LOGINHalim mengangkat tangannya. "Tidak, cukup. Saya mau pulang." Ia beranjak meninggalkan tempat itu. Namun, baru beberapa langkah, tubuhnya limbung. Pandangannya mengabur, lalu ia ambruk ke lantai, ia baru terbangun keesokan harinya dengan kepala yang pening dan penyesalan mendalam. Namun, di tengah keputusasaannya untuk menyelamatkan NTV, sebuah nama terlintas di kepalanya: Kenzo.
Dua hari kemudian, ia sudah berada di bandara, bersiap menempuh penerbangan menuju Jepang. Rasa lelah setelah berjam-jam di pesawat akhirnya terbayar begitu ia menginjakkan kaki di Negeri Sakura tersebut. Sore itu, angin musim gugur berembus kencang, menyapu tribun sebuah stadion besar. Lampu-lampu sorot berskala raksasa sudah menyala, menerangi lapangan baseball dan menciptakan siluet para pemain yang sedang bergerak cepat di tengah lapangan. Halim duduk di antara barisan penonton yang riuh, menatap ke arah lapangan dengan senyum tipis. Jujur saja, ia sama sekali tidak paham aturan main baseball. Namun, ia cukup menikmati atmosfer ramai di sekitarnya. Lagi pula, alasan utamanya datang ke stadion ini bukan untuk menonton pertandingan, melainkan demi mendengarkan suara dari pengeras suara yang menggema ke seluruh penjuru stadion. Suara itu terdengar jernih, dan sangat menguasai keadaan. Itu adalah suara keponakannya sendiri. Di balik dinding kaca ruang komentator Kenzo berdiri tegak dengan headset yang terpasang di telinga. Sorot matanya tajam mengikuti setiap pergerakan bola dan pemain. Pemilihan bahasanya lancar dan intonasinya tetap stabil. Halim mengembuskan napas pelan sambil mengangguk-angguk. Anak itu ternyata punya bakat yang jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan selama ini. Begitu babak inning berakhir dan kru pertandingan mendapatkan jeda istirahat, Halim langsung bangkit dari kursinya. Ia berjalan menyusuri lorong sempit di antara barisan tribun, lalu mengetuk pintu ruang kaca komentator. "Om mau ngomong sesuatu yang penting sebentar saka kamu. Bisa?” Kenzo melirik jam dinding di dalam ruangan lalu mengangguk. “Bisa, Om. Tapi tunggu sampai seluruh pertandingan ini selesai, ya?” Halim mengacungkan jempolnya tanda setuju, lalu melangkah mundur untuk menunggu di luar. Setelah pertandingan benar-benar usai, Halim dan Kenzo akhirnya bertemu di sebuah kedai. Suasana di dalam kedai terasa begitu hangat. “Om jauh-jauh menyusul ke Jepang cuma buat menonton pertandingan baseball?” tanya Kenzo sambil mengangkat alis, lalu menyeruput teh hangatnya. “Memangnya Om paham cara mainnya?” Halim langsung tertawa pelan mendengar sindiran keponakannya. “Jelas tidak paham. Tapi Om cukup menikmati suasananya. Sebenarnya, tujuan utama Om ke sini karena ingin mengajakmu bekerja sama.” “Kerja sama apa, Om?” Kenzo jelas terheran sekaligus penasaran. "Iya," Halim mengagguk. "Kamu tahu sendiri, kan, selama ini Om bekerja di industri pertelevisian?” tanya Halim serius. "Iya, Om. Saya tahu.” “Stasiun TV tempat Om kerja ratingnya lagi hancur-hancuran, Ken. Penonton sekarang banyak yang beralih ke acara-acara yang... ya, kamu tahu sendiri, kurang mendidik tapi laku keras.” Kenzo terdiam mendengarkan keluhan pamannya itu Sembari menyesap minumannya, Halim kembali melanjutkan obrolan. “Ken, bantu Om, ya? Pulang ke Indonesia dan jadilah news anchor di tempat Om.” Ajakan itu jelas membuat Kenzo terkejut, hingga ia tersedak minumannya sendiri. Halim dengan cekatan langsung menepuk-nepuk punggung keponakannya itu. “Eh, pelan-pelan, Ken.” “Om yang harusnya pelan-pelan!" Kenzo langsung melayankan protes. "Tiba-tiba datang ke Jepang minta jadi pembawa berita... gimana nggak shock.” Halim justru mengulas senyum. “Loh, kenapa harus kaget? Pekerjaan itu sangat cocok buat kamu Ken. Bahasamu teratur, dan Om benar-benar kagum melihat cara kamu memandu pertandingan baseball tadi.” Namun, Kenzo tetap menggelengkan kepala perlahan. “Maaf, Om. Sepertinya aku nggak bisa.” “Kenapa?” potong Halim cepat. “Ya... nggak bisa saja. Kurang berminat.” “Ayolah, Ken. Masa tidak bisa? Emang kamu gak kasihan sama, Om?” Halim tampak memohon membujuk keponakannya itu. “Maaf, Om, tetap nggak bisa,” tolak Kenzo mencoba tetap pada pendiriannya. “Menjadi news anchor dan komentator itu dua hal yang berbeda. Lebih baik Om cari orang lain saja yang memang punya latar belakang jurnalistik.” "Nggak bisa, Ken. kamu kandidat yang paling pas,” tutur Halim sambil menatap mata Kenzo. Kenzo terdiam sesaat, menatap wajah pamannya itu yang tampak putus asa, ia menarik nafas sebelum memberikan jawaban akhir. “Ya sudah... aku coba dulu deh, Om,” sahut Kenzo akhirnya, setengah menyerah. “Tapi Om jangan berharap terlalu tinggi, ya?" “Siap! Yang penting kamu mau coba dulu,” jawab Halim cepat. Mereka berdua kemudian keluar dari kedai dan naik taksi menuju rumah kediaman Kenzo, Begitu pintu depan terbuka, seorang wanita langsung menyambut kedatangan mereka dengan senyuman yang sangat ramah. “Halim, apa kabar? Kamu sudah lama sekali ya tidak berkunjung ke Jepang,” sapa Zoana, ibu dari Kenzo. Halim membungkuk hormat sedikit sebagai bentuk kesopanan. “Kabar baik, Kak, maaf saya baru sempat berkunjung lagi ke rumah ini sekarang.” “Ah, tidak apa-apa, yang penting kamu sehat. Kalian berdua pasti lelah setelah dari stadion. Ayo langsung masuk, di luar udaranya lagi dingin,” ajak Zoana hangat. Malam itu, mereka semua bisa beristirahat dengan nyaman di bawah kehangatan rumah keluarga Kenzo, hingga matahari mulai terbit. Pagi itu, Zoana terlihat sudah sibuk mengobrol lewat telepon genggamnya sambil berjalan mondar-mandir di dekat meja makan. “Sayang, kamu udah sampai di Rusia? Syukurlah... aku lega banget dengarnya,” ucap Zoana dengan nada suara penuh rasa syukur. Dari ujung telepon, terdengar sahutan suara berat pria dewasa yang terdengar sangat tenang. “Iya, Sayang. Aku baru saja sampai di hotel. Tolong berikan teleponnya pada Kenzo sebentar, Papa mau bicara.” “Oh, iya, sebentar ya.” Zoana langsung menurunkan ponselnya dan menyodorkan benda itu ke arah putranya yang baru saja duduk di meja makan. “Kenzo, ini Papa mau bicara.” Kenzo menerima ponsel tersebut sambil menyunggingkan senyum jahil. “Halo, Pa! Sudah sampai di Rusia? Jadi mampir ke Dagestan tidak? Katanya kemarin Papa mau coba tanding di UFC?” seloroh Kenzo asal. Tawa kecil terdengar renyah dari seberang telepon. Namun, sebelum sang ayah sempat membalas candaan itu, sebuah tabokan main-main mendarat mulus di bahu Kenzo. “Ada-ada saja kamu ini, Ken, Masa orang tua sendiri disuruh main UFC? Baru pemanasan juga pinggangnya sudah encok duluan!” Zoana yang sedang menuangkan air langsung menutup mulutnya, menahan tawa melihat kelakuan adik dan anaknya itu. Suara ayah Kenzo kembali terdengar, namun kali ini nadanya berubah menjadi jauh lebih serius, "Kenzo, Papa sudah dengar kabar dari Halim kalau kamu mau jadi news anchor di Jakarta. Memangnya kamu bisa?"Kabar buruk yang datang hampir berbarengan membuat Ellena dan Mahesa terpaksa mengakhiri pagi santai mereka lebih cepat. Keduanya buru-buru berangkat ke kantor masing-masing.Ellena sampai lebih dulu di Gedung NTV. Tanpa sempat menarik napas longgar, ia langsung menerobos masuk ke ruang rapat darurat, tempat seluruh jajaran redaksi sudah berkumpul dengan raut tegang."Bagaimana ini bisa terjadi lagi?" tanya Ellena to the point, menatap stafnya satu per satu. "Kenapa masalah seperti ini terus berulang?"Halim menghembuskan napas berat. "Jujur, saya juga bingung, Bu."Ellena terdiam sejenak. Tangannya refleks menopang dagu, merangkai berbagai kemungkinan di kepalanya."Ini aneh..." Tatapannya makin tajam. "Agus sudah resmi keluar dari NTV, tapi sabotase masih terus terjadi."Ia melangkah perlahan mengelilingi meja rapat."Artinya..." Ellena menjeda kalimatnya.Suasana ruang rapat seketika hening mencekam."...di kantor ini masih ada pengkhianat lain yang main belakang."Pernyataan itu s
Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Ruangan kembali senyap, hanya menyisakan irama napas teratur dari mereka berdua yang masih saling memeluk erat di atas sofa.Kepala Mahesa bersandar nyaman di dada Ellena, napasnya berat dan tenang—tanda kelelahan benar-benar menyergapnya. Ellena terbangun lebih dulu. Kelopak matanya perlahan terbuka, dan hal pertama yang ia lihat adalah raut wajah lelah suaminya yang tampak damai.Jemarinya bergerak pelan, menyisir helai rambut hitam itu dengan penuh kasih sayang, menatap lekat-lekat sosok yang begitu berarti baginya.Merasa ada usapan lembut di rambutnya, Mahesa mengerang pelan. Ia mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya matanya terbuka sepenuhnya.Ellena tersenyum tipis, berbisik dengan suara serak khas orang yang baru terbangun. “Sayang, kamu capek, ya?”Alih-alih menjawab, Mahesa justru tersenyum malu, rona merah samar menjalar di pipinya. Ia tiba-tiba salah tingkah dan buru-buru menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya.Kekehan
Sesampainya di rumah, pikiran Ellena tetap tidak bisa tenang.Bayangan Agus yang mengenakan seragam ALTV terus berputar-putar di kepalanya. Bagaimana bisa? Bukankah pria itu baru saja dipecat dari NTV? Lalu, kenapa sekarang malah mendadak bekerja di stasiun TV milik suaminya?Ellena terduduk di sofa ruang tamu. Tanpa sadar, ia menggigit kecil ujung jarinya—kebiasaan lama yang selalu muncul tiap kali kepalanya dipenuhi pikiran berat.Saking larutnya dalam spekulasi, Ellena sampai tidak mendengar suara pintu depan yang terbuka."Sayang..."Suara lembut itu terdengar tepat di dekat telinganya, disusul sepasang lengan yang merengkuh bahunya hangat dari belakang.Ellena sedikit tersentak. "Mas... sudah pulang?""Iya," Mahesa tersenyum, tetap mempertahankan posisinya. "Lagi melamunkan apa, hm? Kelihatannya serius sekali."Ellena menoleh sekilas. Jujur, dorongan untuk langsung mempertanyakan keberadaan Agus di ALTV sangat kuat. Namun, ia buru-buru menahannya. Hari ini hari ulang tahun Mahesa
Cuaca Jakarta siang itu sedang terik-teriknya.Jarum jam menunjukkan pukul 12.30 WIB. Waktu istirahat makan siang akhirnya tiba.Suasana kantin Gedung NTV yang biasanya sepi mendadak riuh oleh presensi para karyawan. Denting sendok beradu piring, derai tawa, dan obrolan ringan bersahutan mengisi ruangan, mencairkan kepenatan usai berkutat dengan tenggat waktu sejak pagi.Di salah satu sudut meja, Halim, Irfan, dan Kenzo tampak menikmati santap siang mereka sembari sesekali bertukar pikiran mengenai materi siaran esok hari.Namun... tak semua orang menghabiskan jeda siang itu di dalam kantin.Di saat mayoritas staf sibuk menyantap makan siang, Damar justru melangkah tergesa meninggalkan area gedung. Ia masuk ke kabin mobilnya, lalu membelah kepadatan arus lalu lintas ibu kota yang tengah terik-teriknya.Tak sampai setengah jam kemudian, kendaraannya sudah merapat di halaman Gedung ALTV.Tanpa buang-buang waktu, Damar melangkah tegap menuju lift, mengarah ke lantai teratas tempat ruang
Meski dadanya mulai dipenuhi rasa cemburu, Mahesa tetap berusaha berbicara dengan tenang."Oh... begitu. Ya sudah, langsung pulang ke rumah ya, Sayang, jangan mampir ke mana-mana lagi. Rapat Mas sebentar lagi juga selesai.""Iya, Sayang," sahut Ellena diselingi senyum. "Aku tunggu di rumah, ya. Bye.""Bye."Sambungan telepon itu terputus.Seketika itu pula, sisa-sisa kehangatan di wajah Mahesa menguap tanpa bekas.Dengan gerakan lambat, ia meletakkan ponselnya di atas sofa ruang kerja, lalu menyandarkan tubuhnya sembari menghembuskan napas berat. Sorot matanya mendingin, menikam hampa ke depan."Kenzo..." bisiknya, menyebut nama itu dengan nada ganjil. "Ternyata kamu mulai berani menyelinap ke kehidupan Ellena."Mahesa mengusap wajahnya kasar. Tatapannya kosong, tetapi rahangnya mengeras menahan geram."Tidak..." sergahnya pelan pada diri sendiri, penuh penekanan dingin. "Ellena tidak boleh bergantung pada siapa pun di dunia ini."Ia menyunggingkan senyum miring. "Dia cuma boleh berga
Usai rapat evaluasi itu dibubarkan, Kenzo bersiap-siap untuk beranjak pulang.Jarum jam menunjukkan tepat pukul tiga sore. Langit Jakarta yang sejak siang mendung akhirnya tak sanggup lagi menahan beban; hujan deras pun runtuh, membasahi pelataran Gedung NTV.Kenzo tak langsung bergegas menuju area parkir. Ia memilih berdiam diri di bawah kanopi lobi, bersandar santai di salah satu pilar sembari menikmati derai air yang turun kian lebat."Lumayan sejuk juga..." bisiknya pelan pada diri sendiri. "Beberapa hari ini Jakarta rasanya menyengat banget."Ia memejamkan mata sejenak, meresapi embusan angin sore.Tak lama berselang...Terdengar suara ketukan sepatu hak tinggi beberdu dengan lantai granit lobi.Kenzo membuka mata. Entah mengapa, irama langkah kaki itu terasa familier di telinganya.Bahkan sebelum ia sempat memutar tubuh, sebuah suara lembut sudah lebih dulu menyapa, "Kenzo."Kenzo berbalik spontan. "Eh... Bu Ellena."Ellena mengulas senyum ramah, mengambil posisi berdiri di samp







