LOGINMalam di klub pribadi itu berlalu seperti bayangan yang menyiksa.
Terbalut gaun hitam ketat pilihan Baskara yang memeluk lekuk tubuhnya dengan provokatif, Aura dipamerkan bagai trofi di antara para pria berjas mahal yang berbicara tentang perputaran uang gelap. Sepanjang acara, Baskara nyaris tidak menyentuhnya, namun tatapan obsesif pria itu terus mengunci Aura, mengalirkan candu ketegangan yang membuat sarafnya menegang. Namun, neraka sesungguhnya justru telah menunggu di rumah. Baru saja mobil jemputan kantor menurunkan Aura di depan gang rumah kontrakannya yang sepi, firasat buruk langsung mencengkram dadanya. Pintu depan rumahnya terbuka paksa, engselnya rusak. “Ayah! Ibu!” panggil Aura tidak sabaran. Dari dalam, terdengar suara pecahan kaca bercampur teriakan histeris ibunya. Aura berlari masuk dengan jantung yang berpacu liar. Ruang tamu kecil itu sudah hancur lebur. Tiga pria berbadan kekar dengan tato menjalar di leher sedang mengobrak-abrik isi lemari, sementara salah satu dari mereka mencengkram kerah baju ibunya yang menangis ketakutan di lantai. “Tolong lepaskan kami! Kami sudah tidak punya apa-apa lagi.” Mohon ibunya sambil menangis. Ayahnya yang terbaring lemah di kamar terdengar terbatuk-batuk panik melalui selang oksigennya. “Di mana suamimu yang pecundang itu, hahh?” bentak pria bertato ular di lehernya, menoleh beralih pada Aura begitu melihat wanita itu masuk. Ia melangkah mendekati Aura, menatapnya dengan pandangan lapar yang menjijikkan. “Reno pinjam dua miliar, sekarang sudah berbunga jadi lima miliar karena dia kabur terus! Jika malam ini tidak ada uang, kau yang akan kami bawa untuk membayar bunganya!” Pria itu maju, bersiap mencengkram lengan Aura. Dalam kepanikan yang melumpuhkan akal sehatnya, Aura mundur hingga punggungnya membentur pintu. Logikanya mati. Hanya ada satu nama yang terlintas di kepalanya saat ini, pria yang memiliki kendali absolut atas hidupnya. Dengan tangan gemetar hebat, Aura merogoh tasnya, menekan nomor Baskara pada ponselnya. Telepon itu diangkat pada nada sambung kedua. “Pak Baskara ... kumohon! Tolong aku….” bisik Aura, suaranya pecah oleh tangis ketakutan yang tak lagi bisa ia tahan padahal aura sosok wanita kuat yang jarang sekali menangis. “Ada orang-orang Reno di rumahku ... mereka ingin membunuh ibuku, mereka ingin membawaku….” “Tetap di sana, Aura,” suara bariton Baskara terdengar di seberang telepon, begitu tenang, sangat kontras dengan badai di sekitar Aura, namun sarat akan otoritas yang mematikan. Tidak sampai sepuluh menit, suara raungan mesin mobil sport terdengar berhenti tepat di depan rumah. Pintu depan yang rusak itu ditendang kasar dari luar. Baskara Aditya masuk bak malaikat maut. Pria itu masih mengenakan kemeja hitam dari acara klub malam tadi, mantel panjangnya berkibar tertiup angin malam. Di belakangnya, empat pria berjas hitam dengan tubuh tegap dan senjata terselip di balik jas langsung mengepung ruangan sempit itu. Atmosfer di dalam rumah seketika drop hingga ke titik beku. Aura mematikan yang menguar dari tubuh Baskara seketika membuat ketiga rentenir itu melangkah mundur, nyali mereka menciut dalam hitungan detik. “Siapa kau? Jangan ikut campur urusan hutang Reno!” gertak pemimpin rentenir, meski suaranya terdengar bergetar ketakutan. Baskara tidak menjawab. Ia bahkan tidak memandang para rentenir itu seolah mereka hanya kecoak yang mengotori sepatunya. Ia berjalan santai, mendekati Aura yang gemetar di sudut ruangan, lalu berdiri di depannya, mengurung tubuh wanita itu dari bahaya di sekitarnya. Pria itu merengkuh pinggang Aura, menariknya mendekat dengan dominasi yang posesif. “Dua miliar pokok, tiga miliar bunga dan denda. Lima miliar, bukan?” ucap Baskara dingin, melirik ke arah salah satu anak buahnya. Anak buah Baskara maju, mengacungkan tablet berisi bukti transfer ke hadapan pemimpin rentenir. Pria bertato itu mengecek ponselnya sendiri dengan tangan gemetar. Dana sudah masuk. “Hutang Reno sudah lunas. Dan jika aku melihat wajah kalian atau mendengar nama Reno lagi di sekitar wanita ini....” Baskara menjeda kalimatnya, matanya berkilat sadis. “...aku akan memastikan kalian hanya tinggal nama!” Ketiga rentenir itu mundur dan langsung kabur terbirit-birit melewati pintu. Mereka sadar berurusan dengan orang yang salah. Keheningan yang mencekik kembali menguasai ruangan. Ibunya Aura masih terisak di lantai, sementara Aura menatap Baskara dengan tatapan campur aduk antara rasa syukur yang teramat sangat dan ketakutan baru yang lebih besar. Baskara berbalik, menatap Aura yang terengah-engah di pelukannya. Jemarinya yang dingin naik, mengusap pelan air mata di pipi Aura dengan kelembutan yang manipulatif. “Aku sudah melunasi hutang suamimu, Aura. Lima miliar. Itu berarti, hutangmu padaku bertambah di luar nilai kontrak awal kita,” bisik Baskara tepat di telinga Aura, mengirimkan desiran panas yang memabukkan sekaligus mengerikan ke seluruh tubuh wanita itu. “Aku ... aku akan mencicilnya, Baskara. Aku akan bekerja lebih keras….” "Aku tidak butuh cicilan uangmu, Kelinci kecil," Salah satu anak buahnya maju menyodorkan sebuah map. Di dalamnya ada addendum kontrak: surat pengakuan utang lima miliar atas nama Aura, di luar penalti kontrak awal. “Tanda tangani malam ini,” ujar Baskara tanpa menaikkan nada suaranya. “Aku tidak memberikan apa pun secara cuma-cuma.” Pria itu memajukan tubuhnya, memberikan ultimatum yang mutlak. “Kemasi barang-barangmu sekarang juga. Malam ini, kau pindah ke penthouse pribadiku.” Aura terdiam! Matanya membelalak. “Tidak! Aku tidak bisa meninggalkan orang tuaku di sini! Ini gila!” Baskara terkekeh rendah, suara baritonnya bergetar di dada yang menempel pada tubuh Aura. “Kau punya pilihan, Aura. Tolak permintaanku dan aku akan memanggil kembali para rentenir itu malam ini juga untuk menyelesaikan sisa urusan mereka dengan keluargamu. Pilih dengan bijak, Asistenku.” Aura menatap ibunya yang ringkih, lalu melirik ke arah kamar ayahnya. Ia tidak punya pilihan. Pria di hadapannya ini telah merancang situasi ini dengan sempurna untuk mengisolasinya dari dunia luar. Dengan air mata yang kembali menetes, Aura mengangguk lemah, menyerah sepenuhnya pada kehendak sang manipulator. Malam itu juga, Aura melangkah masuk ke dalam mobil Baskara, menuju sebuah penthouse mewah di puncak menara tertinggi kota. Sebuah sarang emas yang dirancang khusus untuk mengurungnya tanpa ada jalan untuk keluar lagi.Kemewahan penthouse di puncak menara tertinggi itu mendadak terasa seperti ruang interogasi yang dingin dan hampa. Lantai marmer hitam yang mengkilap memantulkan keremangan lampu gantung kristal di atas mereka. Aura berdiri membeku di tengah ruangan, sementara Baskara berjalan dengan langkah santai menuju meja bar, menuangkan cairan amber dari botol wiski ke dalam gelas sloki dengan ketukan yang ritmis. Tanpa sepatah kata pun, Baskara berbalik dan melemparkan seikat dokumen tebal berwujud map kulit buaya ke atas meja kaca di hadapan Aura. Brak!!! “Buka,” perintah Baskara dingin. Suara baritonnya tidak memiliki gemuruh emosi, namun penuh dengan kepastian yang mematikan. Aura menatap map itu dengan dadanya yang berdegup kencang. Jemarinya yang gemetar membuka lembaran pertama. Matanya membelalak, membaca baris demi baris kalimat hukum yang tertera di sana. Dokumen itu adalah surat pengalihan aset dan kuasa mutlak atas dirinya yang ditandatangani secara legal oleh Reno, suaminya
Malam di klub pribadi itu berlalu seperti bayangan yang menyiksa. Terbalut gaun hitam ketat pilihan Baskara yang memeluk lekuk tubuhnya dengan provokatif, Aura dipamerkan bagai trofi di antara para pria berjas mahal yang berbicara tentang perputaran uang gelap. Sepanjang acara, Baskara nyaris tidak menyentuhnya, namun tatapan obsesif pria itu terus mengunci Aura, mengalirkan candu ketegangan yang membuat sarafnya menegang. Namun, neraka sesungguhnya justru telah menunggu di rumah. Baru saja mobil jemputan kantor menurunkan Aura di depan gang rumah kontrakannya yang sepi, firasat buruk langsung mencengkram dadanya. Pintu depan rumahnya terbuka paksa, engselnya rusak. “Ayah! Ibu!” panggil Aura tidak sabaran. Dari dalam, terdengar suara pecahan kaca bercampur teriakan histeris ibunya. Aura berlari masuk dengan jantung yang berpacu liar. Ruang tamu kecil itu sudah hancur lebur. Tiga pria berbadan kekar dengan tato menjalar di leher sedang mengobrak-abrik isi lemari, sementara sal
Dua hari. Empat puluh delapan jam. Dan tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari bilik bibir Baskara Aditya untuknya.“Apa salahku?” Aura tidak mengerti dengan sikap Baskara.Tarik-ulur ekstrem yang dimainkan pria itu benar-benar mengikis kewarasan Aura hingga ke relung hatinya.Baskara merespons sikap defensif dan umpatan terselubung Aura di malam itu dengan sebuah silent treatment yang begitu dingin dan absolut.Di kantor, Baskara memperlakukannya tak lebih dari sekadar mesin atau dinding bernyawa.“Perbaiki lembaran ketiga, kau salah!”Pria itu memberikan perintah hanya lewat memo singkat, tatapan matanya selalu melewati Aura seolah wanita itu transparan dan ia sengaja mendelegasikan beberapa interaksi langsung kepada kepala divisi lain.“Aura siapkan laporan kuartal keempat! Berikan padaku, aku yang akan menyerahkan pada Pak Baskara nantinya!” ucap Kepala Divisinya.Pengabaian ini ternyata jauh lebih mematikan daripada intimidasi fisik.Keheningan yang diciptakan Baskara perl
Malam telah larut dan seluruh lantai kantor Aditya Holdings sudah menggelap.Hanya menyisakan ruang kerja Baskara yang berpendar temaram oleh lampu meja dan sorot lampu jalanan kota dari balik dinding kaca.Di dalam ruangan kedap suara itu, atmosfer terasa begitu pengap, sarat akan ketegangan yang pekat.“Kau ingin menjatuhkanku, tapi kau bahkan tidak tahu cara menegosiasikan posisimu sendiri, Aura,” suara bariton Baskara memecah keheningan, terdengar begitu dingin sekaligus berkuasa.Pria itu berdiri di hadapan Aura, melepaskan dasinya dengan gerakan malas yang teramat anggun.Di bawah dalih mengajarkan strategi negosiasi bisnis malam ini, Baskara sengaja mengikis jarak di antara mereka hingga tidak tersisa udara untuk bernapas.Sebelum Aura sempat memprotes, sepasang tangan kekar Baskara mencengkeram pinggangnya, mengangkat tubuh ramping wanita itu dengan satu sentakan pelan dan mendudukkannya di atas meja kerja kayu mahoni coklat yang dingin.Sret!Kertas-kertas dokumen di atas mej
Malam itu, ilusi tentang rumah sebagai tempat berlindung hancur total. Sudah hampir sebulan bajingan gila itu tidak memunculkan batang hidungnya, membiarkan Aura sendirian menanggung beban utang dan penderitaan keluarganya. Namun malam ini, Reno pulang! Bukan membawa solusi, melainkan aroma alkohol yang pekat dan kewarasan yang telah hilang. “Mana uangnya, Aura? Katanya kau sudah bekerja jadi asisten bajingan Aditya itu!” Reno berteriak murka, menjambak rambutnya sendiri sebelum melangkah terhuyung-huyung mendekati Aura. Wajahnya merah padam karena frustasi kalah judi. “Dia kaya raya! Kau pasti bisa merayunya untuk memberikan beberapa ratus juta! Mana!!!” Aura tertegun! "Padahal dia sudah menjual rencanaku pada Baskara, dan sekarang malam ini dia masih berani meminta uang dari orang yang sama. Apa sudah tidak ada lagi yang bisa dijual dari dirinya? Dasar tidak tahu malu!" batin Aura geram. Aura berdiri mematung di sudut ruang tamu yang temaram. Ia menatap pria yang masih ber
“Untunglah aku tepat waktu!”Pagi pertama sebagai properti Baskara Aditya dimulai dengan sebuah kotak beludru hitam besar di atas meja kerja Aura.“Apa ini?” tanya Aura dalam hati. Aura membukanya pelan.Di dalamnya, tidak ada seragam korporat biasa. Baskara telah menyiapkan deretan gaun desainer papan atas, sutra premium berpotongan bodycon yang memeluk setiap senti lekuk tubuh Aura bagai kulit kedua, dengan warna merah marun yang pekat dan berani.Aura masuk ke dalam ruangan Baskara dengan begitu berani menuntut penjelasan.“Maksudnya apa ini, Pak Baskara?” tanya Aura dengan tatapan tajam. “Pakai itu!” perintah Baskara dingin saat Aura masih menerka-nerka fungsinya. Pria itu bahkan tidak mendongak dari tabletnya.“Aku tidak suka asistenku terlihat seperti pegawai murahan yang bisa diganti kapan saja. Kau merepresentasikan seleraku.”Apa?“Masih ada lagi yang mau kau tanyakan, Aura?” Baskara hanya melirik dengan tatapan dingin. Shit! Aura keluar dengan kesal karena tidak bisa mem







