Share

Obsessed
Obsessed
Author: Ufi

Bab 1

Author: Ufi
last update Last Updated: 2026-01-30 01:13:18

Alina Jingga, siswi kelas XI IPA 3, tak bisa melepaskan pandangannya dari lapangan. Tepatnya, dari sosok seorang pria yang selalu membuat jantungnya berdebar lebih cepat—Lingga Dharma Prajiwo. Tinggi, tegap, wajahnya pucat namun menawan, rahang tegas, hidung mancung, dan mata tajam yang seakan bisa menembus siapa pun. Setiap gerakan Lingga, dari lompatan hingga menendang bola, membuat Alina menahan napas. Bahkan cara rambutnya tersapu angin seakan sengaja menambah pesonanya.

Tak ada senyum di wajah Lingga. Hanya bibir tipis yang terlihat dingin, dan tatapan tajam yang membuat Alina menunduk setiap kali mereka bersinggungan pandang. Namun bagi Alina, itulah daya tarik yang tak bisa ia hindari. Sudah tiga tahun ia mengagumi pria itu—dengan senyum yang tak pernah pudar, meski sering ditolak, diacuhkan, atau dipermalukan. Hatinya selalu tersengat, campuran kagum, takut, dan rasa ingin mendekat.

Braakkk!

Suara benturan keras terdengar cukup dekat untuk membuat Alina melonjak. Lingga terjatuh setelah tertabrak salah satu siswa di lapangan. Tanpa berpikir panjang, Alina berlari mendekat, jantungnya berdegup kencang, napas tersengal.

“Lingga! Kamu baik-baik saja? Ada yang terluka?” tanyanya sambil memeriksa tubuh pria itu. Tangan Alina gemetar, dan ia menahan diri agar tidak menangis melihat Lingga kesakitan.

“Apaan sih, lebay banget,” sahut Lingga, menepis tangan Alina sambil bangkit. Semua mata tertuju pada mereka, tapi Alina tak peduli—hatinya tetap terpaku pada Lingga.

Tiga tahun bukan waktu yang singkat. Selama itu pula, ia belajar satu hal: pantang menyerah. Cita-citanya hanya satu: mendapatkan perhatian Lingga, dan ia bersedia menunggu, menghadapi cemoohan, dan segala rintangan demi itu.

“Na, lu nggak capek apa ditolak mulu sama Lingga? Gua yang capek lihat lu ngejar-ngejar dia. Gue kenalin sama sepupu gue ya, cakep, lebih cakep dari Lingga, sekolah di SMA Harapan. Nanti ku kasih nomornya ya,” sahut Luna, sahabat setianya, sambil menggeleng penuh ekspresi setengah kesal, setengah geli.

Alina tersenyum ringan. “Lun, gue nggak capek. Gue cuma punya satu tujuan—pacaran sama Lingga. Untuk mencapai cita cita itu tidak ada kata menyerah dalam kamus gue. Titik.” Rambut panjangnya terikat rapi, wajahnya tetap ceria, menutupi badai perasaan yang kadang bergejolak di dalam.

Kriiing… Kriiing…

Jam istirahat kedua berbunyi.

"Makan ke kantin yuk na, gue yang traktir." Luna sang sahabat bersemangat tentang hal itu. Alina buru-buru menutup laci mejanya, tapi pikirannya sudah melayang ke Lingga. “Sorry, Lun. Gua nggak bisa. Gua buru-buru, harus nyamper Lingga sebelum dia ngilang,” ucapnya sambil berlari keluar kelas.

"Ya ampun na, lu dipelet ya jangan jangan sama Lingga." Luna kesel, Alina selalu menjadikan Lingga prioritas.

Di koridor, mata elang Alina berkeliling mencari sosok Lingga. Alina melihat Lingga berjalan sendiri. Tanpa ragu, ia mengikuti pria itu hingga ke sebuah ruangan… dan dia ragu apa boleh masuk atau tidak. hatinya terhenti sejenak. Pada akhirnya Alina masuk, egonya mengalahkan akal sehatnya.

“Hei, apa apaan ini?” terdengar suara Lingga yang dingin.

“Yang… yang benar saja!” terdengar suara riuh lainnya.

Alina gugup, suaranya tercekat.

“Aaa… apa yang kau lakukan di sini?”

Beberapa siswa buru-buru menaikan celana, melarikan diri setelah menyadari ada seorang perempuam didalam toilet laki laki. Yap, itu adalah toilet laki-laki. Lingga menatap Alina, mata tajamnya menusuk. Alina mundur perlahan, menundukkan kepala, tak berani menatap balik. Langkah Alina terhenti saat mereka sudah berada diluar. Tatapan Lingga seakan menuntut jawaban. Dengan napas berat, ia berkata, “Apa aku terlihat murahan?” tidak ada jawaban, seakan tidak puas dengan itu, Lingga kembali bertanya,

“Apa… apa kamu yang murahan?” Alina terkejut dengan kata kata yang keluar dari mulut pujaan hatinya itu, hatinya berdesir. Alina tetap menunduk, diam. Pertanyaan itu terdengar tajam, menyakitkan, tapi juga membangkitkan perasaan campur aduk yang tak pernah ia rasakan sebelumnya—takut, sakit, dan ingin membela diri sekaligus. Otaknya berfikir keras, alasan apa yang akan dia gunakan untuk kebodohannya kali ini. Takut dan malu itu yang sekarang Alina rasakan.

---

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsessed   Bab 13

    Lingga menatap pantulan dirinya di kaca kamar mandi lebih lama dari biasanya.Bukan karena ia ingin memastikan penampilannya rapi, melainkan karena ia sedang memastikan satu hal:ia tidak boleh salah langkah malam ini.Tiga hari.Kesepakatan konyol yang awalnya hanya ingin segera ia akhiri, justru berubah jadi sesuatu yang membuat dadanya terasa penuh.Hari kedua kemarin… Lingga sadar.Sadar bahwa Alina bukan sekadar gadis menyebalkan yang selalu mengejarnya.Ia tertawa dengan cara yang jujur. Ia peduli dengan cara yang tidak memaksa. Ia hadir tanpa menuntut apa pun, selain kesempatan.Dan itulah yang menakutkan.“Gue nggak suka sama Alina.”Kalimat itu kembali terngiang di kepalanya.Ia mengatakannya siang tadi, di depan teman-temannya, dengan nada datar dan senyum setengah main-main. Seolah semua yang terjadi selama dua hari terakhir hanyalah sandiwara.Padahal tidak.Lingga mengepalkan tangannya.Ia bilang itu bukan karena bohong sepenuhnya, melainkan karena takut.Takut Alina jatu

  • Obsessed   Bab 12

    Pagi itu, udara Bali terasa lebih hangat dari biasanya. Matahari menembus tirai, menyoroti pasir pantai yang berkilau. Hari ini adalah hari ketiga. Hari terakhir syarat pacaran tiga hari antara Lingga dan Alina. Alina duduk di balkon, memandang laut biru sambil memegang cangkir kopi hangat. Hatinya berdebar. Rasanya campur aduk; senang karena bisa menghabiskan waktu bersama Lingga, tapi juga cemas karena syarat itu akan segera berakhir. “Selamat pagi, sayang,” suara Lingga terdengar di belakangnya. Ia tersenyum hangat sambil membawa dua gelas jus. Alina tersipu. “Pagi… eh, maksudku… selamat pagi.” Lingga duduk di sampingnya, menatap mata Alina penuh lembut. “Aku janji, hari ini aku akan membuatnya menyenangkan. Tidak ada canggung lagi.” Alina menoleh, tersenyum tipis. “Aku percaya padamu.” Saat sarapan, Lingga dan Alina duduk bersebelahan. Teman-teman mereka menatap dengan keheranan—ada sesuatu yang berbeda dari Lingga yang biasanya cuek. “Eh… kok mereka kayak… manis banget pag

  • Obsessed   Bab 11

    Pagi itu, sinar matahari menembus tirai jendela kamar, menyinari lantai kayu yang hangat. Alina duduk di tepi tempat tidur, menatap langit-langit sambil memainkan ujung selimut. Masih teringat malam sebelumnya, hatinya campur aduk antara kebahagiaan dan rasa takut. Pintu kamar diketuk perlahan. “Alina… boleh masuk?” suara Lingga terdengar canggung, sedikit ragu. Alina menoleh, wajahnya memerah. “Eh… ya, masuk saja.” Lingga melangkah masuk, tangannya sedikit gemetar. Ia duduk di kursi dekat jendela, menatap Alina dengan campuran bersalah dan cemas. Suasana hening, hanya suara angin laut yang terdengar dari balkon. “Maafkan aku tadi malam…” Lingga akhirnya berkata, suaranya hampir berbisik. “Aku… terlalu jauh. Aku tidak bermaksud membuatmu takut.” Alina menunduk, jari-jarinya menari di tepi selimut. Hatinya berdebar, tapi ia menahan diri untuk tidak menatap Lingga. “Aku… aku butuh waktu, Lingga,” jawabnya pelan. “Aku masih bingung dengan semuanya.” Lingga menelan ludah, menata

  • Obsessed   Bab 10

    Pagi itu, matahari bersinar cerah di atas laut biru, angin pantai membawa aroma asin dan segar. Lingga dan Alina sudah siap untuk kegiatan pagi: lomba perahu dayung antar kelompok yang diadakan hotel.“Siap nggak, Lingga?” Alina melompat kegirangan. “Kita harus menang hari ini!”Lingga menggaruk kepala, setengah cemas. “Eh… aku kan baru pertama kali dayung bareng. Jangan salahin aku kalau perahunya malah muter-muter.”“Tenang aja! Aku yang akan arahkan. Pokoknya kita harus kompak!” Alina menggenggam tangannya, senyum lebarnya membuat Lingga tersipu.Di sisi lain, Maro memperhatikan mereka dari pantai, menatap Lingga–Alina dengan alis mengerut. “Hah… mereka terlalu akrab lagi,” gumamnya, menatap Stevi yang sedang menata rambutnya.Stevi menepuk bahu Maro. “Santai, sayang. Kita cuma harus fokus sama permainan kita sendiri. Jangan biarkan mereka ganggu mood liburan kita.”Maro menelan ludah, tapi tatapannya tetap menempel pada Lingga dan Alina yang tertawa lepas, mempersiapkan perahu.Sa

  • Obsessed   Bab 9

    Lingga menarik napas panjang, matanya menatap Alina yang duduk di kursi penumpang, senyum lebar menghiasi wajahnya.“Baiklah… tiga hari,” ucap Lingga akhirnya, menatap mata Alina. “Aku terima syaratmu. Kita pacaran… selama tiga hari.”Alina tersenyum lebar, matanya berbinar. “Terima kasih, Lingga! Aku janji, kamu nggak akan menyesal.”Lingga merasakan jantungnya berdetak cepat, campur aduk antara risih dan senang. Tak ada yang tahu soal aturan “pacar tiga hari” ini, kecuali mereka berdua.Esok harinya, rombongan kecil itu berkumpul di bandara: Lingga, Alina, Maro, Stevi, Luna, Dito, dan Bagas. Semua tampak bersemangat, tawa dan canda memenuhi ruang tunggu. Voucher liburan prom night menjadi alasan sempurna untuk bersenang-senang.Di mobil sewaan menuju hotel, Alina duduk berdampingan dengan Lingga. Tanpa sadar, mereka saling menatap, sesekali bercanda.“Eh, jangan terlalu ngebut, Lingga! Aku nggak mau liburan ini berakhir dengan sakit karena mobil terguling,” goda Alina, menepuk bahun

  • Obsessed   Bab 8

    Author POVKetegangan malam itu masih terasa tebal. Stevi menatap Maro dengan dingin, matanya menusuk seperti pisau, sementara Maro berdiri di sisinya, ragu dan cemas. Dua tahun hubungan mereka seolah diuji oleh kehadiran Alina.“Aku minta maaf, Stev, kalau kehadiranku membuatmu terganggu,” suara Alina lembut tapi tegas. “Aku hanya menganggap Maro teman baikku, tidak lebih. Aku yakin Maro juga begitu. Hanya ada kamu di hatinya. Jadi… jangan khawatir. Sekarang, Maro sebaiknya antar Stevi pulang. Aku sudah janji akan pulang bersama Luna dan pacarnya.”Stevi menatap Alina, terdiam. Maro mengangguk setuju, walau hatinya menolak. Alina tersenyum tipis, menyembunyikan kebenaran—ia tidak benar-benar pulang bersama Luna. Ia hanya ingin menghindari pertengkaran yang bisa berlarut.Maro dan Stevi pergi meninggalkan tempat itu. Alina tersisa sendiri, menatap jalan yang basah dan sepi. Tak lama, sebuah sedan hitam berhenti di sampingnya. Kaca depan terbuka, menampakkan sosok Lingga dengan tatapa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status