MasukPagi itu tidak ada hujan, tetapi udara terasa berat dan dingin. Angin yang biasanya membawa aroma kebun anggur kini terasa pelan dan sunyi. Seolah alam ikut menahan napas. Di villa Moretti, semua orang bangun lebih awal. Namun tidak ada yang benar-benar tidur semalam. Di kamar Viola, tirai jendela dibuka sedikit agar cahaya pagi masuk dengan lembut. Viola terlihat jauh lebih lemah dari hari kemarin. Tubuhnya hampir tidak bergerak di atas tempat tidur putih. Napasnya pendek dan sangat pelan. Dokter yang datang pagi itu memeriksa dengan hati-hati. Daniel berdiri di dekat jendela, sementara Nadia duduk di samping tempat tidur sambil menggenggam tangan Viola. Beberapa menit kemudian dokter berdiri dan menatap mereka dengan wajah yang sangat serius. “Kita harus bersiap” ucap dokter itu. Nadia langsung menundukkan kepala. Air mata jatuh tanpa bisa ia tahan. Daniel tidak berkata apa-apa. Namun tangannya yang berada di samping tubuhnya perlahan mengepal. Di kamar sebelah, Elena m
Udara terasa berat pagi itu. Seolah seluruh rumah mengetahui sesuatu yang tidak ingin diucapkan siapa pun. Di kamar Viola, tirai jendela dibuka sedikit agar sinar matahari pagi masuk dengan lembut. Namun cahaya itu tidak mampu menyembunyikan kenyataan bahwa kondisi Viola semakin memburuk.Ia hampir tidak bisa bangun dari tempat tidur. Dokter yang datang pagi itu berbicara pelan dengan Daniel dan Nadia di lorong. “Tubuh Viola semakin lemah.” Nadia memegang perutnya dengan gelisah. Daniel berdiri diam, wajahnya tenang seperti biasa. Namun matanya lebih gelap dari biasanya. “Apakah dia kesakitan?” tanya Nadia. Dokter menggeleng. “Kami memberi obat agar ia tetap nyaman.” Daniel akhirnya bertanya satu hal yang paling sulit. “Kira-kira berapa lama lagi Viola bisa bertahan?” Dokter tidak langsung menjawab. Ia hanya berkata pelan, “Mungkin tidak lama.” Nadia menutup mulutnya dengan tangan. Air mata langsung jatuh. Daniel hanya mengangguk sekali. Tidak ada emosi di wajahnya.
Malam di villa Moretti terasa lebih sunyi dari biasanya. Langit Tuscany dipenuhi bintang, namun di dalam kamar tempat Viola berbaring, suasana terasa berat. Lampu tidur menyala redup. Viola terlihat jauh lebih lemah dibandingkan beberapa hari lalu. Nafasnya pendek, dan kulitnya pucat hampir seperti kertas. Namun matanya masih jernih. Ia tahu waktunya semakin sedikit. Di sisi tempat tidur, Nadia duduk sambil memegang tangannya. Sementara di kursi kecil dekat jendela, Elena duduk dengan Bruno yang setia di kakinya. Gadis kecil itu memandang ibunya dengan wajah bingung. “Mama masih sakit?” Viola tersenyum lemah. “Sedikit.” Elena turun dari kursinya dan berjalan mendekat. Ia naik perlahan ke tempat tidur dan memeluk ibunya dengan hati-hati. “Kalau mama sakit, Elena akan jaga mama.” Viola hampir menangis mendengar itu. Ia mencium rambut Elena
Matahari baru saja naik, namun suasana villa terasa berat seolah sesuatu yang tidak terlihat sedang menekan seluruh rumah itu.Di kamar tempat Viola dirawat sementara, udara terasa berbeda. Aroma obat dan bunga lavender memenuhi ruangan. Viola terbaring di tempat tidur dengan wajah yang jauh lebih pucat dibandingkan beberapa minggu lalu. Tubuhnya terlihat semakin kurus, napasnya lebih berat. Seorang dokter yang didatangkan Daniel dari Florence baru saja selesai memeriksanya. Nadia berdiri di dekat jendela sambil menunggu. Daniel berdiri di samping tempat tidur. Dokter itu akhirnya melepas stetoskopnya. “Dokter, bagaimana kondisi Viola sekarang?” tanya Daniel. Dokter menghela napas pelan. “Kondisinya semakin lemah.” “Berapa lama dia bisa bertahan?” tanya Daniel. Dokter tidak langsung menjawab. “Sulit memastikan. Bisa beberapa minggu atau mungkin beberapa bulan.” Nadia memegang perutnya secara refleks. Sementara Viola yang masih setengah sadar membuka matanya perlahan.
Kabut tipis menyelimuti kebun anggur, matahari musim semi menyinari perbukitan dengan lembut, dan villa Moretti berdiri megah di puncak bukit seolah tidak tersentuh masalah. Namun di balik ketenangan itu, perang diam-diam sedang dimulai. Di ruang kerja villa, Daniel sudah bangun sejak pukul lima pagi. Laptopnya terbuka dengan beberapa layar penuh data. Paul muncul di panggilan video lagi. “Anda tidak tidur?” tanya Paul. Daniel menjawab tenang. “Tidur dua jam.” Paul menggeleng pelan. “Anda terlihat seperti seseorang yang sedang merencanakan kudeta besar-besaran” ucap Paul. Daniel tersenyum. “Tidak.” Ia menutup satu dokumen dan membuka yang lain. “Hanya membersihkan masalah.” Paul menatap layar Daniel. Di sana ada daftar perusahaan milik Matteo Moretti. Perusahaan anggur. Perusahaan ekspor. Beberapa properti. Namun juga ada beberapa yang mencurigakan. Perusahaan logistik. Gudang pelabuhan. Investasi offshore. Paul bersandar di kursinya. “Anda menggali sangat dalam
Malam di Tuscany terasa sunyi. Namun di villa Moretti, tidak ada seorang pun yang benar-benar tidur nyenyak. Lampu keamanan menyala di seluruh area kebun anggur. Para penjaga berjalan berpatroli setiap dua puluh menit. Bahkan Bruno, anjing besar kesayangan Elena, terlihat lebih waspada dari biasanya. Di dalam kamar, Elena akhirnya tertidur setelah lama memeluk Nadia. Namun di ruang kerja villa, Daniel masih terjaga. Lampu meja menyinari wajahnya yang serius. Di depannya terbuka laptop dengan beberapa layar berisi rekaman kamera keamanan, peta jalan di sekitar villa, serta beberapa dokumen. Paul muncul di layar panggilan video. “Tuan Daniel, saya sudah menerima laporan dari penjaga yang anda kirim” ucap Paul pelan. Daniel bersandar di kursinya. “Lalu apa yang kamu temukan?” tanya Daniel. “Perangkat yang ditemukan di truk itu bukan barang murah. Sistem pengendali jarak jauh militer modifikasi” kata Paul menjelaskan. Daniel tidak terlihat terkejut. “Matteo.” Paul
Pagi di Ubud hangat seperti biasa, tetapi hati Nadia masih terasa dingin. Ia membuka cafe sambil menahan rasa hampa yang pelan-pelan mencoba menyelinap setiap kali ia melihat ponselnya yang sepi. Daniel belum menghubungi lagi sejak pesan singkat semalam. Ia tidak ingin menuduh. Tidak ingin mera
Nadia duduk di kursi kerja Daniel, yang terasa terlalu besar untuk tubuh mungilnya. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara AC dan samar-samar percakapan dari lantai bawah. Dari tempatnya, ia bisa melihat hampir seluruh pemandangan Ubud: sawah, pohon kelapa, dan garis langit yang lembut. Namun p
Pagi itu Nadia datang ke studio Daniel membawa roti dan dua cup kopi. Ia ingin mengejutkan pria itu setelah malam penuh kehangatan emosional sebelumnya. Namun begitu ia membuka pintu studio, ia justru menemukan Daniel sedang menatap layar laptop dengan ekspresi yang jarang ia lihat: tegang, serius,
Wajah kecil di layar ponsel itu membuat suasana ruangan berubah total. Elena memiliki rambut hitam bergelombang, mata besar setengah biru setengah hazel, perpaduan yang indah antara Daniel dan mantan istrinya. Nafas Nadia hampir terhenti melihat betapa miripnya gadis itu dengan Daniel ketika tersen







