로그인
Pukul 06.30 pagi, sinar matahari yang lembut menyinari kamar kecil yang terletak di lantai dua gedung kosan tua di pinggiran kota.
Lina bangun dari tidurnya, mengusap mata yang masih ngantuk dan melihat ke arah jam dinding—dia hampir terlambat untuk bekerja. Dia segera bangkit, mengambil baju kerja yang tergantung di kursi dan memakaikannya dengan cepat. Baju itu adalah kemeja putih dan rok hitam yang biasa dia pakai sebagai staf administrasi di perusahaan properti "Griya Permata Abadi". Setelah mandi dan sarapan sebentar dengan roti dan teh tawar, Lina keluar dari kamar dan menuju lift. Gedung kosannya sudah cukup tua, liftnya sering macet, jadi dia lebih suka naik tangga. Di lantai satu, dia bertemu Bu Mimin, pemilik kosan yang sedang membersihkan halaman. "Lina, pagi ya! Jangan lupa makan yang cukup ya, kalo kerja sibuk jangan lupa istirahat," ujar Bu Mimin dengan senyum hangat. "Terima kasih, Bu. Aku akan ingat," jawab Lina sambil tersenyum kembali. Dia segera berjalan ke halte bis, karena jarak dari kosan ke perusahaan sekitar sepuluh kilometer dan dia tidak punya kendaraan sendiri. Bis yang dia tunggu datang sekitar sepuluh menit kemudian, dan dia naik bersama ratusan orang lain yang juga sedang menuju tempat kerja. Udara di dalam bis padat dan panas, tapi Lina sudah terbiasa—ini sudah menjadi bagian dari kehidupannya selama dua tahun terakhir, semenjak dia pindah dari kota kecilnya ke Jakarta untuk mencari kerja. Setelah perjalanan selama sekitar tiga puluh menit, bis tiba di halte terdekat dengan perusahaan. Lina berjalan cepat menuju gedung Griya Permata Abadi—sebuah gedung bertingkat lima yang terlihat megah dengan logo perusahaan yang mencolok di bagian depan. Dia masuk ke dalam, menyapa petugas keamanan di pintu dan langsung menuju lantai tiga, di mana departemen administrasi berada. Di kantor, dia melihat temannya, Siti, yang sudah ada di mejanya. "Lina, kamu hampir terlambat loh! Tadi Pak Manager minta kamu segera ke ruang rapat setelah datang," ujar Siti dengan suara pelan, khawatir orang lain mendengar. Lina mengagetkan. "Kenapa? Ada apa ya?" dia tanya, sedangkan tangannya sedang menyusun dokumen di mejanya. "Saya juga nggak tahu, tapi keliatan Pak Manager lagi sibuk banget. Ada tamu penting yang datang, katanya. Orang bilang itu adalah putra pemilik perusahaan, Tuan Muda Candra," jawab Siti sambil mengedipkan mata. Lina mengangkat alis. Dia pernah mendengar nama Tuan Muda Candra—dia adalah putra tunggal dari Bapak Hadi, pemilik Griya Permata Abadi yang juga salah satu pengusaha properti terbesar di Jakarta. Katanya, dia muda, tampan, tapi juga sangat dingin dan sulit didekati. Banyak orang bilang dia hanya memikirkan bisnis dan tidak peduli dengan orang lain. "Baik, aku akan ke ruang rapat sekarang," ujar Lina sambil mengambil catatan dan pensil. Dia berjalan ke arah ruang rapat yang terletak di sudut lantai tiga. Sebelum memasuki pintu, dia mendengar suara laki-laki yang dalam dan tegas di dalamnya. Dia menekan tombol bel dan mendengar suara yang menyuruh dia masuk. Ketika pintu terbuka, Lina melihat Pak Manager yang sedang berdiri di samping meja rapat yang besar. Di depan meja itu, ada seorang pria muda yang duduk dengan posisi tegak. Pria itu memiliki rambut hitam yang rapi, wajah yang simetris dengan alis tebal dan mata hitam yang tajam. Dia memakai jas hitam yang rapi dan dasi hitam—penampilan yang membuatnya terlihat semakin serius dan menakutkan. "Ini Lina, staf administrasi yang saya maksudkan, Pak Candra," ujar Pak Manager dengan senyum yang kaku. Tuan Muda Candra melihat Lina dengan mata yang tajam, seolah-olah sedang menilai setiap bagian badannya. Lina merasa tertekan dan ingin segera keluar dari ruang itu, tapi dia berusaha tetap tenang. "Selamat pagi, Pak Candra," ujar dia dengan suara yang sedikit gemetar. Candra tidak menjawab langsung. Dia melihat Lina selama beberapa detik yang terasa seperti abadi, kemudian berkata dengan suara yang dingin: "Kamu adalah yang paling berpengalaman di departemen administrasi selain Pak Manager?" "Ya, Pak. Saya sudah bekerja di sini selama dua tahun," jawab Lina dengan hati-hati. "Baik. Mulai hari ini, kamu akan menjadi asisten pribadiku. Semua tugasmu yang lama akan diberikan ke orang lain. Kamu akan bekerja langsung di lantai lima, di kantor saya," ujar Candra tanpa memberi kesempatan Lina untuk menolak. Lina terkejut. "Tapi, Pak—saya tidak pernah bekerja sebagai asisten pribadi. Saya khawatir tidak mampu—" "Cukup. Saya tidak mau mendengar alasan. Kamu punya satu minggu untuk mempelajari semua tugas. Kalau tidak mampu, silakan berhenti," potong Candra dengan suara yang semakin dingin. Dia mengambil selembar kertas dan memberikannya ke Lina. "Ini daftar tugasmu. Datang ke kantor saya besok pagi pukul 07.00, tepat waktu." Lina menerima kertas dengan tangan yang sedikit gemetar. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Pak Manager menyuruh dia keluar dari ruang rapat, dan dia berjalan keluar dengan langkah yang lambat. Di luar, Siti sedang menunggu dia. "Bagaimana? Apa yang terjadi?" tanya Siti dengan khawatir. Lina menunjukkan selembar kertas itu ke Siti. "Aku jadi asisten pribadi Tuan Muda Candra," jawab dia dengan suara yang lemah. Siti terkejut. "Wah, itu besar banget! Tapi kenapa kamu keliatan sedih? Ini kesempatan bagus untuk karirmu loh." Lina mengangguk, tapi dia tidak merasa senang. Dia melihat ke arah lantai lima, di mana kantor Candra berada, dan merasakan sesuatu yang aneh di dalam hatinya—seolah-olah ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi. Dia tidak tahu apa itu, tapi dia merasa bahwa kehidupannya akan berubah sepenuhnya mulai dari hari itu. Setelah bekerja seharian dengan perasaan bingung dan cemas, Lina pulang ke kosan. Dia membuka pintu kamar dan langsung jatuh di tempat tidur. Dia memikirkan tentang Tuan Muda Candra—matanya yang tajam, suaranya yang dingin, dan cara dia berbicara yang tidak peduli dengan perasaan orang lain. Dia tidak mengerti mengapa Candra memilih dia sebagai asisten pribadinya—dia hanyalah staf administrasi biasa yang tidak memiliki keistimewaan apapun. Saat malam tiba, Lina tidak bisa tidur. Dia berdiri di jendela kamar, melihat lampu-lampu kota yang menyala. Dia memikirkan tentang masa depan yang tidak jelas, tentang tugas baru yang akan dia kerjakan, dan tentang Tuan Muda Candra yang menjadi bagian dari kehidupannya. Dia tidak menyadari bahwa pada saat itu, di gedung tinggi yang jauh di sana, Tuan Muda Candra juga sedang melihat ke arah arah kosannya—mata dia penuh dengan ekspresi yang tidak bisa dipahami, seolah-olah dia sedang memikirkan sesuatu yang sangat mendalam tentang Lina. Dia membuka laci meja dan mengambil foto kecil yang ada di dalamnya. Di foto itu, terlihat seorang gadis muda dengan rambut hitam yang lurus dan senyum yang ceria—itu adalah foto Lina yang dia dapatkan beberapa bulan yang lalu, sebelum dia memutuskan untuk datang ke perusahaan dan memilih dia sebagai asisten pribadinya. Candra melihat foto itu dengan mata yang lembut, sesuatu yang jarang dia tunjukkan kepada orang lain. "Kamu tidak akan pernah melarikan diri dari saya, Lina," bisik dia dengan suara yang lemah. "Kamu adalah milik saya, dan hanya saya yang berhak memiliki kamu."Kemudian pagi tiba dengan sinar matahari yang menyinari hutan. Jalan keluar sudah dibersihkan oleh pekerja, dan mobil Candra siap untuk kembali ke kota. Lina duduk di dalam mobil dengan wajah pucat, tangan menggenggam tas kecilnya dengan erat. Candra mengemudi dengan tenang, tapi sesekali dia melihat ke arah Lina dengan tatapan yang penuh kasih sayang—kasih sayang yang semakin membuat Lina merasa terkurung. "Sekarang kita bisa mulai merencanakan masa depan kita, sayang," ujar Candra sambil menjepit tangan Lina yang ada di kursi sebelahnya. "Rumah utama sudah hampir selesai. Kamu akan tinggal di sana dengan aku, jauh dari semua masalah." Lina mencoba menarik tangannya perlahan. "Pak, saya... saya masih punya keluarga di desa. Saya perlu kembali untuk melihat mereka." Candra mengerutkan kening, ekspresi wajahnya sedikit berubah. "Kamu tidak perlu khawatir tentang mereka lagi. Aku sudah mengirimkan uang yang cukup banyak untuk mereka. Mereka aka
Kegelapan yang tiba-tiba membuat Lina terkejut, dia menutup mulut dengan tangannya untuk menahan suara teriak yang hampir keluar. Udara di dalam kantor sementara terasa semakin dingin, dan suara serangga yang tadinya menyemarakkan kini terasa mengerikan. Dia meraih senter kecil yang ada di atas meja kayu, menyalakannya dengan tangan yang gemetar. Cahaya tipis dari senter itu hanya mampu menerangi area kecil di depannya."Ada seseorang di sini?" bisiknya, meskipun tahu tidak ada yang bisa menjawab selain dirinya sendiri.Tiba-tiba, suara ketukan lembut terdengar dari pintu kantor. Tap... tap... tap... Polanya teratur tapi penuh dengan ancaman. Lina menekuk tubuhnya ke belakang, menjauhi pintu sambil tetap menunjuk senter ke arah sumber suara."Siapa itu? Pak Candra? Pak Suroto?" tanyanya dengan suara gemetar.Tidak ada jawaban. Ketukan kembali terdengar, kali ini lebih keras. Lalu, pintu kayu yang sudah lapuk itu perlahan terbuka tanpa disentuh. Angin sepoi-sepoi masuk, membawa aroma b
Lina menggigit bibirnya. "Rumah utama, Pak?""Ya. Semua rencana ini dibuat denganmu dalam pikiran, Lina." Candra mendekat dan menepuk bahunya. "Kamu akan memiliki kamar yang penuh dengan bunga kesukaanmu, dan teras yang menghadap pemandangan bukit. Kamu tidak akan pernah merasa bosan di sini."Sebelum Lina sempat menjawab, bunyi mobil yang mendekat terdengar. Mereka melihat sebuah mobil mewah masuk ke lokasi, berhenti di dekat mereka. Pintu mobil terbuka, dan seorang wanita muda dengan rambut pirang yang lurus dan wajah cantik keluar. Dia memakai gaun putih yang mewah dan sepatu tinggi, terlihat sangat berbeda dengan suasana hutan.Candra melihatnya dengan wajah yang memerah. "Sofia? Apa yang kamu lakukan di sini?"Wanita itu tersenyum lebar dan mendekat. "Hai, Candra! Ibu bilang kamu ada di sini, jadi aku mau melihatmu. Dan juga ingin melihat proyek yang kamu kerjakan—ternyata sangat indah ya, meskipun masih dalam pembangunan." Dia lalu melihat Lina, dan senyumnya sedikit memucat. "S
Candra mendekat, tangannya hampir menyentuh bahunya. "Jangan takut, Lina. Saya akan merawatmu dengan baik. Di sini, kamu tidak akan pernah merasa sendirian lagi." Suaranya lembut, tapi ada nada kepastian yang membuat Lina merinding.Dia menunduk, memegang catatan di tasnya dengan erat. "Pak, saya hanya asistenmu. Saya datang untuk bekerja, bukan untuk..." Dia tidak berani menyelesaikan kalimatnya.Candra memegang dagunya dengan lembut, memutar wajahnya agar melihatnya. Matanya yang biasanya tajam sekarang terisi sesuatu yang mirip keinginan. "Bekerja? Ya, kamu akan bekerja di sini juga. Menjadi bagian dari semua ini—bagian dari kehidupanku." Dia melepaskan tangannya dan menunjuk ke jendela. "Ayo, kita lihat struktur tanah seperti yang direncanakan."Lina mengikuti dengan langkah yang lambat. Luarnya, matahari sudah terbit sepenuhnya, menerangi setiap sudut tanah luas itu. Pekerja bekerja dengan giat—beberapa membongkar material, yang lain mengukur tanah dengan alat. Udara terasa segar
Pukul 05.30 pagi, langit masih terbungkus kegelapan yang pekat ketika Lina membuka mata. Malam ini dia tidak bisa tidur sama sekali—bayangan mata Candra yang mengawasinya di halte bis kemarin selalu terngiang-ngiang, campur dengan kata-katanya yang menyakitkan: "Kamu adalah milik saya". Dia merasakan getaran dingin di punggungnya, lalu segera bangkit dan mandi dengan air yang sedikit lebih hangat untuk menenangkan diri.Dia memakai baju kerja yang lebih awet: kemeja coklat muda yang tidak terlalu ketat, celana panjang hitam, dan sepatu kets yang nyaman—karena dia tahu akan berjalan banyak di lokasi proyek. Dia memasukkan catatan tebal, pensil beberapa warna, botol air, dan sepotong roti ke dalam tasnya—takut tidak ada waktu makan di luar.Ketika dia keluar dari kamar, Bu Mimin sudah ada di depan pintu kosan, menyiram bunga dengan sebotol semprot. Cahaya lampu jalan sedikit menerangi wajahnya yang khawatir."Lina, pagi banget lagi hari ini? Kamu harus jaga kesehatan ya, jangan terlalu
Pukul 06.00 pagi—satu jam lebih cepat dari biasanya—Lina sudah bangun. Dia tidak bisa tidur nyenyak semalam, pikirannya selalu tergeser ke Tuan Muda Candra dan kata-katanya yang mengerikan: "Kamu adalah milik saya". Dia menggoyangkan kepala, mencoba menghilangkan bayangan itu, lalu segera mandi dan memakai baju baru yang dia beli semalam—kemeja biru muda dan rok hitam yang lebih rapi dari yang biasa dia pakai.Setelah sarapan cepat, Lina keluar dari kosan. Bu Mimin yang sedang menyiram bunga melihat dia berjalan tergesa-gesa. "Lina, pagi banget ya hari ini? Kerja makin sibuk ya?" tanya Bu Mimin dengan senyum."Ya, Bu. Ada tugas baru," jawab Lina dengan senyum paksa. Dia segera menuju halte bis, berharap bisa tiba di perusahaan lebih awal dari jam 07.00 yang ditetapkan Candra.Bis datang tepat waktu, dan kali ini Lina bisa mendapatkan tempat duduk. Dia membuka daftar tugas yang diberikan Candra semalam—mulai dari menyusun jadwal rapat, mengelola surat-menyurat, sampai menyiapkan segala







