共有

Obsesi Sang Pewaris Tunggal
Obsesi Sang Pewaris Tunggal
作者: Author Lee

Bab 1

作者: Author Lee
last update 公開日: 2026-04-20 17:08:47

“Tiga hari lagi mereka akan datang menjemputmu.”

Ucapan ibu tirinya barusan membuat sekujur tubuh Olivia Rose lemas. Kedua lututnya jatuh tertekuk menyentuh lantai yang dingin.

“Kumohon,” pinta Olivia memohon sambil menarik sisi gaun ibu tirinya, Katrin Brown. “Aku tidak mau menikah dengan pria kejam sepertinya!"

Dengan kasar Katrin menarik gaunnya, membuat kedua tangan Olivia ikut jatuh ke lantai. "Tidak bisa! Pihak keluarga Kendrick hanya mau melepaskan Jack kalau kau menikah dengan Aaron Kendrick!"

Siapa yang tidak pernah mendengar nama keluarga Kendrick. Keluarga bangsawan kaya raya di kota tempat Olivia lahir dan tumbuh. Mereka terkenal bengis dan suka menindas rakyat kecil.

Baru-baru ini nama Aaron Kendrick sedang banyak diperbincangkan. Pria muda itu membunuh seluruh keluarganya demi menjadi satu-satunya pewaris kekayaan keluarga Kendrick. Saat tahu dirinya harus menikah dengan pria itu, sekujur tubuh Olivia gemetar.

"Lalu bagaimana dengan nasibku di sana? Aku tak ingin bernasib sama seperti keluarganya!", pinta Olivia.

Katrin sama sekali tidak peduli. Bagaimana tidak? Olivia Rose bukan putri kandungnya.

"Terserah, itu tidak ada urusannya denganku!" Katrin langsung membalikkan badannya tanpa rasa iba sedikit pun. "Daripada mengorbankan putraku, lebih baik kau yang kukorbankan!"

Kalimat yang meluncur dari mulut ibu tirinya bagaikan ribuan pisau yang menancap di dadanya. Perih dan amat menyakitkan.

Sejak ayahnya sakit-sakitan dan sekarang lumpuh, ibu tiri dan kakak tirinya, Jack Brown, bertindak semakin semena-mena. Mereka memperlakukan Olivia sangat buruk, padahal selama ini Olivia yang harus banting tulang untuk membiayai mereka.

"Ada apa ini? Kenapa kalian berisik sekali?!"

Dari arah dalam Jack Brown muncul dengan wajah babak belur. Ia sangat kesal mendengar kegaduhan dari ruang tamu yang sudah mengganggu tidurnya.

"Lihat, dia menolak perintahku!" adu Katrin pada putranya. "Anak tak tahu diri!"

Dengan raut wajah penuh amarah, Jack Brown datang dan berdiri tepat di sebelah ibunya. Ia menatap Olivia yang masih berlutut di hadapan mereka dengan tatapan jijik.

"Berani-beraninya kau menolak perintah ibuku!" serunya dengan suara meninggi.

Kesabaran Olivia kini lenyap tidak bersisa. Dengan seluruh sisa kekuatan, ia bangkit dan berdiri di hadapan kedua orang itu. Matanya menatap lurus ke arah mereka dengan kedua tangan mengepal.

"Kau bilang kau tak peduli dengan hidup dan matiku?" ujar Olivia ke arah ibu tirinya. "Lantas kenapa aku harus peduli dengan hidup dan mati putramu yang tak berguna ini?"

Kedua mata Katrin seketika membesar mendengar ucapan Olivia barusan. Ia tidak menyangka jika Olivia akan begitu berani terhadapnya. "Apa katamu? Baru saja kau bilang putraku tak berguna?!" geram Katrin.

Olivia tersengir sambil mendengus. "Apa ucapanku salah? Putra kesayanganmu ini memang tak berguna. Apa yang sudah dihasilkannya? Hanya hutang!"

Olivia sadar bahwa apa yang dilakukannya barusan adalah sebuah kesalahan besar. Katrin dan Jack pasti akan menghajarnya habis-habisan setelah ini.

Tapi ia tidak punya pilihan lain. Lebih baik ia mati dihajar oleh kedua orang itu daripada harus menikah dengan Aaron Kendrick.

"Kau sudah lancang, Olivia Rose!"

Sebelah tangan Katrin sudah terangkat tinggi. Sudah lama ia ingin menampar wajah cantik Olivia yang mengikuti paras ibunya. Dan sekarang adalah saat yang tepat untuk Katrin melampiaskan rasa irinya.

Namun siapa yang menyangka jika keberuntungan berpihak pada Olivia malam itu. Dari luar terdengar suara ketukan pintu yang cukup terburu-buru. Katrin terpaksa membatalkan niatnya.

"Sial! Siapa yang datang malam-malam begini?" gerutu Katrin. Lalu tatapan sinisnya beralih ke arah Olivia. "Lihat apa lagi? Buka pintunya!"

Olivia mengatur nafasnya yang mulai sesak. Selama ini ibu tirinya selalu berpura-pura baik pada Olivia di hadapan orang lain. Kelicikannya membuat tak seorang pun percaya bahwa mereka sudah menyiksa Olivia selama ini.

Sambil menyeka air mata di sudut matanya, Olivia pun pergi membuka pintu.

Seorang pria paruh baya berusia pertengahan lima puluh tahun berdiri di hadapannya saat Olivia membuka pintu. Penampilannya rapi. Di belakangnya, berdiri juga dua orang pria bertubuh besar dengan wajah sangar.

Pria paruh baya itu menatap Olivia dengan menyelidik selama beberapa detik sebelum akhirnya ia melemparkan seulas senyum ramah dan kemudian menyapa. "Nona Olivia Rose?"

Olivia agak terkejut saat pria itu mengenalinya. Ia merasa tidak pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya. "Y-ya, benar. Anda siapa?"

"Ternyata dugaan saya benar. Anda terlihat jauh lebih cantik jika dilihat dari dekat." puji pria itu yang sempat membuat Olivia sedikit tersipu. "Perkenalkan, saya Josh Myers, asisten dari Tuan Kendrick."

Ucapan pria bernama Josh itu seketika membuat tubuh Olivia membeku. Spontan kakinya bergerak mundur.

Josh menyadari perubahan di raut wajah Olivia. Ia segera mencairkan ketegangan. "Tenang, Nona. Saya datang kemari tidak untuk menyakiti Anda."

Meskipun Josh terlihat seperti orang baik-baik, namun tetap saja Olivia merasa takut. Bagaimana pun juga orang ini adalah utusan keluarga Kendrick.

"Ada urusan apa Anda kemari?" sergah Olivia dengan suara bergetar, namun tetap sopan.

Senyuman yang terukir di wajah Josh tidak luntur, membuat jantung Olivia berdetak semakin kencang. Ada firasat buruk yang menjalar dalam pikirannya.

"Ada hal yang ingin kusampaikan mengenai rencana pernikahan Anda dengan Tuan Kendrick, Nona Olivia Rose."

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 22

    Aaron sedang berbaring di atas tempat tidurnya ketika Olivia masuk ke dalam kamarnya.Mulanya ia merasa ragu. Tapi kemudian ia memutuskan untuk berjalan mendekat ke arah ranjang berukuran cukup luas itu.Wajah pria itu tampak pucat. Aaron sama sekali tidak bergerak saat Olivia mendekatinya.Bibir tipisnya mengatup rapat. Kedua matanya terpejam. Selimut tebal menutupi tubuhnya hingga setinggi dada.Olivia berdiri di tepi ranjang dengan tatapan melekat ke arah pria yang tengah berbaring itu. Melihatnya tidak sedikit pun bergerak membuat Olivia agak was-was.Apa pria ini sungguh baik-baik saja? Atau dia hanya sedang tidur dan tidak menyadari kehadiran Olivia di kamarnya sama sekali?Rasa khawatir mulai menjalar di pikiran Olivia. Pikiran negatif semakin bermunculan di benaknya.Bagaimana jika ternyata pria ini tidak sadarkan diri? Atau jangan-jangan...Dengan gerakan perlahan, Olivia mengulurkan tangan mendekat ke arah wajah Aaron. Jari telunjuknya ia letakkan di dekat hidung pria itu un

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 21

    Hujan turun deras di luar ketika Olivia terjaga dari tidurnya.Pagi telah tiba. Namun langit tidak terlihat cerah seperti biasanya dari balik jendela. Sesekali terdengar gemuruh petir yang mengisi kesunyian.Rasanya malas sekali untuk bangkit dari tempat tidur. Cuaca cukup sejuk pagi itu. Olivia menarik selimutnya, membiarkan dirinya terbungkus rapat dan hangat di dalam.Beberapa kali ia berusaha memejamkan mata, berharap akan tertidur kembali. Tapi kesadarannya kini sudah penuh. Karena tidak mengantuk sama sekali lagi, akhirnya ia memutuskan untuk bangkit dari atas tempat tidur.Jarum jam di atas nakas sudah menunjukkan hampir pukul delapan. Spontan Olivia melompat turun dan segera membersihkan diri di kamar mandi.Sebelum tinggal di mansion keluarga Kendrick, Olivia bangun pagi-pagi sekali setiap hari untuk memulai aktivitas.Ia harus menyiapkan sarapan untuk ayahnya, mengurus segala keperluannya sebelum berangkat ke toko bunga peninggalan mendiang ibunya.Omong-omong soal toko bung

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 20

    Aaron Kendrick ingin menciumnya.Olivia baru menyadarinya setelah ia berada di kamarnya, duduk di atas tempat tidur empuknya dengan selimut tebal yang menutupi setengah tubuhnya.Mendadak wajahnya terasa memanas.Perasaan ini sangat aneh. Jantungnya berdetak kencang saat mengingat kembali apa yang ingin dilakukan Aaron tadi di ruang kerjanya.Bagaimana Aaron memangkas jarak di antara mereka, hembusan nafasnya yang menerpa kulit wajah Olivia yang putih dalam keheningan dan ketegangan.Namun kemudian, pria itu tiba-tiba menjauh dan meminta Olivia untuk keluar dari ruangannya, menganggap pembicaraan mereka sudah selesai.Sikapnya mendadak berubah dingin, dan Olivia tidak tahu apa penyebabnya.Tidak ada yang terjadi di antara mereka setelah itu.Olivia langsung berdiri, tanpa mengatakan apa pun. Lalu ia melangkah pergi dari ruang kerja Aaron, meninggalkan pria itu tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.Kepalanya menggeleng cepat, berusaha mengusir perasaan aneh yang dirasakannya malam itu

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 19

    Olivia diam selama beberapa saat menatap gaun yang diremasnya.Wajahnya kemudian terangkat dan tatapan matanya tertuju lurus ke arah pria yang duduk di seberangnya."Jadi, kau ingin aku membayar apa yang sudah kau lakukan secara sepihak?" ucap Olivia getir.Aaron membalas tatapannya, lalu mengangguk. "Rasanya kurang menyenangkan kalau kau bilang 'secara sepihak', Olivia.""Tapi memang itu kenyataannya!" Suara Olivia naik satu tingkat lebih keras. "Kau tidak meminta persetujuanku sama sekali!"Hening sejenak.Suasana di ruangan itu menjadi menegangkan dan cukup panas. Kesabaran Olivia mulai terkikis perlahan.Tiba-tiba Aaron berdiri. Pria itu melangkah ke arah Olivia. Tangan besarnya terulur ke wajah Olivia, lalu menarik dagunya dengan tegas."Katakan padaku," gumam Aaron ke arah Olivia yang kini mendongak menatapnya."Kalau ibu tiri dan kakak tirimu itu masih hidup dan sekarang mereka berdiri di hadapanmu, apa kau tidak akan melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan?"Sorot mata

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 18

    "Tidak ada yang gratis di dunia ini, Olivia Rose."Setelah mengucapkan kalimat itu lagi, Aaron langsung melangkah meninggalkan ruang tengah. Ia terlihat tidak tertarik untuk menunggu jawaban atau respon apa pun dari Olivia.Nafas Olivia terhenti seiring menghilangnya pria itu dari hadapannya.Entahlah. Setiap kali pria itu mengatakannya, dadanya berdegup kencang. Ada sesuatu yang mengusiknya setiap kali mendengar ucapan itu.Perasaannya berubah tidak enak. Entah apa yang direncanakan pria itu. Mengingat tatapannya yang dingin dan sulit ditebak membuat firasat Olivia selalu buruk.Hingga jam makan malam tiba.Seperti yang ditebak Olivia pagi tadi. Aaron duduk di sisi tengah meja makan, sementara Olivia duduk di sisi sebelah kanannya.Suasana yang hening dan dingin menyelimuti kegiatan makan malam. Hanya terdengar suara alat makan yang beradu dengan piring keramik yang tampak elegan. Amat khas dengan gaya bangsawan.Aaron tampak begitu fokus dengan hidangan makan malam di atas piringnya

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 17

    Aaron dan Josh akhirnya tiba kembali di mansion tepat ketika matahari turun di arah barat.Mobil mewah yang mereka duduki berhenti tepat di depan pintu masuk utama mansion. Sebelum turun dari mobil, Aaron memanggil Josh."Ya, Tuan?" sahut Josh.Aaron berdeham pelan, lalu berkata, "Jangan ceritakan apa pun pada Olivia. Aku tidak ingin dia tahu tentang masalah kematian ayahnya."Josh menarik nafas panjang dan mengembuskannya perlahan, lalu ia mengangguk. "Baik, Tuan. Saya sebenarnya juga sudah berpikir untuk menyembunyikan hal ini dari Nona Olivia." ujar Josh jujur.Katrin dan Jack sudah berencana untuk kabur tepat setelah Aaron menyatakan bahwa ia ingin mereka menyerahkan Olivia padanya sebagai bayaran atas hutang-hutang Jack.Mereka sudah sangat yakin jika Olivia akan berakhir tragis di tangan Aaron Kendrick. Atau paling tidak, mungkin wanita itu akan menjadi budak di mansionnya.Setelah memikirkannya matang-matang, mereka pun memutuskan untuk menghabisi nyawa ayah Olivia yang tengah

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status