LOGINPintu tinggi yang terbuat dari kayu terbaik di hadapannya dibuka oleh Josh. Sebuah pemandangan yang tidak pernah dibayangkan oleh Olivia sebelumnya menyambut kehadirannya.
"Ini kamarmu, Olivia." kata Josh seraya mempersilakannya untuk masuk.
Dengan langkah ragu, Olivia masuk ke dalam ruangan yang cukup luas itu. Bisa dikatakan, luasnya berkali lipat lebih luas dari kamarnya sebelumnya.
Perabotan mewah dengan ranjang yang ukurannya cukup luas untuk dirinya sendiri mengisi ruangan itu. Lemari pakaiannya juga besar, sampai-sampai Olivia penasaran. Sebanyak apa pakaian yang ada di dalam sana?
Langkah kaki Olivia terhenti di tengah ruangan. Pandangannya menyapu seisi ruangan yang tampak begitu mewah.
"Apa..." Olivia tampak ragu mengatakannya. "Ini semua untukku?"
Josh tersenyum. "Benar sekali," sahutnya. "Jika ada hal lain yang kau perlukan, katakan saja padaku atau Claudia."
Claudia adalah wanita paruh baya yang berdiri di samping Josh. Jika diperhatikan, sepertinya Claudia dan Josh berusia sebaya.
"Saya siap membantu Anda, Nona Olivia." kata Claudia sopan. Nada bicaranya terdengar begitu keibuan.
Olivia menelan ludah, lalu tersenyum pendek.
Tidak ada hal mencurigakan sejauh ini. Mereka semua tampak memperlakukan Olivia dengan baik. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di mansion besar dan mewah itu, dirinya bahkan sudah disambut dengan sangat terhormat oleh para pelayan dan pengawal.
Sedangkan Aaron Kendrick, Olivia masih mengingat jelas sikap dingin dan aura menakutkan yang dimiliki pria itu. Tatapan matanya yang tajam seolah terus menghantui di benaknya.
Meskipun begitu, Olivia berusaha mengingatkan dirinya. Ia tidak boleh terlena dengan semua kemewahan ini. Bagaimana pun juga, ia tidak tahu maksud dan tujuan semua ini diberikan padanya.
"Terima kasih," ucap Olivia.
Tidak berselang lama, pintu di belakangnya pun tertutup. Josh dan Claudia akhirnya beringsut pergi meninggalkan Olivia.
Setelah memastikan situasi aman, Olivia memberanikan diri untuk mengeluarkan sesuatu yang berada di dalam tas yang tersampir di tubuh mungilnya.
Olivia masih tidak percaya dengan apa yang berada di tangannya saat ini. Senjata api yang seharusnya hanya dimiliki oleh orang-orang dari kalangan tertentu. Ia sendiri bahkan tidak tahu cara menggunakannya.
Bagaimana bisa ayahnya memiliki benda ini?
Tanpa pikir panjang, Olivia langsung bergerak mencari tempat teraman di mana ia bisa menyembunyikan benda berbahaya itu.
Semua sudut ruangan tampak bersih. Tidak ada sedikit pun debu yang terlihat.
Ini membuktikan bahwa setiap sudut di ruangan itu terjangkau oleh siapa pun yang membersihkannya, termasuk di bawah kasur.
Karena tidak punya pilihan lain, Olivia memutuskan untuk menyimpan benda itu di bawah bantalnya. Setidaknya untuk sementara waktu.
"Kalau tempat tidurku selalu dalam keadaan rapi, aku yakin tak akan ada seorang pun yang menyentuhnya." gumamnya yakin.
Setelah semuanya terasa aman, akhirnya Olivia memutuskan untuk beristirahat.
Bokongnya mendarat di atas kasur yang empuk. Permukaan sprei yang bersih tampak lembut. Selimut tebal berwarna senada akan menghangatkan tubuhnya mulai malam ini.
Olivia cukup suka dengan nuansa kamarnya. Perpaduan warna putih dan merah muda membuat suasana ruangan itu tampak cerah dan menyenangkan.
"Siapa yang sudah menata semua ini?" Olivia bertanya-tanya seorang diri.
Baginya, ruangan itu benar-benar sesuai dengan dirinya. Ia suka dengan warna merah muda dan sudah lama ia selalu bermimpi untuk memiliki kamar dengan nuansa seperti ini.
Olivia menyadari sesuatu sebelum menjatuhkan dirinya di atas kasur.
Pakaiannya. Ia harus mengganti pakaiannya yang agak lusuh, meskipun itu satu-satunya pakaian terbaik yang dimilikinya.
Pandangan matanya langsung tertuju ke arah lemari pakaian enam pintu yang berada di salah satu sisi ruangan.
"Hm, apa lemari pakaian sebesar itu memang sudah diisi?" gumamnya penasaran.
Tanpa pikir panjang, Olivia langsung bangkit dan berjalan ke arah lemari pakaian besar tersebut.
Awalnya ia merasa ragu. Meskipun Josh sudah mengatakan bahwa semua yang ada di ruangan itu adalah miliknya, Olivia masih belum sepenuhnya merasa demikian.
Kedua tangannya menyentuh gagang lemari yang dingin. Dengan sekali tarikan, dua pintu lemari terbuka. Detik itu pula, Olivia terkesiap.
Waktu terasa panjang ketika Olivia menunggu jawaban dari Aaron yang hanya diam menatapnya. "Kenapa kau hanya diam?" tanya Olivia tidak sabar. "Katakan padaku, apa yang terjadi setelah itu?"Aaron tergelak.Awalnya ia sama sekali tidak berniat memberitahu Olivia tentang masa lalu mereka. Mungkin tidak sekarang, tapi suatu hari nanti. Tapi sayangnya Olivia sudah terlanjur melihat bekas luka bakar yang didapatkannya hari itu, hari pertama ia bertemu dengan Olivia Rose.Bagaimana jika Olivia tahu bahwa Aaron adalah bocah laki-laki yang diselamatkannya di tengah hutan dulu?Selama ini Aaron berusaha menutupi kehidupannya yang kelam karena khawatir jika Olivia akan merasa takut dan ngeri. Ditambah, jika Olivia tahu bahwa Aaron-lah bocah yang diselamatkannya dulu, mungkin wanita itu akan berubah mengasihaninya.Aaron tidak ingin Olivia meliriknya karena rasa kasihan. Ia tidak ingin dikasihani. Ia hanya ingin Olivia meliriknya dan mencintainya dengan tulus.Tapi ia sudah terlanjur berjanji pa
Rintikan hujan masih terdengar di luar sana ketika Olivia membuka mata.Ternyata hujan belum reda. Tapi tidak deras seperti sebelumnya. Suara angin kencang juga tidak lagi terdengar. Cahaya kilat sesekali menembus masuk dari balik korden tanpa suara.Olivia menggeser badan dan menarik selimut yang menutupi tubuhnya yang tidak dibalut apa pun itu menjadi sedikit lebih tinggi. Udara dingin yang menerpa langsung ke kulit tubuhnya membuatnya sedikit kedinginan.Saat menoleh ke samping, Aaron tampak terlelap pulas membelakanginya. Lekukan otot di punggungnya yang tidak tertutup oleh sehelai benang pun memperlihatkan bagaimana selama ini pria itu merawat dirinya.Namun bukan itu yang membuat kedua mata Olivia semakin terbuka lebar. Sebuah bekas luka bakar besar di atas punggung kanannya. Olivia meringis.Dengan gerakan perlahan Olivia mengulurkan tangan hendak menyentuh bekas luka yang tampak menyakitkan itu. Ujung telunjuknya baru saja mendarat di sana ketika Aaron tiba-tiba membalikkan ba
🔞-----Apa yang dilakukan Olivia terhadapnya barusan membuat Aaron mematung selama beberapa saat. Ia nyaris tidak percaya dengan apa yang terjadi pada dirinya barusan.Olivia menciumnya.Ciuman itu ringan dan tenang, namun sudah cukup untuk menghidupkan kembali gejolak dalam dirinya yang meronta.Aaron menunduk, menatap Olivia dengan mata disipitkan. "Kau tahu apa yang bisa kau timbulkan karena perbuatanmu barusan." Suaranya berbisik sangat pelan. Sudut bibirnya perlahan terangkat.Olivia menggigit bibir tanpa menyahut. Kedua matanya masih tertuju ke arah Aaron.Aaron meletakkan kedua tangannya di atas pundak Olivia. Lalu dengan gerakan yang sangat lembut, ia berhasil menyingkirkan gaun tidur tipis yang dikenakan Olivia untuk menutupi tubuhnya.Kain tipis itu jatuh ke atas lantai dengan mulus, menyisakan sebuah pakaian tidur berbahan satin yang sangat minim."Boleh?" bisik Aaron. Suaranya terdengar samar teredam suara deras hujan di luar sana.Olivia menatapnya selama beberapa detik
Angin tampak semakin kencang di luar. Suara gemuruh petir mulai terdengar di tengah keheningan malam. Aaron baru saja meletakkan gelas kosongnya di wastafel ketika lampu ruangan meredup dan berkedip.Olivia yang sudah naik ke kamar kembali turun dengan ekspresi bingung sekaligus takut. Langkah kakinya nyaris seperti berlari saat menghampiri Aaron yang masih berdiri di tepi wastafel. "Listriknya kenapa?" tanya Olivia padanya."Sepertinya ada masalah dengan listriknya." jawabnya tenang. "Aku akan pergi mengecek ke luar. Kau tunggu di sini."Sebelum sempat keluar dari villa, semua lampu padam. Suasana berubah gelap dan hening. Suara angin yang semakin kencang terdengar kian jelas."Aaron," panggil Olivia dalam kegelapan dengan suara agak bergetar. Ia tidak bisa melihat apa-apa sama sekali.Tepat ketika cahaya kilat menembus masuk dari korden jendela dan menerangi ruangan selama sepersekian detik, barulah ia dapat melihat sosok Aaron yang berjalan cepat menghampirinya.Kilat petir yang di
Tidak biasanya Olivia mandi di malam hari. Ibunya dulu selalu bilang, mandi di malam hari bisa membuat seseorang lebih mudah terserang flu karena udara malam yang dingin.Tapi karena tadi ia harus memasak, jadi ia tidak punya pilihan. Untung saja ada air panas di villa. Jadi ia tidak perlu mandi dengan tubuh menggigil.Seusai mandi, ia tidak melihat Aaron di kamar. Ia pikir pria itu mungkin berada di lantai satu. Tapi saat turun, ia tidak menemukan siapa pun di sana.Melihat pintu utama yang tidak terkunci dan terbuka sedikit, barulah ia sadar bahwa saat itu Aaron sedang berada di luar.Olivia menghampirinya. Di sebelah tangan pria itu ada sebuah gelas kaca dengan cairan berwarna coklat keemasan. Saat terkena pantulan cahaya lampu, cairan itu tampak seperti kristal-kristal yang indah."Ehm-hm."Aaron langsung menoleh saat mendengar suara deham Olivia yang berdiri di sebelahnya. Matanya bergerak memperhatikan Olivia dari sudut kepala hingga ujung kaki. Aroma sabun yang wangi menguar me
"Ini bahkan lebih dari cukup!"Olivia tercengang di depan kulkas dua pintu yang terbuka di hadapannya. Ada banyak bahan makanan di sana. Malah terlalu banyak!Jika dilihat lagi, mungkin bisa untuk memasak lauk selama seminggu. Sementara besok mereka sudah akan pulang."Ya sudah. Kalau kau merasa bahan makanannya terlalu banyak," kata Aaron yang duduk santai di meja pantri dari batu marmer. "Kita bisa tinggal di sini selama beberapa hari lagi."Olivia menoleh ke arahnya dan menatapnya tidak percaya."Atau sampai bahan makanannya habis." sambungnya ceria.Sambil berkacak pinggang, Olivia menatap isi kulkas dan berpikir. "Sisanya kita berikan saja pada Welly besok."Aaron mengangkat bahu. "Terserahmu saja."Olivia mulai mengeluarkan bahan-bahan yang akan dia pakai untuk memasak. Malam ini ia berencana membuat makan malam yang sederhana.Kalau hidangan yang terlalu mewah, ia belum pernah mencobanya. Daripada bahan makanannya terbuang percuma, lebih baik ia membuat hidangan yang sederhana.
Sebuah mobil sedah mewah berwarna hitam sudah berdiri di luar pagar.Raut puas yang terukir di wajah Katrin dan Jack membuat hatinya terasa perih. Ia tidak menyangka jika Katrin akan menggunakan ayahnya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.Olivia menarik nafas panjang dan mengembuskannya perla
Pintu di belakangnya tertutup rapat.Olivia termenung sejenak di tengah ruangan yang sempit itu, menatap sosok pria tua yang saat ini terbaring di sebuah ranjang usang.Ayahnya menatap Olivia dengan raut wajah sedih. Olivia yakin, ayahnya sudah mendengar semuanya. Namun ia tidak bisa berbuat apa-ap
Aaron tidak pernah berpikir jika Olivia akan merasa sangat takut dan benci padanya. Padahal pikiran untuk menyakiti gadis itu tidak pernah terbersit di pikirannya, sama sekali."Banyak rumor buruk tentang Anda yang beredar di luar sana." jelas Josh.Setelah mengantar Olivia ke kamarnya, Josh kembal
Olivia merasakan ketegangan yang luar biasa sejak dirinya melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan yang memiliki dua buah daun pintu itu.Udara dingin seolah menyambut kehadirannya di sana. Mendengar suara berat seorang pria yang duduk di dalam ruangan itu membuat sekujur tubuhnya bergidik.Kepalany







