Share

Monik Hamil

Penulis: CitraAurora
last update Tanggal publikasi: 2026-07-01 19:02:37

"Lain kali jangan abaikan pesanku," bisiknya, suaranya berat dan posesif. "Apa yang bajingan itu lakukan padamu di mobil?" Tanya Angkasa.

Bintang menghela napas. Bayangan kejadian di kabin mobil itu masih membuat dadanya sesak.

"Dia berpura-pura manis, Mas. Katanya dia peduli padaku dan calon bayi ini, bahkan bilang sudah menjual perhiasan Mama dan tas Shinta untuk membayar kekurangan mobil itu," ujarnya sinis. "Aku muak. Aku bilang dia berhenti bersandiwara karena hanya ada kita berdua. Dia l
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Mengundang Kemarahan Kakek

    ​"Sini, aku hisap dulu," bisik Angkasa rendah.​Wajah Bintang makin memerah kencang, namun rasa nyeri di dadanya yang mulai mengeras mengalahkan rasa malunya. Dengan perlahan dan penuh kelembutan, Angkasa menundukkan kepalanya, membimbing tubuh Bintang agar bersandar nyaman di bantal, lalu mulai melakukan stimulasi yang disarankan suster tadi.​Namun, alih-alih sekadar membantu melancarkan aliran ASI, sentuhan kulit yang begitu intim setelah berbulan-bulan mereka saling menahan diri justru menyalut api lain di dalam dada Angkasa. Aroma dari tubuh Bintang dan kehangatan yang menjalar seketika membuat napas Angkasa memberat. Jiwa posesifnya bergejolak hebat. Angkasa menjauhkan wajahnya sejenak, menatap Bintang dengan pandangan yang pekat dan penuh gairah yang tertahan.​"Gimana ini, Sayang... aku malah pengen," goda Angkasa dengan suara baritonnya yang serak dan seksi, mengusap bibirnya yang basah dengan ibu jari.​Bintang terbelalak, menatap suaminya dengan gugup sekaligus gemas di ten

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Aku Yang Hisap

    ​Begitu langkah kaki Rendi, Ibu Rahayu, dan Shinta benar-benar menghilang di ujung koridor, Angkasa langsung berbalik. Pria itu mengunci rapat pintu kamar VIP tersebut, memastikan tidak akan ada satu pun parasit yang bisa mengganggu ketenangan mereka malam ini."Saatnya memeluk istriku." Gumamnya senang. ​Angkasa melangkah lebar menghampiri ranjang perawatan Bintang. Tatapan matanya yang semula dingin dan penuh kalkulasi di depan keluarganya, seketika melunak, digantikan oleh binar cinta yang teramat pekat. Ia duduk di tepi ranjang, lalu membungkuk untuk mendekap tubuh Bintang yang masih tampak lemas dengan sangat erat namun penuh kehati-hatian."Sungguh, aku sangat tersiksa, ingin memeluk ibu baru ini aku harus menunggu seharian." Celetuknya. "Gombalnya." Sahut Bintang. ​Bintang menyandarkan kepalanya di dada bidang Angkasa.​"Aku berharap besok mereka tidak datang," Bisik Angkasa sembari mengecup puncak kepala Bintang berkali-kali."Jangan gitu Mas, Kakek pasti sangat ingin menim

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Biar Aku Yang Menunggui Bintang

    Langkah kaki yang berat dan berwibawa seketika memutus perdebatan di koridor. Kakek Pratama muncul didampingi beberapa pengawal. Wajah sepuhnya dipenuhi kecemasan setelah dikabari bahwa ketuban Bintang pecah tiba-tiba pagi ini. ​"Rendi! Rahayu! Bagaimana keadaan Bintang?" tanya Kakek Pratama tegas. ​Rendi buru-buru mengubah ekspresi wajahnya menjadi prihatin. "K-Kakek... Bintang masih di dalam. Baru saja bayinya lahir, Kek," jawab Rendi gugup. ​Klek. ​Pintu ruang bersalin terbuka. Namun, bukan tim medis yang melangkah keluar terlebih dahulu membawa sang bayi, melainkan Angkasa Pratama. ​Pria itu keluar dengan baju steril hijau yang masih melekat di tubuh tegapnya. Di dalam dekapannya, terbungkus selimut bayi biru muda, sesosok makhluk kecil sedang menggeliat pelan. Angkasa berjalan mantap, menimang bayi itu dengan begitu protektif. Sepasang matanya memancarkan binar kehangatan dan kebanggaan—sebuah tatapan naluriah dari seorang ayah kandung. ​Kakek Pratama langsung terpaku. Inst

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Lahir

    Bab 24: Prasangka dan Kebenaran yang Terkuak​Rendi masih mematung di depan pintu ruang bersalin dengan napas yang memburu ego kepriaannya yang hancur lebur. Bayangan tentang apa yang terjadi di dalam ruangan steril itu terus berputar di kepalanya, membakar otaknya hingga hampir gila.​Tap! Tap! Tap!​Suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa memecah keheningan koridor rumah sakit. Ibu Rahayu dan Shinta muncul dengan napas terengah-engah, menenteng tas besar berisi perlengkapan bayi. Begitu melihat Rendi hanya berdiri sendirian di luar dengan wajah merah padam, Ibu Rahayu langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling.​"Rendi! Bagaimana keadaan Bintang? Sudah lahir?" tanya Ibu Rahayu panik, lalu menoleh ke kanan dan ke kiri. "Lalu di mana Angkasa? Bukannya tadi dia yang menggendong Bintang ke mari?"​Rendi menoleh perlahan, menatap ibunya dengan tatapan mata yang kosong namun sarat akan dendam. Ia menunjuk daun pintu kayu di depannya dengan jari yang bergetar. "Di dalam. Mas Angkas

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Melahirkan

    Setibanya di lobi rumah sakit, Angkasa tidak memedulikan lagi pandangan orang-orang di sekitarnya. Dengan langkah lebar dan napas yang memburu, dia menerobos pintu otomatis sembari berteriak lantang.​"Suster! Dokter! Cepat, ada yang mau melahirkan!" seru Angkasa dengan nada baritonnya yang menggelegar penuh kepanikan.​Beberapa perawat dan dokter jaga yang mengenali aura mendominasi pria itu langsung tanggap. Mereka bergegas mendorong sebuah brankar ke arah Angkasa. Dengan sangat hati-hati, seolah sedang meletakkan permata yang paling berharga di dunia, Angkasa membaringkan tubuh Bintang di atas brankar keras tersebut. Suster dengan cekatan langsung mendorong Bintang menuju ruang persalinan, diikuti oleh Angkasa dan Rendi yang berlari di sampingnya.​Bintang terus merintih, mencengkeram erat apa saja yang bisa digapainya demi menghalau rasa mulas yang kian hebat mencabik perut bawahnya. Dokter dan bidan segera sibuk menyiapkan peralatan medis di dalam ruangan.​Namun, tepat di ambang

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Curiga Tapi...

    ​Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, hingga tak terasa usia kandungan Bintang telah memasuki sembilan bulan. Selama itu pula, situasi di dalam mansion Pratama ibarat bom waktu yang siap meledak kapan saja. Sandiwara dingin terus berjalan, dengan Angkasa yang selalu menjaga Bintang dari balik bayangan.​Pagi itu, suasana ruang makan tampak tenang seperti biasanya. Angkasa yang baru saja menyelesaikan sarapannya merapikan jas abu-abu gelapnya, lalu berdiri bersiap untuk berangkat ke kantor. Seperti biasa, dia berpamitan pada ibu tirinya dengan formalitas yang kaku.​"Saya berangkat dulu," ucap Angkasa datar pada Sang Mama.​Sebelum membalikkan tubuh, sepasang mata elang Angkasa bergerak, melirik ke arah Bintang yang duduk di sisi kanannya. Tidak ada kata-kata perpisahan yang terucap di antara mereka, namun tatapan itu sudah lebih dari cukup. Bagai sebuah kode mata yang hanya dimengerti oleh mereka berdua, Angkasa sedang berpamitan pada istri tercintanya.​Namun, baru saja Angka

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Sikap Angkasa

    Setelah makan malam, Kakek meminta Angkasa untuk menjaga Bintang. "Bintang sudah Kakek anggap sebagai cucu kandung Kakek Angkasa tolong jaga dia baik-baik. Rendi sangat tidak bisa diharapkan." "Pasti Angkasa akan menjaganya Kek, Kakek tenang saja." Sahut Angkasa. Tak selang lama Rendi dan Mama b

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Terjebak Sendiri

    ​"Brengsek kamu, Mas! Sudah memegang kendali penuh di Pratama Group, masih saja mau merampas bagianku kelak!" umpat Rendi dengan nafas memburu, matanya memerah penuh dendam.​Shinta yang berdiri di dekat jendela hanya terdiam, namun tatapannya tetap menyiratkan ketidakpuasan. "Tapi tetap saja, Ma,

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Mual Terus

    ​“Ren kenapa Bintang malah mual, jangan-jangan benih yang ada di rahim Bintang bukan benihmu…” Bisik Angkasa. ​Mendengar bisikan sang Kakak Rendi justru tertawa keras, menganggapnya sebagai lelucon paling konyol. "Hahaha! Mas Angkasa bisa saja, mana mungkin itu benih orang lain, Mas. Aku sendiri y

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Pernikahan Adalah Hal Sakral

    Rendi merendahkan tubuhnya, bersiap untuk menunduk dan melongok ke bawah kolong meja kerja Angkasa.Di bawah sana, Bintang sudah pucat pasi. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Dalam kepanikan yang memuncak, kedua tangannya bergerak refleks memegangi celana bahan yang dikenakan Angkasa, mence

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status