Beranda / Romansa / Oh, Ampun Pak CEO! / 18. Cari Perhatian

Share

18. Cari Perhatian

Penulis: Queen Mylea
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-04 16:43:38

Bianca mengunyah roti tawar itu tanpa benar-benar merasakan rasanya. Rahangnya bekerja cepat, seolah ingin melampiaskan sesuatu yang mengganjal di dadanya. Suara dari ruang tamu samar terdengar, tawa ringan Veronica, rendah dan feminin, terlalu akrab untuk tamu yang baru datang.

Ia meneguk air putih, lalu meletakkan gelas dengan sedikit lebih keras dari seharusnya.

Menyebalkan.

Bianca menarik napas panjang dan melangkah keluar dapur. Ia tidak akan bersembunyi di rumahnya sendiri, uups rumah suami maksudnya.

Begitu kembali ke ruang tamu, pemandangan itu kembali menyambutnya. David duduk tegak, satu kaki menyilang, ekspresinya tetap dingin. Sementara Veronica… terlalu santai. Wanita itu kini bersandar di sofa, seolah sudah menghafal setiap sudut ruangan.

“Kau masih menyimpan lukisan itu?” tanya Veronica, menunjuk sebuah lukisan abstrak di dinding.

David melirik sekilas. “Belum sempat menggantinya.”

Veronica tersenyum puas. “Aku hadiahkan itu. kau lupa berapa lama aku membuatnya?
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Oh, Ampun Pak CEO!   22. Sama-sama Gengsi

    David berdiri kaku beberapa detik setelah Tuan Agra menyampaikan keputusan final. Wajahnya datar, tapi Bianca yang kini sudah cukup mengenalnya, bisa melihat jelas rahang pria itu mengeras, urat di pelipisnya menegang. “Baik, Kek,” ucap David akhirnya, suaranya rendah dan tertahan. “Dia boleh tinggal disini selama proyek kita masih berjalan." “Bagus,” jawab Tuan Agra singkat. “Aku percaya kau cukup dewasa untuk menempatkan keluarga di atas ego.”Ego? Bianca mengerutkan keningnya, ego apa yang pria tua itu maksud? Apakah sebelumnya hubungan David dengan sepupunya itu memang kurang baik?Suasana cukup tegang, hingga akhirnya muncul Veronica yang sudah sangat rapi dengan setelan yang cukup formal namun tetap stylish."Hallo, Opa Agra. How are you?"Tuan Agra mengerutkan keningnya, cukup terkejut melihat wanita yang tak asing baginya itu. "Veronica? Oh ya ampun, kapan datang?"Bianca yang awalnya tersenyum miring dan punya kesempatan untuk mengadukan kelakuan David pada kakeknya, dibu

  • Oh, Ampun Pak CEO!   21. Semakin Berani

    Bianca melangkah ke ruang makan dengan perasaan yang campur aduk. Satu sisi masih gengsi dan kesal dengan sikap David, namun sisi lain ia puas jika melihat yang menggatal itu kepanasan."Semoga aja si ulat bulu itu cepat pergi deh. Gue sih gak masalah juga CEO kulkas itu mau sama siapa, tapi gak dibawa ke rumah juga kelezz," batinnya. Ia duduk kemudian menatap sajian lezat disana. "Wah, enak nih! semoga saja bukan buatan model sok kece itu.""Ehmmm..." Suara dehaman itu datang dari arah tangga. Bianca refleks mendongak. David berdiri di sana, rapi dengan setelan abu-abu gelap. Rambutnya tersisir sempurna, wajahnya kembali menjadi topeng dingin yang biasa. Tidak ada jejak pria semalam. "Eh, Mas. Mau sarapan?" tanyanya basa-basi. David menatapnya beberapa detik. Tatapan itu misterius, sedikit menyebalkan. “Aku langsung berangkat," jawabnya datar. Bianca mendelik sebal seraya menahan napas saat David melewatinya. Aroma parfumnya singgah sebentar, cukup untuk membuat jantungnya berd

  • Oh, Ampun Pak CEO!   20. Skakmat

    David berdiri terlalu dekat. Jarak mereka hanya sehela napas, dan Bianca bisa merasakan ketegangan yang terpancar dari tubuh pria itu. Bukan amarah yang meledak, melainkan tekanan dingin yang justru lebih menakutkan.Pria itu menunggu Bianca mengatakan sesuatu. Ia ingin tahu apa reaksinya? Akankah menolak, membentak atau setidaknya marah?Namun Bianca tidak melakukan apa pun. Ia hanya berdiri di sana, dengan dada naik turun, tatapannya bertabrakan dengan mata David yang gelap dan sulit dibaca. Ada sesuatu dalam diri pria itu yang malam ini terasa berbeda. Dan ia lelah untuk berdebat. Karena mau seperti apapun, ia tetap akan kalah.Dan ketika akhirnya David bergerak, Bianca tidak melawan. Bukan karena ia ingin. Bukan pula karena ia sepenuhnya pasrah. Tubuh dan otaknya saling bertabrakan. Logikanya membenci, namun tubuhnya merespon lain. Seolah sentuhan dan ciuman David telah menghipnotisnya.Untuk beberapa saat, Bianca hanya diam. Keheningan itulah yang membuat sudut bibir David terang

  • Oh, Ampun Pak CEO!   19. Hukuman

    Langkah kaki David terdengar semakin jauh. Pintu rumah tertutup dengan bunyi pelan, namun bagi Bianca, suara itu terdengar seperti dentuman keras di dadanya."Ish, dasar aneh! udah capek-capek masak juga! Cicipi kek minimal," gumamnya. Bianca berdiri kaku di ruang makan, menatap kursi kosong yang baru saja ditinggalkan suaminya. Veronica mengambil tas kecilnya dengan santai, seolah kejadian barusan hanyalah rutinitas pagi yang biasa. “Jangan terlalu dipikirkan,” katanya ringan sambil tersenyum. “David memang begitu." Bianca menoleh tajam. “Kau sepertinya sangat mengenalnya.” Veronica mengangkat bahu. “Aku mengenalnya jauh sebelum kau ada di hidupnya.” Kalimat itu menancap tepat sasaran. Seharusnya tidak masalah bagi seseorang yang tidak memiliki rasa suka pada suaminya. Namun entah mengapa, Bianca merasa semakin jengkel. Bianca tersenyum miring. “Oh gitu. Kau mungkin saja tahu banyak tentang Mas Dav. Tapi sayangnya, kau hanya masa lalu, Nona." Veronica menatapnya bebe

  • Oh, Ampun Pak CEO!   18. Cari Perhatian

    Bianca mengunyah roti tawar itu tanpa benar-benar merasakan rasanya. Rahangnya bekerja cepat, seolah ingin melampiaskan sesuatu yang mengganjal di dadanya. Suara dari ruang tamu samar terdengar, tawa ringan Veronica, rendah dan feminin, terlalu akrab untuk tamu yang baru datang. Ia meneguk air putih, lalu meletakkan gelas dengan sedikit lebih keras dari seharusnya. Menyebalkan. Bianca menarik napas panjang dan melangkah keluar dapur. Ia tidak akan bersembunyi di rumahnya sendiri, uups rumah suami maksudnya. Begitu kembali ke ruang tamu, pemandangan itu kembali menyambutnya. David duduk tegak, satu kaki menyilang, ekspresinya tetap dingin. Sementara Veronica… terlalu santai. Wanita itu kini bersandar di sofa, seolah sudah menghafal setiap sudut ruangan. “Kau masih menyimpan lukisan itu?” tanya Veronica, menunjuk sebuah lukisan abstrak di dinding. David melirik sekilas. “Belum sempat menggantinya.” Veronica tersenyum puas. “Aku hadiahkan itu. kau lupa berapa lama aku membuatnya?

  • Oh, Ampun Pak CEO!   17. Tamu Tak diundang

    "Ckk, sialan. Gue jadi deg degan gini. Argghhhh, kenapa sih ada pria semenyebalkan Mas Dav?!" batinnya.Layar masih menyala, suara efek masih menggema, tapi pikirannya tertinggal pada satu hal—ciuman singkat, sepihak, lalu sikap David yang kembali beku seolah tak pernah menyentuhnya. Pria itu duduk tegak. Tatapannya lurus. Tangannya bertumpu di sandaran kursi, berjarak aman dari Bianca. Seolah barusan ia tidak kehilangan kendali barang sedetik pun. Pembohong, dengus Bianca dalam hati. Begitu lampu studio menyala, Bianca berdiri tanpa menunggu. Langkahnya cepat, sengaja meninggalkan David setengah langkah di belakang. Ia tidak suka diperlakukan seperti itu—dipakai sesuka hati, lalu diabaikan. Di lorong bioskop yang lengang, Bianca berhenti mendadak dan berbalik. “Kau selalu begini,” katanya ketus. David berhenti. Wajahnya datar. “Begini bagaimana?” “Selalu melakukan sesuatu seenaknya, lalu bersikap dingin seolah aku ini tidak ada.” Beberapa orang melintas. David refleks meraih

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status