Share

2.

last update Last Updated: 2025-11-12 20:35:33

"Aku sudah mengurus semuanya, tolong berikan uang senilai 100 juta padaku!" Perintah Pak Arsyad dengan suara mengancam.

"Atas dasar apa aku memberikannya, Pak?" Tanya balik Mama Anindita dengan wajah kesal. Dia paling benci di manfaatkan seperti ini oleh orang miskin. Meskipun dirinya sering membantu, tetapi dipaksa untuk membantu membuat dirinya tidak terima.

"Anak ibu yang memaksa kami menikahkan anak kami padanya. Anda tahu sendiri, kami belum siap dan belum punya tabungan. Tetapi, dia berjanji akan membayar lunas semua biaya pernikahan bahkan menjanjikan uang 100 juta padaku!" Bu Larissa menyela, menjelaskan detailnya.

Mama Anindita syok parah mendengarnya, mulutnya sampai terbuka membentuk oval.

"Anaya!" Teriaknya dengan keras. Saat itu Anaya sudah tiba, dia panik melihat Mama nya yang emosi.

Anaya tahu, di kehidupan sebelumnya Mama nya syok parah sampai terkena serangan jantung. Karena itu Anaya dibenci semua orang di keluarganya hingga terpaksa mempertahankan pernikahannya dengan Bram meski Bram sudah berselingkuh secara terang-terangan di depannya.

"Tenang, Ma. Tenang dulu, tarik nafas dalam-dalam!" Ucap Anaya yang berlari ke sisi Mama.

"Tenang kamu bilang?!" Suara Mama Anindita semakin lantang membuat dirinya mulai sesak nafas.

"Ma, tenang dulu. Semua ini tidak benar, aku tidak akan menikah dengan Bram!" Balas Anaya dengan cepat.

Kedua orang tua Bram seketika bingung, mereka saling memandang satu sama lain. Namun sebelum bereaksi, Anaya dengan kasar menarik dua orang itu keluar dari rumahnya.

"Anaya, kamu ini kenapa? Jangan kasar sama aku, aku tidak akan merestui dirimu menikah dengan anakku jika kasar begini!" Bela Ibu Larissa yang merasa direndahkan.

"Tolong menjauh dari rumahku. Lagian kenapa kalian ke sini, bukannya harusnya 2 hari lagi kemudian datang?" tanya Anaya yang ikut emosi.

"Aku pikir dipercepat juga bisa, lagian kamu harus memberikan uang 100 juta yang kamu janjikan." Jelas Ibu Larissa dengan angkuh sambil menyodorkan tangannya.

"Benar, Anaya. Asal kamu tahu, Bram itu tidak cinta sama kamu. Kami terpaksa bujuk terus menerus hingga dia mau!" tambah Pak Arsyad dengan bangga, mengira jika Anaya akan senang kali ini.

Namun, tatapan Anaya justru berbeda. Anaya jelas ingat, orang tua Bram ini tidak beda jauh dari anaknya sendiri, sangat suka dengan uang.

"Apa Bram tidak memberitahu orang tuanya?" Batin Anaya sesaat.

"Aduh, Anaya. Jelas sekali kamu sudah menerima lamaran Bram tadi. Buktinya kamu tampak begitu senang. Sekarang berikan uangnya, jangan mencari alasan lagi. Atau aku akan.."

"Apa? Lakukan saja apa yang kamu pikirkan!" Ujar Anaya dengan tersenyum kecut. Dia justru senang jika orang tua Bram tidak setuju dengan pernikahannya.

"Hei, apa kamu yakin?"

Pak Arsyad tampak tak percaya, dia masih ingin berbicara dengan Anaya, tetapi kepalanya malah kejedot pintu. Anaya buru-buru menutup pintu dengan keras.

"Dia kenapa ya? Kok beda sekali?"

"Ala, paling dia malah punya rencana besar-besar. Biasa anak orang kaya, pengen banget kasih kita surprise gitu deh!" Ujar Ibu Larissa yang tidak menganggap tingkah aneh Anaya.

Setelah dua orang itu pergi, Anaya menemui Mama Anindita yang habis minum obat. Anaya memeluknya dengan erat hingga meneteskan air mata.

"Terima kasih yaa, Ma. Masih bertahan sejauh ini. Anaya benar-benar takut kehilangan mama, dunia Anaya terasa runtuh, Ma. Tempat Anaya mengadu di dunia ini sudah tidak ada jika mama pergi sangat cepat!" Ujar Anaya tak kuasa menahan kesedihannya.

"Maksud kamu apa sih, Anaya? Kamu pikir mama akan meninggalkanmu hanya karena kamu memilih menikah dengan keluarga seperti Bram itu? Bukannya mama gak setuju, tetapi pikir dulu deh. Bram itu bukan laki-laki yang baik buat kamu!" balas Mama Anindita sambil mengelus rambut panjang Anaya.

"Iya, Ma. Aku tahu kok!" Jawab Anaya.

Mereka lalu berpelukan dengan erat hingga pelukan itu berhenti ketika seseorang mengetuk pintu dari luar.

Anaya pikir jika orang tua Bram kembali dan ingin memperpanjang masalah ini. Karena itu Anaya memutuskan untuk membuka pintu sambil menyiapkan sapu agar bisa memberi mereka pelajaran.

Ketika pintu dibuka, Anaya langsung mengayunkan sapu dengan keras membuat orang itu menjerit kesakitan.

"Sakit tau, Anaya!" Ucap Ridho dengan mata membulat.

Ekspresi Anaya langsung berubah total. Dia tidak tahu jika yang datang adalah Ridho, mantan pacarnya.

"Kau... Kau..." Anaya langsung memeluk musuh sejak kecilnya sekaligus mantan pacarnya yang belum lama ini dia putuskan.

"Kenapa nih? Masih cinta sama aku apa hanya mau manas-manasin si Bram?" Tanya Ridho dengan dingin, namun manik matanya seolah berkata lain.

"Gak lah, aku itu sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi dengan Bram!"

"What? Bukannya kamu barusan di lamar Bram?" Tanya Ridho dengan penasaran. Anaya langsung tersenyum karena dia tahu Ridho ada disana waktu itu. Anaya juga melihatnya karena itu Ridho langsung pergi dengan terburu-buru.

"Ridho, ayo menikah denganku!" Ucap Anaya mendadak. Ini membuat Ridho tak siap hingga buah yang dia bawa seketika terjatuh.

"Apa? Denganku?"

"Aku serius!"

"Jangan bercanda, bukannya kau memilih putus denganku hanya karena mengejar cinta Bram? Kau bahkan sampai rela memberikan semua uangmu demi bisa mendapatkan Bram. Lalu, kenapa tiba-tiba.." Ridho masih bingung, tetapi Anaya langsung memeluknya dengan erat. Pelukan yang penuh arti.

"Dulu aku memilih Bram dan berakhir tragis. Kali ini aku ingin memilih orang yang benar-benar tulus mencintaiku, bukan mencintai hartahku!" Bisik Anaya.

Jantung Ridho berdetak cepat, sejujurnya dia sudah lama mencintai Anaya, bahkan sejak mereka kecil. Alasan Ridho selalu mengganggu Anaya karena tidak suka Anaya terus-terusan dekat dengan lelaki lain termasuk Bram.

"Tetapi Anaya, kita berbeda. Beda status. keluargamu tidak akan setuju!" Ucap Ridho dengan wajah cemberut.

Iya, dia hanyalah seorang pengantar buah keliling di kota ini. Ridho bahkan tidak punya keluarga dan hanya seorang anak yatim piatu. Tidak mungkin bisa menikah dengan Anaya yang seorang anak orang kaya. Jelas ini bertentangan dengan prinsip keluarga Anaya.

"Aku tahu itu. Keluargaku tidak akan setuju, tetapi aku punya cara membuat mereka setuju!" Ujar Anaya dengan tersenyum licik.

"Apa?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Imamah Nur
Astaga Anaya! Malah melamar Ridho...
goodnovel comment avatar
kamiya san
Semangat, Ana. Don't worry be happy. Ridho adalah CEO yang menyamar! Yeyeee
goodnovel comment avatar
Wee Daevii
hmmm akan lebih seru kalau ridho anak orang kaya juga...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Obsesi Terpendam Sang Mantan   15.

    “Kamu yakin mau pasang CCTV di sini?” tanya Ridho sambil mengangkat satu kamera kecil.Anaya mengangguk mantap. “Aku tidak mau menebak-nebak lagi. Bibit stroberi itu mati bukan karena cuaca.”Ridho terdiam sejenak, lalu menghela napas. “Aku juga merasa aneh. Tanahnya bagus, pupuknya tepat. Tidak masuk akal semuanya busuk sekaligus.”Mereka memasang kamera di beberapa sudut kebun, dekat sumber air, di balik pohon kecil, dan menghadap langsung ke bedengan stroberi. Anaya berdiri memperhatikan layar kecil di ponselnya saat Ridho mengatur sudut pandang.“Kalau memang ada yang sengaja merusak,” kata Anaya pelan, “aku ingin melihat wajahnya.”Ridho menoleh. “Apa kamu siap?”Anaya menatap kebun itu lama. “Aku sudah terlalu lama tidak siap. Sekarang aku hanya ingin kebenaran.”Setelah semuanya terpasang, mereka mulai menanam bibit stroberi yang baru. Ridho menggali lubang kecil, Anaya menata akar dengan hati-hati, jemarinya kotor tanah namun gerakannya lembut.“Kamu selalu telaten,” ujar Ridh

  • Obsesi Terpendam Sang Mantan   14.

    “Sekarang,” ucap Anaya datar.Layar kembali menyala, bukan menampilkan Ridho.Bram mengerutkan kening. “Apa ini?” gumamnya.Foto-foto lama bermunculan. Seorang gadis muda dengan pakaian balet sederhana. Rambut diikat seadanya. Keringat membasahi pelipis. Di sudut foto tertera tanggal bertahun-tahun lalu.“Itu… Anaya?” bisik seorang tamu.Video berganti. Rekaman latihan balet di studio kecil. Gerakan yang rapi, kuat, dan penuh disiplin.Bram terdiam. “Tidak… itu bukan—”“Lanjutkan,” suara Anaya terdengar, tetap tenang.Dokumentasi lain muncul: sketsa tangan, lukisan setengah jadi, lalu lukisan balet yang sama—yang tadi dijadikan kado.Bram menoleh ke Fenny. “Kamu bilang… kamu yang melukis itu.”Fenny menelan ludah. “Bram, aku bisa jelaskan—”“Kapan?” potong Bram, suaranya meninggi. “Kapan kamu belajar melukis seperti itu?”Fenny gemetar. “Aku—aku terinspirasi—”“Terinspirasi?” Bram tertawa pendek, pahit. “Atau mencuri?”Ruangan sunyi. Kamera-kamera ponsel mulai terangkat.Anaya melangk

  • Obsesi Terpendam Sang Mantan   13.

    Langkah Anaya berhenti seketika ketika suara kecil terdengar dari belakangnya.“A–Apa?”Anaya menoleh cepat. Di belakangnya berdiri Fenny, mengenakan gaun putih berpayet yang berkilauan memantulkan cahaya lampu gedung. Wajahnya jelas menegang antara kaget, gugup, dan gengsi yang dipaksa tampil anggun.“Anaya? Kamu… datang ke sini?” Fenny bertanya sambil memegang pinggir gaunnya, seolah ragu apakah pandangan matanya benar.Anaya menegakkan bahunya. “Tentu saja. Bukankah kalian mengundangku?”Fenny menggigit bibir, tersenyum tipis namun penuh kemenangan. “Kupikir kamu… datang karena ingin bicara dengan Bram. Atau memohon supaya pernikahan ini tidak terjadi.” Nada suaranya tajam, seolah sedang menikmati dugaan itu.Anaya justru tersenyum kecil, senyum yang justru membuat Fenny tampak terintimidasi.“Tidak, Fen.” Anaya melangkah mendekat dua langkah. “Aku hanya ingin mengucapkan selamat.”Fenny tersentak. “S–Selamat?”“Ya.” Anaya mengangguk dalam. “Selamat karena akhirnya kamu mendapatkan

  • Obsesi Terpendam Sang Mantan   12.

    Anaya berjalan kecil di lorong rumahnya bersama Ridho sebelum matahari terbit, namun tanpa sengaja berpapasan dengan Bram dan Fenny yang melakukan hal sama. Awalnya Anaya tak peduli, terus berlari kecil sambil menggandeng tangan Ridho, namun Bram malah menariknya terlebih dulu."Anaya, kamu harus tahu jika aku masih mencintaimu. Soal kemarin, maaf aku tidak bisa memuaskan mu karena rupanya diriku langsung tertidur setelah melakukannya dengan Fenny!" Ujar Bram terang-terangan. Fenny pun langsung tersenyum sinis penuh bangga, menganggap dirinya di puji. Sementara Anaya malah merasa jijik, menarik tangannya agar tidak di sentuh erat oleh Bram."Menjijikkan!" Umpat Anaya yang sengaja memperbesar suaranya."Apa? Kau mengejek diriku?" Tanya Bram yang sedikit emosi. Matanya melotot tak percaya ke arah Anaya."Aku sudah memuaskannya kemarin, kau tidak perlu mengkhawatirkan istri orang!" Kata Ridho dengan suara di tekan."Istri? Aku tahu kalian hanya menikah tanpa dasar cinta. Anaya masih men

  • Obsesi Terpendam Sang Mantan   11. 21+

    "Kau sengaja merayu Bram karena tidak puas dengan suami mu kan? Siapa suruh memilih suami miskin?" Ujar Fenny yang dengan sengaja mengikuti Anaya ke kamar mandi.Anaya hanya tersenyum tipis, lalu merapikan rambutnya seolah tidak terpancing omongan Fenny. Jelas Anaya ingat apa yang terjadi sebentar lagi."Jika aku tidak salah, kamu akan memberiku obat tidur agar tubuhku bisa di nikmati lelaki brengsek kan?" Tanya Anaya dengan tenang.Wajah Fenny langsung berubah, dia menjadi bingung bagaimana Anaya bisa tahu rencananya."Kau pikir aku takut denganmu? Mungkin dulu pangkat mu lebih tinggi dariku karena kamu punya seorang nenek yang kaya raya. Tetapi akhir-akhir ini aku dengar Nenek Rani bangkrut total. Sekarang kau tidak ada apa-apanya di bandingkan diriku, Anaya!" Tegas Fenny penuh percaya diri.Anaya berbalik, langsung mendekati Fenny sambil berbisik tepat di samping telinga Fenny."Jangan sampai salah sasaran, Fenny. Aku tahu semua gerakan dirimu," Ungkap Anaya sebelum berjalan pergi

  • Obsesi Terpendam Sang Mantan   10. 21+

    "Sedikit demi sedikit, tidak ada yang akan sadar," Senyum tipis penuh kelicikan terpancar.Nenek Rani berdiri di dapur, sendirian. Wajahnya tampak letih namun matanya memancarkan sesuatu yang dingin dan gelap. Tangannya lincah mengaduk semangkuk sup hangat, lalu dari saku kecil apron kumalnya, ia mengeluarkan sebuah botol mungil berwarna cokelat keruh. Cairannya bening, hampir tak terdeteksi. Ia lalu meneteskan dua tetes saja. Kemudian tersenyum tipis.Anaya masuk ke kamar mamanya sambil membawa air hangat.“Mama… ayo makan dulu, ya,” ucapnya lembut.Mama Anindita tersenyum samar. “Mama… capek, Nay. Badan mama rasanya ringan… tapi sakit.”“Mama minum obat dulu. Dokter bilang Mama sehat kok, cuma kecapekan.”Mama Anindita menatap putrinya lemah. “Kalau hanya capek… kenapa Mama makin kurus begini?”Anaya tidak menjawab karena dia sendiri tidak mengerti. Tubuh Mama Anindita terus melemah, padahal hasil pemeriksaan selalu normal. Tidak ada penyakit serius. Tidak ada gangguan organ. Tidak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status