مشاركة

Bab 2

مؤلف: Ufi
last update تاريخ النشر: 2026-01-30 01:17:55

BAB 2

Alina PoV

Aku benar-benar nggak nyangka dengan apa yang kudengar. Rasanya ingin menjawab, tapi suaraku tersangkut di tenggorokan. Dengan sekuat tenaga, aku memberanikan diri menatap mata Lingga. Dulu, aku pernah mengikutinya ke ruang ganti pria—dan saat itu dia diam saja, seolah aku nggak ada. Bukankah ini mirip? Atau malah sama? Tapi sekarang… tatapannya begitu tajam, menusuk. Ada rasa marah yang sulit dijelaskan, dan aku takut.

“Kenapa diam saja? Apa aku benar?” suaranya dingin, tegas, matanya menatap langsung ke arahku seakan ingin menembus hati.

Aku menelan ludah, menatap sekeliling. Astaga! Sudah banyak orang berkumpul, menatap kami. Jantungku berdetak kencang, telapak tangan berkeringat. Aku ingin lari… tapi kakinya terasa seperti terpasung.

“Hah… maksudmu apa? Aku...aku tadi ke toilet pria bukan untuk mesum! Aku cuma mencari pacarku… dan aku minta maaf kalau membuatmu nggak nyaman,” ucapku, kalimat asal meluncur sendiri dari mulutku. Astaga, pacar? Semua orang tahu aku nggak punya pacar—aku cuma naksir Lingga!

Aku menggigit bibir bawah, napas tersengal. Aku ingin menghilang dari tempat ini. Ayolah, Lingga… sudahi saja, aku mohon.

“Kalau begitu, buktikan ucapanmu. Mana pacar yang kamu maksud? Bawa ke sini, baru aku maafkan,” perintahnya tegas, rahangnya menegang, mata tajam. Aku bisa merasakan getaran marahnya menembus setiap inci tubuhku.

Semua menunggu jawabanku. Panik. Deg-degan.

“Itu… orangnya,” ucapku ragu sambil menutup mata dan menunjuk asal.

Sekejap, semua mata tertuju pada arah jariku.

“Gue?” Seorang pria menunjuk dirinya sendiri, wajahnya bingung. Dia menoleh kanan-kiri, berharap aku menunjuk orang lain.

Aku tercengang. Itu Maro—siswa berprestasi, kulit sawo matang, wajah manis… dan sahabat Lingga.

Kerumunan terdiam. Semua tahu Maro sudah punya pacar, Stevi. Dalam hatiku menjerit, kenapa harus Maro? Kenapa bukan yang jomblo saja?

“Iya, kamu. Mulai sekarang kamu pacarku,” ucapku, menelan rasa malu yang nyaris pecah.

“Hahaha… yang benar saja,” Lingga tertawa kecil, senyum meremehkan menghiasi wajahnya. Dadaku sesak. Aku menatap Maro, napas tercekat, kaki gemetar.

Ada jeda sesaat. Sunyi. Aku dan Maro saling menatap, seolah waktu berhenti. Detik-detik itu terasa begitu lama, jantungku berdegup kencang, telinga berdenging. Semua di luar seakan kabur.

Tanpa pikir panjang…aku mendekatinya dan “Cup!”

Aku mencium pipinya.

Wajah Maro memerah, membeku. Mata kami bertemu lagi, dan aku bisa merasakan paniknya, gemetar, tapi… ada sedikit kesabaran dan ketenangan yang membuatku lega. Di luar, suara riuh teman-teman makin terdengar, tapi di sekitarku rasanya hanya ada kami berdua.

Aku menoleh ke Lingga. Matanya melebar, rahangnya menegang. Ada kombinasi kaget dan… entah, sesuatu yang sulit kubaca. Tatapannya menusuk, lalu dia perlahan melangkah pergi, langkahnya berat tapi pasti. Detik itu aku merasa… jantungku ikut tertinggal di belakang.

“Hei, apa yang kau lakukan?” suara Maro akhirnya memecah hening, membuatku tersadar.

Aku menatapnya. Banyak pertanyaan tergambar jelas di wajahnya. Sekarang hanya ada kami berdua.

“Oke, Maro… jadi kita sekarang… eh, maksudku, kamu sekarang pacarku,” ucapku lagi, ngawur, tapi ada secercah ide gila di kepalaku.

“Aku sudah punya pacar… dan kamu tahu itu. Apa maksudmu? Ini buat manasin Lingga, ya? Tolong jangan libatkan aku,” ucap Maro dengan nada sabar, tetap tenang meski wajahnya menunjukkan kebingungan.

“Maafin aku, Maro. Tapi aku nggak bisa cabut ucapanku tadi di depan Lingga dan semua orang. Aku boleh kok jadi pacar keduamu. Aku nggak akan nuntut apa-apa. Kamu bebas tetap sama Stevi. Anggap aku nggak ada. Aku cuma butuh status itu—pacarnya Maro,” jawabku sambil tersenyum memohon, menelan malu dan panik.

Tiba-tiba, telapak tangan Maro menyentuh keningku. Aku terkejut, jantungku hampir berhenti.

“Kamu nggak lagi sakit, kan?” tanyanya lembut, khawatir.

Huft… pasti dia mengira aku sudah gila.

“Aku sadar dan sehat seratus persen, oke,” ucapku sambil menepis tangannya.

“Pokoknya, mulai sekarang kamu pacarku,” ucapku cepat, lalu berlari ke kelas. Bel masuk sudah terdengar sejak tadi, tapi jantungku masih berdegup kencang, penuh malu, panik, dan… lega.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Obsessed   Bab 61

    Pagi itu kantor sudah cukup ramai ketika Lingga tiba. Beberapa karyawan menyapanya ketika ia berjalan melewati koridor menuju ruang kerjanya. Ia membalas dengan anggukan kecil seperti biasa. Tidak ada yang berbeda. Tidak ada yang terlihat aneh. Setidaknya dari luar. Lingga meletakkan tas kerjanya di meja, lalu membuka laptop. Beberapa email sudah menunggu untuk dibalas. Agenda hari itu juga cukup padat. Dua rapat internal. Satu pertemuan dengan investor. Dan satu pembahasan proyek dengan tim arsitek. Lingga membaca agenda itu beberapa detik. Rapat proyek. Artinya akan ada pembahasan desain dari tim Alina. Ia tidak terlalu memikirkannya. Setidaknya ia mencoba tidak terlalu memikirkannya. --- Satu jam kemudian Lingga sudah berada di ruang rapat. Ruangan itu cukup besar dengan meja panjang di tengahnya. Beberapa orang dari tim manajemen proyek sudah duduk di tempat mereka. Bu Dewi juga ada di sana, sedang membuka beberapa map besar berisi gambar desain. “Pagi, Pak Ling

  • Obsessed   Bab 60

    Malam sudah cukup larut ketika Alina akhirnya menutup laptopnya. Apartemennya tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman. Ruang tamu dan dapur kecil menyatu tanpa sekat, hanya dipisahkan oleh meja makan sederhana yang sering dipenuhi kertas desain dan catatan proyek. Beberapa lembar gambar masih terbentang di meja. Pensil. Penggaris. Dan secangkir kopi yang sudah dingin. Alina memijat pelan pelipisnya. Seharian penuh ia menghabiskan waktu di lokasi proyek, lalu melanjutkan revisi desain di rumah. Ia baru saja hendak membereskan meja ketika terdengar bunyi pintu terbuka. “Lin?” Suara itu langsung membuat Alina menoleh. Damar masuk sambil membawa dua kantong plastik dari minimarket. Jaketnya sedikit basah, mungkin karena hujan yang turun sebentar tadi. “Kamu baru pulang?” tanya Alina. “Iya.” Damar menutup pintu dengan kakinya, lalu berjalan masuk. “Masih kerja?” Alina melirik meja yang penuh kertas. “Kelihatan?” Damar tertawa kecil. “Kelihatan banget.” Ia meletakkan kant

  • Obsessed   Bab 59

    Sore itu langit terlihat sedikit mendung. Lingga baru saja keluar dari sebuah pertemuan dengan salah satu klien lama perusahaannya. Gedung perkantoran tempat mereka bertemu tidak terlalu jauh dari lokasi proyek yang sedang dikerjakan tim Alina. Ia sebenarnya bisa langsung kembali ke kantor. Namun entah kenapa ia memilih berjalan sebentar sebelum memanggil sopirnya. Di sudut jalan dekat gedung itu ada sebuah minimarket kecil. Lampunya terang, kontras dengan langit yang mulai gelap. Lingga masuk ke dalam, berniat membeli air mineral. Tempat itu tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa orang yang sedang memilih makanan ringan. Lingga mengambil sebotol air dari rak pendingin, lalu berjalan menuju kasir. Saat itulah seseorang di dekat pintu tiba-tiba berkata, “Pak Lingga?” Lingga menoleh. Seorang pria berdiri beberapa langkah darinya, membawa dua gelas kopi dari mesin minuman di dalam minimarket. Pria itu terlihat sedikit terkejut, lalu tersenyum lebar. Lingga butuh beberapa d

  • Obsessed   Bab 58

    Lingga masih berada di ruang kerjanya ketika jam menunjukkan hampir pukul delapan malam. Sebagian besar karyawan sudah pulang. Koridor kantor menjadi jauh lebih sunyi dibandingkan siang hari. Hanya beberapa lampu yang masih menyala di lantai itu. Di atas meja, beberapa dokumen proyek masih terbuka. Blueprint. Laporan revisi. Dan catatan-catatan kecil yang ia buat sendiri. Lingga menutup salah satu map perlahan. Ia mengusap wajahnya sebentar, mencoba mengusir lelah yang mulai terasa di kepala. Proyek yang sedang mereka kerjakan memang sedang berada di tahap penting. Banyak keputusan harus dibuat dengan cepat. Dan seperti biasa, Lingga tidak pernah suka menunda pekerjaan. Ponselnya bergetar di meja. Nama Nadine muncul di layar. Lingga mengangkat panggilan itu. “Halo.” “Masih di kantor?” suara Nadine terdengar santai dari seberang. “Iya.” “Kamu belum makan?” “Belum.” Nadine tertawa kecil. “Direktur yang rajin sekali.” Lingga tersenyum tipis. “Kamu sudah selesai kerja?

  • Obsessed   Bab 57

    Nadine bukan tipe orang yang suka menebak terlalu lama. Jika ada sesuatu yang membuatnya penasaran, ia lebih suka mencari jawabannya sendiri. Beberapa hari terakhir, nama Alina terus muncul di pikirannya. Awalnya hanya sekilas. Dari dokumen proyek yang pernah ia lihat di meja Lingga. Dari foto yang ia temukan di internet. Dan dari cara Lingga berhenti sepersekian detik ketika namanya disebut. Hal kecil. Tapi Nadine terbiasa memperhatikan hal-hal kecil. Akhirnya, ia melakukan sesuatu yang sederhana. Ia meminta nomor Alina dari sekretaris Lingga. Dengan alasan yang cukup masuk akal. “Kami mungkin akan bekerja sama untuk event perusahaan nanti,” katanya ringan. Sekretaris itu tidak curiga. Dan beberapa menit kemudian, nomor itu sudah ada di ponselnya. Nadine tidak langsung menghubungi. Ia menunggu sampai malam. Lalu mengirim pesan singkat. > Halo, Alina. Ini Nadine. > Kita sempat saling kenal di kantor Lingga kemarin. > Kalau kamu tidak sibuk, aku ingin bertemu sebent

  • Obsessed   Bab 56

    Nadine bukan tipe perempuan yang mudah merasa tidak aman. Dunia yang ia jalani sejak usia belasan tahun tidak memberi banyak ruang untuk itu. Sebagai model papan atas, ia terbiasa berdiri di tengah ruangan penuh kamera, lampu, dan orang-orang yang menilai setiap detail penampilannya—dari cara ia berjalan, cara ia tersenyum, sampai bagaimana ia menoleh ke arah kamera. Di dunia seperti itu, rasa ragu sering dianggap sebagai kelemahan. Dan Nadine bukan perempuan yang suka terlihat lemah. Ia tahu nilainya. Ia tahu posisinya. Ia juga tahu bagaimana membuat orang lain melihatnya dengan cara yang ia inginkan. Karena itu, ketika beberapa hari terakhir sebuah perasaan kecil mulai mengganggunya, Nadine tidak langsung menolaknya. Ia mengamatinya dulu. Perasaan itu tidak besar. Tidak dramatis. Lebih seperti retakan tipis di kaca jendela. Hampir tidak terlihat. Tapi cukup untuk membuat seseorang sadar bahwa ada sesuatu yang berubah. --- Pagi itu Nadine berada di lokasi pemotretan.

  • Obsessed   Bab 33

    Begitu pintu pesawat terbuka, udara dingin langsung menyusup ke sela jaket Lingga. Bukan dingin yang biasa ia rasakan di ruangan ber-AC. Ini dingin yang menggigit. Ia menarik napas dalam-dalam. Bandara terasa luas. Orang-orang berjalan cepat dengan bahasa yang belum sepenuhnya akrab di telingan

    last updateآخر تحديث : 2026-03-25
  • Obsessed   Bab 34

    Awalnya, semuanya terasa bisa diatur. Zona waktu memang berbeda dua belas jam lebih sedikit, tapi mereka menemukan pola. Alina biasanya selesai studio sekitar pukul sebelas malam. Itu berarti pagi bagi Lingga sebelum kelas dimulai. Mereka video call sebentar. Bertukar cerita. Tertawa. Saling meng

    last updateآخر تحديث : 2026-03-26
  • Obsessed   Bab 36

    Jakarta terasa lebih panas dari biasanya.Atau mungkin Alina saja yang terlalu lelah untuk membedakan panas dan pusing.Sudah tiga malam ia tidur kurang dari empat jam. Maket final hampir selesai, tapi revisi terakhir datang seperti tamu yang tak diundang.“Detail kolomnya kurang masuk akal,” kata

    last updateآخر تحديث : 2026-03-26
  • Obsessed   Bab 37

    Notifikasi itu muncul pukul 19.12.Alina sedang duduk di lantai kamar kosnya, punggung bersandar pada ranjang, laptop masih terbuka dengan slide presentasi yang belum selesai. Di luar, hujan tipis turun sejak sore. Suaranya lembut, hampir menenangkan.Hampir.Ponselnya bergetar sekali. Lalu sekali

    last updateآخر تحديث : 2026-03-27
فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status