로그인Pukul 06.00 pagi—satu jam lebih cepat dari biasanya—Lina sudah bangun. Dia tidak bisa tidur nyenyak semalam, pikirannya selalu tergeser ke Tuan Muda Candra dan kata-katanya yang mengerikan: "Kamu adalah milik saya". Dia menggoyangkan kepala, mencoba menghilangkan bayangan itu, lalu segera mandi dan memakai baju baru yang dia beli semalam—kemeja biru muda dan rok hitam yang lebih rapi dari yang biasa dia pakai.
Setelah sarapan cepat, Lina keluar dari kosan. Bu Mimin yang sedang menyiram bunga melihat dia berjalan tergesa-gesa. "Lina, pagi banget ya hari ini? Kerja makin sibuk ya?" tanya Bu Mimin dengan senyum. "Ya, Bu. Ada tugas baru," jawab Lina dengan senyum paksa. Dia segera menuju halte bis, berharap bisa tiba di perusahaan lebih awal dari jam 07.00 yang ditetapkan Candra. Bis datang tepat waktu, dan kali ini Lina bisa mendapatkan tempat duduk. Dia membuka daftar tugas yang diberikan Candra semalam—mulai dari menyusun jadwal rapat, mengelola surat-menyurat, sampai menyiapkan segala kebutuhan kantornya. Semua itu benar-benar baru bagi dia, dan dia merasa jantungnya berdebar kencang. Setelah tiba di perusahaan, Lina langsung menuju lift menuju lantai lima. Lift itu berjalan lancar, tapi perasaannya semakin ketat seiring dengan naiknya lantai. Ketika pintu lift terbuka, dia melihat lorong yang bersih dan teratur, jauh berbeda dari lantai tiga yang ramai. Di ujung lorong, ada pintu kayu hitam yang besar dengan tulisan "KANTOR TUAN MUDA CANDRA" yang mencolok. Lina berdiri di depan pintu selama beberapa detik, mengumpulkan keberanian. Dia menekan tombol bel, dan dalam sekejap suara Candra terdengar dari dalam: "Masuk." Dia membuka pintu perlahan. Kantor Candra sangat luas, dengan lantai marmer putih, jendela besar yang menghadap kota, dan meja kerja yang besar made of kayu hitam. Candra sudah ada di sana, duduk sambil membaca berkas, tanpa melihat Lina sama sekali. "Selamat pagi, Pak Candra. Saya sudah sampai," ujar Lina dengan suara yang terkontrol. Candra akhirnya mengangkat kepala, matanya tajam sekali melihatnya. "Tepat waktu. Bagus," katanya dengan suara yang tetap dingin. Dia melemparkan selembar kertas ke arah Lina. "Hari ini kamu akan menyusun jadwal rapat mingguan untuk semua proyek baru. Semua data ada di komputer meja kecil di sudut sana. Selesaikan sebelum jam 10.00." Lina mengambil kertas dan berjalan ke komputer yang disebutkan. Dia membuka file yang ada, dan wajahnya langsung memerah—data yang ada sangat banyak dan rumit, jauh lebih kompleks dari apa yang dia kerjakan di departemen administrasi. Dia bekerja dengan cepat, mencoba memahami setiap detail, tapi kadang-kadang dia merasa bingung. Setelah hampir dua jam bekerja, dia masih belum selesai. Dia melihat jam—sudah pukul 09.45. Dia merasa cemas, takut Candra marah. Tiba-tiba, dia merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Dia berbalik, dan melihat Candra berdiri tepat di sampingnya, matanya melihat layar komputer. "Kamu salah menyusun jadwal proyek 'Permata Hijau'. Rapatnya seharusnya hari Selasa, bukan Rabu. Dan jangan lupa tambahkan rapat dengan pemasok di hari Kamis pagi," katanya dengan suara yang dingin, tapi tidak marah—hanya seolah-olah sedang menegur pekerja yang tidak cermat. Lina mengangguk cepat. "Maaf, Pak. Saya akan perbaiki segera." Candra tetap berdiri di belakangnya, menonton dia bekerja. Lina merasa kulitnya meremang—jarak mereka sangat dekat, dia bahkan bisa mencium bau wangi parfum yang kuat dari badannya. Dia bekerja dengan tangan yang sedikit gemetar, dan akhirnya selesai tepat pada jam 10.00. "Baik. Sekarang kamu ke kantor keuangan untuk mengambil laporan bulanan. Jangan sampai ada kesalahan sedikitpun," katanya, lalu kembali ke meja kerjanya. Lina keluar dari kantor dengan napas lega. Dia berjalan ke lantai dua, ke kantor keuangan. Di sana, dia bertemu Pak Anton, kepala departemen keuangan yang dia kenal sebelumnya. "Lina? Kamu jadi asisten Tuan Muda Candra ya? Semangat ya, dia itu orangnya ketat banget," ujar Pak Anton sambil memberikannya berkas laporan. Setelah mendapatkan berkas, Lina kembali ke lantai lima. Ketika dia membuka pintu kantor Candra, dia melihat dia sedang berbicara telepon dengan suara yang marah. "Aku bilang jangan ganggu aku hari ini! Semua proyek harus berjalan sesuai rencana, tidak ada alasan apapun!" teriak dia, lalu mematikan telepon dengan keras. Lina berdiri di pintu, tidak berani masuk. Candra melihatnya, dan wajahnya sedikit mereda. "Masuk. Berikan laporan itu." Lina mendekat dan memberikannya berkas. Candra membacanya dengan cepat, lalu mengangguk. "Tidak ada kesalahan. Bagus. Sekarang kamu siapkan minuman kopi saya—hitam, tidak ada gula, suhu sedang." Selama hari itu, Lina bekerja tanpa istirahat. Candra memberinya tugas satu demi satu, dan dia harus bekerja cepat untuk menyelesaikannya. Kadang-kadang, Candra akan mendekati dia dan memberitahukan kesalahan yang dia buat, dan setiap kali itu Lina merasa tekanan. Tapi dia juga merasa heran—kadang-kadang, dia melihat ekspresi lembut di mata Candra yang cepat hilang, seolah-olah dia tidak sengaja menampilkannya. Pukul 17.00, hari kerja selesai. Lina sedang membersihkan meja kecilnya ketika Candra berbicara: "Kamu pulang duluan. Besok datang jam 06.30. Kita akan ke lokasi proyek 'Permata Hijau'." Lina mengangguk. "Baik, Pak." Dia mengambil tasnya dan berjalan ke pintu. Sebelum keluar, dia berbalik dan melihat Candra yang sedang melihat foto kecil di laci meja—foto yang dia tidak bisa lihat dengan jelas. "Pak, apakah ada tugas lain yang harus saya kerjakan malam ini?" tanya dia. Candra mengangkat kepala, matanya melihatnya dengan ekspresi yang tidak jelas. "Tidak. Pulang dan istirahat. Besok kita akan keluar pagi." Lina keluar dari kantor dan menuju lift. Dia merasa lelah banget, tapi juga penasaran—mengapa Candra selalu melihat foto itu? Dan mengapa dia memilih dia sebagai asistennya, padahal dia tidak berpengalaman? Saat dia berdiri di halte bis, menunggu kendaraannya, dia merasa seseorang sedang melihatnya. Dia melihat ke sekeliling, dan melihat sebuah mobil hitam yang besar terparkir di kejauhan. Jendela mobil itu sedikit terbuka, dan dia melihat sepasang mata hitam yang tajam sedang melihatnya—mata yang dia kenal terlalu baik. Dia merasa bulu kuduknya berdiri. Tuan Muda Candra sedang mengawasinya. Lina merasa sedikit takut ,tapi berusaha terlihat baik -baik saja ,ia tak mau lelaki itu menyadari gelagat nya . Ya Tuhan ,aku hanya mau hidup dengan tenang tanpa adanya ganguan lagi,batin Lina ingin menangis rasanya . Semoga saja besok lebih baik dari hari ini ,lanjut lina berucap sambil berdoa dengan sangat memohon . Dan tanpa di sadari ,besok adalah awal dari semua kehidupan yang akan membuatnya bertambah gila .Kemudian pagi tiba dengan sinar matahari yang menyinari hutan. Jalan keluar sudah dibersihkan oleh pekerja, dan mobil Candra siap untuk kembali ke kota. Lina duduk di dalam mobil dengan wajah pucat, tangan menggenggam tas kecilnya dengan erat. Candra mengemudi dengan tenang, tapi sesekali dia melihat ke arah Lina dengan tatapan yang penuh kasih sayang—kasih sayang yang semakin membuat Lina merasa terkurung. "Sekarang kita bisa mulai merencanakan masa depan kita, sayang," ujar Candra sambil menjepit tangan Lina yang ada di kursi sebelahnya. "Rumah utama sudah hampir selesai. Kamu akan tinggal di sana dengan aku, jauh dari semua masalah." Lina mencoba menarik tangannya perlahan. "Pak, saya... saya masih punya keluarga di desa. Saya perlu kembali untuk melihat mereka." Candra mengerutkan kening, ekspresi wajahnya sedikit berubah. "Kamu tidak perlu khawatir tentang mereka lagi. Aku sudah mengirimkan uang yang cukup banyak untuk mereka. Mereka aka
Kegelapan yang tiba-tiba membuat Lina terkejut, dia menutup mulut dengan tangannya untuk menahan suara teriak yang hampir keluar. Udara di dalam kantor sementara terasa semakin dingin, dan suara serangga yang tadinya menyemarakkan kini terasa mengerikan. Dia meraih senter kecil yang ada di atas meja kayu, menyalakannya dengan tangan yang gemetar. Cahaya tipis dari senter itu hanya mampu menerangi area kecil di depannya."Ada seseorang di sini?" bisiknya, meskipun tahu tidak ada yang bisa menjawab selain dirinya sendiri.Tiba-tiba, suara ketukan lembut terdengar dari pintu kantor. Tap... tap... tap... Polanya teratur tapi penuh dengan ancaman. Lina menekuk tubuhnya ke belakang, menjauhi pintu sambil tetap menunjuk senter ke arah sumber suara."Siapa itu? Pak Candra? Pak Suroto?" tanyanya dengan suara gemetar.Tidak ada jawaban. Ketukan kembali terdengar, kali ini lebih keras. Lalu, pintu kayu yang sudah lapuk itu perlahan terbuka tanpa disentuh. Angin sepoi-sepoi masuk, membawa aroma b
Lina menggigit bibirnya. "Rumah utama, Pak?""Ya. Semua rencana ini dibuat denganmu dalam pikiran, Lina." Candra mendekat dan menepuk bahunya. "Kamu akan memiliki kamar yang penuh dengan bunga kesukaanmu, dan teras yang menghadap pemandangan bukit. Kamu tidak akan pernah merasa bosan di sini."Sebelum Lina sempat menjawab, bunyi mobil yang mendekat terdengar. Mereka melihat sebuah mobil mewah masuk ke lokasi, berhenti di dekat mereka. Pintu mobil terbuka, dan seorang wanita muda dengan rambut pirang yang lurus dan wajah cantik keluar. Dia memakai gaun putih yang mewah dan sepatu tinggi, terlihat sangat berbeda dengan suasana hutan.Candra melihatnya dengan wajah yang memerah. "Sofia? Apa yang kamu lakukan di sini?"Wanita itu tersenyum lebar dan mendekat. "Hai, Candra! Ibu bilang kamu ada di sini, jadi aku mau melihatmu. Dan juga ingin melihat proyek yang kamu kerjakan—ternyata sangat indah ya, meskipun masih dalam pembangunan." Dia lalu melihat Lina, dan senyumnya sedikit memucat. "S
Candra mendekat, tangannya hampir menyentuh bahunya. "Jangan takut, Lina. Saya akan merawatmu dengan baik. Di sini, kamu tidak akan pernah merasa sendirian lagi." Suaranya lembut, tapi ada nada kepastian yang membuat Lina merinding.Dia menunduk, memegang catatan di tasnya dengan erat. "Pak, saya hanya asistenmu. Saya datang untuk bekerja, bukan untuk..." Dia tidak berani menyelesaikan kalimatnya.Candra memegang dagunya dengan lembut, memutar wajahnya agar melihatnya. Matanya yang biasanya tajam sekarang terisi sesuatu yang mirip keinginan. "Bekerja? Ya, kamu akan bekerja di sini juga. Menjadi bagian dari semua ini—bagian dari kehidupanku." Dia melepaskan tangannya dan menunjuk ke jendela. "Ayo, kita lihat struktur tanah seperti yang direncanakan."Lina mengikuti dengan langkah yang lambat. Luarnya, matahari sudah terbit sepenuhnya, menerangi setiap sudut tanah luas itu. Pekerja bekerja dengan giat—beberapa membongkar material, yang lain mengukur tanah dengan alat. Udara terasa segar
Pukul 05.30 pagi, langit masih terbungkus kegelapan yang pekat ketika Lina membuka mata. Malam ini dia tidak bisa tidur sama sekali—bayangan mata Candra yang mengawasinya di halte bis kemarin selalu terngiang-ngiang, campur dengan kata-katanya yang menyakitkan: "Kamu adalah milik saya". Dia merasakan getaran dingin di punggungnya, lalu segera bangkit dan mandi dengan air yang sedikit lebih hangat untuk menenangkan diri.Dia memakai baju kerja yang lebih awet: kemeja coklat muda yang tidak terlalu ketat, celana panjang hitam, dan sepatu kets yang nyaman—karena dia tahu akan berjalan banyak di lokasi proyek. Dia memasukkan catatan tebal, pensil beberapa warna, botol air, dan sepotong roti ke dalam tasnya—takut tidak ada waktu makan di luar.Ketika dia keluar dari kamar, Bu Mimin sudah ada di depan pintu kosan, menyiram bunga dengan sebotol semprot. Cahaya lampu jalan sedikit menerangi wajahnya yang khawatir."Lina, pagi banget lagi hari ini? Kamu harus jaga kesehatan ya, jangan terlalu
Pukul 06.00 pagi—satu jam lebih cepat dari biasanya—Lina sudah bangun. Dia tidak bisa tidur nyenyak semalam, pikirannya selalu tergeser ke Tuan Muda Candra dan kata-katanya yang mengerikan: "Kamu adalah milik saya". Dia menggoyangkan kepala, mencoba menghilangkan bayangan itu, lalu segera mandi dan memakai baju baru yang dia beli semalam—kemeja biru muda dan rok hitam yang lebih rapi dari yang biasa dia pakai.Setelah sarapan cepat, Lina keluar dari kosan. Bu Mimin yang sedang menyiram bunga melihat dia berjalan tergesa-gesa. "Lina, pagi banget ya hari ini? Kerja makin sibuk ya?" tanya Bu Mimin dengan senyum."Ya, Bu. Ada tugas baru," jawab Lina dengan senyum paksa. Dia segera menuju halte bis, berharap bisa tiba di perusahaan lebih awal dari jam 07.00 yang ditetapkan Candra.Bis datang tepat waktu, dan kali ini Lina bisa mendapatkan tempat duduk. Dia membuka daftar tugas yang diberikan Candra semalam—mulai dari menyusun jadwal rapat, mengelola surat-menyurat, sampai menyiapkan segala







