Share

Bab 2

Author: Author Lee
last update publish date: 2026-04-22 00:17:45

Dari arah belakang Katrin langsung datang menarik tangan Olivia dengan kasar dan menyingkirkannya ke belakang. Tubuh Olivia sempat terhuyung. Tapi untung saja ia tidak sampai jatuh ke lantai.

Kini Katrin yang berdiri di hadapan Josh. "Silakan masuk, Tuan!" ujarnya dengan sangat ramah. Sikapnya itu membuat Olivia merasa jijik dan ingin muntah.

Setelah dipersilakan masuk oleh Katrin, Josh bersama dua orang pengawalnya masuk ke dalam rumah keluarga Olivia yang cukup sempit. Ini pertama kalinya Josh menginjakkan kaki di sana. Ia duduk di sebuah kursi tamu tua yang warnanya sudah kusam dengan bantalan kursi yang sudah mengeras.

Tanpa berkata apa pun, Olivia langsung berlari ke kamar dan mengunci rapat pintunya. Di balik pintu kayu tua tersebut, Olivia bersandar dan seketika tubuhnya jatuh merosot.

Tidak, ia tidak ingin menikah dengan pria yang tidak dikenalnya sama sekali itu. Bagaimana jika pria itu menyiksanya? Atau bahkan membunuhnya, seperti dia membunuh keluarganya sendiri?

Olivia tidak ingin mati sia-sia di tangan orang itu. Ia masih ingin hidup dan merawat ayahnya. Setelah ayahnya sembuh total, Olivia akan membawanya pergi dari sini.

Pikiran Olivia yang kacau teralihkan saat mendengar suara ketukan pintu. Tubuhnya reflek bergerak menyingkir menjauhi pintu.

Tok. Tok.

Suara ketukan pintu terdengar semakin cepat, menjadi tanda bahwa orang yang sedang mengetuknya mulai tidak sabar.

"Olivia, buka pintunya."

Itu suara Katrin. Nada bicaranya tidak terdengar semurka sebelumnya. Tapi Olivia yakin wanita itu hanya berpura-pura.

Olivia bergeming. Keringat dingin mulai bercucuran di sekitar pelipisnya.

"Kalau kau tidak membuka pintunya, aku akan mendobraknya." Terdengar suara Jack yang ternyata juga berada di depan kamarnya.

Apa yang harus dilakukannya? Ia tidak mau menyerahkan diri begitu saja. Olivia mulai panik.

Tanpa pikir panjang Olivia menguncir rambutnya yang kecoklatan. Ia membuka jendela kamarnya selebar mungkin. Dengan hati-hati, ia mulai memanjat dan melompat keluar dari sana.

Setelah kakinya menapak penuh di atas rerumputan basah, Olivia langsung berlari ke arah halaman belakang rumah yang akan membawanya ke hutan lepas.

Namun pelariannya harus terhenti ketika Katrin dan Jack muncul dari samping dan mencegatnya. Senyuman licik terukir jelas di wajah kedua ibu dan anak itu.

"Aku sudah menduganya." ujar Katrin dingin. Ia menarik dengan kasar tangan Olivia yang gemetaran di hadapannya, membuat gadis itu meringis kesakitan.

"Dengar. Kau tak akan bisa lari lagi sekarang, Olivia Rose. Kau harus menikah dengan Aaron Kendrick!" desisnya dengan mata melotot penuh amarah.

Olivia menggelengkan kepala dan berusaha menarik tangannya. Tapi Katrin sama sekali tidak berniat melepaskannya. Ia justru mencengkeram tangan Olivia semakin kuat.

"Tidak! Aku tidak mau menikah dengannya!" Olivia terus meronta, meskipun rasa perih menjalar semakin kuat di tangannya.

"Apa kau mau melihat ayahmu kehilangan nyawanya malam ini juga?" bisik Katrin di telinganya.

Ancaman yang diucapkan Katrin seketika membuat Olivia berhenti memberontak. Ia menatap Katrin tak percaya.

Saat ayahnya masih sehat dulu, beliau sangat menyayangi Katrin, juga Jack, meskipun laki-laki itu bukan putra kandungnya. Jack adalah anak dari hasil pernikahan Katrin dengan suami pertamanya yang berakhir pergi meninggalkannya.

Tapi setelah ayah Olivia sakit-sakitan, Katrin mulai menampakkan tanduknya. Dan sekarang, Katrin juga mengancam akan membunuh pria yang dulu mencintainya itu jika Olivia tidak mau menuruti keinginannya.

Ketegangan di wajah Olivia membuat senyuman licik di wajah Katrin dan Jack semakin lebar. Olivia terpaksa membiarkan kedua orang licik itu menyeretnya masuk ke dalam rumah.

Katrin mendorong tubuh Olivia ke hadapan para tamunya dengan seulas senyum lebar. Josh sempat melihatnya. Tapi ia tidak berkomentar.

Josh kemudian berdiri dan perlahan mendekati Olivia yang seperti sudah kehilangan separuh nyawanya. Gadis itu hanya berdiri lesu dengan kepala tertunduk.

"Nona Olivia,"

Olivia sama sekali tidak mengangkat wajahnya saat Josh memanggil. Sudut matanya menghangat. Tapi ia tidak ingin membiarkan air matanya tumpah di hadapan mereka semua.

"Atas perintah dari Tuan Kendrick, kami datang untuk menjemputmu malam ini juga." tuturnya sopan, meskipun Olivia tidak merespon ucapannya.

"Mungkin jika ada barang-barang penting yang ingin Anda bawa, Anda bisa mengemasinya sekarang. Kami akan menunggu."

Tanpa disadarinya, genangan air di sudut matanya pun tumpah. Tidak pernah terbayangkan olehnya selama ini bahwa ia akan mengalami hal sepahit ini.

Selama ini Olivia yang punya pemikiran polos selalu berpikir jika suatu hari nanti ia akan menikah dengan pria yang dicintainya, memulai kehidupan baru dan membangun sebuah keluarga kecil yang bahagia.

Namun sekarang, mimpi indahnya sirna. Ia harus menjadi tumbal dari perbuatan busuk ibu dan kakak tirinya.

Olivia segera menyeka air mata yang membasahi wajahnya dengan punggung tangan. Ia mengangkat wajah menatap Josh yang berdiri di hadapannya.

Keprihatinan terlihat jelas dari sorot mata Josh. Tapi Olivia tidak ingin terlalu percaya diri. Bagaimana pun juga, Josh Myers adalah utusan keluarga Kendrick. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan orang itu.

"Baik, aku akan ikut dengan kalian." gumamnya. Di balik punggungnya, ia bisa mendengar tawa puas dari ibu tiri dan kakak tirinya.

"Tapi, biarkan aku berpamitan dengan ayahku. Setidaknya aku ingin membiarkannya melihatku untuk yang terakhir kalinya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 102

    Ucapan Aaron barusan ada benarnya, begitu pikir Olivia setelah berpikir sejenak.Banyak rumor buruk yang berseliweran di luar sana tentang Aaron Kendrick. Saat pertama kali bertemu dengan pria itu saja, Olivia sangat ketakutan sampai memikirkan banyak hal mengerikan.Lantas bagaimana mungkin ia akan percaya dengan ucapan Aaron?Oliva mendesah pelan, lalu mengalihkan percakapan. "Pantas saja kau tahu banyak hal tentangku." gumamnya seperti berbisik pada diri sendiri. "Dan soal taman bunga peony di halaman belakang, kau juga sudah mempersiapkannya sejak lama."Aaron hanya mengangguk polos.Wajah Olivia mendadak memanas. Di tengah kegelapan, rona merah di kedua pipinya tidak terlihat. Jadi ia tidak khawatir jika Aaron akan menyadarinya.Dadanya ikut menghangat. Ia sama sekali tidak menyangka jika sosok Aaron Kendrick yang dingin dan kejam bisa melakukan hal-hal romantis semacam itu. Aaron mengingat semua yang dikatakan Olivia dulu padanya, padahal Olivia sendiri sudah nyaris melupakannya

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 101

    Waktu terasa panjang ketika Olivia menunggu jawaban dari Aaron yang hanya diam menatapnya. "Kenapa kau hanya diam?" tanya Olivia tidak sabar. "Katakan padaku, apa yang terjadi setelah itu?"Aaron tergelak.Awalnya ia sama sekali tidak berniat memberitahu Olivia tentang masa lalu mereka. Mungkin tidak sekarang, tapi suatu hari nanti. Tapi sayangnya Olivia sudah terlanjur melihat bekas luka bakar yang didapatkannya hari itu, hari pertama ia bertemu dengan Olivia Rose.Bagaimana jika Olivia tahu bahwa Aaron adalah bocah laki-laki yang diselamatkannya di tengah hutan dulu?Selama ini Aaron berusaha menutupi kehidupannya yang kelam karena khawatir jika Olivia akan merasa takut dan ngeri. Ditambah, jika Olivia tahu bahwa Aaron-lah bocah yang diselamatkannya dulu, mungkin wanita itu akan berubah mengasihaninya.Aaron tidak ingin Olivia meliriknya karena rasa kasihan. Ia tidak ingin dikasihani. Ia hanya ingin Olivia meliriknya dan mencintainya dengan tulus.Tapi ia sudah terlanjur berjanji pa

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 100

    Rintikan hujan masih terdengar di luar sana ketika Olivia membuka mata.Ternyata hujan belum reda. Tapi tidak deras seperti sebelumnya. Suara angin kencang juga tidak lagi terdengar. Cahaya kilat sesekali menembus masuk dari balik korden tanpa suara.Olivia menggeser badan dan menarik selimut yang menutupi tubuhnya yang tidak dibalut apa pun itu menjadi sedikit lebih tinggi. Udara dingin yang menerpa langsung ke kulit tubuhnya membuatnya sedikit kedinginan.Saat menoleh ke samping, Aaron tampak terlelap pulas membelakanginya. Lekukan otot di punggungnya yang tidak tertutup oleh sehelai benang pun memperlihatkan bagaimana selama ini pria itu merawat dirinya.Namun bukan itu yang membuat kedua mata Olivia semakin terbuka lebar. Sebuah bekas luka bakar besar di atas punggung kanannya. Olivia meringis.Dengan gerakan perlahan Olivia mengulurkan tangan hendak menyentuh bekas luka yang tampak menyakitkan itu. Ujung telunjuknya baru saja mendarat di sana ketika Aaron tiba-tiba membalikkan ba

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 99 [21+]

    🔞-----Apa yang dilakukan Olivia terhadapnya barusan membuat Aaron mematung selama beberapa saat. Ia nyaris tidak percaya dengan apa yang terjadi pada dirinya barusan.Olivia menciumnya.Ciuman itu ringan dan tenang, namun sudah cukup untuk menghidupkan kembali gejolak dalam dirinya yang meronta.Aaron menunduk, menatap Olivia dengan mata disipitkan. "Kau tahu apa yang bisa kau timbulkan karena perbuatanmu barusan." Suaranya berbisik sangat pelan. Sudut bibirnya perlahan terangkat.Olivia menggigit bibir tanpa menyahut. Kedua matanya masih tertuju ke arah Aaron.Aaron meletakkan kedua tangannya di atas pundak Olivia. Lalu dengan gerakan yang sangat lembut, ia berhasil menyingkirkan gaun tidur tipis yang dikenakan Olivia untuk menutupi tubuhnya.Kain tipis itu jatuh ke atas lantai dengan mulus, menyisakan sebuah pakaian tidur berbahan satin yang sangat minim."Boleh?" bisik Aaron. Suaranya terdengar samar teredam suara deras hujan di luar sana.Olivia menatapnya selama beberapa detik,

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 98

    Angin tampak semakin kencang di luar. Suara gemuruh petir mulai terdengar di tengah keheningan malam. Aaron baru saja meletakkan gelas kosongnya di wastafel ketika lampu ruangan meredup dan berkedip.Olivia yang sudah naik ke kamar kembali turun dengan ekspresi bingung sekaligus takut. Langkah kakinya nyaris seperti berlari saat menghampiri Aaron yang masih berdiri di tepi wastafel. "Listriknya kenapa?" tanya Olivia padanya."Sepertinya ada masalah dengan listriknya." jawabnya tenang. "Aku akan pergi mengecek ke luar. Kau tunggu di sini."Sebelum sempat keluar dari villa, semua lampu padam. Suasana berubah gelap dan hening. Suara angin yang semakin kencang terdengar kian jelas."Aaron," panggil Olivia dalam kegelapan dengan suara agak bergetar. Ia tidak bisa melihat apa-apa sama sekali.Tepat ketika cahaya kilat menembus masuk dari korden jendela dan menerangi ruangan selama sepersekian detik, barulah ia dapat melihat sosok Aaron yang berjalan cepat menghampirinya.Kilat petir yang di

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 97

    Tidak biasanya Olivia mandi di malam hari. Ibunya dulu selalu bilang, mandi di malam hari bisa membuat seseorang lebih mudah terserang flu karena udara malam yang dingin.Tapi karena tadi ia harus memasak, jadi ia tidak punya pilihan. Untung saja ada air panas di villa. Jadi ia tidak perlu mandi dengan tubuh menggigil.Seusai mandi, ia tidak melihat Aaron di kamar. Ia pikir pria itu mungkin berada di lantai satu. Tapi saat turun, ia tidak menemukan siapa pun di sana.Melihat pintu utama yang tidak terkunci dan terbuka sedikit, barulah ia sadar bahwa saat itu Aaron sedang berada di luar.Olivia menghampirinya. Di sebelah tangan pria itu ada sebuah gelas kaca dengan cairan berwarna coklat keemasan. Saat terkena pantulan cahaya lampu, cairan itu tampak seperti kristal-kristal yang indah."Ehm-hm."Aaron langsung menoleh saat mendengar suara deham Olivia yang berdiri di sebelahnya. Matanya bergerak memperhatikan Olivia dari sudut kepala hingga ujung kaki. Aroma sabun yang wangi menguar me

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 1

    “Tiga hari lagi mereka akan datang menjemputmu.”Ucapan ibu tirinya barusan membuat sekujur tubuh Olivia Rose lemas. Kedua lututnya jatuh tertekuk menyentuh lantai yang dingin.“Kumohon,” pinta Olivia memohon sambil menarik sisi gaun ibu tirinya, Katrin Brown. “Aku tidak mau menikah dengan pria kej

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 22

    Aaron sedang berbaring di atas tempat tidurnya ketika Olivia masuk ke dalam kamarnya.Mulanya ia merasa ragu. Tapi kemudian ia memutuskan untuk berjalan mendekat ke arah ranjang berukuran cukup luas itu.Wajah pria itu tampak pucat. Aaron sama sekali tidak bergerak saat Olivia mendekatinya.Bibir t

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 7

    Aaron tidak pernah berpikir jika Olivia akan merasa sangat takut dan benci padanya. Padahal pikiran untuk menyakiti gadis itu tidak pernah terbersit di pikirannya, sama sekali."Banyak rumor buruk tentang Anda yang beredar di luar sana." jelas Josh.Setelah mengantar Olivia ke kamarnya, Josh kembal

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 6

    Pintu tinggi yang terbuat dari kayu terbaik di hadapannya dibuka oleh Josh. Sebuah pemandangan yang tidak pernah dibayangkan oleh Olivia sebelumnya menyambut kehadirannya."Ini kamarmu, Olivia." kata Josh seraya mempersilakannya untuk masuk.Dengan langkah ragu, Olivia masuk ke dalam ruangan yang c

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status