Home / Romansa / Obsesi Gila Suamiku / Bab 64. Antara Liburan dan Rahasia

Share

Bab 64. Antara Liburan dan Rahasia

Author: Elsa Mahesa
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-12 20:00:53

"Mas, angkat dulu teleponnya." Ellena melirik ponsel yang tak henti bergetar di atas konsol.

Mahesa hanya melirik sekilas pendar layar itu sebelum kembali melempar pandangan lurus ke jalanan.

"Biar saja. Paling-paling urusan kantor."

Jemarinya terulur mematikan layar ponsel, lalu menghempaskannya kembali.

"Aku sedang malas diganggu. Apalagi kita lagi berdua begini."

Ellena terdiam sejenak. Sunggingan senyum tipis perlahan mengembang di parasnya.

"Apaan sih, Mas..." cetusnya pelan, meresapi rona
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 80. Jarak yang Terasa

    "Sayang... ada yang mau aku sampaikan."Simpul senyum di wajah Mahesa perlahan menguap, berganti raut heran."Ada apa, Sayang?" tanyanya. Sorot matanya berangsur menajam. "Kelihatannya serius sekali. Aku berharap ini bukan berita buruk buat acara kita."Ellena menelan ludah yang terasa mengganjal. Keraguan sempat menghampiri, namun ia memberanikan diri melepas suara."Hari Sabtu lusa, aku ada meeting ekspansi yang teramat penting. Jadi..." Ia menarik napas pendek, menahan getar di dada. "...bisa tidak kalau perayaan anniversary kita digeser sedikit?"Tautan jemari Mahesa di atas meja perlahan melonggar, lalu terlepas begitu saja.Ellena menyadarinya secara presisi—sebuah sinyal tak kasat mata bahwa suaminya tersinggung."Meeting apa, Sayang?" Suara Mahesa terdengar masih tenang dan terkontrol, namun pendar hangat yang sedari tadi melingkupi tempat itu menguap tanpa bekas. "Sampai-sampai harus mengorbankan hari pernikahan kita?"Mahesa memaku pandangannya, menembus manik mata Ellena."

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 79. Kado yang Tak Terduga

    Malam perlahan mulai turun, membungkus kediaman Ellena dalam kegelapan. Cahaya matahari yang sedari sore menyusup di celah jendela kini telah lenyap, berganti pendar remang lampu taman yang memantul pada kaca jendela.Namun hingga detik ini, Ellena belum juga sanggup menemukan muara atas dilema yang terus menggelisahkan benaknya.Ia melangkah mondar-mandir di ruang keluarga dengan kedua tangan terlipat kaku di dada. Derap langkahnya sarat ketegangan, sementara pikirannya bekerja keras menimbang-nimbang setiap opsi yang mungkin diambil.Rapat ekspansi itu terlalu krusial untuk dilepaskan begitu saja.Namun di sisi lain, momen ulang tahun pernikahannya bersama Mahesa bukanlah sesuatu yang rela ia korbankan.Ellena mendadak menghentikan langkahnya di tengah ruangan.Keningnya berkerut dalam, memutar ulang tanggal yang terpampang pada kalender proyek.Beberapa detik berselang, binar di matanya mendadak mencuat benderang."Ah..."Simpul senyum perlahan terbit di sudut bibirnya."Kenapa tid

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 78. Rahasia dan Pilihan

    Laura langsung menyelinap masuk ke dalam kamar mandi begitu berhasil meloloskan diri dari Kenzo.Begitu daun pintu terkunci rapat, ia menyandarkan punggungnya pada permukaan dingin dinding keramik, lalu meluruhkan napas panjang yang sedari tadi tertahan di tenggorokan."Oke... rileks, La. Jangan panik. Jangan gugup. Tenang..."Ia menepuk-nepuk kedua pipinya pelan, berjuang menguasai diri."Tenang, oke?"Namun, ritme detak jantung di dalam dadanya masih menolak diajak kompromi.Laura mendongak, memaku pandangan pada bayangannya sendiri di balik cermin di atas wastafel. Rona merah di parasnya masih tercetak amat jelas—terlebih tiap kali ingatannya memutar ulang momen tatkala jemari Kenzo menggenggam benda pribadinya tadi."Kenapa juga aku harus se-panik itu, sih?" gumamnya meratapi kecerobohan sendiri.Ia meraup wajahnya gusar, lalu kembali memompa paru-parunya dengan tarikan napas dalam-dalam.Cukup lama Laura terkurung di dalam kamar mandi, murni demi menetralisasi isi kepalanya yang

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 77. Ketika Perasaan Menjadi Misi

    "Ngomong apa kamu barusan, La?"Laura tersentak kecil, refleks memundurkan bahunya."Laura cuma bergumam, Om. Nggak usah dianggap serius," elaknya cepat, berjuang menetralkan raut wajah.Halim memaku pandangannya selama beberapa detik, menyelidik dengan ketenangan yang intimidatif."Kalau begitu, dari mana kamu bisa tahu Kenzo menyimpan rasa pada Ellena?"Laura seketika bungkam.Seluruh pembelaan yang sudah ia susun di kepala mendadak menguap tanpa sisa di hadapan Halim. Pria paruh baya itu terus menatapnya lurus, hingga akhirnya Laura hanya bisa meluruhkan pandangan, menatap ujung sepatunya sendiri."Saya sudah berulang kali menasihati Kenzo agar mengubur perasaan konyolnya pada Ellena," desah Halim pelan, menyisakan keletihan dalam intonasinya. "Tapi tampaknya anak itu masih saja goyah dan gagal menguasai hatinya sendiri."Laura makin salah tingkah, meremas jemarinya yang mendadak dingin. Ia sama sekali tak menduga Halim sudah mengantongi rahasia itu lebih dulu."Laura."Suara Halim

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 76. Saingan yang Mustahil

    Kabar kehamilan bayi kembar itu membanjiri dada Ellena dengan kebahagiaan luar biasa. Air mata harunya tak lagi terbendung, menetes pelan membasahi pipi.Mahesa yang berdiri di samping ranjang periksa tak tinggal diam; ia merengkuh tubuh istrinya dalam pelukan erat dan hangat. Diusapnya punggung Ellena penuh kasih, lalu ia mengecup kening wanita itu lama, seolah ingin menyerap setiap rasa haru yang memenuhi hati mereka."Bayi kembar, Sayang..." bisik Mahesa penuh kelembutan.Ellena tersenyum di balik tangisnya. "Iya... aku benar-benar tidak menyangka. Ini terasa seperti mimpi."Kehangatan yang menyeruak di ruang pemeriksaan itu bahkan membuat dokter yang memeriksa mereka tak sanggup menahan senyum turut bahagia.Hari demi hari bergulir.Perut Ellena mulai membuncit, kian nyata menandakan kehidupan ganda di dalamnya. Kendati tubuhnya makin lekas lelah, Ellena tetap memaksakan diri menjalani rutinitas. Sebagai CEO, ia merasa bertanggung jawab untuk memantau pekerjaan dan sesekali menamp

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 75. Dua Kehidupan dalam Satu Detak

    Suasana restoran malam itu jauh lebih lengang dibanding biasanya. Denting sendok dan garpu samar terdengar di antara segelintir meja yang masih terisi menjelang tengah malam.Makanan disajikan satu per satu.Laura menikmati santapannya tanpa terburu-buru. Sikapnya berbanding terbalik dengan Kenzo yang duduk di hadapannya—pria itu berkali-kali mencuri pandang dengan raut yang tak sepenuhnya tenang.Pertanyaan itu sebenarnya sudah mengendap di kepala Kenzo sejak mereka melangkah keluar dari kantor. Namun, ia sengaja menahannya hingga santap malam usai. Ia tidak ingin suasana makan malam ini berubah kaku menyerupai sesi interogasi.Begitu piring di hadapan mereka hampir bersih, Kenzo meletakkan sendoknya perlahan."Laura."Laura mendongak, menyahut halus. "Iya, Kak?"Kenzo menggeser gelasnya pelan. "Sebenarnya... kamu dengar omongan saya waktu di rooftop, kan?"Laura terdiam sejenak. Dahinya berkerut tipis sebelum senyum kecil terbit di bibirnya."Omongan yang mana?" tanyanya balik. "Mem

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status