Share

Bab 7

Penulis: Author Lee
last update Tanggal publikasi: 2026-04-30 17:14:22

Aaron tidak pernah berpikir jika Olivia akan merasa sangat takut dan benci padanya. Padahal pikiran untuk menyakiti gadis itu tidak pernah terbersit di pikirannya, sama sekali.

"Banyak rumor buruk tentang Anda yang beredar di luar sana." jelas Josh.

Setelah mengantar Olivia ke kamarnya, Josh kembali ke ruang kerja Aaron dan mendapati pria termenung muram. "Mungkin karena rumor itu Nona Olivia merasa takut pada Anda."

Aaron menuang cairan beralkohol ke gelasnya dan meneguknya hingga tersisa setengah.

Aaron bukan seorang perokok. Namun ia cukup kuat untuk meneguk alkohol, apalagi saat suasana hatinya buruk.

"Dia juga tampaknya tak mengingatku." gumamnya lagi. Ada rasa kecewa yang tersirat dalam suaranya.

Josh tersenyum. "Saat itu kalian berdua masih sangat muda. Wajar jika Nona Olivia tak mengingatnya."

"Tapi aku mengingatnya!" protes Aaron seperti seorang anak kecil yang kesal.

Josh tidak berkata apa-apa lagi. Ia tahu betul jika suasana hati Aaron Kendrick sudah buruk, semua hal akan terasa salah. Jadi sebaiknya ia diam jika tidak diminta pendapat.

"Sudahlah, tak usah dibahas lagi." gerutunya seraya meneguk minumannya hingga permukaan gelasnya kering. "Masalah pernikahan kami jauh lebih penting."

"Minggu depan," ujar Aaron kemudian. "Aku ingin menikahinya minggu depan."

Kedua alis Josh terangkat. "Apa tidak terlalu cepat, Tuan? Bukankah sebaiknya Anda mencoba melakukan pendekatan dulu pada Nona Olivia? Setidaknya setelah kalian menikah nanti, kalian tidak merasa canggung."

Aaron mendesah, lalu menggelengkan kepala.

"Lagipula sejak awal kita sudah memberitahunya bahwa dia akan menikah denganku untuk melunasi hutang Jack, kan?" Salah satu sudut bibirnya terangkat. "Itu berarti dia sudah harus siap dengan pernikahan ini."

Josh terdiam. Yang dikatakan Aaron ada benarnya.

"Mulai besok kau sudah harus mempersiapkan segala yang diperlukan."

"Baik, Tuan." jawab Josh patuh.

"Untuk gaun pengantin, serahkan pada Olivia. Aku ingin dia memilih sendiri gaun pengantinnya." pesan Aaron lagi. "Dan untuk pakaianku, biarkan dia juga yang menentukannya."

Kedua mata Josh mengerjap. Diam-diam ia menahan senyum.

"Satu lagi. Kau tak perlu menyewa gedung. Aku ingin mengadakan acaranya di halaman belakang mansion."

"Tapi, Tuan, sepertinya halaman belakang kita tidak akan cukup untuk para tamu."

Aaron menggeleng. "Aku tak berencana mengundang banyak orang." ucapnya sambil menimbang. "Cukup undang saja para keluarga bangsawan di dalam kota."

"Baik, Tuan." sahut Josh. "Lalu, untuk kamar pengantin nanti, apa kita perlu menyiapkan kamar baru?"

Pandangan mata Aaron yang dingin langsung tertuju ke arah Josh, menatap kedua maniknya datar.

Nafas Josh sempat berhenti selama beberapa detik. Josh sudah merawat Aaron sejak masih kecil, dan ia tahu betul seperti apa karakter Aaron Kendrick.

Ada satu hal yang tetap ditakutinya dari Aaron. Tatapan matanya yang sulit ditebak.

Josh sempat berpikir jika dirinya baru saja mengatakan sesuatu yang salah. Mulutnya baru terbuka hendak meralat ucapannya. Tapi Aaron sudah lebih dulu bersuara.

"Tidak, kau hanya perlu mengganti sprei tempat tidurku dengan yang baru. Kalau perlu, ganti dengan warna yang lebih cerah." ujarnya seraya bangkit dari duduknya.

Warna cerah jelas bukan ciri khas seorang Aaron Kendrick. Josh tahu betul tentang hal itu.

"Aku belum berencana untuk tidur di kamar yang sama dengannya, selain dirinya yang meminta."

***

Malam semakin larut. Namun kedua matanya belum juga mengantuk.

Olivia menyibak selimut dan bangkit dari kasur. Ia berjalan ke arah jendela dan berdiri di sana sambil menatap keluar.

Langit malam di luar tampak pekat, juga mencekam. Tidak ada bulan, juga bintang. Hampa.

Terbersit di benak Olivia untuk berjalan-jalan sebentar di luar. Mungkin setelah menghirup udara segar, ia akan segera mengantuk.

Pintu kamarnya terbuka perlahan. Dengan langkah pelan, Olivia keluar dan berjalan menyusuri lorong mansion yang cukup panjang.

Kamarnya berada di salah satu sayap mansion. Suasana tampak hening, juga gelap. Padahal saat Josh mengantarnya tadi, semua lampu di lorong menyala terang.

"Apa mungkin semua lampu dipadamkan di tengah malam?" batin Olivia.

Olivia melangkah cukup panjang menyusuri lorong dengan sedikit pencahayaan dari luar jendela yang terbuka.

Dan setelah berjalan cukup lama, langkahnya terhenti. Di hadapannya ada dua lorong gelap dan ia mulai kebingungan.

Tempat itu benar-benar seperti sebuah labirin yang menyesatkan.

Olivia akhirnya memilih lorong yang mengarah ke utara. Cahaya semakin berkurang karena semakin ke dalam, ia tidak menemukan jendela.

Ia baru saja akan membalikkan badan membatalkan niatnya, sebelum sebuah tangan besar menarik dirinya dan membekap mulutnya.

Tubuhnya refleks memberontak, berupaya sekuat tenaga untuk melepaskan diri. Namun tenaga sosok yang terlihat samar itu jauh lebih kuat.

Ketika ia berusaha menoleh ke belakang, matanya berhasil menangkap bayangan sosok tersebut dan mengenalinya.

Aaron Kendrick.

Kedua mata Olivia membulat lebar ketika wajah Aaron mulai mendekat perlahan ke arahnya. Ia ingin berteriak. Tapi tangan besar Aaron berhasil membekapnya dengan sangat erat.

Jantung Olivia semakin berdetak kencang. Jarak di antara mereka semakin dekat. Ia bahkan bisa melihat dengan sangat jelas wajah pria itu di tengah kegelapan.

Tidak! Apa yang ingin dilakukannya?

Dia.. ingin menciumku?!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 91

    🔞-----Sekeras apa pun Olivia berusaha mendorongnya menjauh, pada akhirnya usahanya itu hanya akan berakhir sia-sia dengan tenaga yang ikut terkuras habis.Tenaga Aaron jauh lebih besar darinya. Lengannya melingkar di pinggang Olivia, mengunci pergerakan tubuhnya. Sebelah tangannya berada di tengkuk lehernya, menahan kepalanya agar tidak bisa menjauh.Kalau Aaron tidak berhenti saat itu juga, mungkin Olivia akan pingsan karena kehabisan nafas.Nafas keduanya terengah-engah. Ciuman itu begitu intens. Lumatannya sangat mendominasi dan penuh dengan tuntutan.Bibir mungil di hadapannya tampak kemerahan dan sedikit membengkak. Sejujurnya Aaron masih belum puas. Ia masih ingin menikmatinya. Tapi nafasnya hampir habis. Ia pun terpaksa berhenti."Kau sudah gila!" seru Olivia marah. "Apa kau berniat membunuhku?"Aaron tergelak. Melihat Olivia yang marah seperti sekarang justru membuatnya seakan tengah melihat seekor kucing yang mengamuk karena makanannya diambil. Tidak menakutkan sama sekali

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 90

    Aaron menunduk untuk menatap istrinya. Bayangan pepohonan yang menghalangi sinar matahari jatuh menutupi sebagian wajahnya di tengah langkah mereka menyusuri jalan tanah."Katakan saja," kata Aaron tenang.Belum bertanya saja, jantungnya sudah berdegup sangat keras. Bukan karena rasa takut, juga bukan karena rasa gugup. Olivia semakin tidak mengerti dengan tubuhnya sendiri akhir-akhir ini."Greg bilang padaku, kau memintanya untuk merawat taman bunga peony karena kau ingin mempersembahkannya pada seseorang."Aaron menoleh sekilas dengan alis terangkat, lalu kembali menatap depan. "Hm-mm," sahutnya berdeham."Siapa?" Olivia sendiri tidak tahu kenapa saat itu ia bisa begitu berani dan lancang, seakan tidak ada batasan apa pun antara dirinya dan Aaron sekarang."Sejak tadi kau menanyakan hal yang hampir serupa, Nyonya Kendrick." ujar Aaron tanpa menoleh ke arahnya."Karena sejak tadi kau juga tidak menjawab pertanyaanku." tukas Olivia agak sebal.Aaron tergelak pendek. Tapi tawa ringanny

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 89

    Tempat tinggal Greg dan istrinya bersih dan tertata sangat rapi. Tidak banyak barang yang mereka miliki, semuanya tampak sangat sederhana.Ketika Olivia membantunya di dapur, Welly mengeluh. "Kau tidak seharusnya ikut bekerja di dapur seperti sekarang, Olivia."Sejak Olivia meminta mereka untuk memanggilnya hanya dengan nama saja, Greg dan Welly jadi berbicara lebih santai dengannya. Rasa canggung dan segan yang dirasakan Olivia pun hilang. Ia merasa jauh lebih nyaman, seperti tengah bersama keluarganya sendiri.Aaron dan Greg duduk di meja makan sambil bercengkerama. Sesekali terdengar suara Greg yang tertawa cukup keras."Dia itu benar-benar! Ketawanya tidak bisa berubah sama sekali, selalu sangat keras!" omel Welly lagi. Dan Olivia hanya terkekeh mendengarnya.Greg dan Welly memiliki dua orang anak yang keduanya sudah berusia dewasa. Anak pertamanya, laki-laki, adalah seorang koki yang bekerja di sebuah restoran. Dan anak bungsunya, perempuan, adalah seorang dokter di sebuah rumah

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 88

    Villa itu tidak besar dan luas seperti mansion keluarga Kendrick. Ukuran dan penampilannya jauh lebih sederhana, namun desainnya tidak lepas dari kesan modern.Bangunan batu dua lantai yang berdiri di tepi tebing itu didominasi oleh warna putih dan abu-abu. Luasnya cocok untuk sebuah keluarga kecil yang terdiri dari satu ayah, satu ibu dan satu anak.Ruang duduknya tidak terlalu luas, namun juga tidak terkesan sempit. Ada sebuah sofa berlengan dan dua buah sofa tunggal berwarna senada di sana. Dan dapurnya sangat minimalis dengan sebuah meja batu yang bisa digunakan hingga enam orang.Beberapa sisi ruangan dibatasi oleh pintu kaca, sehingga cahaya matahari dari luar dapat masuk dan membanjiri setiap ruangan.Olivia berdiri di tepi salah satu pintu kaca yang menghadap langsung ke arah laut lepas. Dari tempatnya berdiri, ia dapat melihat dengan jelas hamparan laut luas di bawah sana. Pemandangan yang cukup memukau untuknya.Suara deru ombak yang bergulung dan menghantam karang seakan me

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 87

    Bunga peony bukan tanaman yang mudah dibiakkan. Sebagai seorang penjual bunga, Olivia tahu betapa sulitnya mengembangbiakkan bunga tersebut.Tidak heran jika ada yang menjualnya, harganya pasti akan sangat mahal. Selain sulit, bunga peony juga hanya bisa mekar di saat tertentu.Ketika Aaron memberikan bunga peony di hari pernikahan mereka, Olivia sudah cukup terkejut dan tersipu. Ia sama sekali tidak menyangka jika ternyata pria itu bukan membelinya. Aaron Kendrick bahkan punya taman bunga peony!Taman yang hanya ditumbuhi oleh bunga peony dengan berbagai warna itu terlihat begitu terawat. Seluruh bunganya mekar dengan sempurna tanpa celah. Di bawah sinar matahari yang cerah, taman itu terlihat begitu indah.Olivia sampai penasaran, siapa yang sudah merawatnya hingga sedemikian rupa? Pastinya bukan sembarang orang yang bisa melakukannya.Di tengah kekagumannya, Olivia teringat dan segera menoleh ke belakang. Ia mendapati Aaron tengah duduk di sebuah kursi tunggal sambil memperhatikann

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 86

    Ketika Olivia menoleh, ia melihat senyuman getir terlukis di wajah Aaron. Seakan ada rasa senang, juga kesedihan yang tersimpan dalam sorot matanya.Menyadari ucapan suaminya yang sudah membuat suasana berubah kurang nyaman, wanita bertubuh gembul itu langsung menyikut lengan suaminya dengan kesal. Namun tampaknya si pria tua itu tidak terlalu peka dan justru kebingungan.Jika diperhatikan baik-baik, usia pria tua ini kelihatannya jauh lebih tua dari Josh. Entah karena penampilannya atau hal lain.Olivia berpikir, mungkin karena usianya yang bisa dikatakan sudah cukup berumur, pria itu jadi berbicara sesuka hatinya tanpa pikir panjang. Meskipun kelihatannya ia tidak sedikit pun ada keinginan atau kesengajaan untuk menyakiti lawan bicaranya.Aaron sendiri tampaknya tidak ingin berlama-lama di sana. Ia segera mengalihkan pembicaraan dengan memperkenalkan sepasang suami istri di hadapan mereka itu pada Olivia."Perkenalkan, ini Greg Gardner dan istrinya Welly."Suasana yang sempat tegang

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 4

    Sebuah mobil sedah mewah berwarna hitam sudah berdiri di luar pagar.Raut puas yang terukir di wajah Katrin dan Jack membuat hatinya terasa perih. Ia tidak menyangka jika Katrin akan menggunakan ayahnya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.Olivia menarik nafas panjang dan mengembuskannya perla

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 3

    Pintu di belakangnya tertutup rapat.Olivia termenung sejenak di tengah ruangan yang sempit itu, menatap sosok pria tua yang saat ini terbaring di sebuah ranjang usang.Ayahnya menatap Olivia dengan raut wajah sedih. Olivia yakin, ayahnya sudah mendengar semuanya. Namun ia tidak bisa berbuat apa-ap

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 2

    Dari arah belakang Katrin langsung datang menarik tangan Olivia dengan kasar dan menyingkirkannya ke belakang. Tubuh Olivia sempat terhuyung. Tapi untung saja ia tidak sampai jatuh ke lantai.Kini Katrin yang berdiri di hadapan Josh. "Silakan masuk, Tuan!" ujarnya dengan sangat ramah. Sikapnya itu

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 1

    “Tiga hari lagi mereka akan datang menjemputmu.”Ucapan ibu tirinya barusan membuat sekujur tubuh Olivia Rose lemas. Kedua lututnya jatuh tertekuk menyentuh lantai yang dingin.“Kumohon,” pinta Olivia memohon sambil menarik sisi gaun ibu tirinya, Katrin Brown. “Aku tidak mau menikah dengan pria kej

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status