LOGINSetelah memberitahu sebuah kenyataan baru tentang hidupnya yang membuat calon istrinya seketika membeku, Aaron mengajak Olivia untuk pulang.Olivia pun hanya menurut tanpa sedikit pun keinginan untuk bertanya lebih banyak. Meskipun sebenarnya ada banyak sekali pertanyaan yang melayang di benaknya saat itu tentang kehidupan pria itu.Mobil sedan mewah itu melaju stabil. Tidak laju, namun juga tidak lambat, walaupun jalanan saat itu termasuk agak sepi.Aaron hanya diam selama perjalanan pulang, membuat waktu perjalanan mereka terasa jauh lebih panjang dan lama dibandingkan dengan saat mereka pergi tadi.Sesekali Olivia melirik ke arah pria yang tengah menyetir mobil di sampingnya itu. Wajahnya yang dingin tidak memperlihatkan ekspresi apa pun. Tatapan matanya hanya tertuju penuh ke sepanjang jalan yang mereka lalui.Waktu saat itu sudah melewati jam makan siang ketika mereka akhirnya tiba di mansion. Claudia buru-buru meminta para pelayan untuk memanaskan kembali lauk yang sudah terhida
"Mom, aku datang mengunjungimu."Olivia seketika terpaku saat mendengar ucapan Aaron yang begitu pelan. Suaranya amat rendah, jauh berbeda dengan sosok Aaron Kendrick yang selama ini dilihatnya.Yang paling menyita perhatian Olivia, setiap kata yang diucapkan Aaron seolah menyimpan kesedihan dan keputusasaan yang begitu mendalam.Meskipun tidak bisa melihat ekspresi wajah Aaron, tapi Olivia dapat merasakan perasaan pria itu saat ini. Tanpa diminta, Olivia pun ikut berjongkok di sampingnya.Aaron langsung menoleh ke samping, menatap Olivia yang berjongkok di sampingnya dengan tatapan lurus ke arah batu nisan ibunya. Tidak ada ekspresi apa-apa di wajah wanita itu."Mom, ini Olivia Rose, calon istriku." ucap Aaron lagi setelah kembali menatap ke depan. "Dia yang sudah merangkai bunga ini untukmu." tambahnya lagi dengan seulas senyum tipis."Kuharap bibi menyukainya." ujar Olivia spontan.Sekali lagi Aaron menoleh ke arahnya, menatapnya dengan alis terangkat. Ketika itu pula, Olivia berpa
Seperti yang dikatakan Aaron padanya sebelum ini, perjalanan mereka pagi itu terasa cukup panjang.Meskipun begitu, langit hari itu yang tampak begitu cerah membuat perjalanannya tidak terasa membosankan untuk Olivia. Pemandangan sawah dan perbukitan yang mereka lewati membuatnya merasa takjub.Ini pertama kalinya Olivia melihat Aaron menyetir. Sopir lain yang ada di mansion diminta untuk tetap di sana, menunggu instruksi lebih lanjut untuk menjemput atau mengantar Josh yang masih berada di rumah sakit.Dan untuk pertama kalinya juga Olivia duduk di bangku penumpang di baris depan, tepat di sebelah calon suaminya itu.Selama perjalanan, mereka tidak banyak mengobrol.Aaron fokus pada jalanan. Sementara Olivia hanya memperhatikan pemandangan di luar sana sambil sesekali bergumam takjub. Dan ketika ia bergumam, Aaron hanya menyahut singkat dengan seulas senyum.Mobil mewah yang disetir oleh Aaron berhenti di tempat terbuka yang sepi. Tidak jauh dari tempat mereka berhenti, terlihat sebu
Aaron tengah menyeka sudut bibirnya dengan sebuah serbet putih ketika Olivia tiba di ruang makan. Pakaiannya juga sudah rapi. Kehadiran Olivia di sana langsung mengalihkan perhatiannya."Selamat pagi," sapa Olivia pelan. Nada bicaranya terdengar sedikit gugup saat Aaron melirik ke arahnya.Olivia belum pernah menyapa Aaron sebelumnya. Jadi hal itu membuat Aaron sedikit kaget, tapi ia tidak memperlihatkannya."Hm," sahutnya berdeham.Sebenarnya bukan tidak ada maksud Olivia melakukan hal tersebut. Apa yang sudah dilakukannya terhadap Aaron kemarin masih terbayang jelas di benaknya. Dan sekarang ia baru menyesalinya.Pagi ini saat mendengar dari Claudia bahwa pria itu mengajaknya ke suatu tempat yang bahkan Claudia pun tidak tahu ke mana, Olivia jadi sedikit merasa ngeri.Ketika Olivia baru menarik kursi dan duduk, Aaron melakukan hal yang sebaliknya. Kursinya didorong ke belakang. Pria itu sudah hendak meninggalkan meja makan."Setelah selesai sarapan, temui aku di taman bunga di halam
Ponsel di atas meja kerjanya berdering ketika Aaron tengah berdiri menghadap ke luar jendela pagi itu.Matahari sudah terbit di sebelah timur. Cahayanya hangat, belum terlalu terik. Kicauan burung yang bernyanyi merdu mengisi suasana pagi yang tenang.Hari ini ia bangun lebih awal dari biasanya. Meskipun baru saja pulang dari perjalanan yang cukup jauh, sekaligus mengalami kecelakaan yang cukup serius, tapi Aaron tidak merasa benar-benar lelah.Ia memutar badan dan berjalan ke arah meja kerjanya, lalu menatap layar ponselnya sejenak sebelum menjawab telepon dari pihak kepolisian.Benda itu menempel di sebelah telinganya. Seorang pria paruh baya berbicara dengannya, menjelaskan hasil pemeriksaan yang telah mereka lakukan semalaman.Hasilnya nihil.Mereka tidak berhasil menemukan apa pun di lokasi kejadian. Kesengajaan ini terlalu rapi dan tidak meninggalkan jejak sama sekali.Bahkan karena Aaron sendiri tidak berhasil mengingat nomor plat mobil tersebut, pihak kepolisian tidak bisa mel
Sebuah pistol.Aaron tidak salah lihat. Apa yang ada di tangan Olivia saat ini adalah sebuah pistol. Sejak kapan wanita ini menyimpan benda seperti ini? Di kamarnya?Langkah kakinya perlahan bergerak mundur seiring langkah kaki Olivia yang bergerak ke arahnya menjauhi kasur. Wanita itu menempel ujung pistol tepat di pelipis kanannya.Ada raut marah sekaligus ketakutan di dalam manik Olivia. Tangannya yang menggenggam pistol sedikit bergetar."Kau pikir aku takut padamu?" sergah Olivia dengan kepala mendongak menatap Aaron yang menjulang tinggi di hadapannya. "Aku bisa membunuhmu sekarang juga, Aaron Kendrick."Aaron tidak berkutik. Tidak ada ekspresi apa pun di wajahnya. Olivia sampai berpikir, apa dirinya yang sedang memegang pistol seperti sekarang ini tidak terlihat cukup menakutkan?Langkah Aaron terhenti tepat di tengah ruangan. Olivia berusaha menekan ujung pistol lebih dalam agar pria itu bergerak. Namun pria itu sama sekali tidak beranjak."Kenapa kau berhenti?" tanyanya denga
"Ini tidak adil untuk Olivia."Setiap kata yang diucapkan Ethan dilontarkan dengan penuh penekanan. Tatapan matanya tidak lagi terlihat lembut seperti awal.Rasa kecewa yang teramat besar setelah mengetahui bahwa wanita yang diam-diam disukainya itu akan menikah dengan pria lain membuat dadanya ter
Suasana di ruang duduk yang cukup luas itu agak tegang. Hening sejenak. Hanya terdengar suara rintikan hujan yang mulai reda di balik jendela yang ada di setiap sisi ruangan.Dua orang pelayan datang mengantarkan teh dan meletakkannya di atas sebuah meja kayu rendah di tengah ruangan. Setelah menye
Olivia tidak berhenti menggerutu di sepanjang langkahnya menyusuri lorong mansion yang cukup panjang."Kenapa harus aku?" gerutunya setelah keluar dari kamar Aaron. "Bukankah ada banyak pelayan di mansion ini?"Aaron Kendrick memang aneh dan membingungkan bagi Olivia.Di saat dirinya sehat, sikapny
Kedua mata indah itu menatap Olivia ragu. "Bagaimana kalau kau pergi?" Suaranya yang agak serak terdengar lemah.Sebenarnya Olivia punya pikiran untuk kabur dari ruangan itu. Tapi setelah diperhatikan lagi, pria itu terlihat terlalu lemah saat ini untuk melakukan sesuatu yang buruk padanya.Karena







