Masuk"Iya, Pa. Kenzo juga sudah bilang ke Om Halim kalau mau dicoba dulu. Kalau memang tidak bisa, ya tinggal balik lagi ke Jepang," jawab Kenzo santai, sengaja melirik jahil ke arah Halim yang duduk tepat di depannya.
Halim hanya bisa memasang wajah masam melihat tingkah keponakannya itu. Dari seberang telepon, suara sang ayah kembali terdengar serius. "Apa pun pekerjaan yang kamu pilih, entah itu komentator atau news anchor, lakukan dengan sungguh-sungguh. Berikan yang terbaik." Wejangan itu membuat senyum Halim perlahan mengembang. Ia melirik Kenzo dengan tatapan penuh kemenangan, sementara Kenzo hanya bisa mengembuskan napas pasrah. Kini, ia tak lagi memiliki alasan untuk menghindari permintaan pamannya itu. Setelah mendapatkan restu dari sang ayah, hari itu Halim dan Kenzo akhirnya kembali ke Jakarta. Butuh waktu dan perbincangan yang cukup panjang hingga Kenzo benar-benar bersedia berkemas dan meninggalkan kehidupannya di Jepang. Mobil mereka memasuki kawasan perumahan elitis yang dijaga ketat oleh petugas keamanan. Rumah Halim berdiri paling megah di ujung jalan, dengan arsitektur bersih dan halaman yang tertata rapi. Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, Halim menepuk bahu Kenzo pelan. “Kamu sebaiknya langsung istirahat dulu, Ken. Kamarmu di atas sudah disiapkan." Kenzo berjalan menuju undakan tangga, namun mendadak menghentikan langkahnya. Ia berbalik dengan tatapan penuh selidik. “Om, calon bos-nya, galak nggak?” "Kenapa? " Halim tertawa ringan melihat gelagat keponakannya. "Kamu sudah ciut duluan?” “Takut sih nggak,” sahut Kenzo santai sambil menyampirkan jaketnya di lengan. “Cuma penasaran saja, calon bosku. Laki-laki apa—” "Perempuan." Jawab Halim cepat. "Masih muda, cantik lagi.” "Serius, Om?" Kenzo terlihat penasaran. "Secantik itu?” Halim hanya memgaggukan kepalannya pelan, mata Kenzo seketika berbinar dan senyumnya langsung melebar jail. “Wah, mantap kalau begitu. Jodoh memang nggak ke mana.” Halim tidak membiarkan harapan kosong keponakannya itu tumbuh lebih jauh. “Dia sudah bersuami, Ken. Suaminya juga orang industri televisi. Jadi... jangan macam-macam.” Detik itu juga, wajah Kenzo langsung berubah lesu. “Astaga... kenapa tidak bilang dari tadi, sih, Om?" Kenzo langsung mengentakkan kakinya naik ke lantai atas dan menutup pintu kamarnya dengan wajah masam. Halim hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, menyisakan senyum geli di sudut bibirnya. Di saat Halim berhasil membawa Kenzo ke Jakarta, di tempat lain, tepatnya di sebuah rumah sakit, kondisi kesehatan Ellena justru menunjukkan penurunan yang cukup drastis. Seharusnya, hari itu menjadi jadwal kepulangannya. Berkas administrasi bahkan sudah disiapkan di meja perawat. Namun, sebelum memberikan izin, dokter memutuskan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan karena merasa kondisi fisik pasiennya belum cukup stabil. Beberapa saat kemudian, dokter kembali memasuki ruang rawat VIP dengan membawa map hasil pemeriksaan. Raut wajahnya tampak jauh lebih serius dari biasanya. "Bu Ellena, saya rasa rencana kepulangan Anda hari ini harus ditunda dulu," ucap dokter tersebut membuka pembicaraan. Ellena yang sejak tadi sudah bersiap untuk pulang langsung mengangkat wajahnya dengan bingung. "Ditunda? Kenapa, Dok?" Dokter itu meletakkan map hasil pemeriksaan di atas meja nakas. "Hasil pemeriksaan menunjukkan Anda mengalami gastritis akut. Peradangan pada lambung sudah tergolong cukup berat. Penyebab utamanya kemungkinan besar akumulasi dari stres berkepanjangan, pola makan yang tidak teratur, serta kelelahan fisik yang terus menumpuk." Suasana ruangan mendadak sunyi. Dokter kembali melanjutkan dengan nada tegas, "Kalau kondisi ini terus dipaksakan, peradangannya bisa merembet ke level yang lebih serius. Saya khawatir akan muncul komplikasi seperti tukak lambung atau bahkan risiko perdarahan. Untuk sementara waktu, Anda harus tetap menjalani perawatan intensif dan benar-benar beristirahat total." Mahesa menoleh ke arah istrinya. Wajah Ellena tampak begitu pucat dan lesu. Hatinya merasa sesak melihat wanita yang paling dicintainya itu harus terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Ia meraih jemari Ellena perlahan, lalu menggenggamnya dengan sangat erat. "Sayang, please... jangan terlalu stres, ya. Aku mohon, biar kamu cepat sembuh." Ellena hanya bisa menatap mata suaminya tanpa sanggup mengeluarkan sepatah kata pun; energinya sudah habis terserap oleh rasa sakit di perutnya. Di balik tatapan penuh kekhawatiran yang ia tunjukkan, Mahesa memang benar-benar takut jika sampai harus kehilangan Ellena. Namun jauh di sudut hatinya yang gelap, ia juga sangat sadar akan satu hal: selama stasiun televisi NTV terus berada di ambang kehancuran, Ellena akan semakin bergantung padanya. Dan bagi Mahesa, ketergantungan itu adalah senjata utama yang tidak boleh hilang sedikit pun. Ellena terpaksa harus kembali menjalani perawatan rumah sakit untuk beberapa hari ke depan. Dokter bahkan memberikan larangan keras bagi Ellena untuk tidak menyentuh pekerjaan apa pun sebelum kondisi fisiknya benar-benar dinyatakan stabil. Sementara itu, Mahesa tampak sibuk mengurus seluruh kelengkapan administrasi rawat inap istrinya. Setelah semua urusan berkas beres, Mahesa masih menyempatkan diri untuk berbincang serius dengan dokter spesialis di ruang konsultasi, mendiskusikan penanganan terbaik untuk Ellena. Di dalam kamar rawat VIP yang luas, Ellena kini hanya seorang diri. Keheningan kamar yang semula menenangkan itu mendadak terusik oleh suara dering dari ponselnya. Ellena menolehkan pelan. Benda itu ternyata tergeletak di atas sofa, posisinya cukup jauh dari jangkauan tempat tidur. Awalnya ia berniat menekan tombol panggilan darurat untuk meminta bantuan suster. Namun, melihat ruangan yang sepi, Ellena akhirnya memutuskan untuk turun dari ranjang sendiri. Dengan langkah lambat dan penuh kehati-hatian, sebelah tangannya mencengkeram erat tiang infus, ia menyeret kakinya mendekati sofa. Begitu jemarinya berhasil meraih ponsel tersebut, ia langsung menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan itu. "Iya, Halim. Ada apa, nelpon?" tanya Ellena dengan nada suara yang terdengar amat lemas. "Kabar baik, Bu!" sahut Halim di seberang dengan nada suara penuh semangat. "Saya baru saja menemukan orang yang sangat pas dan potensial untuk menyelamatkan rating stasiun TV kita!" Ellena refleks memejamkan matanya rapat-rapat. Mendengar kata 'kantor' dan 'rating' seketika membuat kepalanya kembali berdenyut nyeri. "Halim, maaf ya... untuk saat ini saya benar-benar tidak ingin membahas urusan pekerjaan dulu. Tolong, kita bicarakan lagi nanti saja," potong Ellena pelan namun sarat akan kelelahan. Ellena langsung memutuskan panggilan tersebut secara sepihak. Ia mengembuskan napas panjang yang terasa sesak. Tubuhnya benar-benar menjerit meminta istirahat saat ini. Namun, baru saja ia hendak meletakkan kembali ponselnya, layar perangkat itu kembali berkedip menyala. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Halim. Ellena mengernyitkan dahi dengan sisa-sisa kesabaran yang ada. Rupanya Halim baru saja mengirimkan sebuah dokumen digital lampiran CV.Agus menggigit bibir bawahnya rapat-rapat. Wajahnya pias, sementara kedua tangannya tak berhenti meremas celana di atas pangkuan. Ia tampak berada di ambang pergulatan batin yang hebat.Di hadapannya, Halim dan Damar menanti dalam ketegangan yang tertahan. Namun, hingga belasan detik menguap begitu saja, tidak ada satu patah kata pun yang lolos dari bibir Agus.Damar menggelengkan kepala, helaan napas kecewa meluncur dari mulutnya. "Gus..." desahnya lirih. "Saya benar-benar tidak habis pikir kamu bisa jadi orang yang serendah ini. Kamu bikin malu saya!"Agus hanya bisa menunduk pasrah.Damar menoleh ke arah Halim. "Lim, tidak ada gunanya lagi mempertahankan orang seperti ini. Sekali dia berani berkhianat, dia pasti bakal mengulanginya lagi. Pecat saja langsung."Ruangan kerja itu kembali diselimuti keheningan yang berat.Halim menyandarkan tubuhnya ke kursi kerja. Ia memejamkan mata sejenak, mengembuskan napas panjang demi menetralkan kepalanya sebelum akhirnya mengambil keputusan akh
"Jawab sebelum kesabaran saya habis, Gus."Agus menarik napas pendek yang terasa berat. Jemarinya saling bertautan, meremas satu sama lain di atas pangkuan."S-saya... melakukannya atas keinginan saya sendiri, Pak," cicitnya dengan suara yang kentara bergetar. "Saya cuma kesal karena hak saya tidak kunjung diberikan."Halim tidak langsung menyahut. Tatapannya tetap terkunci pada Agus, menelisik setiap kedutan halus dan perubahan mikro pada ekspresi wajah pria di hadapannya. Beberapa detik menguap dalam keheningan yang menyiksa.Entah mengapa, pembelaan diri Agus sama sekali tidak terdengar meyakinkan di telinganya."Saya tahu kamu sedang tidak jujur, Gus. Kamu masih menyembunyikan sesuatu dari saya."Agus menggeleng cepat, gesturnya tampak terlalu defensif. "Tidak, Pak. Sungguh.""Kamu bohong." Nada suara Halim tetap datar dan tenang, namun justru karena itulah tekanannya terasa berkali-kali lipat lebih berat. "Kita sudah bekerja bersama bertahun-tahun. Saya tahu betul kapan kamu seda
Suasana di dalam ruang kerja Halim terasa begitu sunyi. Dengung halus dari pendingin ruangan yang terpasang di sudut langit-langit seolah menjadi satu-satunya suara yang tersisa, namun entah mengapa, butiran keringat dingin tetap nekat mengembun di pelipis Agus. Padahal, sejak melangkah masuk dan duduk di kursi, Halim belum melontarkan satu pun pertanyaan tajam.Halim berdeham pendek, memecah keheningan yang mulai mencekam. "Gus."Agus refleks menegakkan posisi duduknya, menumpu punggungnya dengan kaku. "Iya, Pak?"Halim menyandarkan punggungnya perlahan ke sandaran kursi kerja. Tatapannya lurus dan mengunci pria di hadapannya tanpa ampun. "Kamu sudah ikut membesarkan NTV lebih dari tujuh tahun, kan?"Agus hanya mengangguk pelan, tenggorokannya mendadak terasa kering."Selama durasi yang tidak sebentar itu, saya selalu mengenal kamu sebagai kru yang telaten, disiplin, dan yang paling penting... bisa dipercaya.""Terima kasih, Pak.""Bahkan ketika badai krisis melanda perusahaan ini be
Siaran perdana berdurasi tiga puluh menit itu akhirnya tuntas tanpa ada satu pun kendala berarti. Tidak ada lidah yang terpeleset, tidak ada gangguan teknis pada grafis, dan yang paling krusial: seluruh materi berita tersampaikan utuh sesuai rundown yang sudah dipulihkan semalam.Begitu lampu indikator merah di atas kamera padam, ketegangan yang sempat menyelimuti studio seketika mencair.Beberapa kru langsung mengembuskan napas lega yang panjang. Sebagian saling melempar senyum, sementara yang lain bertepuk tangan pelan—sebuah apresiasi spontan untuk sebuah debut yang berjalan mulus."Syukurlah... aman," gumam salah seorang kameramen sembari melepas headset dari telinganya."Anak baru, tapi pembawaannya tenang sekali. Macam anchor senior yang sudah jam terbang tinggi," sahut kru properti di sebelahnya dengan nada kagum.Di atas panggung siaran, Kenzo baru benar-benar merasa beban berat di pundaknya menguap. Ia mengembuskan napas panjang, lalu diam-diam menyapukan telapak tangannya ya
Gedung NTV yang semalam sunyi kini telah kembali ke ritme aslinya—riuh dan sibuk. Para kru tampak berlalu-lalang membawa tumpukan berkas, kameramen sibuk menyelaraskan angle pengambilan gambar, sementara tim produksi terus melakukan final check untuk memastikan setiap detail siaran pagi ini berjalan presisi sesuai jadwal.Di dalam ruang rias yang diterangi lampu-lampu putih terang, Kenzo duduk tegak menatap cermin besar di depannya. Seorang penata rias bergerak cekatan merapikan tatanan rambutnya, sementara seorang kru audio sibuk menyelipkan kabel dan memasang clip-on mic di balik kerah jas hitamnya.Kenzo mengunci pandangan pada pantulan dirinya sendiri. Sebenarnya, berbicara di depan kamera bukan hal baru baginya; ia sudah tak terhitung berapa kali memandu jalannya ulasan sebagai komentator olahraga. Namun, atmosfer pagi ini terasa benar-benar berbeda.Hari ini bukan lagi soal menganalisis taktik atau jalannya pertandingan di lapangan hijau. Hari ini, ia memikul tanggung jawab besa
Sedan hitam Mahesa akhirnya berbelok dan berhenti di area parkir sebuah restoran modern berkonsep semi-terbuka yang menghadap langsung ke taman kota. Tempatnya tidak terlalu bising sore itu. Alunan instrumen piano yang sayup-sayup terdengar dari pengeras suara membangun atmosfer yang tenang dan intim.Mahesa turun terlebih dahulu. Dengan gerakan telaten, ia memutari kap mobil untuk membukakan pintu di sisi penumpang bagi Ellena."Pelan-pelan," ucapnya lembut sambil menyodorkan tangan.Ellena tersenyum manis, menyambut uluran tangan suaminya dengan hangat. "Terima kasih, Mas."Mereka melangkah berdampingan masuk ke dalam. Seorang pramusaji dengan ramah langsung mengarahkan mereka menuju meja sudut di dekat jendela besar—spot terbaik di restoran itu.Dari balik kaca, hamparan rumput hijau taman kota membentang luas. Beberapa keluarga kecil tampak asyik menghabiskan sisa sore di sana, sementara bias cahaya matahari barat yang mulai meredup menembus kaca, menyisakan semburat keemasan di a







