Home / Romansa / Obsesi Gila Suamiku / Bab 3. Calon News Anchor

Share

Bab 3. Calon News Anchor

Author: Elsa Mahesa
last update publish date: 2026-07-14 18:11:18

Halim mengangkat tangannya. "Tidak, cukup. Saya mau pulang." Ia beranjak meninggalkan tempat itu. Namun, baru beberapa langkah, tubuhnya limbung. Pandangannya mengabur, lalu ia ambruk ke lantai, ia baru terbangun keesokan harinya dengan kepala yang pening dan penyesalan mendalam. Namun, di tengah keputusasaannya untuk menyelamatkan NTV, sebuah nama terlintas di kepalanya: Kenzo.

Dua hari kemudian, ia sudah berada di bandara, bersiap menempuh penerbangan menuju Jepang. Rasa lelah setelah berjam-jam di pesawat akhirnya terbayar begitu ia menginjakkan kaki di Negeri Sakura tersebut.

​Sore itu, angin musim gugur berembus kencang, menyapu tribun sebuah stadion besar. Lampu-lampu sorot berskala raksasa sudah menyala, menerangi lapangan baseball dan menciptakan siluet para pemain yang sedang bergerak cepat di tengah lapangan.

​Halim duduk di antara barisan penonton yang riuh, menatap ke arah lapangan dengan senyum tipis. Jujur saja, ia sama sekali tidak paham aturan main baseball. Namun, ia cukup menikmati atmosfer ramai di sekitarnya. Lagi pula, alasan utamanya datang ke stadion ini bukan untuk menonton pertandingan, melainkan demi mendengarkan suara dari pengeras suara yang menggema ke seluruh penjuru stadion.

​Suara itu terdengar jernih, dan sangat menguasai keadaan. Itu adalah suara keponakannya sendiri.

​Di balik dinding kaca ruang komentator Kenzo berdiri tegak dengan headset yang terpasang di telinga. Sorot matanya tajam mengikuti setiap pergerakan bola dan pemain. Pemilihan bahasanya lancar dan intonasinya tetap stabil.

​Halim mengembuskan napas pelan sambil mengangguk-angguk. Anak itu ternyata punya bakat yang jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan selama ini.

​Begitu babak inning berakhir dan kru pertandingan mendapatkan jeda istirahat, Halim langsung bangkit dari kursinya. Ia berjalan menyusuri lorong sempit di antara barisan tribun, lalu mengetuk pintu ruang kaca komentator.

"Om mau ngomong sesuatu yang penting sebentar saka kamu. Bisa?”

​Kenzo melirik jam dinding di dalam ruangan lalu mengangguk. “Bisa, Om. Tapi tunggu sampai seluruh pertandingan ini selesai, ya?”

​Halim mengacungkan jempolnya tanda setuju, lalu melangkah mundur untuk menunggu di luar.

​Setelah pertandingan benar-benar usai, Halim dan Kenzo akhirnya bertemu di sebuah kedai. Suasana di dalam kedai terasa begitu hangat.

​“Om jauh-jauh menyusul ke Jepang cuma buat menonton pertandingan baseball?” tanya Kenzo sambil mengangkat alis, lalu menyeruput teh hangatnya. “Memangnya Om paham cara mainnya?”

​Halim langsung tertawa pelan mendengar sindiran keponakannya. “Jelas tidak paham. Tapi Om cukup menikmati suasananya. Sebenarnya, tujuan utama Om ke sini karena ingin mengajakmu bekerja sama.”

​“Kerja sama apa, Om?” Kenzo jelas terheran sekaligus penasaran.

"Iya," Halim mengagguk. "Kamu tahu sendiri, kan, selama ini Om bekerja di industri pertelevisian?” tanya Halim serius.

​"Iya, Om. Saya tahu.”

​“Stasiun TV tempat Om kerja ratingnya lagi hancur-hancuran, Ken. Penonton sekarang banyak yang beralih ke acara-acara yang... ya, kamu tahu sendiri, kurang mendidik tapi laku keras.”

​Kenzo terdiam mendengarkan keluhan pamannya itu Sembari menyesap minumannya, Halim kembali melanjutkan obrolan.

“Ken, bantu Om, ya? Pulang ke Indonesia dan jadilah news anchor di tempat Om.”

​Ajakan itu jelas membuat Kenzo terkejut, hingga ia tersedak minumannya sendiri. Halim dengan cekatan langsung menepuk-nepuk punggung keponakannya itu. “Eh, pelan-pelan, Ken.”

​“Om yang harusnya pelan-pelan!" Kenzo langsung melayankan protes. "Tiba-tiba datang ke Jepang minta jadi pembawa berita... gimana nggak shock.”

​Halim justru mengulas senyum. “Loh, kenapa harus kaget? Pekerjaan itu sangat cocok buat kamu Ken. Bahasamu teratur, dan Om benar-benar kagum melihat cara kamu memandu pertandingan baseball tadi.”

​Namun, Kenzo tetap menggelengkan kepala perlahan. “Maaf, Om. Sepertinya aku nggak bisa.”

​“Kenapa?” potong Halim cepat.

​“Ya... nggak bisa saja. Kurang berminat.”

​“Ayolah, Ken. Masa tidak bisa? Emang kamu gak kasihan sama, Om?” Halim tampak memohon membujuk keponakannya itu.

​“Maaf, Om, tetap nggak bisa,” tolak Kenzo mencoba tetap pada pendiriannya. “Menjadi news anchor dan komentator itu dua hal yang berbeda. Lebih baik Om cari orang lain saja yang memang punya latar belakang jurnalistik.”

"Nggak bisa, Ken. kamu kandidat yang paling pas,” tutur Halim sambil menatap mata Kenzo.

Kenzo terdiam sesaat, menatap wajah pamannya itu yang tampak putus asa, ia menarik nafas sebelum memberikan jawaban akhir.

​“Ya sudah... aku coba dulu deh, Om,” sahut Kenzo akhirnya, setengah menyerah. “Tapi Om jangan berharap terlalu tinggi, ya?"

​“Siap! Yang penting kamu mau coba dulu,” jawab Halim cepat.

​Mereka berdua kemudian keluar dari kedai dan naik taksi menuju rumah kediaman Kenzo, ​Begitu pintu depan terbuka, seorang wanita langsung menyambut kedatangan mereka dengan senyuman yang sangat ramah.

​“Halim, apa kabar? Kamu sudah lama sekali ya tidak berkunjung ke Jepang,” sapa Zoana, ibu dari Kenzo.

​Halim membungkuk hormat sedikit sebagai bentuk kesopanan. “Kabar baik, Kak, maaf saya baru sempat berkunjung lagi ke rumah ini sekarang.”

​“Ah, tidak apa-apa, yang penting kamu sehat. Kalian berdua pasti lelah setelah dari stadion. Ayo langsung masuk, di luar udaranya lagi dingin,” ajak Zoana hangat.

​Malam itu, mereka semua bisa beristirahat dengan nyaman di bawah kehangatan rumah keluarga Kenzo, hingga matahari mulai terbit.

​Pagi itu, Zoana terlihat sudah sibuk mengobrol lewat telepon genggamnya sambil berjalan mondar-mandir di dekat meja makan.

​“Sayang, kamu udah sampai di Rusia? Syukurlah... aku lega banget dengarnya,” ucap Zoana dengan nada suara penuh rasa syukur.

​Dari ujung telepon, terdengar sahutan suara berat pria dewasa yang terdengar sangat tenang. “Iya, Sayang. Aku baru saja sampai di hotel. Tolong berikan teleponnya pada Kenzo sebentar, Papa mau bicara.”

​“Oh, iya, sebentar ya.” Zoana langsung menurunkan ponselnya dan menyodorkan benda itu ke arah putranya yang baru saja duduk di meja makan. “Kenzo, ini Papa mau bicara.”

​Kenzo menerima ponsel tersebut sambil menyunggingkan senyum jahil. “Halo, Pa! Sudah sampai di Rusia? Jadi mampir ke Dagestan tidak? Katanya kemarin Papa mau coba tanding di UFC?” seloroh Kenzo asal.

​Tawa kecil terdengar renyah dari seberang telepon. Namun, sebelum sang ayah sempat membalas candaan itu, sebuah tabokan main-main mendarat mulus di bahu Kenzo.

​“Ada-ada saja kamu ini, Ken, Masa orang tua sendiri disuruh main UFC? Baru pemanasan juga pinggangnya sudah encok duluan!”

​Zoana yang sedang menuangkan air langsung menutup mulutnya, menahan tawa melihat kelakuan adik dan anaknya itu.

​Suara ayah Kenzo kembali terdengar, namun kali ini nadanya berubah menjadi jauh lebih serius, "Kenzo, Papa sudah dengar kabar dari Halim kalau kamu mau jadi news anchor di Jakarta. Memangnya kamu bisa?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 152. Ketika Semuanya Terbongkar

    Mahesa baru beberapa langkah memasuki lobi rumah sakit ketika kepalanya mendadak berputar balik.Kenzo.Pria itu masih di atas. Dan Mahesa tidak mungkin membiarkannya lolos begitu saja.Ia berbalik cepat, melangkah lebar menuju barisan lift. Begitu pintunya terbuka, Mahesa masuk dan menekan tombol lantai atas tanpa ragu.Jari-jarinya mengetuk paha dengan gelisah. Ucapan Kenzo terus terngiang-ngiang dan membakar kepalanya.Ellena sempat transfusi darah.Salah satu bayinya kritis.Dan pria itu tahu soal hubungannya dengan Malhera.Pintu lift berdenting dan terbuka.Mahesa langsung melesat keluar. Matanya menyapu lorong sampai akhirnya menemukan Kenzo yang masih berdiri santai di sana, bersandar pada pagar pembatas.Tatapan mereka bertabrakan. Kenzo cuma menyunggingkan senyum tipis.Napas Mahesa memburu saat ia mengikis jarak. Tanpa aba-aba, ia menyambar kerah baju Kenzo dan mendorongnya kasar sampai punggung pria itu menabrak dinding.“Brengsek. Berani-beraninya kamu kurang ajar sama sa

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 151. Di Balik Panggilan

    Mahesa tidak sanggup hanya duduk menunggu. Setelah memerintahkan orang-orangnya bergerak untuk mencari Ellena, ia sendiri ikut turun ke jalan. Satu demi satu rumah sakit di Milan ia datangi langsung. Namun hasilnya nihil. Nama Ellena tidak pernah terdaftar di bagian penerimaan pasien. Mahesa melangkah cepat keluar dari rumah sakit kesekian. Wajahnya makin tegang saat melirik layar ponsel yang tetap sepi. Tidak ada kabar. Sama sekali. Ia menekan nomor orang kepercayaannya. “Gimana?” “Belum ada perkembangan, Pak. Tim masih menyisir.” “Terus cari. Jangan ada yang terlewat.” Mahesa memutus sambungan. Ia masuk kembali ke mobil dan langsung menyebutkan nama rumah sakit berikutnya pada sang sopir. Di sepanjang jalan, kepalanya terus berputar. Kenapa Ellena nekat terbang ke Milan tanpa bilang apa-apa? Kenapa istrinya tidak menghubunginya? Dan yang paling membikin kalut, kenapa ponselnya mendadak mati total? Beberapa saat kemudian, Mahesa kembali keluar dari rumah sakit

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 150. Mencari Ellena

    Bi Minah memejamkan mata rapat-rapat sebelum akhirnya menyerah pada desakan Mahesa.“I-Ibu Ellena... dia ke luar negeri, Pak. Menyusul Pak Mahesa.”“Apa?” Suara Mahesa pelan, nyaris tak terdengar. “Sejak kapan?” tanyanya lagi. Kali ini, nadanya naik satu oktav. “Cepat jawab, Bi.”“Sejak tiga hari yang lalu, Pak. Ibu bilang mau menyusul Pak Mahesa ke Milan.”“Tiga hari yang lalu...”Mahesa terdiam. Napasnya berat. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, berusaha mencerna maksud dari ucapan Bi Minah.“Kenapa dia nggak ada kasih kabar? Terus dia berangkat sama siapa?”“Bibi beneran nggak tahu, Pak. Ibu cuma bilang mau nyusul ke Milan. Cuma itu.”Mahesa tidak membalas lagi.Telepon langsung ia matikan begitu saja.Ia menurunkan ponsel dari telinganya perlahan. Ekpresinya berubah total—ada campuran bingung, cemas, dan frustrasi yang memuncak. Perubahan raut wajah itu tidak luput dari perhatian Malhera yang sejak tadi duduk memenanginya.“Mas, ada apa?” tanya Malhera, menyadari aura yang mendad

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 149. Di Balik Diam Bi Minah

    Rasa tidak enak itu masih mengganggu Mahesa.Bahkan setelah urusan bisnisnya beres, kepalanya tetap riuh. Ada yang mengganjal.Ia meraih ponsel di meja, lalu memeriksa layarnya lagi.Nihil. Tidak ada pesan masuk. Tidak ada satu pun panggilan dari Ellena sejak kemarin.Keningnya berkerut. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menekan nama istrinya dan menelepon.Nada sambung berdering... terus berdering. Sampai akhirnya terputus sendiri tanpa ada jawaban.“Kenapa nggak diangkat, sih?” gumamnya heran. Ia melirik jam tangan. "Bukannya di Jakarta sekarang jam kerja? Harusnya Ellena sudah bangun dan pegang ponsel."Perasaan gelisahnya malah makin menjadi-jadi. Mahesa memijit pangkal hidungnya, lalu mengetik pesan singkat. Ia menanyakan kabar Ellena, menyisipkan rasa khawatirnya, dan bertanya kenapa seharian kemarin istrinya menghilang tanpa kabar.Setelah pesan terkirim, ia mengembuskan napas berat. Matanya terpejam sejenak, mencoba menata pikiran yang mulai membayangkan hal yang tidak-tidak

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 148. Tekad di Koridor Sunyi

    Beberapa waktu kemudian, Ellena dipindahkan ke ruang pemulihan.Tubuhnya masih begitu lemas, tapi kepalanya terus diisi satu hal.“Bayiku...”Seorang perawat melangkah mendekati bangsalnya. “Bu Ellena, bayi perempuan Ibu saat ini masih di ruang perawatan intensif ya. Dokter masih harus memantau pernapasannya dulu.”Ellena mendongak, menatap perawat itu lekat-lekat. “Saya boleh melihatnya?”“Boleh, Bu. Tapi jangan terlalu lama berdiri dulu ya.”Perawat itu dengan sigap membantu Ellena berpindah duduk ke kursi roda.“Saya antar, Bu,” sahut Kenzo pelan.Tanpa banyak canggung, Kenzo mengambil alih pegangan kursi roda dan mendorongnya perlahan menyusuri koridor rumah sakit menuju ruang perawatan bayi.Sepanjang jalan, Ellena hanya membisu.Jemarinya meremas erat ujung selimut di pangkuan, sementara fokusnya tak pernah beralih dari bayangan bayi perempuan yang baru saja dibawanya ke dunia.Begitu sampai di depan ruangan, Kenzo memperlambat dorongannya.Mata Ellena langsung tertancap pada se

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 147. Firasat yang Tak Terjelaskan

    Tangisan bayi itu masih enggan terdengar.Dokter dan tim perawat bergerak cepat mengerumuni meja resusitasi. Jemari mereka cekatan melakukan penanganan awal, menepuk-nepuk telapak kaki dan mengusap punggung mungil itu untuk memicu respons pertama kehidupan.Namun, ruangan itu masih diselimuti sunyi yang mencekam.Ellena yang masih bersandar lemas dengan napas patah-patah mulai menangkap kejanggalan di sekitarnya.Matanya yang berat perlahan terbuka penuh. Ia mengoper pandangan—dari raut tegang para medis, lalu tertuju pada tubuh kecil yang tak bergerak di sudut ruangan.“Kenapa...?” bisiknya parau, nyaris tak terdengar.Tak ada satu pun tenaga medis yang menyahut; fokus mereka sepenuhnya terkunci pada bayi itu.Ellena beralih menatap Kenzo, mencari pegangan.“Ken...”Kenzo menunduk rapat.“Kenapa anakku nggak nangis?”Pertanyaan itu menghantam dada Kenzo hingga tenggorokannya terasa tersumbat. Ia menelan ludah payah. Jujur, dadanya sendiri bergemuruh hebat dihinggapi ketakutan yang sa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status