Startseite / Romansa / Obsesi Gila Tuan Baskara / Bab 8 Dalam Kendali Tuan Baskara

Teilen

Bab 8 Dalam Kendali Tuan Baskara

last update Veröffentlichungsdatum: 19.10.2026 11:51:06

Kemewahan penthouse di puncak menara tertinggi itu mendadak terasa seperti ruang interogasi yang dingin dan hampa.

Lantai marmer hitam yang mengkilap memantulkan keremangan lampu gantung kristal di atas mereka.

Aura berdiri membeku di tengah ruangan, sementara Baskara berjalan dengan langkah santai menuju meja bar, menuangkan cairan amber dari botol wiski ke dalam gelas sloki dengan ketukan yang ritmis.

Tanpa sepatah kata pun, Baskara berbalik dan melemparkan seikat dokumen tebal berwujud map kulit buaya ke atas meja kaca di hadapan Aura.

Brak!!!

“Buka,” perintah Baskara dingin.

Suara baritonnya tidak memiliki gemuruh emosi, namun penuh dengan kepastian yang mematikan.

Aura menatap map itu dengan dadanya yang berdegup kencang. Jemarinya yang gemetar membuka lembaran pertama.

Matanya membelalak, membaca baris demi baris kalimat hukum yang tertera di sana.

Dokumen itu adalah surat pengalihan aset dan kuasa mutlak atas dirinya yang ditandatangani secara legal oleh Reno, suaminya sendiri.

“Reno, menyerahkan hasil medis ayahmu, sertifikat rumah, bahkan kuasa penuh atas dirimu padaku demi melunasi sisa hutang judinya yang banyak, bahkan rahasia balas dendamu yang tidak berguna itu,” bisik Baskara, melangkah mendekat dengan langkah perlahan bagai pemangsa yang sedang menyudutkan mangsanya.

Aura menggelengkan kepala, air matanya mulai menggenang.

“Tidak mungkin! Ini pasti palsu. Reno memang bajingan yang suka judi, tapi dia tidak mungkin sejahat ini….”

“Kau masih ingin membela pecundang itu, Kelinci Kecil?” Baskara terkekeh rendah, suara tawanya terdengar begitu kejam dan penuh penghinaan.

Baskara maju satu langkah lagi, merebut lembaran dokumen dari tangan Aura dan menghempaskan beberapa lembar foto cetak beresolusi tinggi ke atas meja.

Foto-foto itu bergulir di hadapan Aura.

“Apa ini?”

Di dalam foto tersebut, Reno tampak tertawa lepas di dalam kamar presidential suite sebuah hotel mewah, menenggak sampanye mahal, sembari merengkuh pinggang dua wanita malam berpakaian minim.

Tanggal di sudut foto itu menunjukkan waktu yang sangat jelas, malam di mana rumah keluarga Aura disita dan ayahnya terserang stroke.

Di saat Aura meratap dalam kemiskinan dan ketakutan, Reno justru sedang bersenang-senang menghamburkan sisa uang mereka dengan wanita lain.

Logika Aura hancur lebur dalam satu detik. Kenyataan menjijikkan itu menghantamnya begitu telak, meremukkan seluruh harga diri dan keyakinan yang tersisa di dalam dadanya.

“Kau datang ke perusahaanku dengan membawa dendam membara, mengira akulah monster tunggal yang menghancurkan hidupmu.”

Baskara mencengkeram dagu Aura, memaksa wanita itu mendongak untuk menatap langsung ke dalam manik mata hitam obsidiannya yang berkilat sadis.

“Aku memang merancang kebangkrutan perusahaan keluargamu dari balik layar. Aku sengaja memberi Reno umpan, membiarkan dia tenggelam dalam hutang, karena aku tahu bajingan itu akan menyerahkan segalanya padaku, termasuk dirimu.”

Baskara mendekatkan wajahnya, mengikis sisa jarak di antara mereka hingga napasnya yang hangat dan beraroma wiski membakar kulit wajah Aura.

“Aku merancang semua ini agar pada akhirnya kau merangkak mencariku, memohon perlindunganku, Aura. Tapi sadarlah dari tidurmu, yang mengeksekusi kehancuran keluargamu, yang menjual semua aset ibumu dan yang menukarmu dengan tumpukan uang taruhan adalah Reno. Suamimu sendiri. Dan kau ... kau malah mendendam denganku?”

“Tidak….”

Aura berbisik lirih, suaranya tercekat di tenggorokan.

Dunia seolah berputar terbalik di bawah kakinya. Kakinya mendadak lemas bagai kehilangan tulang penyangga. Aura terduduk lemas di atas lantai marmer yang dingin, menatap nanar foto-foto pengkhianatan Reno yang berserakan. Dadanya bergemuruh hebat, sesak oleh badai emosi yang bercampur aduk antara amarah, kejijikan dan rasa hancur yang tak terbendung.

Musuh yang selama ini ia benci setengah mati justru menjadi satu-satunya orang yang memegang kendali atas hidupnya, sementara pria yang mengucap janji suci bersamanya adalah iblis yang sesungguhnya.

Baskara berlutut di hadapan Aura yang rapuh, tidak berniat membantu wanita itu berdiri, melainkan untuk menikmati kehancuran mental yang baru saja ia ciptakan dengan sempurna.

Ia mengusap pelan rambut Aura dengan kelembutan seorang pemilik yang sedang menenangkan peliharaan barunya.

“Menangislah sepuasmu malam ini, Aura,” bisik Baskara dingin di sisi telinga Aura.

“Hancurkan sisa logikamu. Karena mulai besok, kau hanya punya satu pilihan tersisa di dunia ini, bergantung sepenuhnya pada kegelapan yang kutawarkan.”

Aura mendongak dengan sisa kekuatan yang ia miliki, menatap langsung ke dalam manik mata obsidian Baskara yang sedingin malam.

Air mata kemarahan mengalir melewati pipinya yang memerah, namun sorot matanya yang cerdas memancarkan kilat perlawanan yang belum sepenuhnya padam.

“Tapi kau yang merancangnya, Baskara!” desis Aura, suaranya bergetar hebat di antara isak tangis dan amarah yang membakar dadanya.

Ia mencengkeram tepi meja kaca dengan kuku-kuku yang memutih, memaksa tubuhnya untuk sedikit bangkit menghadapi sang dominan.

“Reno memang bajingan tak berotak yang menjualku, tapi kau ... kau adalah dalang yang menyediakan panggung neraka ini! Kau sengaja mengumpaninya, kau tahu dia akan serakah, dan kau sengaja menjebak keluargaku hingga tidak punya jalan keluar! Jangan berlagak seolah kau adalah penyelamatku di sini!”

Baskara tidak terkejut. Senyum sinis justru perlahan terukir di bibirnya yang tipis, menampilkan kepuasan sadis seorang predator yang melihat mangsanya masih mencoba mencakar dari dalam perangkap.

Pria itu berlutut lebih rendah, merapatkan tubuh tegapnya hingga Aura kembali terkurung di antara lantai marmer dan intimidasi fisiknya.

Jemari kekar Baskara bergerak naik, mencengkram rahang Aura dengan tekanan yang tegas namun penuh kendali, memaksa wanita itu menatap matanya yang tanpa belas kasihan.

“Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku adalah orang baik, Asistenku,” bisik Baskara, suaranya begitu rendah dan bergetar di depan wajah Aura.

Napasnya yang hangat beraroma wiski menyapu bibir Aura yang gemetar.

“Aku memang merancangnya. Aku menyusun setiap bidak catur ini dengan sangat rapi karena aku menginginkanmu. Tapi di dunia yang kejam ini, Aura ... monster yang paling berbahaya bukanlah monster yang memasang jebakan dari jauh. Monster sesungguhnya adalah pria yang tidur di ranjang yang sama denganmu, yang kau panggil suami, namun dengan sukarela menukarmu demi tumpukan uang untuk berjudi.”

Baskara melepaskan cengkramannya di rahang Aura, beralih mengusap bibir bawah wanita itu dengan ibu jarinya, menghapus air mata yang mengalir ke sana dengan kelembutan yang manipulatif.

“Benci aku sesukamu, Aura. Tapi logikamu yang cerdas itu tahu satu hal….”

Baskara menjeda kalimatnya, tatapannya menggelap dan dipenuhi obsesi yang mendalam.

“...tanpa rancanganku, kau tidak akan pernah tahu kalau suamimu adalah iblis yang sesungguhnya. Dan sekarang, kau tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain pria yang memegang tali kekang mu saat ini. Aku!”

Aura memejamkan mata erat-erat, dadanya terasa sesak seolah dihantam godam tak kasat mata.

Logikanya benar-benar hancur lebur. Setiap kata yang diucapkan Baskara terasa seperti racun yang membakar kewarasannya, karena jauh di dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia tahu pria kejam ini mengatakan kebenaran yang tak bisa ia sangkal.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Obsesi Gila Tuan Baskara   Bab 19 Kau Memukulnya?

    Reno tahu betul bahwa Aura akan menghadiri pesta di kapal pesiar bersama Baskara malam itu.Dengan kelicikannya, Reno berhasil menyusup ke dalam daftar pelayan pelabuhan.Ia segera menghubungi bos besar kaya raya yang sudah lama mengincar tubuh Aura, seorang pria hidung belang yang kebetulan juga menjadi salah satu tamu undangan.Pesta malam ini bukanlah acara sembarangan. Ini adalah pesta eksklusif kalangan elite yang diadakan oleh Baskara, penguasa jaringan bisnis raksasa yang mengendalikan pasar legal sekaligus jalur dunia gelap.Orang kaya biasa tidak akan pernah punya kesempatan untuk menginjakkan kaki di atas kapal pesiar mewah ini.Saat Aura melangkah naik ke atas dek kapal, matanya melebar.“Wow….” gumamnya tertahan.Meskipun dulu Aura terlahir sebagai anak orang kaya, ia belum pernah melihat kemewahan yang se-megah ini.Kapal itu berkilau bak istana terapung di atas air. Di tengah kerumunan orang-orang paling berpengaruh di kota, Baskara berjalan dengan dagu tegak, menjadi pu

  • Obsesi Gila Tuan Baskara   Bab 18 Tidak Ada Komitmen

    “Selesaikan urusan perceraianmu dengan Reno secepatnya, Aura. Aku tidak suka barang milikku masih diklaim oleh pria lain.”Baskara melemparkan seberkas dokumen tebal ke atas meja kaca. Di sampingnya, sebuah kartu nama pengacara papan atas berkilau di bawah lampu gantung mewah.Tatapan matanya sedingin es, khas seorang pria yang terbiasa mengendalikan distrik hitam kota ini.Untuk Baskara, berbagi bukanlah pilihan. Menyentuh wanita yang secara hukum masih milik pria lain terasa begitu merendahkan harga dirinya.“Aku tidak punya waktu untuk menunggumu bertele-tele,” sambung Baskara, suaranya berat dan penuh penekanan. “Malam ini, bersiaplah! Temani aku ke pesta di kapal pesiar milik Luca. Kau tentu belum lupa dengannya, kan?”Nama itu membuat tubuh Aura membeku seketika. Ingatannya langsung terlempar ke masa lalu yang kelam.Luca adalah pria jahat yang pernah menjebaknya dalam situasi berbahaya hingga ia terdesak dan memohon bantuan kepada Baskara.Namun, Baskara yang berhati batu hany

  • Obsesi Gila Tuan Baskara   Bab 17 Pertama Untuk Kita, Aura!

    “Hehh!!! Aku memang ingin bercerai dari bajingan itu, Tuan. Apa kau jijik karena aku istri orang?”Tantangan itu keluar begitu saja dari bibir Aura, memecah ketegangan dengan keberanian yang nekat.Rasa malu telah sepenuhnya terbakar habis. Dengan gerakan perlahan namun pasti, Aura merangkak mendekati Baskara.“Aku menginginkanmu, sungguh!” bisik Aura tepat di telinga Baskara.Selimut tebal yang sedari tadi membungkus tubuh polosnya dibiarkan merosot jatuh, mengekspos setiap jengkal kulitnya yang indah di bawah temaram lampu kamar.Aura mendongak, meraih leher Baskara, lalu mendaratkan kecupan lembut di pipi sang mafia sebelum berpindah ke bibir pria itu. Ia mengecupnya perlahan, sebuah undangan yang tak mungkin ditolak.“Eummph, setiap malam, aku selalu mengingatnya Tuan Baskara.”Mengumpulkan seluruh sisa keberaniannya, Aura menelan saliva, sementara jemarinya yang lentik mulai menjelajahi dada bidang dan perut kotak-kotak Baskara yang mengeras di balik kemeja.Dengan napas memburu,

  • Obsesi Gila Tuan Baskara   Bab 16 Tunjukan Keseriusanmu

    “Ahhhhh, Tuan Baskara.” Aura sudah tidak tahu lagi, begitu sampai penthouse Baskara, ia naik ke atas ranjang, mencari benda itu untuk memuaskan hasratnya sendiri. “Ouhhh.”Tangannya bergerak begitu lincah.Desahan pasrah dan penuh gairah kembali lolos dari bibir Aura saat ia terus bergerak tanpa ritme, membiarkan benda di tangannya menembus bagian terdalam dirinya demi menuntaskan dahaga yang terlanjur membakar akal sehat.Setiap sentuhan yang ia lakukan sendiri terasa seperti bentuk pemberontakan sekaligus keputusasaan, ia tidak peduli lagi pada harga dirinya yang runtuh di kamar yang dingin itu.Rasa frustasi karena terus-menerus digoda, dipancing, lalu ditinggalkan begitu saja oleh Baskara telah mengubah rasa haus ini menjadi obsesi yang tak tertahankan.Ia bergerak semakin cepat, menuntut pelepasan yang tak kunjung penuh, sementara bayangan sang penguasa mafia yang angkuh terus mendominasi isi kepalanya.Baskara yang berdiri diam di balik celah pintu yang sedikit terbuka hanya m

  • Obsesi Gila Tuan Baskara   Bab 15 Gairah Asisten Yang Memuncak

    Permainan psikologis semalam di ruang rapat pribadi menyisakan dampak buruk bagi Aura. Pagi ini, seluruh tubuhnya menjadi sangat sensitif. Gaun sutra ungu tua yang ia kenakan terasa bagai sengatan listrik di kulitnya. Logikanya yang biasa ia banggakan kini lumpuh, sepenuhnya dikuasai bayang-bayang sentuhan Baskara yang menggantung tanpa kejelasan. Baskara tahu persis kondisi asisten pribadinya. Sebagai bos mafia sekaligus CEO yang manipulatif, ia sengaja membawa Aura ke rapat direksi tahunan Aditya Holdings. Ruangan itu penuh oleh belasan eksekutif tertinggi. “Duduk di sampingku, Aura. Catat poin anggaran dengan teliti,” perintah Baskara dingin saat memasuki ruangan. Pria itu memakai setelan jas hitam formal, tampak berwibawa dan bersih dari dosa. Aura duduk di sebelah Baskara. Ia membuka tablet kerjanya dengan jemari yang gemetar. Saat direktur keuangan mulai memaparkan grafik kuartal, AC ruangan terasa dingin bagi orang lain, namun bagi Aura terasa sangat panas. Ketegangan sesu

  • Obsesi Gila Tuan Baskara   Bab 14 Kapan Itu Tuan Baskara?

    Pagi itu, Aura melangkah masuk ke dalam ruang rapat kerja Baskara tanpa ada lagi rasa takut yang biasa menggelitik hatinya. Ia mengenakan gaun mini ketat, pakaian khusus yang sengaja dibelikan oleh Baskara semenjak ia resmi menjadi asisten pribadinya.Gaun itu melekat sempurna, mempertegas setiap lekuk tubuhnya dan mengekspos sepasang kaki jenjangnya dengan begitu berani.Setiap ketukan high heels-nya di atas lantai marmer terdengar seperti genderang penyerahan diri.Aura berjalan mantap mendekati kursi kebesaran sang CEO.Tanpa ragu, ia menundukkan tubuhnya, mendekatkan bibirnya ke daun telinga Baskara, lalu berbisik dengan suara rendah yang serak namun tegas.“Aku serius mengatakan kalau aku milikmu, Tuan Baskara.”Apakah aku baru saja menyerahkan seluruh hidupku pada iblis ini?Benarkah tidak ada jalan pulang lagi setelah langkah ini?Mengapa detak jantungku justru menggila oleh keberanian bodoh ini?Kata-kata pasrah yang keluar dari bibir Aura bagai pemantik yang membakar habis si

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status