Home / Romansa / Om Bule Kekasihku / Rahasia Yang Mulai Terkuak

Share

Rahasia Yang Mulai Terkuak

Author: Sabrina dewi
last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-07 10:40:15

Pagi itu Nadia datang ke studio Daniel membawa roti dan dua cup kopi. Ia ingin mengejutkan pria itu setelah malam penuh kehangatan emosional sebelumnya. Namun begitu ia membuka pintu studio, ia justru menemukan Daniel sedang menatap layar laptop dengan ekspresi yang jarang ia lihat: tegang, serius, jauh dari kelembutan yang biasa dimilikinya.

“Nad?” Daniel tersentak kecil. “Kamu sudah datang?”

Nadia tersenyum sambil mengangkat kopi. “Aku bawain sarapan.”

Tapi senyum itu perlahan memudar ketika
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Om Bule Kekasihku   Dua Detak Kecil

    Pagi itu, suasana villa Blankenese terasa lebih sibuk dari biasanya. Daniel sudah berdiri di ruang tengah sejak pagi, mengenakan kemeja rapi, ponsel di tangan, namun perhatiannya jelas bukan pada pekerjaan. “Nadia sudah siap?” tanya Daniel untuk ketiga kalinya. Dari tangga, suara Ayu terdengar, “Tenang sedikit, Daniel. Ini bukan rapat penting.” Daniel menghela napas tipis. “Ini lebih penting dari pada rapat.” Beberapa detik kemudian, Nadia turun perlahan dengan bantuan Camille. “Madame, pelan-pelan,” ujar Camille dengan nada formalnya. Nadia tersenyum. “Iya, Camille” jawab Nadia lembut. Elena langsung berlari kecil menghampiri. “Mama!” Ia memegang tangan Nadia dengan hati-hati. “Aku ikut ya?” tanya Elena. “Kamu mau ikut ke dokter?” kata Daniel. Elena mengangguk cepat. “Aku mau ikut!” Ayu langsung menyela, “Wah, seru nih. Ada pasien kecil tambahan.” Nadia tertawa. “Boleh” ucap Nadia. Daniel tidak menolak. “Baik. Kita pergi bersama.” Perjalanan menuju rumah sakit

  • Om Bule Kekasihku   Rencana Yang Ditunda

    Malam itu villa Blankenese terasa hangat dan hidup. Lampu-lampu di ruang keluarga menyala lembut, meja makan dipenuhi hidangan buatan Lina dan untuk setelah sekian lama, semua orang berkumpul tanpa bayang-bayang ketegangan. Daniel duduk di ujung meja, sementara Nadia di sampingnya, dengan Elena yang setia menempel di kursinya. Ayu duduk santai sambil memainkan sendok, Camille berdiri di dekat dinding seperti biasa, dan Lina serta Rudi duduk berhadapan dengan mereka. Suasana terasa nyaman. Namun Daniel terlihat sedikit lebih serius dari biasanya. “Nadia” kata Daniel pelan. Nadia menoleh. “Iya?” Daniel menarik napas kecil. “Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.” Ayu langsung menegakkan badan. “Wah.. sepertinya serius nih” ucap Ayu. Elena menatap Daniel dengan penasaran. “Ada apa papa?” tanya Elena serius. Daniel melirik semua orang. Tentang resepsi. Di Bali. “Aku ingin kita menunda resepsi.” Ruangan langsung hening beberapa detik. Nadia menatapnya. “Kamu yakin?” Da

  • Om Bule Kekasihku   Di Antara Tanggung Jawab Dan Tawa Kecil

    Hari-hari di Blankenese mulai kembali ke ritme semula. Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Villa itu tidak hanya menjadi rumah, tetapi benar-benar menjadi tempat untuk pulih. Pagi itu, ruang kerja Daniel kembali hidup. Laptop terbuka, beberapa dokumen berserakan di meja, dan suara panggilan video terdengar samar. “Ya, lanjutkan akuisisi itu,” kata Daniel dengan nada tenang namun tegas. Di layar, beberapa eksekutif mengangguk. “Dan pastikan tidak ada celah hukum. Aku tidak mau ada masalah di kemudian hari.” “Baik, Tuan Daniel.” Panggilan berakhir. Daniel menutup laptopnya perlahan. Namun belum sempat ia berdiri, pintu terbuka sedikit. Seorang kepala kecil muncul. “Papa” Daniel langsung melunak. “Elena.” Gadis kecil itu masuk pelan. “Apa aku boleh masuk?” Daniel tersenyum. “Kamu tidak perlu izin.” Elena mendekat. “Papa sibuk?” Daniel menggeleng. ”Untuk anak papa, tidak” Elena terlihat puas dengan jawaban itu. Ia naik ke kursi di samping Daniel. “Mama lagi ti

  • Om Bule Kekasihku   Cerita Elena

    Udara Hamburg yang biasanya dingin seolah tidak mampu menembus suasana rumah yang kini dipenuhi kehangatan, kelegaan dan kebersamaan. Di ruang makan, meja besar sudah dipenuhi sarapan. Lina menyiapkan makanan dengan penuh perhatian, sementara Ayu membantu sambil sesekali bercanda. Rudi duduk membaca berita dan Camille berdiri tegak di dekat tangga, seperti biasa rapi dan sigap. “Madame sudah bangun?” tanya Camille dengan nada hormat. Nadia yang baru turun tangga tersenyum kecil. “Sudah, Camille.” Camile menuntun Nadia dengan pelan-pelan. Elena langsung berlari kecil menghampirinya. “Mama” Ia memeluk Nadia dengan hati-hati. Seolah masih mengingat bahwa wanita itu belum sepenuhnya pulih. Nadia mengusap rambutnya. “Pagi, sayang.” Daniel berdiri dari kursinya, matanya langsung tertuju pada Nadia. “Kamu harus cepat duduk.” Nada suaranya tenang, tapi tidak memberi pilihan. Ayu tertawa kecil. “Bossy banget.” Nadia hanya tersenyum dan menurut. Sarapan dimulai dengan suasan

  • Om Bule Kekasihku   Rumah Dan Kata Yang Menghangatkan Hati

    Perjalanan kembali terasa lebih tenang. Langit Hamburg menyambut mereka dengan warna abu-abu khasnya, namun kali ini tidak terasa dingin. Saat mobil memasuki kawasan Blankenese, Elena menempelkan wajahnya ke jendela. “Kita hampir sampai dan itu rumah kita..” Suaranya pelan. Namun penuh rasa rindu. Nadia tersenyum, tangannya menggenggam tangan Elena dengan lembut. “Iya sayang, kita pulang sekarang.” Daniel melirik ke arah mereka berdua. Dan setelah semua yang terjadi, ia benar-benar merasa semuanya kembali pada tempatnya. Begitu mobil berhenti di depan villa Blankenese, pintu langsung terbuka. Camille keluar lebih dulu, seolah tidak sabar. “Finally. Kita kembali kesini” Ia langsung berjalan cepat menuju Nadia. “Hati-hati madam, jangan turun terlalu cepat.” Nada suaranya tegas, hampir seperti perawat pribadi. Nadia tersenyum. “Iya, Camille.” Daniel turun dan langsung membantu Nadia dengan sangat hati-hati. Elena berdiri di samping mereka, memperhatikan dengan serius.

  • Om Bule Kekasihku   Kembali Pulang

    Pagi itu terasa berbeda. Langit Florence cerah, dengan cahaya matahari yang hangat menyusup melalui jendela kamar rumah sakit. Setelah semua kejadian yang melelahkan, ada rasa lega yang nyata di udara. Di dalam kamar, Nadia sudah duduk rapi di tepi tempat tidur. Wajahnya jauh lebih segar, matanya kembali hidup, dan senyumnya kini tidak lagi dipaksakan. Hari ini ia akan pulang. “Elena, tolong bantu aku ya” kata Nadia lembut. Elena yang berdiri di sampingnya langsung mengangguk cepat. “Aku bisa!” Gadis kecil itu dengan serius mengambil tas kecil Nadia dan mencoba membawanya, walaupun sedikit terlalu berat untuknya. Daniel yang melihat itu tersenyum tipis. “Pelan-pelan, princess.” Elena menatapnya. “Aku mau bantu mama Nadia.” Nada suaranya penuh tekad. Dan kali ini, tidak ada lagi rasa takut di dalamnya. Hanya keinginan untuk menjaga. Tak lama kemudian dokter masuk untuk pemeriksaan terakhir. “Kondisinya sudah stabil. Ibu Nadia boleh pulang, tapi tetap harus istirahat to

  • Om Bule Kekasihku   Diantara Detak Dan Keheningan

    Pagi di Blankenese selalu datang seperti bisikan. Cahaya matahari menyelinap melalui tirai tipis, jatuh perlahan di lantai kayu kamar. Nadia terbangun lebih dulu. Ia tidak langsung bangun, hanya menatap Daniel yang masih tertidur di sampingnya. Wajah Daniel terlihat lebih muda saat tidur. Garis-g

    last updateHuling Na-update : 2026-03-24
  • Om Bule Kekasihku   Ketika Sunyi Menjadi Tempat Pulang

    Hari pembukaan pameran tiba dengan cara yang nyaris tidak dramatis. Tidak ada karpet merah. Tidak ada bunga berlebihan. Tidak ada keramaian kamera. Hanya sebuah galeri kecil di Altona, pintu kaca sederhana, dan papan nama putih bertuliskan nama Nadia dengan huruf yang tidak besar namun cukup bera

    last updateHuling Na-update : 2026-03-24
  • Om Bule Kekasihku   Rumah Yang Tidak Minta Penjelasan

    Usulan itu datang di saat yang nyaris tanpa rencana. Pagi sebelum keberangkatan mereka ke London, Margaret berdiri di dekat jendela apartemen, menatap sungai kecil yang mengalir pelan. Ia memutar cangkir tehnya, lalu berkata seolah berbicara pada udara. “Kalian tahu,” katanya ringan, “villa kelu

    last updateHuling Na-update : 2026-03-24
  • Om Bule Kekasihku   Harga Dari Kejujuran

    Pagi itu, Hamburg tidak memberi isyarat apa pun. Langit biru pucat, udara dingin bersih, kota berjalan seperti biasa seolah hidup Daniel dan Nadia tidak sedang berada di titik rawan. Nadia berdiri di dapur, menyiapkan sarapan sederhana. Tangannya bergerak otomatis, pikirannya tidak. Daniel duduk

    last updateHuling Na-update : 2026-03-23
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status