Share

Bab 4

Author: Author Lee
last update publish date: 2026-04-23 17:32:18

Sebuah mobil sedah mewah berwarna hitam sudah berdiri di luar pagar.

Raut puas yang terukir di wajah Katrin dan Jack membuat hatinya terasa perih. Ia tidak menyangka jika Katrin akan menggunakan ayahnya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.

Olivia menarik nafas panjang dan mengembuskannya perlahan sebelum akhirnya naik ke atas mobil. Mobil pun melaju seiring Olivia yang kemudian menarik pandangannya dari rumah kecil yang sudah menjadi saksi kehidupannya selama ini.

Baginya, ini adalah akhir dari hidupnya.

Olivia dan Josh duduk di bangku penumpang, sementara dua pria yang ikut bersamanya tadi duduk di depan. Salah seorang dari mereka yang mengendarai mobil.

"Anda tidak membawa sehelai pakaian pun, Nona." kata Josh memecah keheningan.

Olivia tidak tahu apakah ini hanya akal-akalan Josh atau bukan. Tapi sejak awal bertemu, tutur bicara dan sikapnya selalu sopan terhadap Olivia.

"Mm," gumam Olivia sambil mengangguk kecil.

Untuk apa juga ia membawa pakaian? Saat ini nyawanya berada di posisi yang tidak jelas. Apakah dirinya masih akan tetap hidup atau tidak setelah ini, tidak ada yang tahu.

"Tapi Anda tidak perlu khawatir, Nona Olivia. Banyak pakaian baru yang sudah disiapkan untuk Anda di mansion. Jika Anda merasa pakaiannya kurang, Anda bisa mengatakannya pada pelayan atau pada saya nantinya."

Ucapan Josh barusan membuat kedua alis Olivia terangkat. Ia menoleh ke arah Josh sekilas dan menatapnya heran.

Aneh. Kenapa mereka menyiapkan pakaian untuknya?

Setelah hening sejenak, Josh kembali mengajaknya berbicara. "Nona, boleh saya menanyakan sesuatu pada Anda?"

Olivia menoleh ke arah Josh. Sebenarnya ia agak risih karena sejak tadi Josh terus memanggilnya dengan sebutan Nona. Padahal jika dilihat dari usia, Josh itu hampir sebaya dengan ayahnya.

"Jangan panggil aku dengan sebutan Nona. Olivia, cukup panggil aku dengan namaku."

Melihat ketegasan dalam nada bicara Olivia membuat Josh tertegun sejenak, lalu ia pun mengangguk. "Baik, jika itu permintaan Anda."

Olivia tersenyum kecil. "Apa yang mau Paman tanyakan padaku?"

"Apa mereka sering bersikap buruk padamu?" Nada bicara Josh terdengar pelan, namun tegas.

Hening sejenak. Olivia bingung. Apa ia harus jujur pada Josh? Bagaimana pun, ia belum sepenuhnya percaya pada pria itu.

"Kenapa Paman bertanya seperti itu?"

Josh menghela nafas pelan, lalu tersenyum. "Saya hanya ingin Anda tahu, bahwa mulai detik ini, Anda tidak perlu merasa ketakutan lagi."

Kedua alis Olivia tertekuk samar. Sorot mata curiga tertuju ke arah Josh yang duduk di sampingnya. "Maksud Paman?"

"Mereka tidak akan bisa mengganggu hidupmu lagi, Olivia."

***

Seulas senyum lebar terukir di wajah pria berwajah dingin itu tatkala melihat sebuah lampu sorot bergerak memasuki pekarangan yang luas. Itu mobil Josh.

Sejak kepergian Roger, Aaron sudah berdiri di tepi jendela, menatap ke arah gerbang yang kini terbuka lebar. Beberapa detik kemudian, mobil Josh pun berhenti.

Aaron dapat melihat seorang wanita bertubuh mungil turun dari salah satu sisi mobil. Wanita itu terdiam sejenak. Pandangannya mengedar ke sekelilingnya yang terlihat asing.

Tepat ketika wanita itu menengadahkan wajahnya ke arah mansion, tatapan tertuju lurus tepat ke arah dirinya. Pandangan mereka bertemu selama beberapa detik, sebelum akhirnya Aaron memalingkan wajah dan menutup tirai jendela.

Salah satu sudut bibir Aaron terangkat. Sambil bersandar di sandaran kursi, sepasang mata tajam itu menatap lurus ke arah pintu dengan tidak sabar. Hingga kemudian terdengar suara ketukan pintu.

Tok. Tok.

Pintu terbuka setelah Aaron memberi jawaban dari dalam. Yang pertama kali muncul di hadapannya adalah Josh.

"Tuan, Nona Olivia Rose sudah berada di sini." ujar Josh seraya bergeser ke samping.

Wanita yang sejak tadi berjalan di belakangnya perlahan maju ke tengah ruangan memperlihatkan dirinya pada Aaron.

Raut wajah Aaron seketika berubah setelah memperhatikan Olivia. Wanita itu hanya tertunduk menutupi wajahnya yang pucat dan terlihat ketakutan. Jelas bukan ini yang diharapkannya.

"Josh," panggil Aaron dengan suara rendah, namun lugas. "Tinggalkan kami dan tutup pintunya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 102

    Ucapan Aaron barusan ada benarnya, begitu pikir Olivia setelah berpikir sejenak.Banyak rumor buruk yang berseliweran di luar sana tentang Aaron Kendrick. Saat pertama kali bertemu dengan pria itu saja, Olivia sangat ketakutan sampai memikirkan banyak hal mengerikan.Lantas bagaimana mungkin ia akan percaya dengan ucapan Aaron?Oliva mendesah pelan, lalu mengalihkan percakapan. "Pantas saja kau tahu banyak hal tentangku." gumamnya seperti berbisik pada diri sendiri. "Dan soal taman bunga peony di halaman belakang, kau juga sudah mempersiapkannya sejak lama."Aaron hanya mengangguk polos.Wajah Olivia mendadak memanas. Di tengah kegelapan, rona merah di kedua pipinya tidak terlihat. Jadi ia tidak khawatir jika Aaron akan menyadarinya.Dadanya ikut menghangat. Ia sama sekali tidak menyangka jika sosok Aaron Kendrick yang dingin dan kejam bisa melakukan hal-hal romantis semacam itu. Aaron mengingat semua yang dikatakan Olivia dulu padanya, padahal Olivia sendiri sudah nyaris melupakannya

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 101

    Waktu terasa panjang ketika Olivia menunggu jawaban dari Aaron yang hanya diam menatapnya. "Kenapa kau hanya diam?" tanya Olivia tidak sabar. "Katakan padaku, apa yang terjadi setelah itu?"Aaron tergelak.Awalnya ia sama sekali tidak berniat memberitahu Olivia tentang masa lalu mereka. Mungkin tidak sekarang, tapi suatu hari nanti. Tapi sayangnya Olivia sudah terlanjur melihat bekas luka bakar yang didapatkannya hari itu, hari pertama ia bertemu dengan Olivia Rose.Bagaimana jika Olivia tahu bahwa Aaron adalah bocah laki-laki yang diselamatkannya di tengah hutan dulu?Selama ini Aaron berusaha menutupi kehidupannya yang kelam karena khawatir jika Olivia akan merasa takut dan ngeri. Ditambah, jika Olivia tahu bahwa Aaron-lah bocah yang diselamatkannya dulu, mungkin wanita itu akan berubah mengasihaninya.Aaron tidak ingin Olivia meliriknya karena rasa kasihan. Ia tidak ingin dikasihani. Ia hanya ingin Olivia meliriknya dan mencintainya dengan tulus.Tapi ia sudah terlanjur berjanji pa

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 100

    Rintikan hujan masih terdengar di luar sana ketika Olivia membuka mata.Ternyata hujan belum reda. Tapi tidak deras seperti sebelumnya. Suara angin kencang juga tidak lagi terdengar. Cahaya kilat sesekali menembus masuk dari balik korden tanpa suara.Olivia menggeser badan dan menarik selimut yang menutupi tubuhnya yang tidak dibalut apa pun itu menjadi sedikit lebih tinggi. Udara dingin yang menerpa langsung ke kulit tubuhnya membuatnya sedikit kedinginan.Saat menoleh ke samping, Aaron tampak terlelap pulas membelakanginya. Lekukan otot di punggungnya yang tidak tertutup oleh sehelai benang pun memperlihatkan bagaimana selama ini pria itu merawat dirinya.Namun bukan itu yang membuat kedua mata Olivia semakin terbuka lebar. Sebuah bekas luka bakar besar di atas punggung kanannya. Olivia meringis.Dengan gerakan perlahan Olivia mengulurkan tangan hendak menyentuh bekas luka yang tampak menyakitkan itu. Ujung telunjuknya baru saja mendarat di sana ketika Aaron tiba-tiba membalikkan ba

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 99 [21+]

    🔞-----Apa yang dilakukan Olivia terhadapnya barusan membuat Aaron mematung selama beberapa saat. Ia nyaris tidak percaya dengan apa yang terjadi pada dirinya barusan.Olivia menciumnya.Ciuman itu ringan dan tenang, namun sudah cukup untuk menghidupkan kembali gejolak dalam dirinya yang meronta.Aaron menunduk, menatap Olivia dengan mata disipitkan. "Kau tahu apa yang bisa kau timbulkan karena perbuatanmu barusan." Suaranya berbisik sangat pelan. Sudut bibirnya perlahan terangkat.Olivia menggigit bibir tanpa menyahut. Kedua matanya masih tertuju ke arah Aaron.Aaron meletakkan kedua tangannya di atas pundak Olivia. Lalu dengan gerakan yang sangat lembut, ia berhasil menyingkirkan gaun tidur tipis yang dikenakan Olivia untuk menutupi tubuhnya.Kain tipis itu jatuh ke atas lantai dengan mulus, menyisakan sebuah pakaian tidur berbahan satin yang sangat minim."Boleh?" bisik Aaron. Suaranya terdengar samar teredam suara deras hujan di luar sana.Olivia menatapnya selama beberapa detik,

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 98

    Angin tampak semakin kencang di luar. Suara gemuruh petir mulai terdengar di tengah keheningan malam. Aaron baru saja meletakkan gelas kosongnya di wastafel ketika lampu ruangan meredup dan berkedip.Olivia yang sudah naik ke kamar kembali turun dengan ekspresi bingung sekaligus takut. Langkah kakinya nyaris seperti berlari saat menghampiri Aaron yang masih berdiri di tepi wastafel. "Listriknya kenapa?" tanya Olivia padanya."Sepertinya ada masalah dengan listriknya." jawabnya tenang. "Aku akan pergi mengecek ke luar. Kau tunggu di sini."Sebelum sempat keluar dari villa, semua lampu padam. Suasana berubah gelap dan hening. Suara angin yang semakin kencang terdengar kian jelas."Aaron," panggil Olivia dalam kegelapan dengan suara agak bergetar. Ia tidak bisa melihat apa-apa sama sekali.Tepat ketika cahaya kilat menembus masuk dari korden jendela dan menerangi ruangan selama sepersekian detik, barulah ia dapat melihat sosok Aaron yang berjalan cepat menghampirinya.Kilat petir yang di

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 97

    Tidak biasanya Olivia mandi di malam hari. Ibunya dulu selalu bilang, mandi di malam hari bisa membuat seseorang lebih mudah terserang flu karena udara malam yang dingin.Tapi karena tadi ia harus memasak, jadi ia tidak punya pilihan. Untung saja ada air panas di villa. Jadi ia tidak perlu mandi dengan tubuh menggigil.Seusai mandi, ia tidak melihat Aaron di kamar. Ia pikir pria itu mungkin berada di lantai satu. Tapi saat turun, ia tidak menemukan siapa pun di sana.Melihat pintu utama yang tidak terkunci dan terbuka sedikit, barulah ia sadar bahwa saat itu Aaron sedang berada di luar.Olivia menghampirinya. Di sebelah tangan pria itu ada sebuah gelas kaca dengan cairan berwarna coklat keemasan. Saat terkena pantulan cahaya lampu, cairan itu tampak seperti kristal-kristal yang indah."Ehm-hm."Aaron langsung menoleh saat mendengar suara deham Olivia yang berdiri di sebelahnya. Matanya bergerak memperhatikan Olivia dari sudut kepala hingga ujung kaki. Aroma sabun yang wangi menguar me

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 7

    Aaron tidak pernah berpikir jika Olivia akan merasa sangat takut dan benci padanya. Padahal pikiran untuk menyakiti gadis itu tidak pernah terbersit di pikirannya, sama sekali."Banyak rumor buruk tentang Anda yang beredar di luar sana." jelas Josh.Setelah mengantar Olivia ke kamarnya, Josh kembal

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 6

    Pintu tinggi yang terbuat dari kayu terbaik di hadapannya dibuka oleh Josh. Sebuah pemandangan yang tidak pernah dibayangkan oleh Olivia sebelumnya menyambut kehadirannya."Ini kamarmu, Olivia." kata Josh seraya mempersilakannya untuk masuk.Dengan langkah ragu, Olivia masuk ke dalam ruangan yang c

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 5

    Olivia merasakan ketegangan yang luar biasa sejak dirinya melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan yang memiliki dua buah daun pintu itu.Udara dingin seolah menyambut kehadirannya di sana. Mendengar suara berat seorang pria yang duduk di dalam ruangan itu membuat sekujur tubuhnya bergidik.Kepalany

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 3

    Pintu di belakangnya tertutup rapat.Olivia termenung sejenak di tengah ruangan yang sempit itu, menatap sosok pria tua yang saat ini terbaring di sebuah ranjang usang.Ayahnya menatap Olivia dengan raut wajah sedih. Olivia yakin, ayahnya sudah mendengar semuanya. Namun ia tidak bisa berbuat apa-ap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status