LOGINDari arah belakang Katrin langsung datang menarik tangan Olivia dengan kasar dan menyingkirkannya ke belakang. Tubuh Olivia sempat terhuyung. Tapi untung saja ia tidak sampai jatuh ke lantai.
Kini Katrin yang berdiri di hadapan Josh. "Silakan masuk, Tuan!" ujarnya dengan sangat ramah. Sikapnya itu membuat Olivia merasa jijik dan ingin muntah.
Setelah dipersilakan masuk oleh Katrin, Josh bersama dua orang pengawalnya masuk ke dalam rumah keluarga Olivia yang cukup sempit. Ini pertama kalinya Josh menginjakkan kaki di sana. Ia duduk di sebuah kursi tamu tua yang warnanya sudah kusam dengan bantalan kursi yang sudah mengeras.
Tanpa berkata apa pun, Olivia langsung berlari ke kamar dan mengunci rapat pintunya. Di balik pintu kayu tua tersebut, Olivia bersandar dan seketika tubuhnya jatuh merosot.
Tidak, ia tidak ingin menikah dengan pria yang tidak dikenalnya sama sekali itu. Bagaimana jika pria itu menyiksanya? Atau bahkan membunuhnya, seperti dia membunuh keluarganya sendiri?
Olivia tidak ingin mati sia-sia di tangan orang itu. Ia masih ingin hidup dan merawat ayahnya. Setelah ayahnya sembuh total, Olivia akan membawanya pergi dari sini.
Pikiran Olivia yang kacau teralihkan saat mendengar suara ketukan pintu. Tubuhnya reflek bergerak menyingkir menjauhi pintu.
Tok. Tok.
Suara ketukan pintu terdengar semakin cepat, menjadi tanda bahwa orang yang sedang mengetuknya mulai tidak sabar.
"Olivia, buka pintunya."
Itu suara Katrin. Nada bicaranya tidak terdengar semurka sebelumnya. Tapi Olivia yakin wanita itu hanya berpura-pura.
Olivia bergeming. Keringat dingin mulai bercucuran di sekitar pelipisnya.
"Kalau kau tidak membuka pintunya, aku akan mendobraknya." Terdengar suara Jack yang ternyata juga berada di depan kamarnya.
Apa yang harus dilakukannya? Ia tidak mau menyerahkan diri begitu saja. Olivia mulai panik.
Tanpa pikir panjang Olivia menguncir rambutnya yang kecoklatan. Ia membuka jendela kamarnya selebar mungkin. Dengan hati-hati, ia mulai memanjat dan melompat keluar dari sana.
Setelah kakinya menapak penuh di atas rerumputan basah, Olivia langsung berlari ke arah halaman belakang rumah yang akan membawanya ke hutan lepas.
Namun pelariannya harus terhenti ketika Katrin dan Jack muncul dari samping dan mencegatnya. Senyuman licik terukir jelas di wajah kedua ibu dan anak itu.
"Aku sudah menduganya." ujar Katrin dingin. Ia menarik dengan kasar tangan Olivia yang gemetaran di hadapannya, membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Dengar. Kau tak akan bisa lari lagi sekarang, Olivia Rose. Kau harus menikah dengan Aaron Kendrick!" desisnya dengan mata melotot penuh amarah.
Olivia menggelengkan kepala dan berusaha menarik tangannya. Tapi Katrin sama sekali tidak berniat melepaskannya. Ia justru mencengkeram tangan Olivia semakin kuat.
"Tidak! Aku tidak mau menikah dengannya!" Olivia terus meronta, meskipun rasa perih menjalar semakin kuat di tangannya.
"Apa kau mau melihat ayahmu kehilangan nyawanya malam ini juga?" bisik Katrin di telinganya.
Ancaman yang diucapkan Katrin seketika membuat Olivia berhenti memberontak. Ia menatap Katrin tak percaya.
Saat ayahnya masih sehat dulu, beliau sangat menyayangi Katrin, juga Jack, meskipun laki-laki itu bukan putra kandungnya. Jack adalah anak dari hasil pernikahan Katrin dengan suami pertamanya yang berakhir pergi meninggalkannya.
Tapi setelah ayah Olivia sakit-sakitan, Katrin mulai menampakkan tanduknya. Dan sekarang, Katrin juga mengancam akan membunuh pria yang dulu mencintainya itu jika Olivia tidak mau menuruti keinginannya.
Ketegangan di wajah Olivia membuat senyuman licik di wajah Katrin dan Jack semakin lebar. Olivia terpaksa membiarkan kedua orang licik itu menyeretnya masuk ke dalam rumah.
Katrin mendorong tubuh Olivia ke hadapan para tamunya dengan seulas senyum lebar. Josh sempat melihatnya. Tapi ia tidak berkomentar.
Josh kemudian berdiri dan perlahan mendekati Olivia yang seperti sudah kehilangan separuh nyawanya. Gadis itu hanya berdiri lesu dengan kepala tertunduk.
"Nona Olivia,"
Olivia sama sekali tidak mengangkat wajahnya saat Josh memanggil. Sudut matanya menghangat. Tapi ia tidak ingin membiarkan air matanya tumpah di hadapan mereka semua.
"Atas perintah dari Tuan Kendrick, kami datang untuk menjemputmu malam ini juga." tuturnya sopan, meskipun Olivia tidak merespon ucapannya.
"Mungkin jika ada barang-barang penting yang ingin Anda bawa, Anda bisa mengemasinya sekarang. Kami akan menunggu."
Tanpa disadarinya, genangan air di sudut matanya pun tumpah. Tidak pernah terbayangkan olehnya selama ini bahwa ia akan mengalami hal sepahit ini.
Selama ini Olivia yang punya pemikiran polos selalu berpikir jika suatu hari nanti ia akan menikah dengan pria yang dicintainya, memulai kehidupan baru dan membangun sebuah keluarga kecil yang bahagia.
Namun sekarang, mimpi indahnya sirna. Ia harus menjadi tumbal dari perbuatan busuk ibu dan kakak tirinya.
Olivia segera menyeka air mata yang membasahi wajahnya dengan punggung tangan. Ia mengangkat wajah menatap Josh yang berdiri di hadapannya.
Keprihatinan terlihat jelas dari sorot mata Josh. Tapi Olivia tidak ingin terlalu percaya diri. Bagaimana pun juga, Josh Myers adalah utusan keluarga Kendrick. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan orang itu.
"Baik, aku akan ikut dengan kalian." gumamnya. Di balik punggungnya, ia bisa mendengar tawa puas dari ibu tiri dan kakak tirinya.
"Tapi, biarkan aku berpamitan dengan ayahku. Setidaknya aku ingin membiarkannya melihatku untuk yang terakhir kalinya."
Aaron sedang berbaring di atas tempat tidurnya ketika Olivia masuk ke dalam kamarnya.Mulanya ia merasa ragu. Tapi kemudian ia memutuskan untuk berjalan mendekat ke arah ranjang berukuran cukup luas itu.Wajah pria itu tampak pucat. Aaron sama sekali tidak bergerak saat Olivia mendekatinya.Bibir tipisnya mengatup rapat. Kedua matanya terpejam. Selimut tebal menutupi tubuhnya hingga setinggi dada.Olivia berdiri di tepi ranjang dengan tatapan melekat ke arah pria yang tengah berbaring itu. Melihatnya tidak sedikit pun bergerak membuat Olivia agak was-was.Apa pria ini sungguh baik-baik saja? Atau dia hanya sedang tidur dan tidak menyadari kehadiran Olivia di kamarnya sama sekali?Rasa khawatir mulai menjalar di pikiran Olivia. Pikiran negatif semakin bermunculan di benaknya.Bagaimana jika ternyata pria ini tidak sadarkan diri? Atau jangan-jangan...Dengan gerakan perlahan, Olivia mengulurkan tangan mendekat ke arah wajah Aaron. Jari telunjuknya ia letakkan di dekat hidung pria itu un
Hujan turun deras di luar ketika Olivia terjaga dari tidurnya.Pagi telah tiba. Namun langit tidak terlihat cerah seperti biasanya dari balik jendela. Sesekali terdengar gemuruh petir yang mengisi kesunyian.Rasanya malas sekali untuk bangkit dari tempat tidur. Cuaca cukup sejuk pagi itu. Olivia menarik selimutnya, membiarkan dirinya terbungkus rapat dan hangat di dalam.Beberapa kali ia berusaha memejamkan mata, berharap akan tertidur kembali. Tapi kesadarannya kini sudah penuh. Karena tidak mengantuk sama sekali lagi, akhirnya ia memutuskan untuk bangkit dari atas tempat tidur.Jarum jam di atas nakas sudah menunjukkan hampir pukul delapan. Spontan Olivia melompat turun dan segera membersihkan diri di kamar mandi.Sebelum tinggal di mansion keluarga Kendrick, Olivia bangun pagi-pagi sekali setiap hari untuk memulai aktivitas.Ia harus menyiapkan sarapan untuk ayahnya, mengurus segala keperluannya sebelum berangkat ke toko bunga peninggalan mendiang ibunya.Omong-omong soal toko bung
Aaron Kendrick ingin menciumnya.Olivia baru menyadarinya setelah ia berada di kamarnya, duduk di atas tempat tidur empuknya dengan selimut tebal yang menutupi setengah tubuhnya.Mendadak wajahnya terasa memanas.Perasaan ini sangat aneh. Jantungnya berdetak kencang saat mengingat kembali apa yang ingin dilakukan Aaron tadi di ruang kerjanya.Bagaimana Aaron memangkas jarak di antara mereka, hembusan nafasnya yang menerpa kulit wajah Olivia yang putih dalam keheningan dan ketegangan.Namun kemudian, pria itu tiba-tiba menjauh dan meminta Olivia untuk keluar dari ruangannya, menganggap pembicaraan mereka sudah selesai.Sikapnya mendadak berubah dingin, dan Olivia tidak tahu apa penyebabnya.Tidak ada yang terjadi di antara mereka setelah itu.Olivia langsung berdiri, tanpa mengatakan apa pun. Lalu ia melangkah pergi dari ruang kerja Aaron, meninggalkan pria itu tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.Kepalanya menggeleng cepat, berusaha mengusir perasaan aneh yang dirasakannya malam itu
Olivia diam selama beberapa saat menatap gaun yang diremasnya.Wajahnya kemudian terangkat dan tatapan matanya tertuju lurus ke arah pria yang duduk di seberangnya."Jadi, kau ingin aku membayar apa yang sudah kau lakukan secara sepihak?" ucap Olivia getir.Aaron membalas tatapannya, lalu mengangguk. "Rasanya kurang menyenangkan kalau kau bilang 'secara sepihak', Olivia.""Tapi memang itu kenyataannya!" Suara Olivia naik satu tingkat lebih keras. "Kau tidak meminta persetujuanku sama sekali!"Hening sejenak.Suasana di ruangan itu menjadi menegangkan dan cukup panas. Kesabaran Olivia mulai terkikis perlahan.Tiba-tiba Aaron berdiri. Pria itu melangkah ke arah Olivia. Tangan besarnya terulur ke wajah Olivia, lalu menarik dagunya dengan tegas."Katakan padaku," gumam Aaron ke arah Olivia yang kini mendongak menatapnya."Kalau ibu tiri dan kakak tirimu itu masih hidup dan sekarang mereka berdiri di hadapanmu, apa kau tidak akan melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan?"Sorot mata
"Tidak ada yang gratis di dunia ini, Olivia Rose."Setelah mengucapkan kalimat itu lagi, Aaron langsung melangkah meninggalkan ruang tengah. Ia terlihat tidak tertarik untuk menunggu jawaban atau respon apa pun dari Olivia.Nafas Olivia terhenti seiring menghilangnya pria itu dari hadapannya.Entahlah. Setiap kali pria itu mengatakannya, dadanya berdegup kencang. Ada sesuatu yang mengusiknya setiap kali mendengar ucapan itu.Perasaannya berubah tidak enak. Entah apa yang direncanakan pria itu. Mengingat tatapannya yang dingin dan sulit ditebak membuat firasat Olivia selalu buruk.Hingga jam makan malam tiba.Seperti yang ditebak Olivia pagi tadi. Aaron duduk di sisi tengah meja makan, sementara Olivia duduk di sisi sebelah kanannya.Suasana yang hening dan dingin menyelimuti kegiatan makan malam. Hanya terdengar suara alat makan yang beradu dengan piring keramik yang tampak elegan. Amat khas dengan gaya bangsawan.Aaron tampak begitu fokus dengan hidangan makan malam di atas piringnya
Aaron dan Josh akhirnya tiba kembali di mansion tepat ketika matahari turun di arah barat.Mobil mewah yang mereka duduki berhenti tepat di depan pintu masuk utama mansion. Sebelum turun dari mobil, Aaron memanggil Josh."Ya, Tuan?" sahut Josh.Aaron berdeham pelan, lalu berkata, "Jangan ceritakan apa pun pada Olivia. Aku tidak ingin dia tahu tentang masalah kematian ayahnya."Josh menarik nafas panjang dan mengembuskannya perlahan, lalu ia mengangguk. "Baik, Tuan. Saya sebenarnya juga sudah berpikir untuk menyembunyikan hal ini dari Nona Olivia." ujar Josh jujur.Katrin dan Jack sudah berencana untuk kabur tepat setelah Aaron menyatakan bahwa ia ingin mereka menyerahkan Olivia padanya sebagai bayaran atas hutang-hutang Jack.Mereka sudah sangat yakin jika Olivia akan berakhir tragis di tangan Aaron Kendrick. Atau paling tidak, mungkin wanita itu akan menjadi budak di mansionnya.Setelah memikirkannya matang-matang, mereka pun memutuskan untuk menghabisi nyawa ayah Olivia yang tengah







