Masuk"Ini bahkan lebih dari cukup!"Olivia tercengang di depan kulkas dua pintu yang terbuka di hadapannya. Ada banyak bahan makanan di sana. Malah terlalu banyak!Jika dilihat lagi, mungkin bisa untuk memasak lauk selama seminggu. Sementara besok mereka sudah akan pulang."Ya sudah. Kalau kau merasa bahan makanannya terlalu banyak," kata Aaron yang duduk santai di meja pantri dari batu marmer. "Kita bisa tinggal di sini selama beberapa hari lagi."Olivia menoleh ke arahnya dan menatapnya tidak percaya."Atau sampai bahan makanannya habis." sambungnya ceria.Sambil berkacak pinggang, Olivia menatap isi kulkas dan berpikir. "Sisanya kita berikan saja pada Welly besok."Aaron mengangkat bahu. "Terserahmu saja."Olivia mulai mengeluarkan bahan-bahan yang akan dia pakai untuk memasak. Malam ini ia berencana membuat makan malam yang sederhana.Kalau hidangan yang terlalu mewah, ia belum pernah mencobanya. Daripada bahan makanannya terbuang percuma, lebih baik ia membuat hidangan yang sederhana.
Semilir angin laut yang berhembus membelai lembut wajahnya sore itu terasa menenangkan. Hamparan laut biru di hadapannya tampak begitu indah dengan ombak yang bergulung dan pecah di tepi pantai.Aaron tengah sibuk berbicara di telepon sejak tadi. Jadi Olivia memutuskan untuk keluar sejenak untuk menikmati pemandangan.Tidak jauh dari villa, ada sebuah jalan setapak menuju tepi pantai. Olivia pun turun menyusuri jalan sempit yang hanya bisa dilalui oleh satu orang tersebut.Olivia melepas alas kakinya. Butiran pasir yang dirasakannya saat menginjakkan kaki di tanah bersih itu memberikan sensasi yang menyenangkan. Sudah lama ia tidak bermain di tepi pantai.Ia berjalan di tepi pantai sambil menatap laut luas di hadapannya. Rambut dan gaunnya yang tertiup hembusan angin ikut bergerak. Di antara suara kicauan burung-burung yang beterbangan di atas langit, Olivia pun ikut bersenandung.Terakhir kalinya Olivia pergi ke pantai itu bersama kedua orang tuanya, saat ia masih berusia sepuluh tah
Mendengar Karina yang baru saja menyebut nama Olivia membuat Ethan yang selama beberapa hari ini seperti kehilangan oksigen, seakan mendapatkan pasokan oksigen baru.Tubuhnya langsung tegak dan ia terduduk di atas kasur sambil menatap Karina.Aroma alkohol yang menguar dari tubuhnya membuat Karina spontan mengibaskan tangan di depan wajah, mengusir aroma menusuk itu dari hidungnya. Mukanya pun ikut tertekuk."Ada apa dengan Olivia? Bagaimana kau bisa tahu tentangnya?" sergah Ethan tidak sabaran.Karina memutar bola mata dan berdecak sebal. Lalu ia melemparkan tatapan tajam ke arah sepupunya yang penampilannya saat itu terlihat seperti seorang pria tidak berguna."Dia sudah merebut calon tunanganku!" sahut Karina penuh kekesalan. "Saat aku mendatangi kediaman keluarga Kendrick, dia dengan bangganya menempel di pelukan Aaron."Kalimat terakhir yang diucapkan Karina bagaikan pedang panjang yang langsung menghujam tepat di dadanya. Membayangkannya saja sudah membuat tubuhnya melengos."Su
Darahnya berdesir hingga membuat wajahnya memerah. Kilatan matanya memancarkan kebencian yang mengerikan."Si brengsek itu memang sudah sepantasnya mati!" desisnya tajam. "Seharusnya aku menghabisinya dengan tanganku sendiri waktu itu."Kalau saja Aaron tahu lebih awal tentang apa yang sudah dilakukan Jack terhadap Olivia, kakak tiri Olivia itu pasti sudah kehilangan nyawanya lebih cepat. Tidak perlu menunggu hingga Aaron berhasil membawa Olivia masuk ke mansionnya.Olivia meraih tangan Aaron yang mengepal tegang, lalu menggenggamnya. "Untuk apa mengotori tanganmu sendiri untuk orang sepertinya?""Karena dia sudah berani bersikap kurang ajar padamu, Liv!" sahut Aaron tidak terima. "Berani-beraninya dia mencoba menyentuhmu."Giginya bergemeretak melihat kemarahan yang terlukis jelas di wajah Aaron saat itu. Kepalanya sedikit tertunduk karena takut."Liv, lihat aku."Aaron tiba-tiba menggenggam kedua lengannya erat. Olivia langsung menurut dan mengangkat kepala dengan ragu. "Dengar," uc
Sudut matanya memanas menatap Aaron yang membatu di hadapannya.Bayang-bayang masa kelam yang pernah dialaminya dulu kembali berputar di benaknya saat melihat sikap Aaron tadi. Sorot matanya yang liar tadi berhasil membuat sekujur tubuhnya bergetar hebat.Aaron mengulurkan tangan, hendak menyentuhnya. Namun dengan spontan Olivia langsung bergerak menjauh."M-maafkan aku,"Sorot mata Aaron sudah kembali normal dan melunak. Rasa bersalah yang besar terpancar jelas di sana. Meskipun begitu, bayangan sosok yang mengerikan itu sudah terlanjur muncul di benaknya dan membuat Olivia merasa ngeri, juga ketakutan.Keheningan seketika menyelimuti ruangan tersebut, membuat suasana mendadak terasa menyesakkan. Aaron, maupun Olivia, keduanya hanya terdiam mematung di posisi masing-masing.aMereka bergeming cukup lama, seakan larut dengan pikiran masing-masing. Namun pada akhirnya, Aaron kembali membuka suara.Melihat ketakutan di wajah Olivia mulai samar, ia pun memberanikan diri untuk mendekatinya
🔞-----Sekeras apa pun Olivia berusaha mendorongnya menjauh, pada akhirnya usahanya itu hanya akan berakhir sia-sia dengan tenaga yang ikut terkuras habis.Tenaga Aaron jauh lebih besar darinya. Lengannya melingkar di pinggang Olivia, mengunci pergerakan tubuhnya. Sebelah tangannya berada di tengkuk lehernya, menahan kepalanya agar tidak bisa menjauh.Kalau Aaron tidak berhenti saat itu juga, mungkin Olivia akan pingsan karena kehabisan nafas.Nafas keduanya terengah-engah. Ciuman itu begitu intens. Lumatannya sangat mendominasi dan penuh dengan tuntutan.Bibir mungil di hadapannya tampak kemerahan dan sedikit membengkak. Sejujurnya Aaron masih belum puas. Ia masih ingin menikmatinya. Tapi nafasnya hampir habis. Ia pun terpaksa berhenti."Kau sudah gila!" seru Olivia marah. "Apa kau berniat membunuhku?"Aaron tergelak. Melihat Olivia yang marah seperti sekarang justru membuatnya seakan tengah melihat seekor kucing yang mengamuk karena makanannya diambil. Tidak menakutkan sama sekali
Aaron sedang berbaring di atas tempat tidurnya ketika Olivia masuk ke dalam kamarnya.Mulanya ia merasa ragu. Tapi kemudian ia memutuskan untuk berjalan mendekat ke arah ranjang berukuran cukup luas itu.Wajah pria itu tampak pucat. Aaron sama sekali tidak bergerak saat Olivia mendekatinya.Bibir t
Aaron tidak pernah berpikir jika Olivia akan merasa sangat takut dan benci padanya. Padahal pikiran untuk menyakiti gadis itu tidak pernah terbersit di pikirannya, sama sekali."Banyak rumor buruk tentang Anda yang beredar di luar sana." jelas Josh.Setelah mengantar Olivia ke kamarnya, Josh kembal
Pintu tinggi yang terbuat dari kayu terbaik di hadapannya dibuka oleh Josh. Sebuah pemandangan yang tidak pernah dibayangkan oleh Olivia sebelumnya menyambut kehadirannya."Ini kamarmu, Olivia." kata Josh seraya mempersilakannya untuk masuk.Dengan langkah ragu, Olivia masuk ke dalam ruangan yang c
Olivia merasakan ketegangan yang luar biasa sejak dirinya melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan yang memiliki dua buah daun pintu itu.Udara dingin seolah menyambut kehadirannya di sana. Mendengar suara berat seorang pria yang duduk di dalam ruangan itu membuat sekujur tubuhnya bergidik.Kepalany







