FAZER LOGIN"Mereka sudah melihat rekaman kejadian dari kartu memori itu," kata Josh lagi. "Dan plat mobil yang sengaja menyebabkan kecelakaan itu juga terlihat. Sangat jelas."Aaron menarik kursi kerjanya, kemudian duduk sambil menyandarkan tubuh ke sandaran kursi. "Apa mereka sudah menyelidiki siapa si pemilik mobil?""Mobil itu hanya mobil sewaan, Tuan." jawab Josh. "Dan mereka sudah mendapatkan identitas si penyewa." Suara Josh terdengar semakin pelan."Hans Norton."Kedua alis Aaron langsung terangkat saat mendengar nama itu. Ia tergelak hambar seraya mendengus keras. "Sulit kupercaya. Ternyata dia masih belum menyerah juga."Josh hanya tertunduk.Bibirnya melengkung. Namun senyuman itu tak sampai ke mata. Aaron menopang dagunya dengan sebelah tangan.Hans Norton, adik tirinya. Secara biologis, ia dan Hans memang punya keterikatan darah. Namun sampai kapan pun, Aaron tidak akan pernah mengakui hal tersebut.Pria yang berusia dua tahun lebih muda darinya itu adalah hasil perselingkuhan Louis
Setelah memberitahu sebuah kenyataan baru tentang hidupnya yang membuat calon istrinya seketika membeku, Aaron mengajak Olivia untuk pulang.Olivia pun hanya menurut tanpa sedikit pun keinginan untuk bertanya lebih banyak. Meskipun sebenarnya ada banyak sekali pertanyaan yang melayang di benaknya saat itu tentang kehidupan pria itu.Mobil sedan mewah itu melaju stabil. Tidak laju, namun juga tidak lambat, walaupun jalanan saat itu termasuk agak sepi.Aaron hanya diam selama perjalanan pulang, membuat waktu perjalanan mereka terasa jauh lebih panjang dan lama dibandingkan dengan saat mereka pergi tadi.Sesekali Olivia melirik ke arah pria yang tengah menyetir mobil di sampingnya itu. Wajahnya yang dingin tidak memperlihatkan ekspresi apa pun. Tatapan matanya hanya tertuju penuh ke sepanjang jalan yang mereka lalui.Waktu saat itu sudah melewati jam makan siang ketika mereka akhirnya tiba di mansion. Claudia buru-buru meminta para pelayan untuk memanaskan kembali lauk yang sudah terhida
"Mom, aku datang mengunjungimu."Olivia seketika terpaku saat mendengar ucapan Aaron yang begitu pelan. Suaranya amat rendah, jauh berbeda dengan sosok Aaron Kendrick yang selama ini dilihatnya.Yang paling menyita perhatian Olivia, setiap kata yang diucapkan Aaron seolah menyimpan kesedihan dan keputusasaan yang begitu mendalam.Meskipun tidak bisa melihat ekspresi wajah Aaron, tapi Olivia dapat merasakan perasaan pria itu saat ini. Tanpa diminta, Olivia pun ikut berjongkok di sampingnya.Aaron langsung menoleh ke samping, menatap Olivia yang berjongkok di sampingnya dengan tatapan lurus ke arah batu nisan ibunya. Tidak ada ekspresi apa-apa di wajah wanita itu."Mom, ini Olivia Rose, calon istriku." ucap Aaron lagi setelah kembali menatap ke depan. "Dia yang sudah merangkai bunga ini untukmu." tambahnya lagi dengan seulas senyum tipis."Kuharap bibi menyukainya." ujar Olivia spontan.Sekali lagi Aaron menoleh ke arahnya, menatapnya dengan alis terangkat. Ketika itu pula, Olivia berpa
Seperti yang dikatakan Aaron padanya sebelum ini, perjalanan mereka pagi itu terasa cukup panjang.Meskipun begitu, langit hari itu yang tampak begitu cerah membuat perjalanannya tidak terasa membosankan untuk Olivia. Pemandangan sawah dan perbukitan yang mereka lewati membuatnya merasa takjub.Ini pertama kalinya Olivia melihat Aaron menyetir. Sopir lain yang ada di mansion diminta untuk tetap di sana, menunggu instruksi lebih lanjut untuk menjemput atau mengantar Josh yang masih berada di rumah sakit.Dan untuk pertama kalinya juga Olivia duduk di bangku penumpang di baris depan, tepat di sebelah calon suaminya itu.Selama perjalanan, mereka tidak banyak mengobrol.Aaron fokus pada jalanan. Sementara Olivia hanya memperhatikan pemandangan di luar sana sambil sesekali bergumam takjub. Dan ketika ia bergumam, Aaron hanya menyahut singkat dengan seulas senyum.Mobil mewah yang disetir oleh Aaron berhenti di tempat terbuka yang sepi. Tidak jauh dari tempat mereka berhenti, terlihat sebu
Aaron tengah menyeka sudut bibirnya dengan sebuah serbet putih ketika Olivia tiba di ruang makan. Pakaiannya juga sudah rapi. Kehadiran Olivia di sana langsung mengalihkan perhatiannya."Selamat pagi," sapa Olivia pelan. Nada bicaranya terdengar sedikit gugup saat Aaron melirik ke arahnya.Olivia belum pernah menyapa Aaron sebelumnya. Jadi hal itu membuat Aaron sedikit kaget, tapi ia tidak memperlihatkannya."Hm," sahutnya berdeham.Sebenarnya bukan tidak ada maksud Olivia melakukan hal tersebut. Apa yang sudah dilakukannya terhadap Aaron kemarin masih terbayang jelas di benaknya. Dan sekarang ia baru menyesalinya.Pagi ini saat mendengar dari Claudia bahwa pria itu mengajaknya ke suatu tempat yang bahkan Claudia pun tidak tahu ke mana, Olivia jadi sedikit merasa ngeri.Ketika Olivia baru menarik kursi dan duduk, Aaron melakukan hal yang sebaliknya. Kursinya didorong ke belakang. Pria itu sudah hendak meninggalkan meja makan."Setelah selesai sarapan, temui aku di taman bunga di halam
Ponsel di atas meja kerjanya berdering ketika Aaron tengah berdiri menghadap ke luar jendela pagi itu.Matahari sudah terbit di sebelah timur. Cahayanya hangat, belum terlalu terik. Kicauan burung yang bernyanyi merdu mengisi suasana pagi yang tenang.Hari ini ia bangun lebih awal dari biasanya. Meskipun baru saja pulang dari perjalanan yang cukup jauh, sekaligus mengalami kecelakaan yang cukup serius, tapi Aaron tidak merasa benar-benar lelah.Ia memutar badan dan berjalan ke arah meja kerjanya, lalu menatap layar ponselnya sejenak sebelum menjawab telepon dari pihak kepolisian.Benda itu menempel di sebelah telinganya. Seorang pria paruh baya berbicara dengannya, menjelaskan hasil pemeriksaan yang telah mereka lakukan semalaman.Hasilnya nihil.Mereka tidak berhasil menemukan apa pun di lokasi kejadian. Kesengajaan ini terlalu rapi dan tidak meninggalkan jejak sama sekali.Bahkan karena Aaron sendiri tidak berhasil mengingat nomor plat mobil tersebut, pihak kepolisian tidak bisa mel
Upacara pemakaman telah berakhir.Ditemani oleh Aaron, juga Josh dan beberapa orang pengawal, sore itu Olivia kembali ke rumah tua keluarganya. Ia berjalan linglung menuju kamar ayahnya, lalu terduduk lemas di tepi ranjang.Pandangannya tampak kosong. Ia tidak menangis lagi. Air matanya seakan meng
Aaron menatapnya cukup lama tanpa mengatakan apa pun. Tatapan matanya saat itu cukup sulit dijelaskan.Meskipun perlu diakui bahwa berada di pelukan Aaron saat itu membuat tubuhnya menghangat, Olivia juga tidak bisa memungkiri rasa curiga yang mulai menjalar di benaknya.Apa yang ada dalam pikiran
Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Olivia, maupun Aaron.Selama Olivia mengobati lukanya, kedua orang itu saling bungkam.Suasana begitu hening. Sejak tadi yang terdengar hanya suara botol-botol obat yang beradu dengan permukaan kotak penyimpanan ketika Olivia meletakkannya kembali.
Ruangan yang semula gelap kini berubah terang setelah lampu ruangan menyala.Suasana tidak setegang sebelumnya. Kini Olivia dapat melihat seisi ruangan dengan sangat jelas.Sebuah kamar tidur yang jauh lebih mewah dan luas dari kamarnya. Ruangan itu adalah kamar tidur Aaron.Perpaduan warna putih,







