แชร์

Bab 76

ผู้เขียน: NACL
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-28 22:54:03

Malam harinya di vila Romanov, Elara dan Lena sedang memasak di dapur. Keduanya tampak tertawa kecil, begitu menikmati suasana hangat yang sudah sangat dirindukan setelah sekian lama ketegangan melanda.

"Nona, kamu harus banyak makan supaya tubuhmu tetap sehat." Lena mengaduk kuah sup di panci, lalu menoleh lembut.

Elara tersenyum manis, lalu tangannya bergerak lincah memberikan isyarat, “Tentu, Bibi. Aku sangat senang makan, dan semua makanan di mansion Romanov ini selalu enak.”

Melihat senyum
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Obsesi Sang Don: Dekapan Terlarang Paman Suamiku   Bab 107

    Sepasang manik abu-abu Arseny menatap Lena dengan dingin, memancarkan aura intimidasi kejam. Ia menunukkan jati dirinya sebagai seorang Don. Arseny menaikkan sebelah alisnya, bersiap memarahi pelayan sekaligus pengawal setia putra kecilnya itu."Kau mau dipindahkan ke pos perbatasan perbatasan Veronia, Lena?" ancam Arseny dengan nada suara berat yang membekukan udara di sekitarnya.Sebelum Lena sempat menunduk panik, Elara bergerak lebih cepat. Wanita itu merangkul pelan lengan Arseny, lalu meraih jemari besar suaminya dan menggenggamnya erat. Elara mendongak, menatap Arseny dengan binar mata sebiru es yang memancarkan peringatan manis."Jangan mengomel, Don Arseny." Tangan Elara bergerak sangat lembut. "Bukankah ini hari liburmu, dan Lena bicara benar. Anak kita mirip denganmu. Sudah, ya. Jangan merusak suasana."Seketika itu juga, Arseny mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Raut wajah intimidatif yang ditakuti seluruh klan mafia seketika luntur. Pria itu menghembuskan napas panjang,

  • Obsesi Sang Don: Dekapan Terlarang Paman Suamiku   Bab 106

    Enam bulan berlalu. Usia kandungan Elara kini menginjak tiga puluh satu minggu saat petaka yang ditakutkan itu mendadak mengintai di tengah malam. Elara mencengkeram kain piyaman Arseny sangat kuat. Darah segar mengalir membasahi gaun tidurnya, menandakan komplikasi serius yang mengancam nyawa.Arseny tersentak dan bangun. Begitu sepasang manik abu-abunya menangkap cairan merah di atas sprei, kepanikan yang tak pernah dirasakannya sepanjang hidup seketika menerjang. Tanpa memedulikan protokoler klan atau pakaian formalnya, sang Don melompat dari ranjang, lekas saja ia membopong tubuh rentan Elara ke dalam rengkuhannya, lalu berlari kencang menerobos koridor mansion menuju ruang operasi darurat."Dokter! Buka pintunya sekarang!" raung Arseny, suaranya menggelegar menggetarkan dinding lorong.Para medis berlarian membuka pintu. Begitu membaringkan Elara di atas ranjang operasi, Arseny langsung mencengkeram kerah jas putih ketua tim dokter klan. Urat-urat di leher pria tegap itu menega

  • Obsesi Sang Don: Dekapan Terlarang Paman Suamiku   Bab 105

    Dua minggu berlalu di bawah pengawasan medis yang luar biasa ketat. Ketika dokter klan akhirnya memberikan laporan bahwa kondisi fisik Elara telah stabil dan berangsur sehat, Arseny tidak mengukur waktu. Hari yang dinanti itu tiba tanpa publikasi eksternal. Katedral pribadi yang berdiri kokoh di dalam wilayah teritorial Romanov disulap menjadi tempat pemberkatan yang teramat megah. Ratusan bunga seruni putih menghiasi altar, kontras dengan barisan pengawal berjas hitam dan bersenjata lengkap yang bersiaga di setiap sudut luar bangunan. Tamu yang diizinkan menginjakkan kaki di sana hanyalah para petinggi klan dan sekutu inti yang kesetiaannya telah teruji dengan darah.​Prosesi janji suci berlangsung sangat singkat dan privat. Kala cincin tersemat dan sumpah suci selesai diucapkan, Arseny tidak membiarkan Elara berdiri terlalu lama. Pria itu pun lekas memberikan kode dengan lambaian tangan yang selalu melindungi wanitanya.​"Bawa Nyonya Romanova ke ruang VIP di lantai atas aula jam

  • Obsesi Sang Don: Dekapan Terlarang Paman Suamiku   Bab 104

    Arseny menyandarkan punggungnya pada kursi kebesaran, menatap datar kepada asisten pribadinya yang berdiri tegap di seberang meja. ​"Ambil alih seluruh operasional klan untuk beberapa minggu ke depan, Viktor," perintah Arseny, suaranya bariton lambat, tidak menerima bantahan. "Batalkan semua jadwal pertemuan dengan kartel barat. Aku tidak mau sejengkal pun urusan bisnis ilegal mengusik ketenanganku." ​Viktor sempat terpaku sejenak, kedua matanya sedikit melebar di balik kacamata tipisnya. Selama bertahun-tahun mengabdi, ia tidak pernah sekalipun melihat sang Don meninggalkan takhta kepemimpinannya demi apa pun, bahkan saat peluru bersarang di bahunya. Namun beberapa hari ini Arseny memang lebih nyaman berada di mansion. ​"Tapi, Don, pertemuan dengan perwakilan Aliansi tidak bisa ditunda begitu saja tanpa alasan yang—" ​"Aku tidak butuh alasan untuk cuti dari urusanku sendiri," sela Arseny tajam, sepasang manik abu-abunya mengunci pergerakan Viktor hingga pria itu seketika membeku

  • Obsesi Sang Don: Dekapan Terlarang Paman Suamiku   Bab 103

    Angin malam Oakheaven berembus menyapu dedaunan pinus di bawah sana, membawa hawa sejuk yang pekat. Namun, Elara tidak merasakan dingin sedikit pun, tubuh mungilnya terlindung sempurna dalam balutan jubah rajut tebal, ditambah dekapan protektif dari balik punggungnya.Arseny melingkarkan kedua lengan kokohnya di sekeliling pinggang Elara, menarik punggung gadis itu agar menempel rapat pada dada bidangnya. Ia menyandarkan dagunya samar di puncak kepala Elara, membiarkan aroma familier dari rambut gadis itu menenangkan benaknya. Perlahan, salah satu telapak tangan besarnya yang hangat bergerak turun, mengusap lembut permukaan perut Elara yang masih datar. Karena di dalam sana, sebutir benih kehidupan yang membawa darah dagingnya sendiri tengah bersemi. Mereka bergeming, melemparkan pandangan lurus pada hamparan bintang-bintang yang bertaburan di langit malam, larut dalam keheningan yang teramat nyaman.Elara sedikit mendongak, jemarinya bergerak di udara membentuk tanya yang lambat.

  • Obsesi Sang Don: Dekapan Terlarang Paman Suamiku   Bab 102

    Pintu paviliun terbuka dengan derit berat, membelah kesunyian yang menggantung di ruangan pengap itu. Arseny melangkah masuk, diikuti Viktor yang menenteng map dokumen hitam. Udara dingin ikut menyusup bersama mereka, membekukan apa yang tersisa dari keberanian Dmitri.Pria muda itu duduk membungkuk di kursi kayu, pakaiannya kusut dan bernoda. Begitu matanya menangkap sosok pamannya, sesuatu di dalam dadanya runtuh seketika. Aura yang dibawa Arseny bukan sekadar wibawa, melainkan ancaman yang berbahaya.Dmitri gemetar. Ia mencoba menegakkan punggung, tetapi gagal. Matanya berpindah cepat ke map hitam di tangan Viktor, lalu kembali ke wajah pamannya yang datar tanpa emosi. Justru ketiadaan ekspresi itulah yang paling menakutkan.Tak ada yang perlu diucapkan.Viktor melangkah maju, melempar dokumen pembatalan pernikahan itu ke atas meja. Kertas-kertas itu meluncur, berhenti tepat di depan Dmitri. Arseny tidak repot-repot membuka mulut. Ia hanya mengeluarkan pena mewah dari saku jasnya

  • Obsesi Sang Don: Dekapan Terlarang Paman Suamiku   Bab 7

    ‘Astaga, Don Arseny! Apa yang kau lakukan?!’ Ingin sekali Elara berteriak, tetapi ia hanya mampu membuka mulut tanpa suara.Dengan rambut yang masih basah, Elara cepat-cepat bertekuk lutut di samping perapian itu. Tangannya terulur nekat, mencoba menyelamatkan sisa kertas perjanjiannya dari lidah a

  • Obsesi Sang Don: Dekapan Terlarang Paman Suamiku   Bab 6

    "Mari kita lakukan, Don," ucap Elara mantap, meskipun tanpa suara. Untuk sesaat, pandangan Elara dan Arseny saling beradu dalam kesunyian yang mencekam. Alis pria itu menukik tajam, dan mata abu-abunya jelas terlalu dalam untuk Elara selami. Menyadari dirinya telah menghalangi jalan sang Don, per

  • Obsesi Sang Don: Dekapan Terlarang Paman Suamiku   Bab 5

    Bab 5:‘Apa Don akan menuntut anak dariku sekarang?’ batin Elara menjerit. Tubuhnya gemetar hebat. Ia merasa seperti anak domba yang diantar langsung ke kandang serigala setelah lolos dari mulut singa betina.Kaki mungilnya terseok-seok mengikuti langkah Arseny yang lebar hingga melewati ambang pin

  • Obsesi Sang Don: Dekapan Terlarang Paman Suamiku   Bab 4

    Elara membelalak mendengar ucapan sang Don, napasnya terasa kian menyempit. Dengan tangan gemetar, ia mengetik lagi di ponselnya.“Tapi… bagaimana mungkin? Aku istri keponakanmu.” Mata sebiru es itu berlinang usai menunjukkan layar ponsel pada Arseny.Alih-alih menjawab, Arseny justru tersenyum mir

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status