หน้าหลัก / Romansa / Om Bule Kekasihku / Kehangatan Datang Tanpa Peringatan

แชร์

Kehangatan Datang Tanpa Peringatan

ผู้เขียน: Sabrina dewi
last update วันที่เผยแพร่: 2025-12-22 18:51:35

Pagi itu dimulai seperti hari-hari lain di Hamburg abu-abu, dingin, dan teratur.

Nadia sedang menyeduh teh di dapur ketika ponsel Daniel bergetar. Ia melirik layar sekilas, lalu terdiam. Wajahnya berubah bukan tegang, bukan panik, melainkan terkejut dengan cara yang nyaris lucu.

“Ada apa?” tanya Nadia.

Daniel mengangkat wajahnya perlahan.

“Orang tuaku… mereka di Hamburg.”

Nadia membeku.

“Sekarang?”

Daniel mengangguk.

“Mereka baru mendarat dari London. Katanya… ingin bertemu.”

Kata ingi
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Om Bule Kekasihku   Antara Nalar Dan Hati

    Pagi datang perlahan di rumah sakit. Cahaya matahari masuk lewat jendela, menyapu lembut ruangan yang semalam dipenuhi ketegangan. Kini lebih tenang. Lebih damai. Namun tidak sepenuhnya. Karena di luar kamar itu, pertanyaan masih menggantung. Di lorong rumah sakit, Rudi berdiri sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding. Tangannya menyilang. Wajahnya terlihat serius. Lina duduk di kursi, memegang tas kecil di pangkuannya. Keduanya diam cukup lama. Seolah masih memproses apa yang terjadi. “Aku masih tidak habis pikir..” akhirnya Rudi bicara. Lina menoleh. “Apa?” tanya Lina. Rudi menghela napas. “Anak kita, Nadia” Ia menggeleng pelan. “Dia sedang hamil kembar,” Lina diam. “Tapi dia tetap lompat ke kolam tanpa pikir panjang untuk menolong Elena” lanjut Rudi. Nada suaranya bukan marah. Tapi lebih ke bingung. “Aku juga kaget, yah” ucap Lina sambil menundukan kepalanya sedikit. Ia mengusap tangannya pelan. “Tapi, aku nggak heran sama anak kita.” Ru

  • Om Bule Kekasihku   Pilihan Yang Tidak Pernah Salah

    Malam semakin larut. Kamar rumah sakit akhirnya kembali tenang. Elena tertidur di sisi tempat tidur, masih menggenggam tangan Nadia. Wajahnya terlihat lebih damai, walaupun bekas air mata masih jelas terlihat di pipinya. Nadia sendiri mulai terlelap, napasnya pelan dan stabil. Lampu redup. Suara monitor tetap berdetak pelan. Dan di sudut ruangan, Daniel berdiri diam. Ia tidak duduk. Tidak bergerak. Hanya menatap dua sosok itu. Wanita yang ia cintai. Dan anak yang ia lindungi. Beberapa jam lalu, ia hampir kehilangan keduanya. Dan itu cukup untuk membuat sesuatu dalam dirinya berubah. Daniel berjalan perlahan mendekat. Duduk di kursi di samping tempat tidur. Tangannya menyentuh tangan Nadia. Hangat. Nyata. Masih di sana. Ia menunduk sedikit. Matanya tidak lepas dari wajah Nadia. Wajah yang beberapa jam lalu pucat karena kesakitan, namun karena ia memilih untuk melompat menyelamatkan putrinya. Tanpa berpikir. Tanpa ragu. “Gila..” bisik Dani

  • Om Bule Kekasihku   Cinta Tidak Harus Sama Darah

    Di kamar rumah sakit, lampu diredupkan. Suara mesin monitor berdetak pelan, teratur, menenangkan setidaknya bagi sebagian orang. Namun tidak untuk Elena. Gadis kecil itu duduk di kursi dekat tempat tidur, memeluk bonekanya erat. Matanya tidak lepas dari Nadia. Seolah jika ia berpaling satu detik saja, semuanya akan hilang lagi. “Elena” Suara Daniel terdengar pelan dari sudut ruangan. “Kamu harus istirahat.” Elena menggeleng cepat. “Aku tidak mau tidur” ucap Elena pelan. Namun tegas. Daniel menatapnya beberapa detik. Ia ingin memaksa. Namun melihat mata itu, mata yang penuh ketakutan, ia tidak bisa memaksanya. Nadia membuka matanya perlahan. “Elena” ucap Nadia pelan. Gadis kecil itu langsung berdiri. “Mama ”kata Elena dan ia berjalan mendekat. Sangat pelan. Seolah takut menyentuh pun bisa menyakiti. Nadia tersenyum lemah. “Kamu belum tidur?” Elena menggeleng. “Aku mau di sini” jawab Elena. Beberapa detik hening. Namun Elena terlihat gelisah. Tangannya menggeng

  • Om Bule Kekasihku   Batas Yang Tidak Boleh Dilanggar

    Rumah sakit kembali menjadi tempat yang menegangkan. Lampu putih yang terang. Langkah kaki yang tergesa. Dan suara napas yang terasa terlalu keras di telinga. Daniel berjalan cepat di samping brankar. Tangannya tidak pernah lepas dari Nadia. “Nadia, lihat aku” ucap Daniel dengan suara panik. Nadia mencoba membuka matanya. Namun wajahnya masih pucat. Tangannya tetap memegang perutnya. “Perutku masih kram..” ucap Nadia. Suaranya lemah. Elena berjalan di belakang bersama Ayu. Wajahnya penuh air mata. “Mama Nadia..” Ia terus memanggil. Seolah takut jika suara itu berhenti, semuanya akan hilang lagi. Pintu ruang penanganan tertutup. Daniel terpaksa melepaskan tangan Nadia. Dan itu terasa seperti hal tersulit yang harus ia lakukan. “Nadia..” Namun pintu sudah tertutup. Beberapa detik. Sunyi. Daniel menutup matanya. Menarik napas dalam. Namun kali ini, bahkan itu tidak cukup untuk menenangkan dirinya. “Elena” ucap Ayu lembut. Ayu berlutut di depan gadis kecil itu.

  • Om Bule Kekasihku   Aksi Nekat Nadia

    Hari itu dimulai dengan ringan. Terlalu ringan. Seolah semua orang akhirnya benar-benar bisa bernapas setelah semua yang terjadi. Pagi di halaman belakang villa Blankenese terasa cerah. Kolam renang yang beberapa hari lalu dibersihkan kini terlihat jernih, memantulkan langit biru Hamburg yang jarang muncul. Elena berlari kecil di sekitar taman, memegang Bruno. “Ke sini!” kata Elena riang, seolah Bruno bisa benar-benar mengerti. Di kursi dekat kolam, Ayu duduk santai, sementara Paul berdiri tak jauh, berpura-pura sibuk dengan ponselnya. “Kalau kamu mau lihat, lihat saja,” kata Ayu tanpa menoleh. Paul mengangkat alis. “Saya tidak melihat apa-apa.” Ayu menyeringai. “Iya, iya.” Di balkon atas, Nadia berdiri dengan hati-hati, ditemani Camille. “Madame sebaiknya tidak terlalu lama berdiri,” ujar Camille. Nadia tersenyum. “Aku hanya lihat Elena sebentar.” Matanya mengikuti gerak anak itu. Penuh kasih. Penuh perhatian. Di bawah, Elena tertawa sambil berlari mundur. “Brun

  • Om Bule Kekasihku   Kunjungan Yang Kebetulan

    Sejak hari itu, semuanya terasa sedikit berbeda. Bukan karena sesuatu yang besar. Tapi karena seseorang yang mulai terlalu sering muncul. Pagi itu, villa Blankenese masih tenang. Ayu sedang duduk santai di ruang keluarga, menikmati teh sambil menggulir ponselnya. Elena bermain di lantai dengan puzzle. Lina di dapur. Camille seperti biasa berdiri rapi di dekat jendela. Dan tiba-tiba, ding dong. Ayu mengangkat alis. “Siapa pagi-pagi?” Camille berjalan menuju pintu dan membukanya. Di sana ada seseorang yang sedang berdiri, Paul. Dengan map di tangan. Dan ekspresi profesionalnya. “Selamat pagi.” Camille menatapnya beberapa detik. “Tuan Paul. Tuan Daniel belum memanggil anda.” Paul mengangguk. “Saya tahu.” Camille mengangkat alis tipis. “Lalu?” tanya Camille. “Hari ini saya datang lebih awal” jawab Paul dengan tenang. Camille menatapnya lagi. Lebih lama. Lalu, membiarkannya masuk. Ayu yang melihat dari sofa langsung bersuara, “Wah... rajin sekali.” Paul menoleh.

  • Om Bule Kekasihku   Diantara Detak Dan Keheningan

    Pagi di Blankenese selalu datang seperti bisikan. Cahaya matahari menyelinap melalui tirai tipis, jatuh perlahan di lantai kayu kamar. Nadia terbangun lebih dulu. Ia tidak langsung bangun, hanya menatap Daniel yang masih tertidur di sampingnya. Wajah Daniel terlihat lebih muda saat tidur. Garis-g

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-24
  • Om Bule Kekasihku   Ketika Sunyi Menjadi Tempat Pulang

    Hari pembukaan pameran tiba dengan cara yang nyaris tidak dramatis. Tidak ada karpet merah. Tidak ada bunga berlebihan. Tidak ada keramaian kamera. Hanya sebuah galeri kecil di Altona, pintu kaca sederhana, dan papan nama putih bertuliskan nama Nadia dengan huruf yang tidak besar namun cukup bera

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-24
  • Om Bule Kekasihku   Rumah Yang Tidak Minta Penjelasan

    Usulan itu datang di saat yang nyaris tanpa rencana. Pagi sebelum keberangkatan mereka ke London, Margaret berdiri di dekat jendela apartemen, menatap sungai kecil yang mengalir pelan. Ia memutar cangkir tehnya, lalu berkata seolah berbicara pada udara. “Kalian tahu,” katanya ringan, “villa kelu

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-24
  • Om Bule Kekasihku   Harga Dari Kejujuran

    Pagi itu, Hamburg tidak memberi isyarat apa pun. Langit biru pucat, udara dingin bersih, kota berjalan seperti biasa seolah hidup Daniel dan Nadia tidak sedang berada di titik rawan. Nadia berdiri di dapur, menyiapkan sarapan sederhana. Tangannya bergerak otomatis, pikirannya tidak. Daniel duduk

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-23
บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status