Share

Bab 6

Penulis: Author Lee
last update Tanggal publikasi: 2026-04-27 17:19:13

Pintu tinggi yang terbuat dari kayu terbaik di hadapannya dibuka oleh Josh. Sebuah pemandangan yang tidak pernah dibayangkan oleh Olivia sebelumnya menyambut kehadirannya.

"Ini kamarmu, Olivia." kata Josh seraya mempersilakannya untuk masuk.

Dengan langkah ragu, Olivia masuk ke dalam ruangan yang cukup luas itu. Bisa dikatakan, luasnya berkali lipat lebih luas dari kamarnya sebelumnya.

Perabotan mewah dengan ranjang yang ukurannya cukup luas untuk dirinya sendiri mengisi ruangan itu. Lemari pakaiannya juga besar, sampai-sampai Olivia penasaran. Sebanyak apa pakaian yang ada di dalam sana?

Langkah kaki Olivia terhenti di tengah ruangan. Pandangannya menyapu seisi ruangan yang tampak begitu mewah.

"Apa..." Olivia tampak ragu mengatakannya. "Ini semua untukku?"

Josh tersenyum. "Benar sekali," sahutnya. "Jika ada hal lain yang kau perlukan, katakan saja padaku atau Claudia."

Claudia adalah wanita paruh baya yang berdiri di samping Josh. Jika diperhatikan, sepertinya Claudia dan Josh berusia sebaya.

"Saya siap membantu Anda, Nona Olivia." kata Claudia sopan. Nada bicaranya terdengar begitu keibuan.

Olivia menelan ludah, lalu tersenyum pendek.

Tidak ada hal mencurigakan sejauh ini. Mereka semua tampak memperlakukan Olivia dengan baik. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di mansion besar dan mewah itu, dirinya bahkan sudah disambut dengan sangat terhormat oleh para pelayan dan pengawal.

Sedangkan Aaron Kendrick, Olivia masih mengingat jelas sikap dingin dan aura menakutkan yang dimiliki pria itu. Tatapan matanya yang tajam seolah terus menghantui di benaknya.

Meskipun begitu, Olivia berusaha mengingatkan dirinya. Ia tidak boleh terlena dengan semua kemewahan ini. Bagaimana pun juga, ia tidak tahu maksud dan tujuan semua ini diberikan padanya.

"Terima kasih," ucap Olivia.

Tidak berselang lama, pintu di belakangnya pun tertutup. Josh dan Claudia akhirnya beringsut pergi meninggalkan Olivia.

Setelah memastikan situasi aman, Olivia memberanikan diri untuk mengeluarkan sesuatu yang berada di dalam tas yang tersampir di tubuh mungilnya.

Olivia masih tidak percaya dengan apa yang berada di tangannya saat ini. Senjata api yang seharusnya hanya dimiliki oleh orang-orang dari kalangan tertentu. Ia sendiri bahkan tidak tahu cara menggunakannya.

Bagaimana bisa ayahnya memiliki benda ini?

Tanpa pikir panjang, Olivia langsung bergerak mencari tempat teraman di mana ia bisa menyembunyikan benda berbahaya itu.

Semua sudut ruangan tampak bersih. Tidak ada sedikit pun debu yang terlihat.

Ini membuktikan bahwa setiap sudut di ruangan itu terjangkau oleh siapa pun yang membersihkannya, termasuk di bawah kasur.

Karena tidak punya pilihan lain, Olivia memutuskan untuk menyimpan benda itu di bawah bantalnya. Setidaknya untuk sementara waktu.

"Kalau tempat tidurku selalu dalam keadaan rapi, aku yakin tak akan ada seorang pun yang menyentuhnya." gumamnya yakin.

Setelah semuanya terasa aman, akhirnya Olivia memutuskan untuk beristirahat.

Bokongnya mendarat di atas kasur yang empuk. Permukaan sprei yang bersih tampak lembut. Selimut tebal berwarna senada akan menghangatkan tubuhnya mulai malam ini.

Olivia cukup suka dengan nuansa kamarnya. Perpaduan warna putih dan merah muda membuat suasana ruangan itu tampak cerah dan menyenangkan.

"Siapa yang sudah menata semua ini?" Olivia bertanya-tanya seorang diri.

Baginya, ruangan itu benar-benar sesuai dengan dirinya. Ia suka dengan warna merah muda dan sudah lama ia selalu bermimpi untuk memiliki kamar dengan nuansa seperti ini.

Olivia menyadari sesuatu sebelum menjatuhkan dirinya di atas kasur.

Pakaiannya. Ia harus mengganti pakaiannya yang agak lusuh, meskipun itu satu-satunya pakaian terbaik yang dimilikinya.

Pandangan matanya langsung tertuju ke arah lemari pakaian enam pintu yang berada di salah satu sisi ruangan.

"Hm, apa lemari pakaian sebesar itu memang sudah diisi?" gumamnya penasaran.

Tanpa pikir panjang, Olivia langsung bangkit dan berjalan ke arah lemari pakaian besar tersebut.

Awalnya ia merasa ragu. Meskipun Josh sudah mengatakan bahwa semua yang ada di ruangan itu adalah miliknya, Olivia masih belum sepenuhnya merasa demikian.

Kedua tangannya menyentuh gagang lemari yang dingin. Dengan sekali tarikan, dua pintu lemari terbuka. Detik itu pula, Olivia terkesiap.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 22

    Aaron sedang berbaring di atas tempat tidurnya ketika Olivia masuk ke dalam kamarnya.Mulanya ia merasa ragu. Tapi kemudian ia memutuskan untuk berjalan mendekat ke arah ranjang berukuran cukup luas itu.Wajah pria itu tampak pucat. Aaron sama sekali tidak bergerak saat Olivia mendekatinya.Bibir tipisnya mengatup rapat. Kedua matanya terpejam. Selimut tebal menutupi tubuhnya hingga setinggi dada.Olivia berdiri di tepi ranjang dengan tatapan melekat ke arah pria yang tengah berbaring itu. Melihatnya tidak sedikit pun bergerak membuat Olivia agak was-was.Apa pria ini sungguh baik-baik saja? Atau dia hanya sedang tidur dan tidak menyadari kehadiran Olivia di kamarnya sama sekali?Rasa khawatir mulai menjalar di pikiran Olivia. Pikiran negatif semakin bermunculan di benaknya.Bagaimana jika ternyata pria ini tidak sadarkan diri? Atau jangan-jangan...Dengan gerakan perlahan, Olivia mengulurkan tangan mendekat ke arah wajah Aaron. Jari telunjuknya ia letakkan di dekat hidung pria itu un

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 21

    Hujan turun deras di luar ketika Olivia terjaga dari tidurnya.Pagi telah tiba. Namun langit tidak terlihat cerah seperti biasanya dari balik jendela. Sesekali terdengar gemuruh petir yang mengisi kesunyian.Rasanya malas sekali untuk bangkit dari tempat tidur. Cuaca cukup sejuk pagi itu. Olivia menarik selimutnya, membiarkan dirinya terbungkus rapat dan hangat di dalam.Beberapa kali ia berusaha memejamkan mata, berharap akan tertidur kembali. Tapi kesadarannya kini sudah penuh. Karena tidak mengantuk sama sekali lagi, akhirnya ia memutuskan untuk bangkit dari atas tempat tidur.Jarum jam di atas nakas sudah menunjukkan hampir pukul delapan. Spontan Olivia melompat turun dan segera membersihkan diri di kamar mandi.Sebelum tinggal di mansion keluarga Kendrick, Olivia bangun pagi-pagi sekali setiap hari untuk memulai aktivitas.Ia harus menyiapkan sarapan untuk ayahnya, mengurus segala keperluannya sebelum berangkat ke toko bunga peninggalan mendiang ibunya.Omong-omong soal toko bung

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 20

    Aaron Kendrick ingin menciumnya.Olivia baru menyadarinya setelah ia berada di kamarnya, duduk di atas tempat tidur empuknya dengan selimut tebal yang menutupi setengah tubuhnya.Mendadak wajahnya terasa memanas.Perasaan ini sangat aneh. Jantungnya berdetak kencang saat mengingat kembali apa yang ingin dilakukan Aaron tadi di ruang kerjanya.Bagaimana Aaron memangkas jarak di antara mereka, hembusan nafasnya yang menerpa kulit wajah Olivia yang putih dalam keheningan dan ketegangan.Namun kemudian, pria itu tiba-tiba menjauh dan meminta Olivia untuk keluar dari ruangannya, menganggap pembicaraan mereka sudah selesai.Sikapnya mendadak berubah dingin, dan Olivia tidak tahu apa penyebabnya.Tidak ada yang terjadi di antara mereka setelah itu.Olivia langsung berdiri, tanpa mengatakan apa pun. Lalu ia melangkah pergi dari ruang kerja Aaron, meninggalkan pria itu tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.Kepalanya menggeleng cepat, berusaha mengusir perasaan aneh yang dirasakannya malam itu

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 19

    Olivia diam selama beberapa saat menatap gaun yang diremasnya.Wajahnya kemudian terangkat dan tatapan matanya tertuju lurus ke arah pria yang duduk di seberangnya."Jadi, kau ingin aku membayar apa yang sudah kau lakukan secara sepihak?" ucap Olivia getir.Aaron membalas tatapannya, lalu mengangguk. "Rasanya kurang menyenangkan kalau kau bilang 'secara sepihak', Olivia.""Tapi memang itu kenyataannya!" Suara Olivia naik satu tingkat lebih keras. "Kau tidak meminta persetujuanku sama sekali!"Hening sejenak.Suasana di ruangan itu menjadi menegangkan dan cukup panas. Kesabaran Olivia mulai terkikis perlahan.Tiba-tiba Aaron berdiri. Pria itu melangkah ke arah Olivia. Tangan besarnya terulur ke wajah Olivia, lalu menarik dagunya dengan tegas."Katakan padaku," gumam Aaron ke arah Olivia yang kini mendongak menatapnya."Kalau ibu tiri dan kakak tirimu itu masih hidup dan sekarang mereka berdiri di hadapanmu, apa kau tidak akan melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan?"Sorot mata

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 18

    "Tidak ada yang gratis di dunia ini, Olivia Rose."Setelah mengucapkan kalimat itu lagi, Aaron langsung melangkah meninggalkan ruang tengah. Ia terlihat tidak tertarik untuk menunggu jawaban atau respon apa pun dari Olivia.Nafas Olivia terhenti seiring menghilangnya pria itu dari hadapannya.Entahlah. Setiap kali pria itu mengatakannya, dadanya berdegup kencang. Ada sesuatu yang mengusiknya setiap kali mendengar ucapan itu.Perasaannya berubah tidak enak. Entah apa yang direncanakan pria itu. Mengingat tatapannya yang dingin dan sulit ditebak membuat firasat Olivia selalu buruk.Hingga jam makan malam tiba.Seperti yang ditebak Olivia pagi tadi. Aaron duduk di sisi tengah meja makan, sementara Olivia duduk di sisi sebelah kanannya.Suasana yang hening dan dingin menyelimuti kegiatan makan malam. Hanya terdengar suara alat makan yang beradu dengan piring keramik yang tampak elegan. Amat khas dengan gaya bangsawan.Aaron tampak begitu fokus dengan hidangan makan malam di atas piringnya

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 17

    Aaron dan Josh akhirnya tiba kembali di mansion tepat ketika matahari turun di arah barat.Mobil mewah yang mereka duduki berhenti tepat di depan pintu masuk utama mansion. Sebelum turun dari mobil, Aaron memanggil Josh."Ya, Tuan?" sahut Josh.Aaron berdeham pelan, lalu berkata, "Jangan ceritakan apa pun pada Olivia. Aku tidak ingin dia tahu tentang masalah kematian ayahnya."Josh menarik nafas panjang dan mengembuskannya perlahan, lalu ia mengangguk. "Baik, Tuan. Saya sebenarnya juga sudah berpikir untuk menyembunyikan hal ini dari Nona Olivia." ujar Josh jujur.Katrin dan Jack sudah berencana untuk kabur tepat setelah Aaron menyatakan bahwa ia ingin mereka menyerahkan Olivia padanya sebagai bayaran atas hutang-hutang Jack.Mereka sudah sangat yakin jika Olivia akan berakhir tragis di tangan Aaron Kendrick. Atau paling tidak, mungkin wanita itu akan menjadi budak di mansionnya.Setelah memikirkannya matang-matang, mereka pun memutuskan untuk menghabisi nyawa ayah Olivia yang tengah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status