LOGINBAB 2
Alina PoV Aku benar-benar nggak nyangka dengan apa yang kudengar. Rasanya ingin menjawab, tapi suaraku tersangkut di tenggorokan. Dengan sekuat tenaga, aku memberanikan diri menatap mata Lingga. Dulu, aku pernah mengikutinya ke ruang ganti pria—dan saat itu dia diam saja, seolah aku nggak ada. Bukankah ini mirip? Atau malah sama? Tapi sekarang… tatapannya begitu tajam, menusuk. Ada rasa marah yang sulit dijelaskan, dan aku takut. “Kenapa diam saja? Apa aku benar?” suaranya dingin, tegas, matanya menatap langsung ke arahku seakan ingin menembus hati. Aku menelan ludah, menatap sekeliling. Astaga! Sudah banyak orang berkumpul, menatap kami. Jantungku berdetak kencang, telapak tangan berkeringat. Aku ingin lari… tapi kakinya terasa seperti terpasung. “Hah… maksudmu apa? Aku...aku tadi ke toilet pria bukan untuk mesum! Aku cuma mencari pacarku… dan aku minta maaf kalau membuatmu nggak nyaman,” ucapku, kalimat asal meluncur sendiri dari mulutku. Astaga, pacar? Semua orang tahu aku nggak punya pacar—aku cuma naksir Lingga! Aku menggigit bibir bawah, napas tersengal. Aku ingin menghilang dari tempat ini. Ayolah, Lingga… sudahi saja, aku mohon. “Kalau begitu, buktikan ucapanmu. Mana pacar yang kamu maksud? Bawa ke sini, baru aku maafkan,” perintahnya tegas, rahangnya menegang, mata tajam. Aku bisa merasakan getaran marahnya menembus setiap inci tubuhku. Semua menunggu jawabanku. Panik. Deg-degan. “Itu… orangnya,” ucapku ragu sambil menutup mata dan menunjuk asal. Sekejap, semua mata tertuju pada arah jariku. “Gue?” Seorang pria menunjuk dirinya sendiri, wajahnya bingung. Dia menoleh kanan-kiri, berharap aku menunjuk orang lain. Aku tercengang. Itu Maro—siswa berprestasi, kulit sawo matang, wajah manis… dan sahabat Lingga. Kerumunan terdiam. Semua tahu Maro sudah punya pacar, Stevi. Dalam hatiku menjerit, kenapa harus Maro? Kenapa bukan yang jomblo saja? “Iya, kamu. Mulai sekarang kamu pacarku,” ucapku, menelan rasa malu yang nyaris pecah. “Hahaha… yang benar saja,” Lingga tertawa kecil, senyum meremehkan menghiasi wajahnya. Dadaku sesak. Aku menatap Maro, napas tercekat, kaki gemetar. Ada jeda sesaat. Sunyi. Aku dan Maro saling menatap, seolah waktu berhenti. Detik-detik itu terasa begitu lama, jantungku berdegup kencang, telinga berdenging. Semua di luar seakan kabur. Tanpa pikir panjang…aku mendekatinya dan “Cup!” Aku mencium pipinya. Wajah Maro memerah, membeku. Mata kami bertemu lagi, dan aku bisa merasakan paniknya, gemetar, tapi… ada sedikit kesabaran dan ketenangan yang membuatku lega. Di luar, suara riuh teman-teman makin terdengar, tapi di sekitarku rasanya hanya ada kami berdua. Aku menoleh ke Lingga. Matanya melebar, rahangnya menegang. Ada kombinasi kaget dan… entah, sesuatu yang sulit kubaca. Tatapannya menusuk, lalu dia perlahan melangkah pergi, langkahnya berat tapi pasti. Detik itu aku merasa… jantungku ikut tertinggal di belakang. “Hei, apa yang kau lakukan?” suara Maro akhirnya memecah hening, membuatku tersadar. Aku menatapnya. Banyak pertanyaan tergambar jelas di wajahnya. Sekarang hanya ada kami berdua. “Oke, Maro… jadi kita sekarang… eh, maksudku, kamu sekarang pacarku,” ucapku lagi, ngawur, tapi ada secercah ide gila di kepalaku. “Aku sudah punya pacar… dan kamu tahu itu. Apa maksudmu? Ini buat manasin Lingga, ya? Tolong jangan libatkan aku,” ucap Maro dengan nada sabar, tetap tenang meski wajahnya menunjukkan kebingungan. “Maafin aku, Maro. Tapi aku nggak bisa cabut ucapanku tadi di depan Lingga dan semua orang. Aku boleh kok jadi pacar keduamu. Aku nggak akan nuntut apa-apa. Kamu bebas tetap sama Stevi. Anggap aku nggak ada. Aku cuma butuh status itu—pacarnya Maro,” jawabku sambil tersenyum memohon, menelan malu dan panik. Tiba-tiba, telapak tangan Maro menyentuh keningku. Aku terkejut, jantungku hampir berhenti. “Kamu nggak lagi sakit, kan?” tanyanya lembut, khawatir. Huft… pasti dia mengira aku sudah gila. “Aku sadar dan sehat seratus persen, oke,” ucapku sambil menepis tangannya. “Pokoknya, mulai sekarang kamu pacarku,” ucapku cepat, lalu berlari ke kelas. Bel masuk sudah terdengar sejak tadi, tapi jantungku masih berdegup kencang, penuh malu, panik, dan… lega.Lingga menatap pantulan dirinya di kaca kamar mandi lebih lama dari biasanya.Bukan karena ia ingin memastikan penampilannya rapi, melainkan karena ia sedang memastikan satu hal:ia tidak boleh salah langkah malam ini.Tiga hari.Kesepakatan konyol yang awalnya hanya ingin segera ia akhiri, justru berubah jadi sesuatu yang membuat dadanya terasa penuh.Hari kedua kemarin… Lingga sadar.Sadar bahwa Alina bukan sekadar gadis menyebalkan yang selalu mengejarnya.Ia tertawa dengan cara yang jujur. Ia peduli dengan cara yang tidak memaksa. Ia hadir tanpa menuntut apa pun, selain kesempatan.Dan itulah yang menakutkan.“Gue nggak suka sama Alina.”Kalimat itu kembali terngiang di kepalanya.Ia mengatakannya siang tadi, di depan teman-temannya, dengan nada datar dan senyum setengah main-main. Seolah semua yang terjadi selama dua hari terakhir hanyalah sandiwara.Padahal tidak.Lingga mengepalkan tangannya.Ia bilang itu bukan karena bohong sepenuhnya, melainkan karena takut.Takut Alina jatu
Pagi itu, udara Bali terasa lebih hangat dari biasanya. Matahari menembus tirai, menyoroti pasir pantai yang berkilau. Hari ini adalah hari ketiga. Hari terakhir syarat pacaran tiga hari antara Lingga dan Alina. Alina duduk di balkon, memandang laut biru sambil memegang cangkir kopi hangat. Hatinya berdebar. Rasanya campur aduk; senang karena bisa menghabiskan waktu bersama Lingga, tapi juga cemas karena syarat itu akan segera berakhir. “Selamat pagi, sayang,” suara Lingga terdengar di belakangnya. Ia tersenyum hangat sambil membawa dua gelas jus. Alina tersipu. “Pagi… eh, maksudku… selamat pagi.” Lingga duduk di sampingnya, menatap mata Alina penuh lembut. “Aku janji, hari ini aku akan membuatnya menyenangkan. Tidak ada canggung lagi.” Alina menoleh, tersenyum tipis. “Aku percaya padamu.” Saat sarapan, Lingga dan Alina duduk bersebelahan. Teman-teman mereka menatap dengan keheranan—ada sesuatu yang berbeda dari Lingga yang biasanya cuek. “Eh… kok mereka kayak… manis banget pag
Pagi itu, sinar matahari menembus tirai jendela kamar, menyinari lantai kayu yang hangat. Alina duduk di tepi tempat tidur, menatap langit-langit sambil memainkan ujung selimut. Masih teringat malam sebelumnya, hatinya campur aduk antara kebahagiaan dan rasa takut. Pintu kamar diketuk perlahan. “Alina… boleh masuk?” suara Lingga terdengar canggung, sedikit ragu. Alina menoleh, wajahnya memerah. “Eh… ya, masuk saja.” Lingga melangkah masuk, tangannya sedikit gemetar. Ia duduk di kursi dekat jendela, menatap Alina dengan campuran bersalah dan cemas. Suasana hening, hanya suara angin laut yang terdengar dari balkon. “Maafkan aku tadi malam…” Lingga akhirnya berkata, suaranya hampir berbisik. “Aku… terlalu jauh. Aku tidak bermaksud membuatmu takut.” Alina menunduk, jari-jarinya menari di tepi selimut. Hatinya berdebar, tapi ia menahan diri untuk tidak menatap Lingga. “Aku… aku butuh waktu, Lingga,” jawabnya pelan. “Aku masih bingung dengan semuanya.” Lingga menelan ludah, menata
Pagi itu, matahari bersinar cerah di atas laut biru, angin pantai membawa aroma asin dan segar. Lingga dan Alina sudah siap untuk kegiatan pagi: lomba perahu dayung antar kelompok yang diadakan hotel.“Siap nggak, Lingga?” Alina melompat kegirangan. “Kita harus menang hari ini!”Lingga menggaruk kepala, setengah cemas. “Eh… aku kan baru pertama kali dayung bareng. Jangan salahin aku kalau perahunya malah muter-muter.”“Tenang aja! Aku yang akan arahkan. Pokoknya kita harus kompak!” Alina menggenggam tangannya, senyum lebarnya membuat Lingga tersipu.Di sisi lain, Maro memperhatikan mereka dari pantai, menatap Lingga–Alina dengan alis mengerut. “Hah… mereka terlalu akrab lagi,” gumamnya, menatap Stevi yang sedang menata rambutnya.Stevi menepuk bahu Maro. “Santai, sayang. Kita cuma harus fokus sama permainan kita sendiri. Jangan biarkan mereka ganggu mood liburan kita.”Maro menelan ludah, tapi tatapannya tetap menempel pada Lingga dan Alina yang tertawa lepas, mempersiapkan perahu.Sa
Lingga menarik napas panjang, matanya menatap Alina yang duduk di kursi penumpang, senyum lebar menghiasi wajahnya.“Baiklah… tiga hari,” ucap Lingga akhirnya, menatap mata Alina. “Aku terima syaratmu. Kita pacaran… selama tiga hari.”Alina tersenyum lebar, matanya berbinar. “Terima kasih, Lingga! Aku janji, kamu nggak akan menyesal.”Lingga merasakan jantungnya berdetak cepat, campur aduk antara risih dan senang. Tak ada yang tahu soal aturan “pacar tiga hari” ini, kecuali mereka berdua.Esok harinya, rombongan kecil itu berkumpul di bandara: Lingga, Alina, Maro, Stevi, Luna, Dito, dan Bagas. Semua tampak bersemangat, tawa dan canda memenuhi ruang tunggu. Voucher liburan prom night menjadi alasan sempurna untuk bersenang-senang.Di mobil sewaan menuju hotel, Alina duduk berdampingan dengan Lingga. Tanpa sadar, mereka saling menatap, sesekali bercanda.“Eh, jangan terlalu ngebut, Lingga! Aku nggak mau liburan ini berakhir dengan sakit karena mobil terguling,” goda Alina, menepuk bahun
Author POVKetegangan malam itu masih terasa tebal. Stevi menatap Maro dengan dingin, matanya menusuk seperti pisau, sementara Maro berdiri di sisinya, ragu dan cemas. Dua tahun hubungan mereka seolah diuji oleh kehadiran Alina.“Aku minta maaf, Stev, kalau kehadiranku membuatmu terganggu,” suara Alina lembut tapi tegas. “Aku hanya menganggap Maro teman baikku, tidak lebih. Aku yakin Maro juga begitu. Hanya ada kamu di hatinya. Jadi… jangan khawatir. Sekarang, Maro sebaiknya antar Stevi pulang. Aku sudah janji akan pulang bersama Luna dan pacarnya.”Stevi menatap Alina, terdiam. Maro mengangguk setuju, walau hatinya menolak. Alina tersenyum tipis, menyembunyikan kebenaran—ia tidak benar-benar pulang bersama Luna. Ia hanya ingin menghindari pertengkaran yang bisa berlarut.Maro dan Stevi pergi meninggalkan tempat itu. Alina tersisa sendiri, menatap jalan yang basah dan sepi. Tak lama, sebuah sedan hitam berhenti di sampingnya. Kaca depan terbuka, menampakkan sosok Lingga dengan tatapa







