LOGINAaron tidak pernah berpikir jika Olivia akan merasa sangat takut dan benci padanya. Padahal pikiran untuk menyakiti gadis itu tidak pernah terbersit di pikirannya, sama sekali.
"Banyak rumor buruk tentang Anda yang beredar di luar sana." jelas Josh.
Setelah mengantar Olivia ke kamarnya, Josh kembali ke ruang kerja Aaron dan mendapati pria termenung muram. "Mungkin karena rumor itu Nona Olivia merasa takut pada Anda."
Aaron menuang cairan beralkohol ke gelasnya dan meneguknya hingga tersisa setengah.
Aaron bukan seorang perokok. Namun ia cukup kuat untuk meneguk alkohol, apalagi saat suasana hatinya buruk.
"Dia juga tampaknya tak mengingatku." gumamnya lagi. Ada rasa kecewa yang tersirat dalam suaranya.
Josh tersenyum. "Saat itu kalian berdua masih sangat muda. Wajar jika Nona Olivia tak mengingatnya."
"Tapi aku mengingatnya!" protes Aaron seperti seorang anak kecil yang kesal.
Josh tidak berkata apa-apa lagi. Ia tahu betul jika suasana hati Aaron Kendrick sudah buruk, semua hal akan terasa salah. Jadi sebaiknya ia diam jika tidak diminta pendapat.
"Sudahlah, tak usah dibahas lagi." gerutunya seraya meneguk minumannya hingga permukaan gelasnya kering. "Masalah pernikahan kami jauh lebih penting."
"Minggu depan," ujar Aaron kemudian. "Aku ingin menikahinya minggu depan."
Kedua alis Josh terangkat. "Apa tidak terlalu cepat, Tuan? Bukankah sebaiknya Anda mencoba melakukan pendekatan dulu pada Nona Olivia? Setidaknya setelah kalian menikah nanti, kalian tidak merasa canggung."
Aaron mendesah, lalu menggelengkan kepala.
"Lagipula sejak awal kita sudah memberitahunya bahwa dia akan menikah denganku untuk melunasi hutang Jack, kan?" Salah satu sudut bibirnya terangkat. "Itu berarti dia sudah harus siap dengan pernikahan ini."
Josh terdiam. Yang dikatakan Aaron ada benarnya.
"Mulai besok kau sudah harus mempersiapkan segala yang diperlukan."
"Baik, Tuan." jawab Josh patuh.
"Untuk gaun pengantin, serahkan pada Olivia. Aku ingin dia memilih sendiri gaun pengantinnya." pesan Aaron lagi. "Dan untuk pakaianku, biarkan dia juga yang menentukannya."
Kedua mata Josh mengerjap. Diam-diam ia menahan senyum.
"Satu lagi. Kau tak perlu menyewa gedung. Aku ingin mengadakan acaranya di halaman belakang mansion."
"Tapi, Tuan, sepertinya halaman belakang kita tidak akan cukup untuk para tamu."
Aaron menggeleng. "Aku tak berencana mengundang banyak orang." ucapnya sambil menimbang. "Cukup undang saja para keluarga bangsawan di dalam kota."
"Baik, Tuan." sahut Josh. "Lalu, untuk kamar pengantin nanti, apa kita perlu menyiapkan kamar baru?"
Pandangan mata Aaron yang dingin langsung tertuju ke arah Josh, menatap kedua maniknya datar.
Nafas Josh sempat berhenti selama beberapa detik. Josh sudah merawat Aaron sejak masih kecil, dan ia tahu betul seperti apa karakter Aaron Kendrick.
Ada satu hal yang tetap ditakutinya dari Aaron. Tatapan matanya yang sulit ditebak.
Josh sempat berpikir jika dirinya baru saja mengatakan sesuatu yang salah. Mulutnya baru terbuka hendak meralat ucapannya. Tapi Aaron sudah lebih dulu bersuara.
"Tidak, kau hanya perlu mengganti sprei tempat tidurku dengan yang baru. Kalau perlu, ganti dengan warna yang lebih cerah." ujarnya seraya bangkit dari duduknya.
Warna cerah jelas bukan ciri khas seorang Aaron Kendrick. Josh tahu betul tentang hal itu.
"Aku belum berencana untuk tidur di kamar yang sama dengannya, selain dirinya yang meminta."
***
Malam semakin larut. Namun kedua matanya belum juga mengantuk.
Olivia menyibak selimut dan bangkit dari kasur. Ia berjalan ke arah jendela dan berdiri di sana sambil menatap keluar.
Langit malam di luar tampak pekat, juga mencekam. Tidak ada bulan, juga bintang. Hampa.
Terbersit di benak Olivia untuk berjalan-jalan sebentar di luar. Mungkin setelah menghirup udara segar, ia akan segera mengantuk.
Pintu kamarnya terbuka perlahan. Dengan langkah pelan, Olivia keluar dan berjalan menyusuri lorong mansion yang cukup panjang.
Kamarnya berada di salah satu sayap mansion. Suasana tampak hening, juga gelap. Padahal saat Josh mengantarnya tadi, semua lampu di lorong menyala terang.
"Apa mungkin semua lampu dipadamkan di tengah malam?" batin Olivia.
Olivia melangkah cukup panjang menyusuri lorong dengan sedikit pencahayaan dari luar jendela yang terbuka.
Dan setelah berjalan cukup lama, langkahnya terhenti. Di hadapannya ada dua lorong gelap dan ia mulai kebingungan.
Tempat itu benar-benar seperti sebuah labirin yang menyesatkan.
Olivia akhirnya memilih lorong yang mengarah ke utara. Cahaya semakin berkurang karena semakin ke dalam, ia tidak menemukan jendela.
Ia baru saja akan membalikkan badan membatalkan niatnya, sebelum sebuah tangan besar menarik dirinya dan membekap mulutnya.
Tubuhnya refleks memberontak, berupaya sekuat tenaga untuk melepaskan diri. Namun tenaga sosok yang terlihat samar itu jauh lebih kuat.
Ketika ia berusaha menoleh ke belakang, matanya berhasil menangkap bayangan sosok tersebut dan mengenalinya.
Aaron Kendrick.
Kedua mata Olivia membulat lebar ketika wajah Aaron mulai mendekat perlahan ke arahnya. Ia ingin berteriak. Tapi tangan besar Aaron berhasil membekapnya dengan sangat erat.
Jantung Olivia semakin berdetak kencang. Jarak di antara mereka semakin dekat. Ia bahkan bisa melihat dengan sangat jelas wajah pria itu di tengah kegelapan.
Tidak! Apa yang ingin dilakukannya?
Dia.. ingin menciumku?!
Ucapan Aaron barusan ada benarnya, begitu pikir Olivia setelah berpikir sejenak.Banyak rumor buruk yang berseliweran di luar sana tentang Aaron Kendrick. Saat pertama kali bertemu dengan pria itu saja, Olivia sangat ketakutan sampai memikirkan banyak hal mengerikan.Lantas bagaimana mungkin ia akan percaya dengan ucapan Aaron?Oliva mendesah pelan, lalu mengalihkan percakapan. "Pantas saja kau tahu banyak hal tentangku." gumamnya seperti berbisik pada diri sendiri. "Dan soal taman bunga peony di halaman belakang, kau juga sudah mempersiapkannya sejak lama."Aaron hanya mengangguk polos.Wajah Olivia mendadak memanas. Di tengah kegelapan, rona merah di kedua pipinya tidak terlihat. Jadi ia tidak khawatir jika Aaron akan menyadarinya.Dadanya ikut menghangat. Ia sama sekali tidak menyangka jika sosok Aaron Kendrick yang dingin dan kejam bisa melakukan hal-hal romantis semacam itu. Aaron mengingat semua yang dikatakan Olivia dulu padanya, padahal Olivia sendiri sudah nyaris melupakannya
Waktu terasa panjang ketika Olivia menunggu jawaban dari Aaron yang hanya diam menatapnya. "Kenapa kau hanya diam?" tanya Olivia tidak sabar. "Katakan padaku, apa yang terjadi setelah itu?"Aaron tergelak.Awalnya ia sama sekali tidak berniat memberitahu Olivia tentang masa lalu mereka. Mungkin tidak sekarang, tapi suatu hari nanti. Tapi sayangnya Olivia sudah terlanjur melihat bekas luka bakar yang didapatkannya hari itu, hari pertama ia bertemu dengan Olivia Rose.Bagaimana jika Olivia tahu bahwa Aaron adalah bocah laki-laki yang diselamatkannya di tengah hutan dulu?Selama ini Aaron berusaha menutupi kehidupannya yang kelam karena khawatir jika Olivia akan merasa takut dan ngeri. Ditambah, jika Olivia tahu bahwa Aaron-lah bocah yang diselamatkannya dulu, mungkin wanita itu akan berubah mengasihaninya.Aaron tidak ingin Olivia meliriknya karena rasa kasihan. Ia tidak ingin dikasihani. Ia hanya ingin Olivia meliriknya dan mencintainya dengan tulus.Tapi ia sudah terlanjur berjanji pa
Rintikan hujan masih terdengar di luar sana ketika Olivia membuka mata.Ternyata hujan belum reda. Tapi tidak deras seperti sebelumnya. Suara angin kencang juga tidak lagi terdengar. Cahaya kilat sesekali menembus masuk dari balik korden tanpa suara.Olivia menggeser badan dan menarik selimut yang menutupi tubuhnya yang tidak dibalut apa pun itu menjadi sedikit lebih tinggi. Udara dingin yang menerpa langsung ke kulit tubuhnya membuatnya sedikit kedinginan.Saat menoleh ke samping, Aaron tampak terlelap pulas membelakanginya. Lekukan otot di punggungnya yang tidak tertutup oleh sehelai benang pun memperlihatkan bagaimana selama ini pria itu merawat dirinya.Namun bukan itu yang membuat kedua mata Olivia semakin terbuka lebar. Sebuah bekas luka bakar besar di atas punggung kanannya. Olivia meringis.Dengan gerakan perlahan Olivia mengulurkan tangan hendak menyentuh bekas luka yang tampak menyakitkan itu. Ujung telunjuknya baru saja mendarat di sana ketika Aaron tiba-tiba membalikkan ba
🔞-----Apa yang dilakukan Olivia terhadapnya barusan membuat Aaron mematung selama beberapa saat. Ia nyaris tidak percaya dengan apa yang terjadi pada dirinya barusan.Olivia menciumnya.Ciuman itu ringan dan tenang, namun sudah cukup untuk menghidupkan kembali gejolak dalam dirinya yang meronta.Aaron menunduk, menatap Olivia dengan mata disipitkan. "Kau tahu apa yang bisa kau timbulkan karena perbuatanmu barusan." Suaranya berbisik sangat pelan. Sudut bibirnya perlahan terangkat.Olivia menggigit bibir tanpa menyahut. Kedua matanya masih tertuju ke arah Aaron.Aaron meletakkan kedua tangannya di atas pundak Olivia. Lalu dengan gerakan yang sangat lembut, ia berhasil menyingkirkan gaun tidur tipis yang dikenakan Olivia untuk menutupi tubuhnya.Kain tipis itu jatuh ke atas lantai dengan mulus, menyisakan sebuah pakaian tidur berbahan satin yang sangat minim."Boleh?" bisik Aaron. Suaranya terdengar samar teredam suara deras hujan di luar sana.Olivia menatapnya selama beberapa detik,
Angin tampak semakin kencang di luar. Suara gemuruh petir mulai terdengar di tengah keheningan malam. Aaron baru saja meletakkan gelas kosongnya di wastafel ketika lampu ruangan meredup dan berkedip.Olivia yang sudah naik ke kamar kembali turun dengan ekspresi bingung sekaligus takut. Langkah kakinya nyaris seperti berlari saat menghampiri Aaron yang masih berdiri di tepi wastafel. "Listriknya kenapa?" tanya Olivia padanya."Sepertinya ada masalah dengan listriknya." jawabnya tenang. "Aku akan pergi mengecek ke luar. Kau tunggu di sini."Sebelum sempat keluar dari villa, semua lampu padam. Suasana berubah gelap dan hening. Suara angin yang semakin kencang terdengar kian jelas."Aaron," panggil Olivia dalam kegelapan dengan suara agak bergetar. Ia tidak bisa melihat apa-apa sama sekali.Tepat ketika cahaya kilat menembus masuk dari korden jendela dan menerangi ruangan selama sepersekian detik, barulah ia dapat melihat sosok Aaron yang berjalan cepat menghampirinya.Kilat petir yang di
Tidak biasanya Olivia mandi di malam hari. Ibunya dulu selalu bilang, mandi di malam hari bisa membuat seseorang lebih mudah terserang flu karena udara malam yang dingin.Tapi karena tadi ia harus memasak, jadi ia tidak punya pilihan. Untung saja ada air panas di villa. Jadi ia tidak perlu mandi dengan tubuh menggigil.Seusai mandi, ia tidak melihat Aaron di kamar. Ia pikir pria itu mungkin berada di lantai satu. Tapi saat turun, ia tidak menemukan siapa pun di sana.Melihat pintu utama yang tidak terkunci dan terbuka sedikit, barulah ia sadar bahwa saat itu Aaron sedang berada di luar.Olivia menghampirinya. Di sebelah tangan pria itu ada sebuah gelas kaca dengan cairan berwarna coklat keemasan. Saat terkena pantulan cahaya lampu, cairan itu tampak seperti kristal-kristal yang indah."Ehm-hm."Aaron langsung menoleh saat mendengar suara deham Olivia yang berdiri di sebelahnya. Matanya bergerak memperhatikan Olivia dari sudut kepala hingga ujung kaki. Aroma sabun yang wangi menguar me
Aaron sedang berbaring di atas tempat tidurnya ketika Olivia masuk ke dalam kamarnya.Mulanya ia merasa ragu. Tapi kemudian ia memutuskan untuk berjalan mendekat ke arah ranjang berukuran cukup luas itu.Wajah pria itu tampak pucat. Aaron sama sekali tidak bergerak saat Olivia mendekatinya.Bibir t
Pintu tinggi yang terbuat dari kayu terbaik di hadapannya dibuka oleh Josh. Sebuah pemandangan yang tidak pernah dibayangkan oleh Olivia sebelumnya menyambut kehadirannya."Ini kamarmu, Olivia." kata Josh seraya mempersilakannya untuk masuk.Dengan langkah ragu, Olivia masuk ke dalam ruangan yang c
Olivia merasakan ketegangan yang luar biasa sejak dirinya melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan yang memiliki dua buah daun pintu itu.Udara dingin seolah menyambut kehadirannya di sana. Mendengar suara berat seorang pria yang duduk di dalam ruangan itu membuat sekujur tubuhnya bergidik.Kepalany
Sebuah mobil sedah mewah berwarna hitam sudah berdiri di luar pagar.Raut puas yang terukir di wajah Katrin dan Jack membuat hatinya terasa perih. Ia tidak menyangka jika Katrin akan menggunakan ayahnya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.Olivia menarik nafas panjang dan mengembuskannya perla







