LOGIN"Jawab sebelum kesabaran saya habis, Gus."Agus menarik napas pendek yang terasa berat. Jemarinya saling bertautan, meremas satu sama lain di atas pangkuan."S-saya... melakukannya atas keinginan saya sendiri, Pak," cicitnya dengan suara yang kentara bergetar. "Saya cuma kesal karena hak saya tidak kunjung diberikan."Halim tidak langsung menyahut. Tatapannya tetap terkunci pada Agus, menelisik setiap kedutan halus dan perubahan mikro pada ekspresi wajah pria di hadapannya. Beberapa detik menguap dalam keheningan yang menyiksa.Entah mengapa, pembelaan diri Agus sama sekali tidak terdengar meyakinkan di telinganya."Saya tahu kamu sedang tidak jujur, Gus. Kamu masih menyembunyikan sesuatu dari saya."Agus menggeleng cepat, gesturnya tampak terlalu defensif. "Tidak, Pak. Sungguh.""Kamu bohong." Nada suara Halim tetap datar dan tenang, namun justru karena itulah tekanannya terasa berkali-kali lipat lebih berat. "Kita sudah bekerja bersama bertahun-tahun. Saya tahu betul kapan kamu seda
Suasana di dalam ruang kerja Halim terasa begitu sunyi. Dengung halus dari pendingin ruangan yang terpasang di sudut langit-langit seolah menjadi satu-satunya suara yang tersisa, namun entah mengapa, butiran keringat dingin tetap nekat mengembun di pelipis Agus. Padahal, sejak melangkah masuk dan duduk di kursi, Halim belum melontarkan satu pun pertanyaan tajam.Halim berdeham pendek, memecah keheningan yang mulai mencekam. "Gus."Agus refleks menegakkan posisi duduknya, menumpu punggungnya dengan kaku. "Iya, Pak?"Halim menyandarkan punggungnya perlahan ke sandaran kursi kerja. Tatapannya lurus dan mengunci pria di hadapannya tanpa ampun. "Kamu sudah ikut membesarkan NTV lebih dari tujuh tahun, kan?"Agus hanya mengangguk pelan, tenggorokannya mendadak terasa kering."Selama durasi yang tidak sebentar itu, saya selalu mengenal kamu sebagai kru yang telaten, disiplin, dan yang paling penting... bisa dipercaya.""Terima kasih, Pak.""Bahkan ketika badai krisis melanda perusahaan ini be
Siaran perdana berdurasi tiga puluh menit itu akhirnya tuntas tanpa ada satu pun kendala berarti. Tidak ada lidah yang terpeleset, tidak ada gangguan teknis pada grafis, dan yang paling krusial: seluruh materi berita tersampaikan utuh sesuai rundown yang sudah dipulihkan semalam.Begitu lampu indikator merah di atas kamera padam, ketegangan yang sempat menyelimuti studio seketika mencair.Beberapa kru langsung mengembuskan napas lega yang panjang. Sebagian saling melempar senyum, sementara yang lain bertepuk tangan pelan—sebuah apresiasi spontan untuk sebuah debut yang berjalan mulus."Syukurlah... aman," gumam salah seorang kameramen sembari melepas headset dari telinganya."Anak baru, tapi pembawaannya tenang sekali. Macam anchor senior yang sudah jam terbang tinggi," sahut kru properti di sebelahnya dengan nada kagum.Di atas panggung siaran, Kenzo baru benar-benar merasa beban berat di pundaknya menguap. Ia mengembuskan napas panjang, lalu diam-diam menyapukan telapak tangannya ya
Gedung NTV yang semalam sunyi kini telah kembali ke ritme aslinya—riuh dan sibuk. Para kru tampak berlalu-lalang membawa tumpukan berkas, kameramen sibuk menyelaraskan angle pengambilan gambar, sementara tim produksi terus melakukan final check untuk memastikan setiap detail siaran pagi ini berjalan presisi sesuai jadwal.Di dalam ruang rias yang diterangi lampu-lampu putih terang, Kenzo duduk tegak menatap cermin besar di depannya. Seorang penata rias bergerak cekatan merapikan tatanan rambutnya, sementara seorang kru audio sibuk menyelipkan kabel dan memasang clip-on mic di balik kerah jas hitamnya.Kenzo mengunci pandangan pada pantulan dirinya sendiri. Sebenarnya, berbicara di depan kamera bukan hal baru baginya; ia sudah tak terhitung berapa kali memandu jalannya ulasan sebagai komentator olahraga. Namun, atmosfer pagi ini terasa benar-benar berbeda.Hari ini bukan lagi soal menganalisis taktik atau jalannya pertandingan di lapangan hijau. Hari ini, ia memikul tanggung jawab besa
Sedan hitam Mahesa akhirnya berbelok dan berhenti di area parkir sebuah restoran modern berkonsep semi-terbuka yang menghadap langsung ke taman kota. Tempatnya tidak terlalu bising sore itu. Alunan instrumen piano yang sayup-sayup terdengar dari pengeras suara membangun atmosfer yang tenang dan intim.Mahesa turun terlebih dahulu. Dengan gerakan telaten, ia memutari kap mobil untuk membukakan pintu di sisi penumpang bagi Ellena."Pelan-pelan," ucapnya lembut sambil menyodorkan tangan.Ellena tersenyum manis, menyambut uluran tangan suaminya dengan hangat. "Terima kasih, Mas."Mereka melangkah berdampingan masuk ke dalam. Seorang pramusaji dengan ramah langsung mengarahkan mereka menuju meja sudut di dekat jendela besar—spot terbaik di restoran itu.Dari balik kaca, hamparan rumput hijau taman kota membentang luas. Beberapa keluarga kecil tampak asyik menghabiskan sisa sore di sana, sementara bias cahaya matahari barat yang mulai meredup menembus kaca, menyisakan semburat keemasan di a
Begitu pesan singkat itu dipastikan terkirim, pria berseragam NTV tersebut mengunci layar ponselnya dengan gerakan santai.Ia meraih cangkir kopinya yang sedari tadi diabaikan, meneguk sisa cairan hitam di dalamnya hingga tandas, lalu bangkit berdiri seolah-olah baru saja menyelesaikan jeda makan siang biasa. Tidak ada satu pun gerak-gerik dari pembawaannya yang mengundang curiga. Pria itu sempat merapikan kartu identitas yang menggantung di dadanya, membetulkan letak kerah seragamnya yang sedikit kusut, lalu melangkah menuju pintu keluar dengan langkah kasual.Di sudut lain restoran, Halim masih sibuk merinci coretan jadwal kerja Kenzo untuk beberapa hari ke depan.Tak satu pun dari mereka yang menoleh ke arah pintu. Mereka benar-benar buta terhadap kenyataan bahwa pria yang baru saja berpapasan dengan mereka telah membawa sepotong informasi krusial mengenai internal NTV, langsung ke tangan orang yang salah.Sesampainya di area parkir yang terik, pria berseragam itu menghentikan lang







