LOGINLangkah kaki yang berat dan berwibawa seketika memutus perdebatan di koridor. Kakek Pratama muncul didampingi beberapa pengawal. Wajah sepuhnya dipenuhi kecemasan setelah dikabari bahwa ketuban Bintang pecah tiba-tiba pagi ini. "Rendi! Rahayu! Bagaimana keadaan Bintang?" tanya Kakek Pratama tegas. Rendi buru-buru mengubah ekspresi wajahnya menjadi prihatin. "K-Kakek... Bintang masih di dalam. Baru saja bayinya lahir, Kek," jawab Rendi gugup. Klek. Pintu ruang bersalin terbuka. Namun, bukan tim medis yang melangkah keluar terlebih dahulu membawa sang bayi, melainkan Angkasa Pratama. Pria itu keluar dengan baju steril hijau yang masih melekat di tubuh tegapnya. Di dalam dekapannya, terbungkus selimut bayi biru muda, sesosok makhluk kecil sedang menggeliat pelan. Angkasa berjalan mantap, menimang bayi itu dengan begitu protektif. Sepasang matanya memancarkan binar kehangatan dan kebanggaan—sebuah tatapan naluriah dari seorang ayah kandung. Kakek Pratama langsung terpaku. Inst
Bab 24: Prasangka dan Kebenaran yang TerkuakRendi masih mematung di depan pintu ruang bersalin dengan napas yang memburu ego kepriaannya yang hancur lebur. Bayangan tentang apa yang terjadi di dalam ruangan steril itu terus berputar di kepalanya, membakar otaknya hingga hampir gila.Tap! Tap! Tap!Suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa memecah keheningan koridor rumah sakit. Ibu Rahayu dan Shinta muncul dengan napas terengah-engah, menenteng tas besar berisi perlengkapan bayi. Begitu melihat Rendi hanya berdiri sendirian di luar dengan wajah merah padam, Ibu Rahayu langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling."Rendi! Bagaimana keadaan Bintang? Sudah lahir?" tanya Ibu Rahayu panik, lalu menoleh ke kanan dan ke kiri. "Lalu di mana Angkasa? Bukannya tadi dia yang menggendong Bintang ke mari?"Rendi menoleh perlahan, menatap ibunya dengan tatapan mata yang kosong namun sarat akan dendam. Ia menunjuk daun pintu kayu di depannya dengan jari yang bergetar. "Di dalam. Mas Angkas
Setibanya di lobi rumah sakit, Angkasa tidak memedulikan lagi pandangan orang-orang di sekitarnya. Dengan langkah lebar dan napas yang memburu, dia menerobos pintu otomatis sembari berteriak lantang."Suster! Dokter! Cepat, ada yang mau melahirkan!" seru Angkasa dengan nada baritonnya yang menggelegar penuh kepanikan.Beberapa perawat dan dokter jaga yang mengenali aura mendominasi pria itu langsung tanggap. Mereka bergegas mendorong sebuah brankar ke arah Angkasa. Dengan sangat hati-hati, seolah sedang meletakkan permata yang paling berharga di dunia, Angkasa membaringkan tubuh Bintang di atas brankar keras tersebut. Suster dengan cekatan langsung mendorong Bintang menuju ruang persalinan, diikuti oleh Angkasa dan Rendi yang berlari di sampingnya.Bintang terus merintih, mencengkeram erat apa saja yang bisa digapainya demi menghalau rasa mulas yang kian hebat mencabik perut bawahnya. Dokter dan bidan segera sibuk menyiapkan peralatan medis di dalam ruangan.Namun, tepat di ambang
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, hingga tak terasa usia kandungan Bintang telah memasuki sembilan bulan. Selama itu pula, situasi di dalam mansion Pratama ibarat bom waktu yang siap meledak kapan saja. Sandiwara dingin terus berjalan, dengan Angkasa yang selalu menjaga Bintang dari balik bayangan.Pagi itu, suasana ruang makan tampak tenang seperti biasanya. Angkasa yang baru saja menyelesaikan sarapannya merapikan jas abu-abu gelapnya, lalu berdiri bersiap untuk berangkat ke kantor. Seperti biasa, dia berpamitan pada ibu tirinya dengan formalitas yang kaku."Saya berangkat dulu," ucap Angkasa datar pada Sang Mama.Sebelum membalikkan tubuh, sepasang mata elang Angkasa bergerak, melirik ke arah Bintang yang duduk di sisi kanannya. Tidak ada kata-kata perpisahan yang terucap di antara mereka, namun tatapan itu sudah lebih dari cukup. Bagai sebuah kode mata yang hanya dimengerti oleh mereka berdua, Angkasa sedang berpamitan pada istri tercintanya.Namun, baru saja Angka
"Lain kali jangan abaikan pesanku," bisiknya, suaranya berat dan posesif. "Apa yang bajingan itu lakukan padamu di mobil?" Tanya Angkasa. Bintang menghela napas. Bayangan kejadian di kabin mobil itu masih membuat dadanya sesak."Dia berpura-pura manis, Mas. Katanya dia peduli padaku dan calon bayi ini, bahkan bilang sudah menjual perhiasan Mama dan tas Shinta untuk membayar kekurangan mobil itu," ujarnya sinis. "Aku muak. Aku bilang dia berhenti bersandiwara karena hanya ada kita berdua. Dia langsung marah dan membentakku."Rahang Angkasa mengencang. Tatapannya berubah dingin."Dia membentakmu?" desisnya rendah. "Lalu apa yang kamu lakukan?""Aku menatapnya balik, Mas. Aku tidak gemetar lagi," jawab Bintang, ada kilat bangga di matanya. "Aku tanya apakah dia pernah menganggapku istrinya. Dia semakin marah, dan bungkam sampai kita tiba di mansion."Amarah Angkasa melebur jadi rasa bersalah. Dia menarik Bintang kembali ke dalam dekapannya, lebih erat, mengecup puncak kepalanya berkali-
Di dalam ruang tengah mansion utama Pratama, suasana di sekitar Angkasa terasa begitu pekat dan menekan. Pria itu terus-menerus memutar ponsel di tangannya, sesekali mengetuk layar dengan tidak sabar.Pesan tidak dibalas. Telepon tidak diangkat.Sudah hampir dua jam sejak mobil MPV putih itu meninggalkan halaman mansion, dan selama itu pula fokus Angkasa benar-benar lumpuh. Pikirannya telanjur melayang, membayangkan segala kemungkinan buruk yang bisa dilakukan Rendi kepada Bintang di dalam mobil tersebut. Kakek Pratama yang sejak tadi duduk di sofa seberang sembari membaca koran bisnis, perlahan menurunkan kacamata bacanya. Mata tuanya yang jeli memperhatikan gerak-gerik cucunya dengan dahi berkerut heran."Kamu kenapa, Angkasa?" tanya Kakek Pratama dengan suara beratnya yang berwibawa. "Kakek perhatikan dari tadi kamu gelisah sekali, seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat besar. Apa ada masalah darurat di kantor?"Angkasa tidak menyahut. Pertanyaan Kakek bagai angin lalu
Jantung Bintang serasa melompat keluar. Dia di kamar dengan Angkasa dan di depan pintu Rendi memanggilnya.Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Bintang mendorong dada bidang Angkasa, mencoba menciptakan jarak."Mas... tolong aku, maksudku, sembunyi di kamar mandi," bisik Bintang teramat lirih, matan
Rendi terdiam, tangannya mengepal kuat di bawah. Angkasa selalu saja membela Bintang seolah Bintang adalah wanitanya. “Kenapa kamu selalu membelanya Mas! Apa hubungan kalian.” Tanya Rendi dengan lantang. Angkasa hanya tersenyum sinis, “Aku hanya tidak suka ada yang tersiksa di rumahku, lagipula d
Melainkan....Shinta, adik kandungnya sendiri! Rendi mematung di ambang pintu seperti patung batu. Seluruh pasokan udara di parunya seolah tersedot habis, dan matanya membelalak sempurna dengan rasa syok yang teramat sangat. Tubuhnya gemetar hebat dari kepala hingga ujung kaki, menyaksikan adik ke
Kedua bola mata Bintang membulat sempurna ketika kesadarannya pulih. Ia menatap langit-langit kamar yang asing, lalu menoleh ke arah jendela besar di paviliun barat. Bagaimana tidak panik, matahari sudah merangkak naik, sementara dirinya masih meringkuk di dalam dekapan sang penguasa Pratama."M







