Home / Romansa / Obsesi Kakak Tiri Mafia / Bab 5 Obsesi Tak Terkendali

Share

Bab 5 Obsesi Tak Terkendali

Author: Dewandaru
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-01 14:49:48

Bab 5 Obsesi Tak Terkendali

“Kael, Sakit!”

Kael menyentak kedua bahu Lyra dengan kasar, membuat gadis itu terhuyung ke belakang hingga menabrak dinding koridor yang dingin, lalu pergi. 

Semalaman, Lyra tidak bisa memejamkan mata. Sisa rasa sakit di bahunya tak sebanding dengan hantaman mental akibat ancaman Kael dan kenyataan kelam tentang masa lalu sang ayah yang mendadak menguliti seluruh energinya.

Namun, siksaan itu baru saja dimulai. Keesokan malamnya, kediaman mewah keluarga Voss tampak lebih hidup dari biasanya, meski bagi Lyra, atmosfer di dalamnya justru terasa semakin mencekam. Adrian Voss sengaja mengadakan jamuan makan malam formal untuk memperkenalkan Diana dan Lyra secara resmi kepada keluarga besarnya.

Ruang makan utama yang megah dipenuhi oleh kepulan asap cerutu mahal dan denting perak dari alat makan yang beradu. Di ujung meja panjang, Adrian duduk bersanding dengan Diana yang tampak anggun. Sementara itu, beberapa kerabat dekat Adrian, termasuk adik perempuan dan keponakannya, duduk mengitari meja dengan tatapan yang berkisar antara rasa penasaran dan keangkuhan yang kentara.

"Jadi, ini bibit baru di keluarga Voss?" tanya Julian dengan nada malas memecah riuh rendah obrolan. 

Sosok pria muda berambut klimis dengan setelan jas trendi meletakkan gelas anggurnya dengan ketukan pelan. Itu adalah sepupu Kael. Matanya yang licik menatap lurus ke arah Lyra yang duduk di seberangnya.

"Aku sempat mendengar desas-desus menarik dari pihak manajemen Rumah Sakit Universitas pagi ini," lanjut Julian, menyilangkan kaki dengan gestur santai yang sengaja dibuat untuk menarik perhatian semua orang. “Oh, jadi ini saudara tiri barumu, Kael? Gadis koas yang kemarin langsung dinonaktifkan dari jadwal rumah sakit karena bertingkah tidak sopan pada investor utama?"

Mendengar pancingan tajam dari sepupunya, Kael yang sejak tadi terdiam di kursinya tidak langsung menyahut. Pria itu hanya menaikkan pandangannya dari piring, lalu seulas senyuman menyeringai yang sarat akan kepuasan dingin terukir di bibirnya. 

Diana seketika memucat. Jemarinya yang memegang garpu bergetar halus, lalu menimpali. "Julian, itu ... itu hanya kesalahpahaman di kampus–"

"Kesalahpahaman bagaimana, Diana? Beritanya sudah menyebar di kalangan relasi kita," potong Elena, adik perempuan Adrian. Nada bicaranya ketus yang tidak menyembunyikan rasa jijiknya. 

Ia beralih menatap sang kakak dengan raut wajah penuh tuntutan. "Kak Adrian, kamu harus lebih selektif membawa orang ke rumah ini. Baru dua hari menyandang nama keluarga ini, dia sudah membuat malu dengan bertingkah lancang pada donatur besar. Gadis dari kalangan bawah memang selalu kesulitan memahami bagaimana cara menjaga tata krama di lingkaran atas,” imbuhnya memulai profikasi. 

Lyra meremas serbet di pangkuannya erat-erat. Sesuatu yang panas membakar dadanya, memicu debaran jantung yang bertalu hebat akibat dihina di depan banyak orang. Namun, sebelum Elena bisa melanjutkan cemoohannya, sebuah ketukan berat di meja menghentikan segalanya.

"Cukup, Elena. Julian," seru Adrian Voss dengan suara baritonnya yang berat dan penuh wibawa. Tatapan tajam sang kepala keluarga beralih menatap adik dan keponakannya satu per satu, membuat suasana di meja makan mendadak drop. "Malam ini aku mengundang kalian untuk menyambut Diana dan Lyra sebagai bagian resmi dari rumah ini, bukan untuk menginterogasi mereka. Masalah di rumah sakit itu adalah urusan anak muda yang bisa diselesaikan secara internal. Jangan ada yang berani mengungkitnya lagi di meja ini."

Pembelaan tegas dari Adrian seketika membungkam mulut Elena dan Julian. Mereka hanya bisa mendengkus pelan dan kembali menyantap makanan dengan wajah masam. Diana mengembuskan napas lega, memandang suaminya dengan tatapan penuh terima kasih.

Namun bagi Lyra, pembelaan itu tidak mengurangi rasa sesak yang kini mencekik tenggorokannya. Ditambah lagi, seringai sinis Kael di ujung meja sama sekali tidak memudar. Pria itu justru semakin menikmati bagaimana Lyra terpojok oleh situasi yang ia ciptakan sendiri. Rasa kesal, malu, dan beban kebenaran tentang ayahnya bergolak menjadi satu, membuat lambung Lyra berputar mual.

"Permisi, saya ke kamar mandi sebentar," ucap Lyra. Tanpa menunggu balasan dari siapa pun, ia bangkit berdiri dengan gerakan cepat dan melangkah meninggalkan ruang makan yang terasa beracun itu. 

Langkah kakinya membawa Lyra terus berjalan melewati koridor panjang, membiarkan langkahnya menjauh dari toilet utama di lantai satu. Ia membutuhkan ruang kosong di mana tidak ada satu pun pasang mata keluarga Voss yang bisa mengawasinya.

Lyra menyelinap keluar menuju taman belakang rumah yang luas dan sepi. Di bawah pendar cahaya bulan yang temaram, pertahanan mental yang ia bangun sekuat batu sejak kemarin akhirnya runtuh sepenuhnya.

Lyra terduduk di undakan gazebo, menyembunyikan wajahnya di balik lutut. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan di dada akhirnya tumpah begitu saja dalam kegelapan malam. Tubuhnya bergetar hebat saat ia menangis sesenggukan sendirian. Hatinya hancur bukan hanya karena hinaan dari kerabat Kael di meja makan tadi, tetapi karena beban kenyataan tentang masa lalu ayahnya yang terasa terlalu berat untuk dipikul oleh pundaknya sendirian. Mengapa semesta menyeretnya ke dalam pusaran takdir sedalam ini?

Bunyi ranting kering yang terinjak seketika memotong keheningan. Lyra tersentak kecil, dengan cepat menghapus air matanya menggunakan punggung tangan, lalu mendongak dengan waspada.

Sosok tegap Kael sudah berdiri di dekat pintu masuk gazebo. Cahaya malam menerpa separuh wajahnya yang tegas, membuat sepasang mata abu-abu milik pria itu tampak berkilat tanpa ada setitik pun rasa iba atau kasihan di sana. Sebaliknya, melihat air mata yang membasahi pipi Lyra, tatapan Kael justru semakin mengeras, dipenuhi oleh rasa muak dan kebencian yang pekat.

"Drama yang sangat bagus untuk malam ini, Saudara Tiri," ucap Kael, suaranya baritonnya memotong udara malam dengan kejam.

Lyra bangkit berdiri dengan cepat, mencoba menegakkan bahunya dan menatap Kael dengan sisa keberaniannya meski napasnya masih tersengal. "Apa yang kamu lakukan di sini? Belum puas melihat kerabatmu menghinaku di dalam?"

Kael melangkah menaiki undakan gazebo. Lalu memperpendek jarak hingga auranya yang dominan kembali mengurung ruang personal Lyra. "Menghinamu? Aku hanya sedang melihat bagaimana anak dari seorang kriminal mencoba menggunakan air mata untuk menarik simpati.”

"Aku tidak butuh simpatimu, Kael! Dan aku tidak sedang berakting!" balas Lyra, suaranya parau dan sarat akan perlawanan yang sengit.

"Lalu untuk apa kamu menangis di sini? Berharap ayahku lewat, melihatmu, lalu mengasihanimu lagi seperti di meja makan tadi?" Kael terkekeh rendah. Suara tawa yang begitu dingin hingga menusuk tulang. Pria itu mendadak maju satu langkah cepat, mencengkeram dagu Lyra dengan cengkeraman kasar yang sekeras baja, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam sepasang matanya yang sedingin es.

"Dengar baik-baik, Lyra Hart. Air mata palsumu ini sama sekali tidak membuatku tersentuh. Malah membuatku semakin membencimu," desis Kael tepat di depan wajah Lyra, cengkeramannya mengunci rahang gadis itu dengan erat.

Lyra mencoba menyentak tangan Kael, tapi kekuatan pria itu terlalu mutlak untuk ia lawan.

"Simpan air matamu," bisik Kael dengan intonasi mematikan yang membuat bulu kuduk meremang sempurna. "Tangisanmu malam ini tidak akan pernah sebanding dengan penderitaan ibuku saat nyawanya dihabisi oleh bajingan yang kamu sebut ayah itu. Dan aku akan memastikan, setiap air mata yang keluar dari matamu mulai sekarang adalah awal dari kehancuran hidupmu di rumah ini,” ucap Kael yang membuat Lyra gemetar hebat. 

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Obsesi Kakak Tiri Mafia   Bab 11 Pria Yang Datang Malam Malam

    "Aku hanya ingin memastikan kua baik-baik saja, Lyra."Suara pria paruh baya yang tenang itu seketika meremukkan seluruh dugaan Lyra. Bukannya sosok Kael berseragam rasa bersalah yang berdiri di ambang pintu, melainkan Hans—adik tiri Adrian sekaligus paman Kael. Pria paruh baya itu berdiri tegap di koridor yang remang-remang, mengenakan gaun kamar sutra gelap dengan senyuman tipis yang sangat tidak cocok dipasang pada pukul dua pagi.Lyra mencengkeram gagang pintu lebih erat, refleks menahan daun pintu agar tidak terbuka lebih lebar. "Paman Hans ... Ada apa malam-malam begini?""Ah, maaf kalau Paman mengagetkanmu," jawab Hans dengan nada suara yang sengaja dipelankan, seolah-olah penuh empati. Tanpa diundang, pria itu mengambil setengah langkah maju, memangkas jarak hingga Lyra secara insting melangkah mundur satu pijakan ke dalam kamarnya. "Paman melihat lampu kamarmu masih menyala dari bawah. Setelah kejadian mengerikan di pinggiran kota tadi, Paman takut kamu mengalami syok berat."

  • Obsesi Kakak Tiri Mafia   Bab 10 Bayang Sentuhanmu

    Gumpalan uap tipis mengepul dari cangkir porselen yang diletakkan Diana di atas meja nakas. Di tepi ranjang, Lyra duduk terdiam dengan rambut yang masih setengah basah setelah mandi. Gaun tidurnya yang longgar tidak mampu menghalau rasa dingin yang entah mengapa menjalar dari dalam dadanya."Minum dulu, Sayang. Biar tubuhmu lebih hangat," ucap Diana lembut, mendudukkan diri di samping putrinya dengan raut wajah yang masih menyisakan sisa kecemasan dari sisa malam tadi.Lyra hanya mengangguk kecil, meraih cangkir itu dan menyesapnya perlahan. Namun, kehangatan teh herbal itu sama sekali tidak mampu mengusir kekacauan yang sedang berhuru-hara di dalam kepalanya."Sebenarnya ... apa yang terjadi di luar sana, Lyra?" tanya Diana lirih, tatapan matanya menuntut penjelasan yang jujur. "Ibu tahu Kael bukan tipe pria yang suka membawa orang lain jalan-jalan tanpa alasan jelas. Kenapa baju kalian bisa bersimbah darah?"Lyra termenung, membiarkan cangkirnya kembali mendarat di atas meja. Alih-a

  • Obsesi Kakak Tiri Mafia   Bab 9 Gairah yang Tiba-tiba Tiba Lewat

    "Sayang, bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk pada mereka? Ini sudah hampir fajar dan ponsel Kael sama sekali tidak bisa dihubungi," ucap Diana. Suaranya bergetar hebat, jemarinya meremas cemas ujung pakaian rajutnya di sudut ruang tengah mansion Voss yang megah.Adrian Voss mengembuskan napas berat, melangkah mendekat lalu meletakkan kedua belah tangan kekarnya di bahu sang istri demi memberikan ketenangan. "Tenang, Diana. Anak buahku sudah bergerak ke lokasi sinyal terakhir. Kael bukan pria amatir yang mudah ditumbangkan. Dia pasti membawa Lyra pulang dengan selamat."Belum sempat Diana menyahut, suara deru mesin mobil yang berat terdengar membelah kesunyian halaman depan mansion. Sepasang lampu sorot dari SUV hitam legam menyapu kaca jendela besar ruang tengah. Pintu depan mansion terbuka lebar, menampilkan sosok Lyra dan Kael yang melangkah masuk dalam kondisi basah kuyup akibat guyuran hujan subuh."Lyra!" Diana memekik lega, langsung berlari menerjang dan memeluk erat tubuh

  • Obsesi Kakak Tiri Mafia   Bab 8 Menekan Sisa Gairah

    "Lepaskan aku, Kael. Mereka sudah pergi." Lyra berbisik parau.Suaranya bergetar hebat di sela napasnya yang masih memburu. Kael tidak langsung menjawab. Sepasang mata abu-abunya yang menggelap mengunci tatapan Lyra selama beberapa detik yang menyiksa, sebelum akhirnya ia menjauhkan tubuhnya dengan sentakan kasar. Pria itu bangkit dari ranjang seolah-olah baru saja menyentuh racun yang paling mematikan."Jangan geer," desis Kael dingin.Ia memunggungi Lyra sambil memegangi lengan kanannya yang kembali mengeluarkan darah segar. "Sentuhan tadi hanya bagian dari sandiwara agar kita tidak mati konyol di tempat kotor ini."Lyra tertegun di atas ranjang yang berantakan, menatap punggung tegap Kael dengan rasa terhina yang perlahan membakar dadanya. Kehangatan protektif yang sempat ia rasakan beberapa menit lalu menguap tanpa bekas, digantikan oleh realitas kejam bahwa pria di depannya tetaplah seorang monster yang membencinya."Aku tahu tugas dan batasan profesiku, Tuan Voss," balas Lyra ta

  • Obsesi Kakak Tiri Mafia   Bab 7 Mendesahlah, Lyra!

    "Argh! Sialan."Kael menggeram rendah, rahangnya mengetat hebat saat mobil sedan mereka yang ringsek terpaksa ditinggalkan. Langkah kakinya goyah, membuat tubuh jangkungnya nyaris limbung di atas aspal jika sebuah tangan mungil tidak dengan cepat menahan pinggangnya."Kael, bertahanlah! Mereka datang lagi," bisik Lyra panik. Sepasang mata hazelnya menatap cemas ke arah ujung jalan, di mana sorot lampu dari SUV cadangan musuh mulai membelah kegelapan gang pinggiran kota. "Kita harus sembunyi. Sekarang!""Jangan perintah aku, Lyra," desis Kael serak, napasnya memburu menahan perih di lengannya yang terus mengucurkan darah segar. Namun, pria itu tidak menolak ketika Lyra menyusupkan tubuh di bawah lengan kirinya yang sehat, memapah langkahnya membelah kegelapan gang yang berliku.Langkah kaki mereka yang tergesa membawa keduanya terpojok di sebuah area remang-remang di ujung jalan buntu. Satu-satunya bangunan yang masih terbuka adalah sebuah motel kelas bawah dengan papan neon bertarif p

  • Obsesi Kakak Tiri Mafia   Bab 6 Jangan Sentuh Aku!

    Setelah membuat Lyra dinonaktifkan dari Rumah Sakit Universitas, Kael memerintahkan adik tirinya itu untuk ikut bersamanya ke sebuah rumah sakit tua di pinggiran kota yang sudah tidak beroperasi, aset lama Voss Group tempat dokumen rekam medis belasan tahun lalu disimpan. Kael sengaja ingin menyiksa mental Lyra, memaksanya ikut mencari berkas malapraktik masa lalu yang dituduhkan kepada Nikolai Hart. Suasana di dalam sedan hitam yang melaju membelah jalanan sepi pinggiran kota itu terasa begitu mencekam. Kael menyetir dengan rahang mengeras. Sementara Lyra hanya menatap lurus ke luar jendela, meremas tali tasnya demi menghalau rasa cemas yang terus menggerogoti dada. "Jika kamu berpikir bisa melarikan diri atau mencari pembelaan dari ibumu lagi, lupakan saja," ucap Kael memecah keheningan dengan suara baritonnya yang dingin. Lyra menoleh, menatap profil samping Kael yang tajam. "Aku tidak pernah berniat lari, Kael. Aku ikut denganmu karena aku juga ingin melihat bukti apa yang ka

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status