Share

03.

Author: silent-arl
last update Last Updated: 2025-07-24 13:48:29

Keiran menyingkirkan helai rambut Bianca dengan lembut, sentuhannya bagai bara api dingin yang menjalar di kulitnya.

Tatapan matanya yang intens itu seolah menembus jiwa Bianca, membaca setiap keinginan terpendam yang ia sembunyikan. Janji "lebih dari yang kamu harapkan" bergaung di benaknya.

Keraguan memang masih membayangi, namun dorongan untuk melarikan diri dari hidupnya yang monoton, demi merasakan sesuatu yang nyata dan intens, jauh lebih kuat. Ia menatap mata Keiran.

"Oke," bisik Bianca, nyaris tak terdengar di antara dentuman musik yang samar. Satu kata, sebuah lompatan keyakinan, sebuah penyerahan diri pada ketidakpastian yang menggoda. "Aku ikut."

Senyum Keiran melebar sedikit, bukan senyum kemenangan, melainkan semacam kepuasan yang tenang.

Tatapannya pada Bianca penuh makna, seolah berkata, "Aku tahu kau akan melakukannya." Ia tidak mengatakan apa-apa lagi, tidak ada lagi godaan verbal. Ia hanya membuka pintu belakang mobil mewahnya yang gelap, mengisyaratkan Bianca untuk masuk.

Gerakan tangannya halus, penuh hormat, namun dengan otoritas yang tak terbantahkan.

*** 

Bianca menunduk sedikit, masuk ke dalam mobil. Interiornya gelap dan mewah, jok kulit yang lembut langsung memeluk tubuhnya. Aroma maskulin Keiran yang khas, kini lebih pekat dan intim, memenuhi indra penciumannya.

"Lumayan," gumam Bianca, menyentuh jok kulit di sampingnya. "Aku yakin ini jauh lebih nyaman daripada kursi kerjaku."

Keiran kemudian masuk ke kursi kemudi, menutup pintu dengan bunyi klik yang solid, memutus mereka dari kebisingan klub.

Keheningan yang tiba-tiba melingkupi mereka begitu tebal, hanya dipecahkan oleh suara mesin mobil yang menyala pelan.

Keiran tidak langsung tancap gas. Ia menoleh ke arah Bianca, matanya kembali menatapnya dalam kegelapan yang remang. Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya.

"Jauh lebih nyaman," ucap Keiran, suaranya rendah dan dalam, memecah keheningan. "Dan aku jamin, ini hanyalah permulaan dari kenyamanan yang akan kau rasakan malam ini, Bianca. Jadi, siap untuk petualanganmu?"

Bianca menatap Keiran, bibirnya sedikit terbuka, siap menjawab pertanyaan "siap untuk petualanganmu?" Namun, sebelum ia sempat berucap, Keiran lebih dulu memecah keheningan.

"Sabuk pengaman," perintah Keiran lembut, menunjuk ke arah sabuk pengaman di sisi Bianca. Suaranya bukan lagi bisikan menggoda di klub, melainkan nada suara pria yang penuh kendali dan otoritas yang tenang.

Bianca yang masih terbawa suasana klub dan gairah, sedikit tersentak oleh realitas.

Pikirannya sempat melayang, "Oh, dia sungguh-sungguh akan membawaku pergi." Ia segera menarik sabuk pengaman dan memasangnya.

Keiran mengangguk kecil, sudut bibirnya sedikit terangkat, seolah geli dengan transisi Bianca dari kobaran gairah menjadi kepatuhan seketika.

***

Mobil melaju pelan, meninggalkan gang belakang yang gelap dan menyusuri jalanan kota yang sepi di malam hari.

Bianca mengharapkan mereka akan menuju ke arah hotel mewah, atau setidaknya sebuah penthouse dengan pemandangan kota yang gemerlap. Benaknya dipenuhi bayangan momen-momen intim yang mungkin akan terjadi di balik pintu tertutup.

Namun, semakin lama perjalanan, semakin ia menyadari bahwa rute yang diambil Keiran terasa asing.

Mereka melewati bangunan-bangunan perkantoran tinggi, kemudian perumahan yang tenang, hingga akhirnya memasuki area yang terasa lebih terbuka dan luas, dengan pepohonan yang membentang jarang.

Tidak ada gedung tinggi, tidak ada lampu neon yang terang.

Secara perlahan namun pasti, kebingungan mulai merayap di benak Bianca, menggantikan antisipasi erotisnya dengan tanda tanya besar.

Seharusnya aku bertanya. Kenapa aku membiarkan diriku ditarik begitu saja? Pria ini... dia punya cara untuk membuatku lupa segalanya. Tapi apa yang dia rencanakan?” batin Bianca.

"Kita mau ke mana?" tanya Bianca akhirnya, suaranya dipenuhi rasa penasaran yang tak bisa lagi ia tahan.

Keiran menoleh sekilas, senyum tipis di bibirnya. "Sudah kubilang, kan? Lebih dari yang kamu harapkan."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi Yang Menyelamatkanku   Epilog.

    Tahun demi tahun berlalu, terukir dalam tawa riang empat pasang kaki kecil yang berlarian memenuhi rumah keluarga Araska. Liam, Chloe, Aurora, dan si bungsu Noah, adalah melodi kehidupan baru Bianca dan Keiran. Rumah itu selalu ramai, penuh dengan kecupan yang dicuri, rengekan yang menuntut perhatian, dan pelukan hangat yang tak pernah habis. Liam tumbuh menjadi duplikat Keiran: tenang, protektif, dengan sorot mata tajam yang terkadang membuat siapa pun gentar—kecuali tentu saja, neneknya. Mata biru yang berkilat itu kerap menatap Ibunya dengan takjub. Ia menjadi saksi bisu betapa sang Ayah memuja wanita yang sudah melahirkannya itu. Chloe adalah perpaduan sempurna dari kedua orang tuanya, lincah dan cerdas, namun memiliki kekeras kepalaan Bianca yang siap menghadapi segala drama. Tubuhnya mungil dengan rambut ikal berwarna coklat gelap. Ia selalu memastikan dirinya menang ketika bertengkar dengan Liam. Aurora, dengan senyum manis dan mata berbinar, adalah penjinak hati Keiran yang

  • Obsesi Yang Menyelamatkanku   END.

    Mendengar penjelasan dokter tentang ukuran bayi yang sedikit lebih besar dan riwayat cedera Bianca, Keiran langsung memotong. Nada suaranya tegas, tanpa keraguan. "Soal persalinan," kata Keiran, "saya ingin dilakukan operasi caesar." Baginya, keamanan Bianca adalah yang utama, dan ia tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun.Namun, Bianca menggeleng. Ia memiliki keinginan yang kuat untuk melahirkan secara alami. "Tidak, aku mau normal saja."Dokter Lim menghela napas, memahami dilema pasangan ini. Ia tahu Keiran sangat protektif, dan Bianca memiliki keinginan kuat. "Nyonya Bianca, Tuan Keiran," kata dokter dengan bijaksana, "Memang lebih baik jika dilakukan operasi caesar." Dokter menjelaskan alasannya "Agar Nyonya Bianca tidak perlu mengejan terlalu keras, dan mengingat pinggul Nyonya Bianca pernah cedera parah sebelumnya, ini akan mengurangi risiko komplikasi."Meskipun penjelasan dokter sangat logis dan didukung alasan medis, Bianca tetap pada pendirianny

  • Obsesi Yang Menyelamatkanku   125.

    Suasana memanas beberapa hari kedepan, Keiran tak sanggup lagi. Untungnya Bianca memiliki ide untuk pergi ke rumah orang tua Keiran. Ia sudah merindukan Ibu Keiran.Setibanya di rumah orang tua Keiran, Ibu Keiran yang melihat Bianca masuk dengan wajah cemberut dan Keiran menjaga jarak, hanya bisa tertawa. Ia sudah terbiasa dengan drama pasangan ini, terutama sekarang dengan adanya kehamilan. Bianca sudah banyak bercerita soal Keiran yang tidak berhenti mengeluh."Kalian ini," kata Ibu Keiran, menggelengkan kepala. Ia menatap Bianca, mencoba menjelaskan. "Bianca, Keiran itu memang butuh sesuatu yang 'melukai' dirinya sendiri untuk melampiaskan emosi. Dia selalu begitu. Dia butuh rasa sakit fisik untuk menenangkan gejolak di dalam dirinya."Ibu Keiran tahu bahwa sifat Keiran yang masokis itu memang aneh bagi orang biasa. "Tapi kau tidak terbiasa melihatnya, kan?" tanya Ibu Keiran, memahami bahwa dunia Keiran memang jauh berbeda dari dunia Bianca sebelumnya. Ia han

  • Obsesi Yang Menyelamatkanku   124.

    Kieran mengikuti saran Bianca. Malam itu Kieran tidak sendiri; Fael dan empat anak buah kepercayaannya turut serta. Keiran memimpin mereka dalam sesi latihan yang brutal. Awalnya, mereka berlari 12 putaran tanpa henti di pusat pelatihan dekat kantor Keiran dulu, peluh membasahi seluruh tubuh mereka.“Keiran, sepertinya kau benar-benar memanggil kita untuk memberikan hukuman.” Fael bertumpu pada lututnya, ia meringis karena kehabisan napas.Tapi tidak dengan Keiran, ia langsung menyeka keringatnya dengan telapak tangan. “Kita masuk. Aku ingin sparing dengan kalian.”“APA! Kau belum lelah!” teriak Fael ketika Keiran terus berjalan masuk ke ruang gym kantor lamanya. “Sialan. Kenapa dia kuat sekali.” Gumam Fael tapi tetap mengikuti Keiran.Keiran menghadapi satu per satu anak buahnya, melayangkan pukulan dan tendangan dengan kekuatan penuh. Satu per satu, mereka semua KO, terkapar kelelahan. Keiran belu

  • Obsesi Yang Menyelamatkanku   123.

    Hari-hari berlalu, dan Bianca semakin bersemangat menjalani peran barunya sebagai istri juga sebagai seorang pemilik perusahaan pemberian Keiran. Perusahaan desainnya, BK Design Company, hampir siap diluncurkan. Semua detail, dari logo hingga strategi pemasaran, telah rampung berkat bantuan Keiran dan Ibu Keiran. Bianca sudah tidak sabar untuk memulai babak baru dalam hidupnya.Saking antusiasnya, Bianca yang keras kepala bahkan ingin menunda bulan madu mereka. Ia merasa bertanggung jawab penuh atas perusahaan barunya dan tidak ingin melewatkan momen penting pembukaannya.Keinginan Bianca untuk menunda bulan madu membuat Keiran tidak nyaman. Ia sudah menahan diri begitu lama, mendambakan momen romantis berdua saja dengan istrinya.Bianca duduk di meja kerjanya yang kini penuh dengan kertas yang berserakan. Keiran dan Bianca sepakat untuk menjadikan salah satu kamar kosong di apartemen menjadi ruang kerja yang lebih komplit.Keiran yang baru datang langsun

  • Obsesi Yang Menyelamatkanku   122.

    Sesampainya di kamar hotel yang telah disiapkan, Keiran tidak langsung menaruh Bianca di ranjang. Naluri protektifnya tetap tinggi. Ia mengecek setiap sudut ruangan, memastikan tidak ada hal yang mencurigakan. Setelah yakin semuanya aman, barulah ia dengan hati-hati menidurkan Bianca di ranjang yang nyaman.Keiran dengan cepat melepas jasnya, melonggarkan dasinya, matanya tak lepas dari Bianca yang masih terbaring di ranjang. Senyum tipis terukir di bibirnya. "Kau sangat indah hari ini, Istriku," puji Keiran, suaranya serak dan penuh gairah.Pujian itu, ditambah tatapan intens Keiran, membuat pipi Bianca merona merah. Ia sangat malu, terutama setelah aksi Keiran yang menggendongnya keluar dari resepsi tadi.Namun, sebelum Bianca sempat bereaksi lebih jauh, Keiran sudah di sampingnya. Dengan gerakan cepat dan tanpa ragu, ia merobek gaun pengantin indah yang dikenakan Bianca. Kain sutra itu berderak, meninggalkan Bianca terkesiap.Bianca menatap Keiran, eks

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status