Beranda / Romansa / Obsesi Gila Suamiku / Bab 7. Titik Pertemuan

Share

Bab 7. Titik Pertemuan

Penulis: Elsa Mahesa
last update Tanggal publikasi: 2026-07-15 18:18:22

Senyuman lega tidak bisa disembunyikan dari wajah Kenzo. Ia kembali menundukkan kepalanya, memberikan gestur hormat yang tulus.

"Terima kasih banyak atas kesempatannya, Bu. Saya berjanji tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan ini."

"Saya pegang janji kamu," sahut Ellena dengan seulas senyuman tipis. "NTV sedang berada di masa-masa sulit sekarang. Karena itu, saya butuh orang-orang yang tidak cuma sekadar bekerja, tapi juga punya tekad untuk berjuang bersama menyelamatkan stasiun TV ini."

"Kami siap memberikan yang terbaik untuk NTV, Bu," sahut Halim mantap.

Belum sempat percakapan mereka berlanjut, terdengar ketukan pelan di daun pintu. "Permisi..."

Pintu kamar rawat VIP itu terbuka perlahan, Sosok dokter spesialis penyakit dalam melangkah masuk, didampingi seorang perawat yang mendorong troli kecil berisi peralatan medis.

"Ah, ternyata Bu Ellena sedang ada tamu," sapa dokter itu ramah dengan senyuman hangat.

Halim bergegas mengangguk sopan. "Selamat sore, Dok. Maaf kalau kehadiran kami mengganggu jadwal pemeriksaan."

"Oh, tidak apa-apa," balas sang dokter kalem. "Pemeriksaannya tidak akan lama kok."

Dokter melangkah mendekati sisi ranjang sembari menyiapkan stetoskopnya. "Bagaimana kondisi lambungnya hari ini? Masih terasa nyeri?"

"Masih agak perih kalau dipakai bergerak mendadak, Dok. Tapi sudah jauh mendingan dibanding kemarin," jawab Ellena jujur.

"Baik, saya periksa sebentar ya."

Dokter mulai memeriksa ritme napas dan detak jantung Ellena. Sementara itu, perawat dengan gerakan cekatan melilitkan manset tensimeter di lengan Ellena untuk mengukur tekanan darah, mengukur suhu tubuh, serta menghitung denyut nadinya.

Beberapa saat kemudian, perawat itu menoleh ke arah dokter. "Tensi sudah stabil di angka 110/70, Dok. Suhu tubuhnya juga sudah kembali normal."

Ellena seketika mengembuskan napas lega mendengar kabar tersebut. "Kalau begitu... besok saya sudah boleh pulang, kan, Dok?"

Dokter tersenyum tipis, memaklumi ketidaksabaran pasiennya. "Sayangnya belum bisa, Bu. Kondisi fisik Anda memang menunjukkan perkembangan yang sangat baik, tapi peradangan pada lambungnya masih butuh observasi ketat. Kalau trennya terus membaik seperti ini, kemungkinan dua atau tiga hari lagi baru saya izinkan pulang."

Gurat kekecewaan sempat melintas di wajah Ellena. Namun, ia sadar keputusan medis ini adalah yang terbaik untuk pemulihan tubuhnya.

Dokter kemudian mengalihkan pandangannya kepada Halim dan Kenzo.

"Sebagai rekan kerja, saya titip pesan ya. Untuk sementara waktu, tolong jangan dulu membebani Bu Ellena dengan urusan kantor atau masalah apa pun yang bisa memicu stres. Saat ini fokus utama beliau adalah istirahat total."

"Tentu saja, Dok," sahut Halim cepat. "Kami ke sini murni hanya untuk menjenguk dan memperkenalkan anggota baru di tim kami."

Kenzo ikut mengangguk mantap untuk meyakinkan. "Benar, Dok. Kami juga berharap Bu Ellena bisa fokus memulihkan diri. Untuk semua urusan pekerjaan di kantor, biar kami yang menanganinya dulu."

Dokter mengulas senyum puas mendengar komitmen tersebut. "Bagus sekali. Saya senang mendengarnya."

Ia menutup map rekam medis di tangannya, lalu mengangguk sopan ke arah semua orang di ruangan. "Kalau begitu, saya permisi dulu. Ingat ya, istirahat yang cukup, Bu Ellena."

"Baik, Dok. Terima kasih banyak."

Pintu kamar kembali tertutup rapat, dokter dan perawat itu melangkah keluar, Halim melirik jam tangan di pergelangan kirinya sekilas, lalu berdeham pelan. "Kalau begitu, kami juga ijin pamit sekarang, ya Bu, Kami tidak ingin mengganggu waktu istirahat Anda lebih lama lagi."

"Iya, terima kasih banyak ya sudah menyempatkan datang ke sini," tutur Ellena tulus.

"Justru kami yang berterima kasih karena Bu Ellena masih berkenan bertemu dengan kami di tengah kondisi yang kurang sehat." balas Halim hangat.

Kenzo melangkah maju setengah langkah, menundukkan kepalanya sedikit dengan penuh hormat. "Semoga lekas pulih dan sehat kembali, Bu."

Ellena tersenyum tipis, matanya memancarkan rasa hangat yang jarang ia tunjukkan pada orang baru. "Terima kasih, Kenzo."

Kedua pria itu kemudian melangkah keluar kamar dengan tenang. Begitu pintu VIP 305 tertutup rapat tanpa suara, keheningan kembali menguasai ruangan, meninggalkan Ellena yang kini menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang jauh lebih tenang.

Di luar, Halim dan Kenzo kembali terlibat obrolan kecil.

"Jadi, besok kamu akan di tec Ken, kamu harus mempersiapkan diri dari sekarang."

Kenzo mengangguk pelan. "Harusnya sih Kenzo bisa melewati tec itu, karena udah terbiasa bicara lugas saat jadi komentator."

"Ya, tapi tetap ada perbedaan, dan kamu akan menyadarinya besok."

Kenzo terdiam, ia menatap wajah pamannya dengan raut wajah penasaran.

Sementara itu, pada saat yang bersamaan di area luar, sebuah mobil sedan hitam mewah baru saja membelah area parkir dan berhenti tepat di area drop-off lobi rumah sakit.

Pintu kemudi terbuka. Mahesa turun dari mobil dengan pembawaan yang begitu tenang. Setelah menghabiskan waktu seharian penuh di kantor, ia menyempatkan diri merapikan kembali jas hitamnya yang sedikit kusut akibat duduk terlalu lama, ia melangkah mantap memasuki lobi utama.

Raut wajahnya tampak datar dan dingin. Pandangannya lurus menatap ke depan, seolah enggan diganggu oleh siapa pun.

Tidak butuh waktu lama, Mahesa sudah berada di dalam lift yang membawanya naik. Begitu pintu lift berdenting terbuka di lantai VIP, ia langsung melangkah keluar dan mulai menyusuri koridor.

pada saat yang bersamaan, dari arah berlawanan, Halim dan Kenzo terus berjalan santai. Jarak di antara kedua belah pihak kini perlahan-lahan mulai terkikis. Tanpa ada satu pun yang menyadari, langkah kaki mereka sedang bergerak menuju satu titik pertemuan yang sama.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 28. Prinsip yang Tak Bisa Ditawar

    Kabar buruk yang datang hampir berbarengan membuat Ellena dan Mahesa terpaksa mengakhiri pagi santai mereka lebih cepat. Keduanya buru-buru berangkat ke kantor masing-masing.Ellena sampai lebih dulu di Gedung NTV. Tanpa sempat menarik napas longgar, ia langsung menerobos masuk ke ruang rapat darurat, tempat seluruh jajaran redaksi sudah berkumpul dengan raut tegang."Bagaimana ini bisa terjadi lagi?" tanya Ellena to the point, menatap stafnya satu per satu. "Kenapa masalah seperti ini terus berulang?"Halim menghembuskan napas berat. "Jujur, saya juga bingung, Bu."Ellena terdiam sejenak. Tangannya refleks menopang dagu, merangkai berbagai kemungkinan di kepalanya."Ini aneh..." Tatapannya makin tajam. "Agus sudah resmi keluar dari NTV, tapi sabotase masih terus terjadi."Ia melangkah perlahan mengelilingi meja rapat."Artinya..." Ellena menjeda kalimatnya.Suasana ruang rapat seketika hening mencekam."...di kantor ini masih ada pengkhianat lain yang main belakang."Pernyataan itu s

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 27. Dua Badai di Pagi Hari

    Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Ruangan kembali senyap, hanya menyisakan irama napas teratur dari mereka berdua yang masih saling memeluk erat di atas sofa.Kepala Mahesa bersandar nyaman di dada Ellena, napasnya berat dan tenang—tanda kelelahan benar-benar menyergapnya. Ellena terbangun lebih dulu. Kelopak matanya perlahan terbuka, dan hal pertama yang ia lihat adalah raut wajah lelah suaminya yang tampak damai.Jemarinya bergerak pelan, menyisir helai rambut hitam itu dengan penuh kasih sayang, menatap lekat-lekat sosok yang begitu berarti baginya.Merasa ada usapan lembut di rambutnya, Mahesa mengerang pelan. Ia mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya matanya terbuka sepenuhnya.Ellena tersenyum tipis, berbisik dengan suara serak khas orang yang baru terbangun. “Sayang, kamu capek, ya?”Alih-alih menjawab, Mahesa justru tersenyum malu, rona merah samar menjalar di pipinya. Ia tiba-tiba salah tingkah dan buru-buru menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya.Kekehan

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 26. Puncak Gairah Panas Suamiku

    Sesampainya di rumah, pikiran Ellena tetap tidak bisa tenang.Bayangan Agus yang mengenakan seragam ALTV terus berputar-putar di kepalanya. Bagaimana bisa? Bukankah pria itu baru saja dipecat dari NTV? Lalu, kenapa sekarang malah mendadak bekerja di stasiun TV milik suaminya?Ellena terduduk di sofa ruang tamu. Tanpa sadar, ia menggigit kecil ujung jarinya—kebiasaan lama yang selalu muncul tiap kali kepalanya dipenuhi pikiran berat.Saking larutnya dalam spekulasi, Ellena sampai tidak mendengar suara pintu depan yang terbuka."Sayang..."Suara lembut itu terdengar tepat di dekat telinganya, disusul sepasang lengan yang merengkuh bahunya hangat dari belakang.Ellena sedikit tersentak. "Mas... sudah pulang?""Iya," Mahesa tersenyum, tetap mempertahankan posisinya. "Lagi melamunkan apa, hm? Kelihatannya serius sekali."Ellena menoleh sekilas. Jujur, dorongan untuk langsung mempertanyakan keberadaan Agus di ALTV sangat kuat. Namun, ia buru-buru menahannya. Hari ini hari ulang tahun Mahesa

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 25. Awal Kejanggalan

    Cuaca Jakarta siang itu sedang terik-teriknya.Jarum jam menunjukkan pukul 12.30 WIB. Waktu istirahat makan siang akhirnya tiba.Suasana kantin Gedung NTV yang biasanya sepi mendadak riuh oleh presensi para karyawan. Denting sendok beradu piring, derai tawa, dan obrolan ringan bersahutan mengisi ruangan, mencairkan kepenatan usai berkutat dengan tenggat waktu sejak pagi.Di salah satu sudut meja, Halim, Irfan, dan Kenzo tampak menikmati santap siang mereka sembari sesekali bertukar pikiran mengenai materi siaran esok hari.Namun... tak semua orang menghabiskan jeda siang itu di dalam kantin.Di saat mayoritas staf sibuk menyantap makan siang, Damar justru melangkah tergesa meninggalkan area gedung. Ia masuk ke kabin mobilnya, lalu membelah kepadatan arus lalu lintas ibu kota yang tengah terik-teriknya.Tak sampai setengah jam kemudian, kendaraannya sudah merapat di halaman Gedung ALTV.Tanpa buang-buang waktu, Damar melangkah tegap menuju lift, mengarah ke lantai teratas tempat ruang

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 24. Api Cemburu

    Meski dadanya mulai dipenuhi rasa cemburu, Mahesa tetap berusaha berbicara dengan tenang."Oh... begitu. Ya sudah, langsung pulang ke rumah ya, Sayang, jangan mampir ke mana-mana lagi. Rapat Mas sebentar lagi juga selesai.""Iya, Sayang," sahut Ellena diselingi senyum. "Aku tunggu di rumah, ya. Bye.""Bye."Sambungan telepon itu terputus.Seketika itu pula, sisa-sisa kehangatan di wajah Mahesa menguap tanpa bekas.Dengan gerakan lambat, ia meletakkan ponselnya di atas sofa ruang kerja, lalu menyandarkan tubuhnya sembari menghembuskan napas berat. Sorot matanya mendingin, menikam hampa ke depan."Kenzo..." bisiknya, menyebut nama itu dengan nada ganjil. "Ternyata kamu mulai berani menyelinap ke kehidupan Ellena."Mahesa mengusap wajahnya kasar. Tatapannya kosong, tetapi rahangnya mengeras menahan geram."Tidak..." sergahnya pelan pada diri sendiri, penuh penekanan dingin. "Ellena tidak boleh bergantung pada siapa pun di dunia ini."Ia menyunggingkan senyum miring. "Dia cuma boleh berga

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 23. Pulang Bersama

    Usai rapat evaluasi itu dibubarkan, Kenzo bersiap-siap untuk beranjak pulang.Jarum jam menunjukkan tepat pukul tiga sore. Langit Jakarta yang sejak siang mendung akhirnya tak sanggup lagi menahan beban; hujan deras pun runtuh, membasahi pelataran Gedung NTV.Kenzo tak langsung bergegas menuju area parkir. Ia memilih berdiam diri di bawah kanopi lobi, bersandar santai di salah satu pilar sembari menikmati derai air yang turun kian lebat."Lumayan sejuk juga..." bisiknya pelan pada diri sendiri. "Beberapa hari ini Jakarta rasanya menyengat banget."Ia memejamkan mata sejenak, meresapi embusan angin sore.Tak lama berselang...Terdengar suara ketukan sepatu hak tinggi beberdu dengan lantai granit lobi.Kenzo membuka mata. Entah mengapa, irama langkah kaki itu terasa familier di telinganya.Bahkan sebelum ia sempat memutar tubuh, sebuah suara lembut sudah lebih dulu menyapa, "Kenzo."Kenzo berbalik spontan. "Eh... Bu Ellena."Ellena mengulas senyum ramah, mengambil posisi berdiri di samp

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status