LOGINReino mengikuti Abimana dengan tenang, tapi pikirannya tidak. Dia masih memikirkan keputusan bosnya yang melepaskan tiga orang itu pergi begitu saja. Reino pun membuka mulutnya karena penasaran. "Kenapa Bos melepaskan mereka begitu saja?"Abimana tidak menjawab, pria itu tetap berjalan dengan santai. Reino mengernyit.Mungkin bosnya nggak dengar atau nggak mau jawab. Reino yang nggak sayang nyawa pun mulai berceloteh lagi."Padahal jika Tuan sekali saja kasih perintah, video itu akan lenyap dari dunia ini termasuk orang yang bernama Nathan." Abimana berhenti di depan pintu ruang kerja. Pria itu berbalik, sorot matanya sedingin es. Reino tersenyum kaku.Niatnya ingin mencairkan suasana, tapi yang ada malah semakin menjadi beku."Kamu pikir aku takut? Atau aku bodoh?" Abimana bersedekap angkuh, kedua alisnya saling bertautan.Iris mata Reino melebar, "Bukan begitu!!"
Renata hendak menolongnya tapi tangannya di cekal. Kedua alisnya wanita itu menukik tajam."Lepasiin!"Sorot mata Abimana bergetar dan tampak putus asa, Renata sempat tertegun. Dia belum pernah melihat Abimana seperti ini. Tapi saat pria itu berkedip, mata hitamnya dipenuhi dengan obsesi. Keputusasaan yang tadi Renata lihat tampak seperti ilusi."Kamu nggak boleh nolong dia!" ujarnya dengan suara tertahan.Abimana menarik dan memeluknya dengan erat. Tapi Renata tidak menyerah, dia terus berusaha keluar dari pelukan pria gila itu."Aku bilang, lepasin!""Nggak!!!""Lepasin dia Abi!!!"Orang yang terakhir berseru itu adalah Nathan.Abimana tidak mau mengalah, "Pengawal!"Darma dari tadi berdiri saja karena tidak berani menyinggung pria berkuasa seperti Abimana. Dia hanya bisa pasrah melihat drama cinta segitiga yang penuh dengan kekerasan itu.Sekelompok pria berpakai serba hitam berlari
Ketiga pria di ruangan itu menoleh ke arah sumber suara. Suara yang merdu itu seperti duri yang menusuk telinga Abimana. "Nat ... " panggil Renata.Nathan tersenyum lembut.Tak! Tak!Langkah wanita itu begitu mantap dan ringan karena hari ini adalah hari kebebasannya. Akhirnya sebentar lagi Renata bisa bebas dari belenggu yang mengikat kakinya. Belenggu itu bernama Abimana. Cinta pertamanya yang seperti bisa racun.Renata berjalan mendekat. Wanita itu memakai gaun berwarna hitam semata kaki dengan belahan yang cukup tinggi dan menantang. Memperlihatkan kakinya yang ramping seperti kaki rusa. Rambut panjangnya di sanggul dan memperlihatkan pundaknya yang mulus. Dia memakai riasan tipis, cukup untuk menutupi wajahnya yang pucat.Tatapan Abimana pun menggelap, dia ingin sekali menampar pantat wanita itu karena turun dengan penampilan yang memukau saat ada tamu. Padahal tadi pagi dia masih seperti mayat hidup.
Renata mengangkat tangannya. Dia ingin memukul, tapi Abimana segera menangkapnya dan meremas pergelangan tangannya hingga lukanya kembali berdarah.Renata meringis kesakitan. Abimana merasa sesuatu yang lengket di tangannya. Dia pun melepaskan tautannya. Mata yang bergelora langsung padam saat melihat pergelangan tangan Renata kembali basah. Abimana merasa menyesal, dia pun mengumpat ."Sial!!!"Pria itu bangun dan mengambil perban dan obat. Dia duduk di tepi ranjang dan kembali membalut lukanya. Abimana juga sempat meniupnya beberapa kali agar lukanya tidak terlalu sakit. Pria Itu menunjukan kasih sayangnya. Namun Renata tidak lagi tersentuh karena sudah mati rasa. Alasan Renata mati rasa karena kebiasan Abimana, menyakiti lalu mengobati.Setelah selesai, Abimana menaruh kotak obat di atas nakas."Aku mandi dulu."Abimana mengelus kepalanya. Sudut mata Renata memerah bukan karena terharu tapi karena merasa dirinya begitu bodoh.Cintanya memang terlalu besar, tidak setara dengan c
Renata tersenyum getir dan berkata lirih, "Kalau aku mati, kamu mau lepasin aku kan?"Abimana tercekat. Sudut matanya memerah.Pertanyaan itu seperti mata pisau yang menyayat hatinya. Pedih sekali!Dengan tatapan tajam, suara dingin Abimana mengalun. "Jangan mimpi!!!"Renata terhenyak. Dia seperti jatuh ke dalam jurang yang tak berdasar. Matanya pun dipenuhi kekecewaan.Di sisi lain. Reino keluar dari ruang kerja dan ingin pergi ke dapur untuk membuat kopi, tapi dia malah menginjak sebuah benda. Saat menunduk matanya langsung melebar dan rasa kantuknya menghilang saat melihat sebuah pisau lipat berlumuran darah. Dia pun mengikuti tetesan darah sambil mengeluarkan senjata api dari saku mantelnya untuk berjaga-jaga.Saat di tangga dia mendengar auman Abimana, dia pun segera berlari.Kamar tuannya terbuka dan saat masuk matanya langsung melebar, "Tuan!! Apa yang terjadi?"Pemandangan yang Reino
Renata bergeming. Dia tidak tersentuh atas perlakuan lembut mantan suaminya itu. Dia justru semakin tertekan. Renata tidak kaget jika Abimana mengalihkan topik. Tapi tujuannya nekat turun lewat balkon karena memang ingin menghindarinya."Abi ... kamu bisa nggak lepasin aku? Kita kan sudah cerai. Aku mohon, Abi. Lepasin aku ... ya. "Suara Renata terdengar bergetar dan air matanya mengalir. Ini pertama kalinya dia memohon dan memperlihatkan kelemahannya. Wanita itu bahkan bersujud di tanah.Wanita itu benar-benar putus asa.Hati Abimana terasa tertindih gunung. Dia terduduk di tanah dengan lesu.Bagaimana tidak? Tekad Renata untuk meninggalkannya sangat kuat. Wanita sombong dan penuh percaya diri sepertinya bahkan mau bersujud. Semua demi berpisah darinya.Di sisi lain ada Reino dan para pengawal. Mereka seperti sedang menonton drama rumah tangga yang mengharu biru dan penuh ketegangan. Mereka ingin sekali meli
Abimana hanya berdehem, lalu berjalan dengan aura kemarahan yang menguar dari tubuhnya. Dia berjalan menuju taman belakang, "Tanaman itu?" "Sudah datang," jawab Reino. Setelah sampai, Abimana duduk sambil menyilangkan kakinya. Dia mengeluarkan sebatang rokok dan menggigitnya lalu merogoh saku. S
Abimana mengangkat sebelah alisnya, dia tersenyum, "Jadi kamu menghindar dariku karena marah ponselmu hilang."Renata menghela nafas, kepalanya menoleh, tatapannya begitu dingin dan acuh, "Cepat kembalikan ponselku! Ini sudah hampir tiga hari, ada hal penting yang harus aku lakukan."Abimana menaru
Nafas Renata terasa sesak, sekeras apapun dia menahannya air matanya tetap jatuh berderai. Namun Renata adalah wanita yang keras kepala. Dia mengangkat dagunya dan kembali menantang dan berkata dengan emosional, "Kenapa Abi? Sakit ya? Marah ya? Selama hampir tiga tahun kamu selalu meminta cerai pad
Renata terus berjalan sambil mencengkram gaunnya. Dia berpura-pura tidak mendengar.Mata Abimana berubah dingin, dia langsung berjalan cepat dan menarik lengan Renata hingga mantelnya terjatuh. Wanita itu pun terhuyung dan menabrak dada bidangnya. Bulu mata Renata bergetar saat matanya bertemu deng







