เข้าสู่ระบบMalam perlahan mulai turun, membungkus kediaman Ellena dalam kegelapan. Cahaya matahari yang sedari sore menyusup di celah jendela kini telah lenyap, berganti pendar remang lampu taman yang memantul pada kaca jendela.Namun hingga detik ini, Ellena belum juga sanggup menemukan muara atas dilema yang terus menggelisahkan benaknya.Ia melangkah mondar-mandir di ruang keluarga dengan kedua tangan terlipat kaku di dada. Derap langkahnya sarat ketegangan, sementara pikirannya bekerja keras menimbang-nimbang setiap opsi yang mungkin diambil.Rapat ekspansi itu terlalu krusial untuk dilepaskan begitu saja.Namun di sisi lain, momen ulang tahun pernikahannya bersama Mahesa bukanlah sesuatu yang rela ia korbankan.Ellena mendadak menghentikan langkahnya di tengah ruangan.Keningnya berkerut dalam, memutar ulang tanggal yang terpampang pada kalender proyek.Beberapa detik berselang, binar di matanya mendadak mencuat benderang."Ah..."Simpul senyum perlahan terbit di sudut bibirnya."Kenapa tid
Laura langsung menyelinap masuk ke dalam kamar mandi begitu berhasil meloloskan diri dari Kenzo.Begitu daun pintu terkunci rapat, ia menyandarkan punggungnya pada permukaan dingin dinding keramik, lalu meluruhkan napas panjang yang sedari tadi tertahan di tenggorokan."Oke... rileks, La. Jangan panik. Jangan gugup. Tenang..."Ia menepuk-nepuk kedua pipinya pelan, berjuang menguasai diri."Tenang, oke?"Namun, ritme detak jantung di dalam dadanya masih menolak diajak kompromi.Laura mendongak, memaku pandangan pada bayangannya sendiri di balik cermin di atas wastafel. Rona merah di parasnya masih tercetak amat jelas—terlebih tiap kali ingatannya memutar ulang momen tatkala jemari Kenzo menggenggam benda pribadinya tadi."Kenapa juga aku harus se-panik itu, sih?" gumamnya meratapi kecerobohan sendiri.Ia meraup wajahnya gusar, lalu kembali memompa paru-parunya dengan tarikan napas dalam-dalam.Cukup lama Laura terkurung di dalam kamar mandi, murni demi menetralisasi isi kepalanya yang
"Ngomong apa kamu barusan, La?"Laura tersentak kecil, refleks memundurkan bahunya."Laura cuma bergumam, Om. Nggak usah dianggap serius," elaknya cepat, berjuang menetralkan raut wajah.Halim memaku pandangannya selama beberapa detik, menyelidik dengan ketenangan yang intimidatif."Kalau begitu, dari mana kamu bisa tahu Kenzo menyimpan rasa pada Ellena?"Laura seketika bungkam.Seluruh pembelaan yang sudah ia susun di kepala mendadak menguap tanpa sisa di hadapan Halim. Pria paruh baya itu terus menatapnya lurus, hingga akhirnya Laura hanya bisa meluruhkan pandangan, menatap ujung sepatunya sendiri."Saya sudah berulang kali menasihati Kenzo agar mengubur perasaan konyolnya pada Ellena," desah Halim pelan, menyisakan keletihan dalam intonasinya. "Tapi tampaknya anak itu masih saja goyah dan gagal menguasai hatinya sendiri."Laura makin salah tingkah, meremas jemarinya yang mendadak dingin. Ia sama sekali tak menduga Halim sudah mengantongi rahasia itu lebih dulu."Laura."Suara Halim
Kabar kehamilan bayi kembar itu membanjiri dada Ellena dengan kebahagiaan luar biasa. Air mata harunya tak lagi terbendung, menetes pelan membasahi pipi.Mahesa yang berdiri di samping ranjang periksa tak tinggal diam; ia merengkuh tubuh istrinya dalam pelukan erat dan hangat. Diusapnya punggung Ellena penuh kasih, lalu ia mengecup kening wanita itu lama, seolah ingin menyerap setiap rasa haru yang memenuhi hati mereka."Bayi kembar, Sayang..." bisik Mahesa penuh kelembutan.Ellena tersenyum di balik tangisnya. "Iya... aku benar-benar tidak menyangka. Ini terasa seperti mimpi."Kehangatan yang menyeruak di ruang pemeriksaan itu bahkan membuat dokter yang memeriksa mereka tak sanggup menahan senyum turut bahagia.Hari demi hari bergulir.Perut Ellena mulai membuncit, kian nyata menandakan kehidupan ganda di dalamnya. Kendati tubuhnya makin lekas lelah, Ellena tetap memaksakan diri menjalani rutinitas. Sebagai CEO, ia merasa bertanggung jawab untuk memantau pekerjaan dan sesekali menamp
Suasana restoran malam itu jauh lebih lengang dibanding biasanya. Denting sendok dan garpu samar terdengar di antara segelintir meja yang masih terisi menjelang tengah malam.Makanan disajikan satu per satu.Laura menikmati santapannya tanpa terburu-buru. Sikapnya berbanding terbalik dengan Kenzo yang duduk di hadapannya—pria itu berkali-kali mencuri pandang dengan raut yang tak sepenuhnya tenang.Pertanyaan itu sebenarnya sudah mengendap di kepala Kenzo sejak mereka melangkah keluar dari kantor. Namun, ia sengaja menahannya hingga santap malam usai. Ia tidak ingin suasana makan malam ini berubah kaku menyerupai sesi interogasi.Begitu piring di hadapan mereka hampir bersih, Kenzo meletakkan sendoknya perlahan."Laura."Laura mendongak, menyahut halus. "Iya, Kak?"Kenzo menggeser gelasnya pelan. "Sebenarnya... kamu dengar omongan saya waktu di rooftop, kan?"Laura terdiam sejenak. Dahinya berkerut tipis sebelum senyum kecil terbit di bibirnya."Omongan yang mana?" tanyanya balik. "Mem
Sejak perjumpaan tak terduga dengan Laura di rooftop, ada desir ganjil yang terus merayapi batin Kenzo.Sesuatu terasa amat mengganjal.Bukan lantaran Laura melempar ucapan yang janggal. Sama sekali tidak. Perempuan itu bahkan melakoni perannya teramat lihai tanpa menunjukkan gelagat yang mencurigakan.Namun entah mengapa, saban kali Laura berjarak dekat dengannya, Kenzo merasa seolah seluruh gesturnya sedang dikuliti dan diawasi dari jauh.Perasaan mengganggu itu berbuntut hingga ke dalam studio.Tatkala mereka bertahta bersisian di balik meja siaran, Laura bersikap teramat profesional. Manik matanya fokus memindai lembar naskah, sesekali mengajak berdiskusi soal rundown berita, bahkan melempar seloroh ringan seperti sedia kala.Segalanya nampak presisi, tak ada yang cacat.Namun di satu momen tatkala Kenzo tak sengaja berpaling, ia mendapati Laura sedang menancapkan pandangan lurus ke arahnya.Hanya sepersekian detik.Laura dengan tenang meluruhkan kembali tatapannya ke atas kertas







