiknya. "Aku tinggal di seberang, sebagai asistenmu, kamu boleh banget buat hubungin aku kapanpun kamu mau," kata Tante Ery sambil memapah Ane tidur di ranjang. "Kamu beneran rada eror ya?" tanyanya menunjuk pelipisnya sendiri."Orang tuaku?" tak memedulikan pertanyaan Tante Ery, Ane justru balik bertanya. "Mereka di Belanda dong," sahut Tante Ery. "Kan kamu yang ngurus semua usahanya di sini, makanya kamu berjuang sampai titik darah penghabisan buat bertahan demi perusahaan, dan menggandeng Rein yang emang semula digadang buat menjalin perjodohan sama kamu," terangnya."Awal mulai perjodohan?" "Kamu yang minta, Ne," gumam Tante Ery sabar. "Kamu yan







