Share

Bab 3

Author: Author Lee
last update publish date: 2026-04-22 17:58:48

Pintu di belakangnya tertutup rapat.

Olivia termenung sejenak di tengah ruangan yang sempit itu, menatap sosok pria tua yang saat ini terbaring di sebuah ranjang usang.

Ayahnya menatap Olivia dengan raut wajah sedih. Olivia yakin, ayahnya sudah mendengar semuanya. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan putri semata wayangnya itu.

Sekarang waktunya tidak banyak. Dengan langkah berat Olivia menghampiri ayahnya yang terbaring lemas. Tepat ketika langkah kakinya terhenti di tepi ranjang, Olivia melihat buliran air mata jatuh dari sudut mata ayahnya.

"Maafkan aku, Olivia." ujar ayahnya dengan suara parau. "Aku tak bisa menolongmu. Aku sungguh tak berguna!"

Olivia duduk di sebuah bangku kayu di tepi ranjang, lalu meraih tangan kurus juga lemah itu dan menggenggamnya erat. "Ini bukan salah ayah." sahut Olivia dengan seulas senyum pahit.

"Seandainya dulu aku tak membawa wanita itu masuk ke rumah ini, mungkin semua ini tak akan terjadi." Ayahnya menangis penuh penyesalan.

Olivia hanya tertunduk. Sejak awal, ia memang merasa kurang setuju dengan keputusan ayahnya saat membawa Katrin dan Jack masuk ke rumah mereka. Namun melihat raut wajah ayahnya yang kembali bersemangat membuat Olivia terpaksa menerima.

Sekarang semuanya sudah terlambat. Tidak ada hal yang perlu disesali lagi.

"Ayah, jangan khawatirkan aku." ucap Olivia dengan nada rendah. "Aku akan baik-baik saja."

Jika berada di sana lebih lama, Olivia yakin dirinya akan semakin sedih. Saat ini saja dadanya sudah terasa sesak karena menahan tangis. Karena itu ia memutuskan untuk segera pergi, sebelum perasaannya bertambah runyam.

"Selamat tinggal, ayah." pamitnya dengan suara berat.

Olivia baru saja akan bangkit dari bangkunya ketika ayahnya menahan tangannya. "Tunggu." Cengkeraman ayahnya cukup kuat. "Ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu."

Atas arahan ayahnya, Olivia berhasil menemukan sebuah kotak kayu kecil dari bawah ranjang. Benda itu disembunyikan sangat rapi di dalam tanah yang ditutup dengan sebuah ubin yang tidak mencurigakan.

"Bukalah," perintah ayahnya.

Olivia menurut. Kotak kayu tersebut terbuka dan detik itu juga nafasnya terhenti. Olivia terkesiap dengan kedua mata melebar karena terkejut.

"Saat kau sudah berada di tepi jurang dan tak punya pilihan lain lagi, gunakan ini untuk melindungi dirimu.” begitu ucap ayahnya dengan suara dalam.

Olivia menatap ayahnya tak percaya. Lidahnya mendadak terasa kelu. Tidak ada sepatah kata pun yang berhasil diucapkannya.

"Bawalah benda itu bersamamu. Setidaknya hanya ini yang bisa kuberikan padamu, Olivia."

Dengan tangan bergetar, Olivia menyentuh benda itu. Benda mematikan yang selama ini hanya didengarnya dari cerita orang-orang sekitar. Ia sama sekali tak menyangka jika ayahnya diam-diam menyimpan benda semacam itu.

Sebuah pistol.

***

Di sebuah mansion besar yang dikelilingi oleh pagar besi tinggi dengan ujung tajam bagaikan tombak, seorang pria jangkung berwajah pucat tengah duduk di ruang kerjanya yang luas sambil mengetuk jari di atas meja yang terbuat dari kayu terbaik di kota itu.

Aaron Kendrick. Namanya sudah cukup lama dikenal di kalangan para keluarga bangsawan. Tapi baru-baru ini, namanya semakin banyak disebut setelah ia menjadi pemegang kendali tunggal mansion megah itu.

Tatapan kedua mata Aaron yang berwarna kecoklatan tampak kosong, seakan ada banyak hal yang sedang mengusik pikirannya.

Namun kenyataannya, ia hanya merasa tidak sabar. Josh Myers, pria tua yang menjadi orang kepercayaannya selama ini, belum juga kembali setelah dua jam keluar menjalankan perintah darinya.

"Kenapa Josh lama sekali?" gumamnya sambil berdecak.

Aaron mengambil sebuah botol kaca berisi cairan beralkohol di atas meja, lalu menuangkannya ke dalam sebuah gelas kristal hingga terisi setengah. Ia meneguknya perlahan.

Tok. Tok.

Wajahnya terangkat saat mendengar suara pintu yang diketuk dari luar. "Masuk." sahutnya.

Seorang pria bertubuh tegap berpenampilan rapi muncul dari balik pintu. Aaron hanya menatapnya tanpa berkata apa-apa.

"Tuan Roger sudah tiba di depan, Tuan." ujar pria itu melapor.

"Suruh dia masuk."

"Baik, Tuan." Pria tersebut menurut dan segera meninggalkan ruangan.

Tak berselang lama, seorang pria paruh baya bertubuh besar masuk ke dalam ruangannya. Tatapan matanya tampak sangar dengan janggut lebat di sekitar wajahnya, membuatnya terlihat begitu bengis dan menyeramkan.

Pria bernama Roger King itu kini berdiri di depan meja Aaron. "Senang bertemu dengan Anda lagi, Tuan Aaron." sapanya dengan seulas senyum menyeringai.

"Duduklah," perintah Aaron dengan nada tenang.

Meskipun pria di hadapannya itu terlihat sangat mengerikan, Aaron sama sekali tidak merasa terusik. Justru sebenarnya Roger-lah yang merasa sedikit gugup.

Roger tahu bahwa pria muda yang tampak tenang di hadapannya itu justru lebih berbahaya darinya. Penampilan luarnya sama sekali tidak menunjukkan isi pikirannya yang sesungguhnya.

Aaron langsung menyodorkan beberapa berkas pada Roger. Roger langsung mengambil berkas itu dan memeriksanya. "Oh, rupanya dia." gumam Roger kemudian.

"Kau mengenalnya?" tanya Aaron berpura-pura tidak tahu.

Roger mengangguk. "Si berandalan berengsek yang suka minum dan berjudi padahal tak punya uang. Ada banyak orang yang ingin menghabisinya."

Aaron setengah tergelak setengah mendengus mendengar ucapan Roger. Ia sudah tahu tentang hal itu. Orang suruhannya telah menyelidiki latar belakang dan keseharian si pemuda berengsek yang diceritakan Roger itu.

"Apa dia juga punya masalah dengan Anda? Kenapa Anda memintaku untuk..." Roger tidak melanjutkan ucapannya, hanya menunggu jawaban dari Aaron.

Sorot mata Aaron menggelap. Tatapan itu sangat dikenali oleh Roger. Tubuhnya diam-diam meremang. Binatang buas dalam diri seorang Aaron Kendrick sedang mengerang dan siap untuk menghabisi calon mangsanya.

"Dia sudah mengusik kehidupan calon istriku."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 91

    🔞-----Sekeras apa pun Olivia berusaha mendorongnya menjauh, pada akhirnya usahanya itu hanya akan berakhir sia-sia dengan tenaga yang ikut terkuras habis.Tenaga Aaron jauh lebih besar darinya. Lengannya melingkar di pinggang Olivia, mengunci pergerakan tubuhnya. Sebelah tangannya berada di tengkuk lehernya, menahan kepalanya agar tidak bisa menjauh.Kalau Aaron tidak berhenti saat itu juga, mungkin Olivia akan pingsan karena kehabisan nafas.Nafas keduanya terengah-engah. Ciuman itu begitu intens. Lumatannya sangat mendominasi dan penuh dengan tuntutan.Bibir mungil di hadapannya tampak kemerahan dan sedikit membengkak. Sejujurnya Aaron masih belum puas. Ia masih ingin menikmatinya. Tapi nafasnya hampir habis. Ia pun terpaksa berhenti."Kau sudah gila!" seru Olivia marah. "Apa kau berniat membunuhku?"Aaron tergelak. Melihat Olivia yang marah seperti sekarang justru membuatnya seakan tengah melihat seekor kucing yang mengamuk karena makanannya diambil. Tidak menakutkan sama sekali

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 90

    Aaron menunduk untuk menatap istrinya. Bayangan pepohonan yang menghalangi sinar matahari jatuh menutupi sebagian wajahnya di tengah langkah mereka menyusuri jalan tanah."Katakan saja," kata Aaron tenang.Belum bertanya saja, jantungnya sudah berdegup sangat keras. Bukan karena rasa takut, juga bukan karena rasa gugup. Olivia semakin tidak mengerti dengan tubuhnya sendiri akhir-akhir ini."Greg bilang padaku, kau memintanya untuk merawat taman bunga peony karena kau ingin mempersembahkannya pada seseorang."Aaron menoleh sekilas dengan alis terangkat, lalu kembali menatap depan. "Hm-mm," sahutnya berdeham."Siapa?" Olivia sendiri tidak tahu kenapa saat itu ia bisa begitu berani dan lancang, seakan tidak ada batasan apa pun antara dirinya dan Aaron sekarang."Sejak tadi kau menanyakan hal yang hampir serupa, Nyonya Kendrick." ujar Aaron tanpa menoleh ke arahnya."Karena sejak tadi kau juga tidak menjawab pertanyaanku." tukas Olivia agak sebal.Aaron tergelak pendek. Tapi tawa ringanny

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 89

    Tempat tinggal Greg dan istrinya bersih dan tertata sangat rapi. Tidak banyak barang yang mereka miliki, semuanya tampak sangat sederhana.Ketika Olivia membantunya di dapur, Welly mengeluh. "Kau tidak seharusnya ikut bekerja di dapur seperti sekarang, Olivia."Sejak Olivia meminta mereka untuk memanggilnya hanya dengan nama saja, Greg dan Welly jadi berbicara lebih santai dengannya. Rasa canggung dan segan yang dirasakan Olivia pun hilang. Ia merasa jauh lebih nyaman, seperti tengah bersama keluarganya sendiri.Aaron dan Greg duduk di meja makan sambil bercengkerama. Sesekali terdengar suara Greg yang tertawa cukup keras."Dia itu benar-benar! Ketawanya tidak bisa berubah sama sekali, selalu sangat keras!" omel Welly lagi. Dan Olivia hanya terkekeh mendengarnya.Greg dan Welly memiliki dua orang anak yang keduanya sudah berusia dewasa. Anak pertamanya, laki-laki, adalah seorang koki yang bekerja di sebuah restoran. Dan anak bungsunya, perempuan, adalah seorang dokter di sebuah rumah

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 88

    Villa itu tidak besar dan luas seperti mansion keluarga Kendrick. Ukuran dan penampilannya jauh lebih sederhana, namun desainnya tidak lepas dari kesan modern.Bangunan batu dua lantai yang berdiri di tepi tebing itu didominasi oleh warna putih dan abu-abu. Luasnya cocok untuk sebuah keluarga kecil yang terdiri dari satu ayah, satu ibu dan satu anak.Ruang duduknya tidak terlalu luas, namun juga tidak terkesan sempit. Ada sebuah sofa berlengan dan dua buah sofa tunggal berwarna senada di sana. Dan dapurnya sangat minimalis dengan sebuah meja batu yang bisa digunakan hingga enam orang.Beberapa sisi ruangan dibatasi oleh pintu kaca, sehingga cahaya matahari dari luar dapat masuk dan membanjiri setiap ruangan.Olivia berdiri di tepi salah satu pintu kaca yang menghadap langsung ke arah laut lepas. Dari tempatnya berdiri, ia dapat melihat dengan jelas hamparan laut luas di bawah sana. Pemandangan yang cukup memukau untuknya.Suara deru ombak yang bergulung dan menghantam karang seakan me

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 87

    Bunga peony bukan tanaman yang mudah dibiakkan. Sebagai seorang penjual bunga, Olivia tahu betapa sulitnya mengembangbiakkan bunga tersebut.Tidak heran jika ada yang menjualnya, harganya pasti akan sangat mahal. Selain sulit, bunga peony juga hanya bisa mekar di saat tertentu.Ketika Aaron memberikan bunga peony di hari pernikahan mereka, Olivia sudah cukup terkejut dan tersipu. Ia sama sekali tidak menyangka jika ternyata pria itu bukan membelinya. Aaron Kendrick bahkan punya taman bunga peony!Taman yang hanya ditumbuhi oleh bunga peony dengan berbagai warna itu terlihat begitu terawat. Seluruh bunganya mekar dengan sempurna tanpa celah. Di bawah sinar matahari yang cerah, taman itu terlihat begitu indah.Olivia sampai penasaran, siapa yang sudah merawatnya hingga sedemikian rupa? Pastinya bukan sembarang orang yang bisa melakukannya.Di tengah kekagumannya, Olivia teringat dan segera menoleh ke belakang. Ia mendapati Aaron tengah duduk di sebuah kursi tunggal sambil memperhatikann

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 86

    Ketika Olivia menoleh, ia melihat senyuman getir terlukis di wajah Aaron. Seakan ada rasa senang, juga kesedihan yang tersimpan dalam sorot matanya.Menyadari ucapan suaminya yang sudah membuat suasana berubah kurang nyaman, wanita bertubuh gembul itu langsung menyikut lengan suaminya dengan kesal. Namun tampaknya si pria tua itu tidak terlalu peka dan justru kebingungan.Jika diperhatikan baik-baik, usia pria tua ini kelihatannya jauh lebih tua dari Josh. Entah karena penampilannya atau hal lain.Olivia berpikir, mungkin karena usianya yang bisa dikatakan sudah cukup berumur, pria itu jadi berbicara sesuka hatinya tanpa pikir panjang. Meskipun kelihatannya ia tidak sedikit pun ada keinginan atau kesengajaan untuk menyakiti lawan bicaranya.Aaron sendiri tampaknya tidak ingin berlama-lama di sana. Ia segera mengalihkan pembicaraan dengan memperkenalkan sepasang suami istri di hadapan mereka itu pada Olivia."Perkenalkan, ini Greg Gardner dan istrinya Welly."Suasana yang sempat tegang

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 2

    Dari arah belakang Katrin langsung datang menarik tangan Olivia dengan kasar dan menyingkirkannya ke belakang. Tubuh Olivia sempat terhuyung. Tapi untung saja ia tidak sampai jatuh ke lantai.Kini Katrin yang berdiri di hadapan Josh. "Silakan masuk, Tuan!" ujarnya dengan sangat ramah. Sikapnya itu

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 1

    “Tiga hari lagi mereka akan datang menjemputmu.”Ucapan ibu tirinya barusan membuat sekujur tubuh Olivia Rose lemas. Kedua lututnya jatuh tertekuk menyentuh lantai yang dingin.“Kumohon,” pinta Olivia memohon sambil menarik sisi gaun ibu tirinya, Katrin Brown. “Aku tidak mau menikah dengan pria kej

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 22

    Aaron sedang berbaring di atas tempat tidurnya ketika Olivia masuk ke dalam kamarnya.Mulanya ia merasa ragu. Tapi kemudian ia memutuskan untuk berjalan mendekat ke arah ranjang berukuran cukup luas itu.Wajah pria itu tampak pucat. Aaron sama sekali tidak bergerak saat Olivia mendekatinya.Bibir t

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 16

    "Tidak ada yang gratis di dunia ini."Kalimat Aaron kemarin malam masih mengiang di telinga Olivia hingga pagi ini.Setelah mengatakan hal itu, Aaron langsung keluar dari kamarnya dan tidak kembali lagi. Para pelayan-lah yang datang membereskan sisa piring kotor di kamarnya.Pagi ini hanya ada Oliv

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status