LOGINPagi itu laut terlihat tenang. Daniel dan Nadia berjalan menyusuri pantai Kuta, pasir masih dingin oleh sisa malam. Mereka tiba di Bali dua hari sebelumnya bukan untuk liburan besar, melainkan untuk pulang sebentar. Nadia ingin menengok cafe kecilnya, Daniel ingin bernapas dari ritme Eropa yang terlalu rapi. Pantai Kuta tidak banyak berubah. Riuhnya masih sama, bau garam dan matahari masih bercampur di udara. Namun bagi Nadia, tempat itu selalu menyimpan gema sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia pahami, hingga kini. Daniel melepas sepatunya, membiarkan air menyentuh pergelangan kakinya. Ia berdiri memandang laut dengan ekspresi yang sulit dibaca. “Aku selalu punya perasaan aneh setiap melihat laut di sini,” kata Daniel pelan. “Seperti pernah meninggalkan sesuatu.” Nadia berhenti melangkah. Ia menatap punggung Daniel, cara ia berdiri menghadap ombak, bahunya yang sedikit tegang meski laut terlihat ramah. “Daniel…” kata Nadia perlahan. “Apa kamu ingat seorang gadis kecil… se
Daniel tiba di Kopenhagen pada sore yang tenang. Tidak ada jadwal rapat menunggu. Tidak ada ponsel yang terus bergetar di sakunya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia datang dengan satu hal sederhana: waktu. Ia berdiri di depan studio Nadia, menatap pintu kayu itu beberapa detik sebelum mengetuk. Ketukan itu pelan, tidak mendesak tapi seolah ia memberi ruang bagi Nadia untuk menyambutnya tanpa kejutan. Pintu terbuka. Nadia berdiri di sana dengan rambut sedikit berantakan, apron masih tergantung di tubuhnya. Matanya terkejut sesaat, lalu melembut dengan cepat. “Kamu datang,” kata Nadia, hampir berbisik. Daniel tersenyum. “Aku datang… sepenuhnya.” Tidak ada kata lain yang dibutuhkan. Nadia melangkah mendekat. Mereka berpelukan lama, tanpa tergesa, tanpa ragu. Pelukan itu tidak lagi seperti orang yang takut kehilangan, melainkan dua manusia yang tahu ke mana mereka kembali. “Aku rindu caramu memeluk,” bisik Nadia. Daniel menutup mata. “Aku rindu tempat ini. Dan
Hamburg menyambut Daniel dengan ritme yang berbeda dari bulan-bulan sebelumnya. Tidak ada panggilan darurat di tengah malam. Tidak ada email berjudul urgent yang berlapis tanda seru. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, pagi Daniel dimulai dengan secangkir kopi panas yang diminum perlahan, bukan sambil berdiri. Ia berdiri di depan jendela kantornya, lantai atas gedung yang dulu terasa seperti beban, kini mulai terasa seperti hasil dari perjuangan panjang. Di bawah, kota bergerak stabil, tidak tergesa, tidak panik. Rapat pagi berjalan singkat dan efisien. Laporan keuangan menunjukkan garis yang akhirnya menanjak secara konsisten. Investor yang dulu meragukan kini bicara dengan nada percaya. Tim internal bekerja dengan koordinasi yang matang, bukan ketakutan. “Restrukturisasi kita berhasil,” kata salah satu direktur dengan senyum lega. Daniel mengangguk. Ia tidak merayakan. Ia mengakui. Setelah rapat, Daniel duduk sendirian di ruang kerjanya. Ia membuka laptop, bukan un
Hari terakhir Daniel di Kopenhagen datang tanpa tanda khusus. Tidak ada hujan, tidak ada angin keras. Langit justru cerah, seolah kota itu sengaja bersikap netral dan membiarkan dua manusia di dalamnya mengambil keputusan sendiri. Daniel bangun lebih pagi. Ia duduk di tepi ranjang hotel, menatap koper yang sudah setengah terisi. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa enggan menyelesaikan sesuatu yang biasanya terasa mekanis. Bukan karena ia ingin tinggal lebih lama, tetapi karena ia tahu: setiap keberangkatan kini membawa makna. Ponselnya bergetar. Pesan dari Hamburg. Dewan direksi meminta rapat darurat siang ini. Salah satu investor utama ingin bertemu langsung. Ada peluang suntikan dana besar dengan syarat Daniel harus menetap penuh di Hamburg setidaknya satu tahun ke depan. Daniel menutup mata. Inilah dunia yang ia bangun bertahun-tahun. Dan kini dunia itu meminta kehadirannya sepenuhnya. Di sisi lain kota, Nadia berdiri di depan galeri, berbicara dengan koordinator r
Pagi di Kopenhagen datang dengan cahaya yang lembut. Nadia terbangun lebih awal dari biasanya. Studio masih sunyi, hanya suara samar air kanal yang mengalir di kejauhan. Ia duduk di tepi ranjang kecilnya, memeluk lutut, dan tersenyum kecil saat menyadari hari ini Daniel ada di kota yang sama. Bukan untuk waktu lama. Bukan tanpa batas. Tapi cukup untuk membuat hari terasa berbeda. Ia menyiapkan kopi sederhana. Saat aroma kopi memenuhi ruangan, pesan dari Daniel masuk. Aku di bawah. Tidak terburu-buru. Jika kamu ingin berjalan pelan. Nadia membalas dengan satu kata: Turun. Mereka berjalan tanpa tujuan jelas. Kopenhagen pagi itu tidak ramai. Toko-toko baru membuka pintu, pesepeda melintas dengan ritme santai, dan langit terlihat bersih seolah baru dicuci hujan semalam. Daniel berjalan di sisi Nadia, langkahnya menyesuaikan tidak mendahului, tidak tertinggal. “Aku lupa rasanya berjalan tanpa jadwal,” kata Daniel. Nadia menoleh. “Kamu selalu hidup dengan daftar.” Daniel tersen
Kopenhagen menyambut Daniel dengan langit pucat dan udara asin dari laut.Pesawat mendarat lebih pagi dari jadwal. Daniel berdiri sejenak di ujung koridor bandara, menarik napas panjang, seolah ingin memastikan bahwa langkah yang ia ambil bukan reaksi sesaat, melainkan pilihan sadar. Tidak ada bunga di tangannya. Tidak ada rencana besar. Ia datang hanya dengan dirinya sendiri dan niat untuk hadir. Nadia sedang berada di galeri ketika pesan Daniel masuk. Aku sudah tiba. Ia membaca pesan itu dua kali. Tidak ada degup panik. Tidak ada lonjakan euforia. Yang ada justru rasa hangat yang menyebar perlahan, seperti kopi pertama di pagi hari. Ia membalas singkat: Aku selesai satu jam lagi. Satu jam itu terasa panjang dan singkat sekaligus. Mereka bertemu di sebuah cafe kecil dekat kanal, tempat yang tenang, dengan jendela besar dan kursi kayu sederhana. Nadia tiba lebih dulu. Ia memilih meja di dekat jendela, menatap orang-orang yang berlalu-lalang, mencoba menenangkan detak di dadanya







