LOGINHis magnificently beautiful eyes looked into mine with possessiveness. I exhaled out a shuddered breath, and he grabbed my jaw. “This is not who you are to me, Isabella. And I want more than what we have. Understood?” The dominance in his tone was obvious, while his words sounded like a fantasy I’ve always dreamt of. More than what we have. More than step-brother. ______________________________ I, a 19-year-old girl, had always had a secret crush on someone I shouldn’t have. That’s right—it was none other than Achilles Roman, my stepbrother, who was two years older than me. I had kept my feelings dumped in a Tupperware box for as long as I could remember. But how could I control myself when he himself started making moves on me? And what should I do when I realize that he was nowhere near the Achilles I thought I knew? Read to find out.
View More"Jangan menungguku. Aku lembur malam ini.”
Suara Albert di ujung telepon terdengar datar, nyaris tanpa emosi.
Elyssa, yang memegang ponsel dengan tangan gemetar, menatap meja makan yang sudah tertata rapi. Lilin-lilin kecil di atas meja berkelap-kelip, memancarkan cahaya hangat yang kontras dengan dinginnya jawaban suaminya.
"Lembur lagi, Mas? Apa kamu tau ini hari apa? Ini hari jadi—"
"Kamu bisa melihat sendiri di kalender. Aku gak punya banyak waktu, Elyssa. Aku sibuk!"
Belum sempat Elyssa melanjutkan kalimatnya, panggilan itu sudah terputus. Ponselnya kembali ke layar utama, menunjukkan foto dirinya dan Albert saat mereka menikah tiga tahun lalu, sebuah pengingat pahit tentang janji yang kini terasa kosong.
Malam itu terasa dingin dan mencekam.
Elyssa mematikan lilin satu per satu, seolah memadamkan harapan yang tersisa di hatinya. "Mau sampai kapan kamu giniin aku, Mas? Aku capek," lirihnya.
Air mata perlahan menetes membasahi pipi. Elyssa kembali mengingat masa-masa awal pernikahan mereka. Albert Han, suaminya, selalu bersikap romantis, memberikan perhatian kecil, bahkan untuk hal-hal sepele.
Namun, setelah Albert diangkat menjadi Direktur Keuangan, segalanya berubah. Albert semakin sibuk, jarang memberikannya waktu, dan bersikap dingin.
Awalnya Elyssa memaklumi. Ia berpikir mungkin perubahan sikap suaminya itu pengaruh terlalu lelah bekerja. Tapi genap setahun, Albert masih saja bersikap dingin dan seperti menghindarinya. Hal ini membuat Elyssa makin tersiksa oleh rasa sepi.
“Padahal hari ini anniversary kita, Mas, tapi kamu malah lupa,” gumamnya.
Akhirnya, Elyssa pun menikmati makan malam yang ia siapkan sendirian.
****
Keesokan paginya, Elyssa dan Albert menikmati sarapan bersama di meja makan. Suasana terasa sunyi dan dingin, hanya terdengar suara dentingan sendok dan piring yang beradu.
Elyssa, yang merasa tak nyaman dengan keheningan ini, akhirnya membuka suara. “Mas, kamu semalam pulang jam berapa? Aku nungguin sampai jam sebelas, tapi kamu belum pulang.”
Semalam, Elyssa memang menunggu kepulangan Albert, hingga ia ketiduran di sofa. Saat terbangun, ia masih berada di tempat yang sama, sedangkan Albert sudah terlelap di ranjang.
Hati Elyssa terasa perih. Ia teringat saat dulu, di mana Albert akan menggendongnya ke kamar, memindahkannya dengan hati-hati agar tidak terbangun. Tapi semalam, ia diabaikan, dibiarkan sendirian di sofa yang dingin.
"Harusnya kamu bangunin aku, Mas. Gak enak tau tidur di sofa. Badan aku jadi pegel," keluh Elyssa dengan suara manjanya, berharap Albert akan memperhatikannya.
Namun, Albert tidak merespon. Ia terus mengunyah makanannya, berpura-pura tidak mendengar.
"Mas?" panggil Elyssa lagi, suaranya terdengar ragu.
Albert menyahut, tapi dengan topik yang berbeda. “Nanti sore dandan yang cantik! Pakai baju yang paling bagus!”
Elyssa diam sejenak. Lalu ia spontan mengukir senyum. Ia berpikir kalau Albert akan mengajaknya makan malam, menggantikan hari kemarin untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka.
“Iya, Mas. Aku akan dandan yang cantik,” sahutnya. Senyumnya merekah, dengan mata penuh binar.
****
Sore itu, Elyssa sudah tampil memukau dalam balutan gaun malam. Potongan gaun yang elegan menampilkan lekuk tubuhnya dengan anggun, sementara aroma parfum musk yang memikat menyebar di udara. Ia begitu bahagia.
Setelah sekian lama, akhirnya Albert meluangkan waktu untuknya, dan Elyssa tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.
Tepat pukul lima sore, suara mobil Albert terdengar. Elyssa bahkan sudah menunggu di depan pintu, bersiap menyambut sang suami.
“Akhirnya kamu pulang, Mas.”
Saat itu juga, Elyssa langsung mematung. Albert ternyata tidak sendirian. Seorang pria ikut bersamanya dengan sebuah koper.
Pria itu menatap Elyssa cukup lama dengan senyum di bibirnya. Senyum yang terasa hangat, berbeda dengan senyum Albert yang terkesan kaku.
“Ayo, silakan masuk!” seru Albert.
Elyssa lalu menarik Albert ke sisi lain, meninggalkan tamu yang masih melihat sekeliling rumah mereka.
“Mas, dia siapa?” bisiknya.
“Dia Sean, temanku waktu kuliah. Dia ini lagi nyari tempat tinggal sementara, jadi aku membawanya ke sini,” jelas Albert.
Elyssa mengernyit heran, menatap Sean yang melempar senyum dengan bingung. Kemudian kembali menatap suaminya. “Maksudmu, dia akan menumpang di sini?”
“Iya. Dia baru pindah ke kota ini karena kerjaan. Dan belum dapat tempat tinggal, makanya aku nawarin dia untuk nginap sementara di sini.”
Elyssa terlihat tidak suka. Ia merasa tidak nyaman jika ada orang asing tinggal bersamanya di rumah. “Harusnya kamu ngomong dulu sama aku, Mas.”
"Gak semuanya harus aku ngomongin sama kamu, Elyssa! Pendapatmu itu gak penting!”
Ucapan Albert terasa seperti pukulan, langsung menusuk hati Elyssa. Ia mematung saat melihat suaminya berbalik dan kembali berbincang dengan temannya.
Albert lalu membawa Sean ke kamar tamu. “Buat dirimu nyaman. Anggap saja rumah sendiri.”
“Terima kasih. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu ini. Pasti kubalas suatu hari nanti,” jawab Sean dengan senyum yang tampak tulus.
“Haha. Jangan terlalu sungkan begini! Kau itu temanku!”
Elyssa berdiri di samping Albert, berusaha ikut dalam percakapan mereka. Ia mencoba menimpali sekali dua kali, tapi suaranya tenggelam begitu saja di antara obrolan bisnis dan kehidupan masa lalu kedua pria itu.
Tawa keduanya yang tenggelam dalam percakapan membuat Elyssa seolah tidak ada.
Elyssa yang merasa kikuk, tidak tahu harus berbuat apa, hanya bisa membenahi rambutnya. Rambut panjang yang tadinya terurai menutupi bagian dada ia alihkan ke belakang punggung.
Pada saat yang sama, Sean melirik Elyssa. Tatapannya penuh arti pada wanita itu, penuh kekaguman yang mendalam
“Oh ya, kamu istirahat aja dulu. Nanti kupanggil lagi kalau makan malam sudah siap,” ujar Albert menyudahi percakapan.
Detik berikutnya, Albert langsung menyuruh Elyssa ke dapur, tanpa berpikir dua kali.
Elyssa menahan napas kecewa. Harapannya untuk makan malam romantis dengan Albert hancur berantakan.
"Kenapa kamu nyuruh aku dandan kalau cuman buat nyambut temenmu?” tanya Elyssa dengan nada suara yang menahan kekecewaan. "Aku pikir kamu mau ngajak aku makan di luar, Mas.”
“Biar temanku tau kalau aku punya istri yang cantik! Oh ya, nanti masaknya yang enak! Jangan malu-maluin aku di depan dia!”
Elyssa hanya menghela napas. Lagi-lagi, Albert hanya ingin pamer.
“Iya, Mas. Tapi aku ganti baju dulu.”
Saat hendak berganti pakaian, Albert melarangnya. “Kamu mau masak pakai daster atau piyama lusuhmu itu? Jangan bodoh, Elyssa! Jangan buat aku malu! Istri seorang direktur keuangan harus selalu rapi dan cantik, terutama saat ada tamu!"
“Tapi kalau pakai gaun ini ribet, Mas.”
Elyssa tetap kekeh berganti pakaian dengan blouse yang tertutup dan celana kain panjang.
“Jangan buang waktu! Sebentar lagi jam makan malam!” tegur Albert, mulai kesal.
Elyssa hanya mengangguk pelan. Riasannya bahkan masih sempurna, tapi ia harus bertempur dengan bahan makanan di dapur.
Satu jam kemudian, Elyssa akhirnya selesai memasak. Ia kembali menemui suaminya di kamar untuk memanggilnya makan.
“Panggilkan Sean juga!”
Elyssa mengomel dalam hati. Tapi ia sudah tak berani membantah. Ia pun berjalan menuju kamar tamu dan mengetuk pintu.
Tak lama, pintu terbuka.
Elyssa sontak mematung. Di hadapannya, Sean berdiri hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya. Rambutnya basah, dadanya yang atletis terekspos jelas, dan bulir air masih membasahi kulitnya, membuatnya terlihat seksi dan maskulin.
Pemandangan itu membuat Elyssa merasa canggung dan panas. Seketika darahnya berdesir cepat. Bibirnya dengan kaku berkata, “M-maaf. Aku gak tau kamu baru kelar mandi.”
Elyssa makin salah tingkah karena Sean terus menatapnya tanpa berkedip. Tanpa aba-aba pria itu mengulurkan tangannya, mengusap pipi Elyssa dengan ibu jarinya.
Achilles’ Point of View:I went back to my apartment as I made an anonymous tip to the police that somehow the rich billionaire had died. It was already over two hours, and Isabelle was probably waiting for me, so I didn’t want to waste any more time trying to clear up the mess at the mansion. My people had already managed the security tapes and the fingerprints.As soon as I reached my place and went inside, Isabelle ran up to me and hugged me. “Achilles.”“Hey,” I smiled at her. “Everything’s gonna be fine now.”She was confused at my words. I didn’t really know how she would react to this. I mean, she knew I was no saint and I had killed hundreds while working as a mafia leader, but right now I had murdered my own father and without any Mafia influence.But I couldn’t hide it. No more secrets. I had to tell her if I wanted her to trust me.“I killed my father.” Those words rolled out of my tongue, leaving her stunned.Her eyes widened. “What?”“Yes.”She took a few minutes as she st
Achilles’ Point of View:“She didn’t cheat on you, Achilles!” Lucy shouted and my eyes snapped in her direction.“What are you saying?” I asked, my mind fogged by the words she was speaking. I didn’t want to talk about her, or the topic she was speaking on—let alone made me question the reality.“She told me. She told me that Mr. Roman had forced her to say that to you. And I know that I wasn’t supposed to tell you this, but I couldn’t bear to know the truth and still go home to my husband while you didn’t get to go home to your wife. She told me that she had to do it because your father said that if she didn’t, he’d kill you.” She said in one breath as she looked at me.
Isabelle’s Point of View:I looked up and found Lucy standing. She gave me a hand, and helped me stand up. I slowly managed to stand on my feet, still lunging forward like a junkie.“Who—who was the highest bidder? Do you know?” I asked as I was dying to know who I was supposed to be a slave for.She smiled. “No one told me who it was, but whoever it was gave the highest money to the main mafia bank and set you free.”“What?” I thought she was kidding.“Yes,” She smiled again, this time wider. “There was an anonymous message on the table just after the bidding. It was to me, and it said that I should let you know that the highest bidder had
Isabelle’s Point of View:“She gets one wish before fulfilling her punishment, boss,” One of the men pointed out as the guards were dragging me away from the main room, and I saw that it was Romero.I looked over at Achilles who was staring right at me, his face stone cold. “What do you want?” He asked me across the room and I took a deep breath. I didn’t want anything but one thing—and this was probably the last chance I’d get.“I want to talk to Lucy once. In private.”He was confused at my request, but didn’t think about it much. “Let her. I will give you one hour. Her punishment will continue after that,” he looked at his men mid-conversation and then walked out of the room






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews