LOGINBram kini membawa teman-temannya ke rumah Anaya, disini dirinya akan membuat rencana besar.
Beberapa orang sangat antusias menantikan adegan seru karena Bram masih nekad menemui Anaya meski sudah di tolak sebelumnya. Namun, tampak seseorang yang begitu gelisah, manik matanya terus melirik ke arah Bram, memutar malas seolah dirinya tidak senang. Bahkan ekspresi dan raut wajahnya menampilkan semua kegelisahan itu. Dia pun maju melangkah menghampiri Bram, dari lubuk hati terdalamnya muncul rasa iri yang begitu besar terhadap Anaya. Semakin dipikir, semakin marah dirinya. "Kau tampak senang?" Tanya Fenny langsung, mulai tak tahan. "Kau tidak lihat begitu penurutnya Anaya padaku. Aku jamin setelah menikah nanti, Anaya akan terus seperti itu." Ujar Bram dengan penuh percaya diri. Benar-benar meremahkan Anaya. "Apasih yang kau sukai dari wanita itu?" Guman Fenny yang tidak bisa melawan, hanya terdiam sambil melipat kedua tangannya tepat di depan dada menunggu munculnya sosok Anaya, sosok yang selalu membuat dirinya kesal ketika melihat wajah Anaya. Sementara di dalam rumah, Mama Anindita melihat banyak orang yang berkumpul di depan rumahnya, segera keluar bertanya dengan nada lembut. Tetapi Bram malah seolah meremehkan Mama Anindita. "Ada apa ini? Kenapa kalian berkumpul di rumahku?" Tanya Mama Anindita. "Maaf, apa katamu? Ini rumahmu? Mungkin sekarang akan menjadi rumahmu, tetapi besok dan seterusnya rumah ini akan menjadi milikku, atas nama Bram Wijaya!" ujar Bram dengan suara lantang di sambut sorakan dari teman-temannya. "Apa? Kenapa bisa rumahku langsung menjadi rumahmu? Kau gila?" Mama Anindita malah tak percaya. Dia pikir anak-anak ini hanya bercanda. "Hei, Calon Mama Mertua. Kau tidak harus patuh denganku, sebentar lagi aku menjadi menantumu. Semua aset atas namamu akan menjadi milikku!" Ujar Bram dengan sombong. Ini membuat Mama Anindita semakin tak setuju jika anaknya menikah dengan Bram. Namun, Anaya begitu keras kepala membuat Mama Anindita tampak kesusahan. "Aku akan paksa Anaya menolak kamu!" Tegasnya. Bram malah mengajukan jari tengah, meremehkan perkataan Mama Anindita. "Semua orang yang ada disini tahu seperti apa cinta Anaya padaku. Dia bahkan bisa melakukan apasaja yang aku perintahkan. Mungkin juga bisa membunuh dirinya sendiri demi mendapatkan cintaku!" Jelas Bram yang membuat Mama Anindita syok parah. Nafas Mama Anindita memburu, tubuhnya menjadi lemas. Dan ketika dirinya hampir kehilangan keseimbangan, Anaya berlari menangkap Mamanya. "Ma, tenang dulu!" Ujar Anaya mencoba mengatur emosi Mama Anindita. "Tenang? Kamu masih bisa bilang tenang? Dari kemarin selalu bilang tenang dulu? Anaya!" ujar Mama Anindita dengan marah, semakin membuat jantungnya sakit. Bram yang tidak peduli dengan kondisi Calon Mertuanya, langsung melemparkan beberapa undangan ke arah Anaya. "Aku sudah mengurus undangan pernikahan kita. Besok, kita harus menikah. Pakai saja baju apapun karena kamu tidak perlu tampak cantik saat menikah. Wajahmu pas-pasan." Jelas Bram. Anaya mulai menggeleng kepalanya, mengingat kebodohannya dimasa lalu yang terus menerima Bram meski sudah di rendahkan seperti ini. "Aku benar-benar bodoh memilihmu," Kata Anaya dengan senyuman yang sulit di artikan. "Kau akhirnya sadar dirimu bodoh, lagian kamu yang terus memaksa aku menikahimu. Dan setelah aku menikah denganmu, semua aset yang keluargamu punya harus dibalik menjadi namaku. Rumah, perusahaan, dan barang-barang mewah milikmu harus diberikan pada Fenny!" Tunjuk Bram. Saat itu, Fenny langsung maju. Berpura-pura polos di depan Bram sambil memainkan sandiwaranya. "Kak Bram, bukan kah itu terlalu berlebihan. Bagaimana jika Anaya tidak mau memberikannya padaku.." Ucapnya dengan suara lemah lembut hampir membuat Anaya muntah. "Anaya pasti memberikannya, jika tidak mau aku tidak akan menikah dengannya!" Balas Bram dengan memasang wajah angkuh. Anaya berjalan mendekati dua orang itu, menatap tajam ke arah mereka berdua. Melipat kedua tangannya tepat di depan Bram. "Kalau aku tidak mau? Untuk apa aku memberikan semua barangku pada Fenny? Atas dasar apa sementara semua itu adalah milikku, hakku sendiri!" Tantang Anaya. "Kak Bram.." Fenny mulai mengadu secara halus pada Bram. Ini semakin membuat Anaya jijik melihatnya. "Jadi, kamu tidak mau menurut lagi padaku? Anaya, kamu berjanji akan selalu menurut padaku asalkan aku menikahimu!" Ucap Bram dengan emosi yang mulai memuncak. "Kak Bram, mungkinkah aku sangat keterlaluan karena meminta barang Anaya?" Ucap Fenny yang semakin memprovokasi Bram. Anaya yang tidak tahan, segera melayangkan tamparan pedas di pipi Fenny. Semua orang langsung syok karena selama ini Anaya tidak pernah sekalipun bersikap kasar pada Fenny. "Dasar bermuka dua!" Ujar Anaya. "Kak Bram.." "Anaya! Cukup bermainnya, minta maaf pada Fenny sekarang juga!" Teriak Bram yang begitu mengancam. "Kau tidak berhak menyuruhku!" Tunjuk Anaya dengan amarah yang meluap. Terlebih dirinya masih mengingat jelas kehidupan sebelumnya dimana Bram rela membunuhnya hanya karena dirinya mengusir Fenny. "Kau..." "Sudah cukup. Aku tidak akan menikah denganmu. Karena kamu sudah menyebarkan undangan ini, aku sungguh berterima kasih. Besok aku akan tetap menikah, tetapi bukan denganmu!" Ujar Anaya dengan suara lantang. Semua orang pun saling menatap, merasa bingung. Jika bukan menikah dengan Bram, lalu siapa? Tetapi berbeda dengan Bram yang malah tertawa mengira jika Anaya hanya bercanda. Karena Bram tahu, tidak ada lelaki lain di hati Anaya selain dirinya. "Aku serius, Bram. Sebaiknya kau besok datang saja kediamanku untuk melihat calon suamiku!" Kata Anaya mengingatkan sebelum berjalan masuk bersama Mama Anindita. "Tentu, aku pasti datang karena diriku memang calonnya!" Teriak Bram yang benar-benar bodoh.“Kamu yakin mau pasang CCTV di sini?” tanya Ridho sambil mengangkat satu kamera kecil.Anaya mengangguk mantap. “Aku tidak mau menebak-nebak lagi. Bibit stroberi itu mati bukan karena cuaca.”Ridho terdiam sejenak, lalu menghela napas. “Aku juga merasa aneh. Tanahnya bagus, pupuknya tepat. Tidak masuk akal semuanya busuk sekaligus.”Mereka memasang kamera di beberapa sudut kebun, dekat sumber air, di balik pohon kecil, dan menghadap langsung ke bedengan stroberi. Anaya berdiri memperhatikan layar kecil di ponselnya saat Ridho mengatur sudut pandang.“Kalau memang ada yang sengaja merusak,” kata Anaya pelan, “aku ingin melihat wajahnya.”Ridho menoleh. “Apa kamu siap?”Anaya menatap kebun itu lama. “Aku sudah terlalu lama tidak siap. Sekarang aku hanya ingin kebenaran.”Setelah semuanya terpasang, mereka mulai menanam bibit stroberi yang baru. Ridho menggali lubang kecil, Anaya menata akar dengan hati-hati, jemarinya kotor tanah namun gerakannya lembut.“Kamu selalu telaten,” ujar Ridh
“Sekarang,” ucap Anaya datar.Layar kembali menyala, bukan menampilkan Ridho.Bram mengerutkan kening. “Apa ini?” gumamnya.Foto-foto lama bermunculan. Seorang gadis muda dengan pakaian balet sederhana. Rambut diikat seadanya. Keringat membasahi pelipis. Di sudut foto tertera tanggal bertahun-tahun lalu.“Itu… Anaya?” bisik seorang tamu.Video berganti. Rekaman latihan balet di studio kecil. Gerakan yang rapi, kuat, dan penuh disiplin.Bram terdiam. “Tidak… itu bukan—”“Lanjutkan,” suara Anaya terdengar, tetap tenang.Dokumentasi lain muncul: sketsa tangan, lukisan setengah jadi, lalu lukisan balet yang sama—yang tadi dijadikan kado.Bram menoleh ke Fenny. “Kamu bilang… kamu yang melukis itu.”Fenny menelan ludah. “Bram, aku bisa jelaskan—”“Kapan?” potong Bram, suaranya meninggi. “Kapan kamu belajar melukis seperti itu?”Fenny gemetar. “Aku—aku terinspirasi—”“Terinspirasi?” Bram tertawa pendek, pahit. “Atau mencuri?”Ruangan sunyi. Kamera-kamera ponsel mulai terangkat.Anaya melangk
Langkah Anaya berhenti seketika ketika suara kecil terdengar dari belakangnya.“A–Apa?”Anaya menoleh cepat. Di belakangnya berdiri Fenny, mengenakan gaun putih berpayet yang berkilauan memantulkan cahaya lampu gedung. Wajahnya jelas menegang antara kaget, gugup, dan gengsi yang dipaksa tampil anggun.“Anaya? Kamu… datang ke sini?” Fenny bertanya sambil memegang pinggir gaunnya, seolah ragu apakah pandangan matanya benar.Anaya menegakkan bahunya. “Tentu saja. Bukankah kalian mengundangku?”Fenny menggigit bibir, tersenyum tipis namun penuh kemenangan. “Kupikir kamu… datang karena ingin bicara dengan Bram. Atau memohon supaya pernikahan ini tidak terjadi.” Nada suaranya tajam, seolah sedang menikmati dugaan itu.Anaya justru tersenyum kecil, senyum yang justru membuat Fenny tampak terintimidasi.“Tidak, Fen.” Anaya melangkah mendekat dua langkah. “Aku hanya ingin mengucapkan selamat.”Fenny tersentak. “S–Selamat?”“Ya.” Anaya mengangguk dalam. “Selamat karena akhirnya kamu mendapatkan
Anaya berjalan kecil di lorong rumahnya bersama Ridho sebelum matahari terbit, namun tanpa sengaja berpapasan dengan Bram dan Fenny yang melakukan hal sama. Awalnya Anaya tak peduli, terus berlari kecil sambil menggandeng tangan Ridho, namun Bram malah menariknya terlebih dulu."Anaya, kamu harus tahu jika aku masih mencintaimu. Soal kemarin, maaf aku tidak bisa memuaskan mu karena rupanya diriku langsung tertidur setelah melakukannya dengan Fenny!" Ujar Bram terang-terangan. Fenny pun langsung tersenyum sinis penuh bangga, menganggap dirinya di puji. Sementara Anaya malah merasa jijik, menarik tangannya agar tidak di sentuh erat oleh Bram."Menjijikkan!" Umpat Anaya yang sengaja memperbesar suaranya."Apa? Kau mengejek diriku?" Tanya Bram yang sedikit emosi. Matanya melotot tak percaya ke arah Anaya."Aku sudah memuaskannya kemarin, kau tidak perlu mengkhawatirkan istri orang!" Kata Ridho dengan suara di tekan."Istri? Aku tahu kalian hanya menikah tanpa dasar cinta. Anaya masih men
"Kau sengaja merayu Bram karena tidak puas dengan suami mu kan? Siapa suruh memilih suami miskin?" Ujar Fenny yang dengan sengaja mengikuti Anaya ke kamar mandi.Anaya hanya tersenyum tipis, lalu merapikan rambutnya seolah tidak terpancing omongan Fenny. Jelas Anaya ingat apa yang terjadi sebentar lagi."Jika aku tidak salah, kamu akan memberiku obat tidur agar tubuhku bisa di nikmati lelaki brengsek kan?" Tanya Anaya dengan tenang.Wajah Fenny langsung berubah, dia menjadi bingung bagaimana Anaya bisa tahu rencananya."Kau pikir aku takut denganmu? Mungkin dulu pangkat mu lebih tinggi dariku karena kamu punya seorang nenek yang kaya raya. Tetapi akhir-akhir ini aku dengar Nenek Rani bangkrut total. Sekarang kau tidak ada apa-apanya di bandingkan diriku, Anaya!" Tegas Fenny penuh percaya diri.Anaya berbalik, langsung mendekati Fenny sambil berbisik tepat di samping telinga Fenny."Jangan sampai salah sasaran, Fenny. Aku tahu semua gerakan dirimu," Ungkap Anaya sebelum berjalan pergi
"Sedikit demi sedikit, tidak ada yang akan sadar," Senyum tipis penuh kelicikan terpancar.Nenek Rani berdiri di dapur, sendirian. Wajahnya tampak letih namun matanya memancarkan sesuatu yang dingin dan gelap. Tangannya lincah mengaduk semangkuk sup hangat, lalu dari saku kecil apron kumalnya, ia mengeluarkan sebuah botol mungil berwarna cokelat keruh. Cairannya bening, hampir tak terdeteksi. Ia lalu meneteskan dua tetes saja. Kemudian tersenyum tipis.Anaya masuk ke kamar mamanya sambil membawa air hangat.“Mama… ayo makan dulu, ya,” ucapnya lembut.Mama Anindita tersenyum samar. “Mama… capek, Nay. Badan mama rasanya ringan… tapi sakit.”“Mama minum obat dulu. Dokter bilang Mama sehat kok, cuma kecapekan.”Mama Anindita menatap putrinya lemah. “Kalau hanya capek… kenapa Mama makin kurus begini?”Anaya tidak menjawab karena dia sendiri tidak mengerti. Tubuh Mama Anindita terus melemah, padahal hasil pemeriksaan selalu normal. Tidak ada penyakit serius. Tidak ada gangguan organ. Tidak







