LOGIN
“Tiga hari lagi mereka akan datang menjemputmu.”
Ucapan ibu tirinya barusan membuat sekujur tubuh Olivia Rose lemas. Kedua lututnya jatuh tertekuk menyentuh lantai yang dingin.
“Kumohon,” pinta Olivia memohon sambil menarik sisi gaun ibu tirinya, Katrin Brown. “Aku tidak mau menikah dengan pria kejam sepertinya!"
Dengan kasar Katrin menarik gaunnya, membuat kedua tangan Olivia ikut jatuh ke lantai. "Tidak bisa! Pihak keluarga Kendrick hanya mau melepaskan Jack kalau kau menikah dengan Aaron Kendrick!"
Siapa yang tidak pernah mendengar nama keluarga Kendrick. Keluarga bangsawan kaya raya di kota tempat Olivia lahir dan tumbuh. Mereka terkenal bengis dan suka menindas rakyat kecil.
Baru-baru ini nama Aaron Kendrick sedang banyak diperbincangkan. Pria muda itu membunuh seluruh keluarganya demi menjadi satu-satunya pewaris kekayaan keluarga Kendrick. Saat tahu dirinya harus menikah dengan pria itu, sekujur tubuh Olivia gemetar.
"Lalu bagaimana dengan nasibku di sana? Aku tak ingin bernasib sama seperti keluarganya!", pinta Olivia.
Katrin sama sekali tidak peduli. Bagaimana tidak? Olivia Rose bukan putri kandungnya.
"Terserah, itu tidak ada urusannya denganku!" Katrin langsung membalikkan badannya tanpa rasa iba sedikit pun. "Daripada mengorbankan putraku, lebih baik kau yang kukorbankan!"
Kalimat yang meluncur dari mulut ibu tirinya bagaikan ribuan pisau yang menancap di dadanya. Perih dan amat menyakitkan.
Sejak ayahnya sakit-sakitan dan sekarang lumpuh, ibu tiri dan kakak tirinya, Jack Brown, bertindak semakin semena-mena. Mereka memperlakukan Olivia sangat buruk, padahal selama ini Olivia yang harus banting tulang untuk membiayai mereka.
"Ada apa ini? Kenapa kalian berisik sekali?!"
Dari arah dalam Jack Brown muncul dengan wajah babak belur. Ia sangat kesal mendengar kegaduhan dari ruang tamu yang sudah mengganggu tidurnya.
"Lihat, dia menolak perintahku!" adu Katrin pada putranya. "Anak tak tahu diri!"
Dengan raut wajah penuh amarah, Jack Brown datang dan berdiri tepat di sebelah ibunya. Ia menatap Olivia yang masih berlutut di hadapan mereka dengan tatapan jijik.
"Berani-beraninya kau menolak perintah ibuku!" serunya dengan suara meninggi.
Kesabaran Olivia kini lenyap tidak bersisa. Dengan seluruh sisa kekuatan, ia bangkit dan berdiri di hadapan kedua orang itu. Matanya menatap lurus ke arah mereka dengan kedua tangan mengepal.
"Kau bilang kau tak peduli dengan hidup dan matiku?" ujar Olivia ke arah ibu tirinya. "Lantas kenapa aku harus peduli dengan hidup dan mati putramu yang tak berguna ini?"
Kedua mata Katrin seketika membesar mendengar ucapan Olivia barusan. Ia tidak menyangka jika Olivia akan begitu berani terhadapnya. "Apa katamu? Baru saja kau bilang putraku tak berguna?!" geram Katrin.
Olivia tersengir sambil mendengus. "Apa ucapanku salah? Putra kesayanganmu ini memang tak berguna. Apa yang sudah dihasilkannya? Hanya hutang!"
Olivia sadar bahwa apa yang dilakukannya barusan adalah sebuah kesalahan besar. Katrin dan Jack pasti akan menghajarnya habis-habisan setelah ini.
Tapi ia tidak punya pilihan lain. Lebih baik ia mati dihajar oleh kedua orang itu daripada harus menikah dengan Aaron Kendrick.
"Kau sudah lancang, Olivia Rose!"
Sebelah tangan Katrin sudah terangkat tinggi. Sudah lama ia ingin menampar wajah cantik Olivia yang mengikuti paras ibunya. Dan sekarang adalah saat yang tepat untuk Katrin melampiaskan rasa irinya.
Namun siapa yang menyangka jika keberuntungan berpihak pada Olivia malam itu. Dari luar terdengar suara ketukan pintu yang cukup terburu-buru. Katrin terpaksa membatalkan niatnya.
"Sial! Siapa yang datang malam-malam begini?" gerutu Katrin. Lalu tatapan sinisnya beralih ke arah Olivia. "Lihat apa lagi? Buka pintunya!"
Olivia mengatur nafasnya yang mulai sesak. Selama ini ibu tirinya selalu berpura-pura baik pada Olivia di hadapan orang lain. Kelicikannya membuat tak seorang pun percaya bahwa mereka sudah menyiksa Olivia selama ini.
Sambil menyeka air mata di sudut matanya, Olivia pun pergi membuka pintu.
Seorang pria paruh baya berusia pertengahan lima puluh tahun berdiri di hadapannya saat Olivia membuka pintu. Penampilannya rapi. Di belakangnya, berdiri juga dua orang pria bertubuh besar dengan wajah sangar.
Pria paruh baya itu menatap Olivia dengan menyelidik selama beberapa detik sebelum akhirnya ia melemparkan seulas senyum ramah dan kemudian menyapa. "Nona Olivia Rose?"
Olivia agak terkejut saat pria itu mengenalinya. Ia merasa tidak pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya. "Y-ya, benar. Anda siapa?"
"Ternyata dugaan saya benar. Anda terlihat jauh lebih cantik jika dilihat dari dekat." puji pria itu yang sempat membuat Olivia sedikit tersipu. "Perkenalkan, saya Josh Myers, asisten dari Tuan Kendrick."
Ucapan pria bernama Josh itu seketika membuat tubuh Olivia membeku. Spontan kakinya bergerak mundur.
Josh menyadari perubahan di raut wajah Olivia. Ia segera mencairkan ketegangan. "Tenang, Nona. Saya datang kemari tidak untuk menyakiti Anda."
Meskipun Josh terlihat seperti orang baik-baik, namun tetap saja Olivia merasa takut. Bagaimana pun juga orang ini adalah utusan keluarga Kendrick.
"Ada urusan apa Anda kemari?" sergah Olivia dengan suara bergetar, namun tetap sopan.
Senyuman yang terukir di wajah Josh tidak luntur, membuat jantung Olivia berdetak semakin kencang. Ada firasat buruk yang menjalar dalam pikirannya.
"Ada hal yang ingin kusampaikan mengenai rencana pernikahan Anda dengan Tuan Kendrick, Nona Olivia Rose."
🔞-----Sekeras apa pun Olivia berusaha mendorongnya menjauh, pada akhirnya usahanya itu hanya akan berakhir sia-sia dengan tenaga yang ikut terkuras habis.Tenaga Aaron jauh lebih besar darinya. Lengannya melingkar di pinggang Olivia, mengunci pergerakan tubuhnya. Sebelah tangannya berada di tengkuk lehernya, menahan kepalanya agar tidak bisa menjauh.Kalau Aaron tidak berhenti saat itu juga, mungkin Olivia akan pingsan karena kehabisan nafas.Nafas keduanya terengah-engah. Ciuman itu begitu intens. Lumatannya sangat mendominasi dan penuh dengan tuntutan.Bibir mungil di hadapannya tampak kemerahan dan sedikit membengkak. Sejujurnya Aaron masih belum puas. Ia masih ingin menikmatinya. Tapi nafasnya hampir habis. Ia pun terpaksa berhenti."Kau sudah gila!" seru Olivia marah. "Apa kau berniat membunuhku?"Aaron tergelak. Melihat Olivia yang marah seperti sekarang justru membuatnya seakan tengah melihat seekor kucing yang mengamuk karena makanannya diambil. Tidak menakutkan sama sekali
Aaron menunduk untuk menatap istrinya. Bayangan pepohonan yang menghalangi sinar matahari jatuh menutupi sebagian wajahnya di tengah langkah mereka menyusuri jalan tanah."Katakan saja," kata Aaron tenang.Belum bertanya saja, jantungnya sudah berdegup sangat keras. Bukan karena rasa takut, juga bukan karena rasa gugup. Olivia semakin tidak mengerti dengan tubuhnya sendiri akhir-akhir ini."Greg bilang padaku, kau memintanya untuk merawat taman bunga peony karena kau ingin mempersembahkannya pada seseorang."Aaron menoleh sekilas dengan alis terangkat, lalu kembali menatap depan. "Hm-mm," sahutnya berdeham."Siapa?" Olivia sendiri tidak tahu kenapa saat itu ia bisa begitu berani dan lancang, seakan tidak ada batasan apa pun antara dirinya dan Aaron sekarang."Sejak tadi kau menanyakan hal yang hampir serupa, Nyonya Kendrick." ujar Aaron tanpa menoleh ke arahnya."Karena sejak tadi kau juga tidak menjawab pertanyaanku." tukas Olivia agak sebal.Aaron tergelak pendek. Tapi tawa ringanny
Tempat tinggal Greg dan istrinya bersih dan tertata sangat rapi. Tidak banyak barang yang mereka miliki, semuanya tampak sangat sederhana.Ketika Olivia membantunya di dapur, Welly mengeluh. "Kau tidak seharusnya ikut bekerja di dapur seperti sekarang, Olivia."Sejak Olivia meminta mereka untuk memanggilnya hanya dengan nama saja, Greg dan Welly jadi berbicara lebih santai dengannya. Rasa canggung dan segan yang dirasakan Olivia pun hilang. Ia merasa jauh lebih nyaman, seperti tengah bersama keluarganya sendiri.Aaron dan Greg duduk di meja makan sambil bercengkerama. Sesekali terdengar suara Greg yang tertawa cukup keras."Dia itu benar-benar! Ketawanya tidak bisa berubah sama sekali, selalu sangat keras!" omel Welly lagi. Dan Olivia hanya terkekeh mendengarnya.Greg dan Welly memiliki dua orang anak yang keduanya sudah berusia dewasa. Anak pertamanya, laki-laki, adalah seorang koki yang bekerja di sebuah restoran. Dan anak bungsunya, perempuan, adalah seorang dokter di sebuah rumah
Villa itu tidak besar dan luas seperti mansion keluarga Kendrick. Ukuran dan penampilannya jauh lebih sederhana, namun desainnya tidak lepas dari kesan modern.Bangunan batu dua lantai yang berdiri di tepi tebing itu didominasi oleh warna putih dan abu-abu. Luasnya cocok untuk sebuah keluarga kecil yang terdiri dari satu ayah, satu ibu dan satu anak.Ruang duduknya tidak terlalu luas, namun juga tidak terkesan sempit. Ada sebuah sofa berlengan dan dua buah sofa tunggal berwarna senada di sana. Dan dapurnya sangat minimalis dengan sebuah meja batu yang bisa digunakan hingga enam orang.Beberapa sisi ruangan dibatasi oleh pintu kaca, sehingga cahaya matahari dari luar dapat masuk dan membanjiri setiap ruangan.Olivia berdiri di tepi salah satu pintu kaca yang menghadap langsung ke arah laut lepas. Dari tempatnya berdiri, ia dapat melihat dengan jelas hamparan laut luas di bawah sana. Pemandangan yang cukup memukau untuknya.Suara deru ombak yang bergulung dan menghantam karang seakan me
Bunga peony bukan tanaman yang mudah dibiakkan. Sebagai seorang penjual bunga, Olivia tahu betapa sulitnya mengembangbiakkan bunga tersebut.Tidak heran jika ada yang menjualnya, harganya pasti akan sangat mahal. Selain sulit, bunga peony juga hanya bisa mekar di saat tertentu.Ketika Aaron memberikan bunga peony di hari pernikahan mereka, Olivia sudah cukup terkejut dan tersipu. Ia sama sekali tidak menyangka jika ternyata pria itu bukan membelinya. Aaron Kendrick bahkan punya taman bunga peony!Taman yang hanya ditumbuhi oleh bunga peony dengan berbagai warna itu terlihat begitu terawat. Seluruh bunganya mekar dengan sempurna tanpa celah. Di bawah sinar matahari yang cerah, taman itu terlihat begitu indah.Olivia sampai penasaran, siapa yang sudah merawatnya hingga sedemikian rupa? Pastinya bukan sembarang orang yang bisa melakukannya.Di tengah kekagumannya, Olivia teringat dan segera menoleh ke belakang. Ia mendapati Aaron tengah duduk di sebuah kursi tunggal sambil memperhatikann
Ketika Olivia menoleh, ia melihat senyuman getir terlukis di wajah Aaron. Seakan ada rasa senang, juga kesedihan yang tersimpan dalam sorot matanya.Menyadari ucapan suaminya yang sudah membuat suasana berubah kurang nyaman, wanita bertubuh gembul itu langsung menyikut lengan suaminya dengan kesal. Namun tampaknya si pria tua itu tidak terlalu peka dan justru kebingungan.Jika diperhatikan baik-baik, usia pria tua ini kelihatannya jauh lebih tua dari Josh. Entah karena penampilannya atau hal lain.Olivia berpikir, mungkin karena usianya yang bisa dikatakan sudah cukup berumur, pria itu jadi berbicara sesuka hatinya tanpa pikir panjang. Meskipun kelihatannya ia tidak sedikit pun ada keinginan atau kesengajaan untuk menyakiti lawan bicaranya.Aaron sendiri tampaknya tidak ingin berlama-lama di sana. Ia segera mengalihkan pembicaraan dengan memperkenalkan sepasang suami istri di hadapan mereka itu pada Olivia."Perkenalkan, ini Greg Gardner dan istrinya Welly."Suasana yang sempat tegang
Olivia merasakan ketegangan yang luar biasa sejak dirinya melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan yang memiliki dua buah daun pintu itu.Udara dingin seolah menyambut kehadirannya di sana. Mendengar suara berat seorang pria yang duduk di dalam ruangan itu membuat sekujur tubuhnya bergidik.Kepalany
Sebuah mobil sedah mewah berwarna hitam sudah berdiri di luar pagar.Raut puas yang terukir di wajah Katrin dan Jack membuat hatinya terasa perih. Ia tidak menyangka jika Katrin akan menggunakan ayahnya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.Olivia menarik nafas panjang dan mengembuskannya perla
Pintu di belakangnya tertutup rapat.Olivia termenung sejenak di tengah ruangan yang sempit itu, menatap sosok pria tua yang saat ini terbaring di sebuah ranjang usang.Ayahnya menatap Olivia dengan raut wajah sedih. Olivia yakin, ayahnya sudah mendengar semuanya. Namun ia tidak bisa berbuat apa-ap
Dari arah belakang Katrin langsung datang menarik tangan Olivia dengan kasar dan menyingkirkannya ke belakang. Tubuh Olivia sempat terhuyung. Tapi untung saja ia tidak sampai jatuh ke lantai.Kini Katrin yang berdiri di hadapan Josh. "Silakan masuk, Tuan!" ujarnya dengan sangat ramah. Sikapnya itu







