LOGIN02
Yasuo termangu, saat Dilara tiba-tiba muncul di lobi utama gedung apartemen yang ditempatinya. Wajah tegang Dilara menjadikan Yasuo membatalkan niatnya untuk bertanya, dan langsung mengajak gadis itu ke lift khusus penghuni mansion.
Sepanjang jalan lift itu Dilara sama sekali tidak mengatakan apa pun. Dia baru menceritakan semuanya, setelah tiba di mansion sang om.
Yasuo terkesiap sesaat, sebelum dia meraih ponsel dari meja guna menelepon Emryn, yang tengah libur dan menginap di kediaman Fikri, Kakak sepupunya. Yasuo menerangkan maksudnya dan Emryn berjanji akan mengecek ke unit apartemen Dilara.
"Kamu tenang, ya, Ra. Emryn akan segera ke sana. Dia pasti mengajak semua sepupunya buat ngecek unitmu," cakap Yasuo seusai menutup sambungan telepon.
"Aku benar-benar marah sama Vasant. Bisa-bisanya dia memaksa masuk!" desis Dilara sembari mengepalkan kedua tangannya.
Yasuo menepuk pelan punggung tangan kiri Dilara. "Tindakanmu sudah benar, dan Om kagum dengan keberanianmu."
Dilara meringis. "Tadi itu, aku sangat nekat."
"It's okay. Biar dia tahu rasa sudah bikin kamu merasa terancam."
"Hu um."
"Sekuriti sudah nanganin itu, kan?"
"Ya. Waktu nyampe lobi, aku langsung lapor ke sekuriti di sana. Aku juga ngasih kunci unit, supaya mereka bisa nyeret Vasant keluar."
"Itu keren. Kamu berhasil menekan rasa panik dan bertindak rasional."
Dilara mengulum senyuman. "Om muji gitu, aku jadi lapar."
Sudut bibir Yasuo berkedut, sebelum akhirnya dia terkekeh sesaat. Seusai tawanya lenyap, Yasuo berdiri dan jalan ke pantry.
"Om mau masak?" tanya Dilara saat melihat Yasuo memasang celemek hitam di badannya.
"Ya. Di sini nggak ada makanan matang. Jadi Om harus masak buat memberimu makan."
"Pesan aja, Om."
"Lama. Cepetan masak. Gampang lagi."
Dilara berdiri dan mendekati meja pantry. "Om mau bikin apa?"
"Nasi goreng. Pakai sosis, bakso, telur, dan kol," terang Yasuo sembari membuka kulkas dan mengeluarkan wadah makanan bening. "Om sudah sedia prepfood plus bumbunya di sini. Tinggal tambah nasi," sambungnya sambil menutup kulkas dan berpindah ke dekat kompor.
Dilara mengamati gerakan luwes pria paruh baya bercelemek hitam. Dilara kian mengagumi sosok Yasuo, yang pernah menjadi cinta pertamanya di masa kecil menuju remaja.
Terbayang kembali keakraban mereka di masa silam. Setelah pulang sekolah, Dilara akan bertamu ke rumah seberang, hanya untuk menemui Yasuo yang kala itu tengah merintis cabang Tadashi Grup di Jakarta.
Dilara sangat sedih, saat Yasuo dan ibunya kembali pulang ke Tokyo, beberapa bulan setelah Nina wafat. Hati Dilara kian hancur, ketika Yasuo menikahi Naomi Lucia Smith, yang merupakan anak dari sahabat ayahnya Yasuo.
Akan tetapi, pernikahan itu hanya berlangsung selama 4 tahun. Seusai bercerai, Yasuo menyibukkan diri dengan bisnisnya di Eropa, hingga jarang berkunjung ke Indonesia.
Dilara yang kala itu telah memiliki kekasih, berusaha melupakan cinta monyetnya pada Yasuo. Namun, dua tahun terakhir pria itu makin sering bolak-balik ke Jakarta, dan mereka pun kerap berjumpa di berbagai kesempatan.
Sebab tengah menjalin hubungan dengan Vasant, Dilara berusaha fokus dengan lelaki tersebut. Namun, beberapa bulan lalu, Dilara memergoki Vasant yang tengah berada di apartemen kerabat jauh Dilara, yang ada dalam satu gedung dengan unitnya Vasant.
Dilara yang kala itu ditemani ketiga adiknya, mengamuk dan menampar Vasant serta Edna. Setelah puas memaki keduanya, Dilara pergi bersama adik-adiknya, sembari terisak-isak.
Lambat laun, perasaan Dilara kian membaik. Dia menata hatinya yang sempat terluka, sembari meneruskan bekerja. Kedekatannya dengan Yasuo membuat cinta lama yang sempat terkubur, kembali mencuat dalam hati Dilara. Namun, dia belum berani mengungkapkannya, karena ingin memastikan penerimaan Yasuo atas dirinya.
Panggilan Yasuo memutus lamunan Dilara. Dia menerima piring beraroma harum dari pria tersebut, lalu mulai bersantap dengan lahap.
Puluhan menit terlewati. Emryn muncul di unit Yasuo bersama para sepupunya, yang juga pengawal PBK. Mereka berdiskusi di ruang kerja, supaya tidak terdengar oleh Dilara yang tengah beristirahat di kamar tamu.
"Dia berhasil kabur?" tanya Yasuo.
"Ya, Pak," jawab Fikri Hizkia, manajer umum PBK.
"Kok, bisa?"
"Kata sekuriti yang ngecek ke unit Dilara, pria itu sudah nggak ada, setelah mereka tiba di sana."
"Enggak terpantau CCTV?"
"Ada rekamannya. Tapi, setelah dicek ke tempat parkir, mobilnya juga sudah nggak ada."
"Apa kalian nggak bisa lihat rekaman itu?"
Fikri menggeleng. "Itu di luar wewenang kami. Hanya polisi yang bisa memaksa pengelola gedung untuk melihat rekaman itu."
Yasuo mendengkus. "Ribet juga."
"Begitulah." Fikri terdiam sejenak, lalu dia berkata, "Kalau Bapak mau, bisa minta tolong Pak Elkaar, atau Mas Wisnu. Mereka bisa menyelidiki kasus ini secara diam-diam, alias penyelidikan rahasia."
"Aku nggak dekat sama mereka, Fik."
"Lewat ketiga robot itu."
Yasuo spontan tersenyum. "Robot 1 dan 2, lagi di Eropa. Tinggal robot 3 yang emosional itu. Aku ngeri, dia bakal ngejar Vasant ke mana pun."
Fikri turut tersenyum. "Bang W sudah lebih tenang sekarang. Jarang banget dia meledak marah. Kecuali kalau lagi perang dan pegang belati kesayangannya."
Yasuo manggut-manggut. "Oke, kamu hubungi Wirya dan sampaikan permintaanku tadi."
"Baik."
"Aku nggak bisa lepas tangan sama Dilara. Dia anak sahabatku, dan dia nggak mau ngasih tahu tentang ini ke keluarganya. Supaya mereka nggak khawatir, katanya," ungkap Yasuo. "Karena itu, aku yang harus nanganin ini. Sampai benar-benar yakin jika Dilara aman dari kejaran Vasant," pungkasnya.
Sementara itu di tempat berbeda, Vasant tengah meringkuk di kasur. Dia terpaksa menginap di hotel, karena khawatir jika Dilara telah melaporkannya ke pihak berwajib, dan unit Vasant akan didatangi polisi.
Vasant juga tidak berani mendatangi teman-temannya, supaya mereka tidak ikut terseret. Jika kasus itu benar-benar diselidiki polisi.
Pria berparas tampan itu mengeluh dalam hati, karena tidak menduga bila Dilara akan melawan dan balik menyerangnya dengan tepat sasaran.
Vasant bingung, Dilara belajar teknik tadi dari siapa. Sebab gadis itu sebelumnya tidak pernah mendalami ilmu bela diri, selama mereka masih bersama.
Vasant kaget, karena baru 3 bulan mereka berpisah, tetapi Dilara telah berubah menjadi lebih pemberani, dan sangat berbeda dari yang dulu.
Pria berambut belah tengah itu mencurigai Yasuo, yang nemang akrab dengan Dilara. Sebab Vasant tahu, jika Yasuo cukup mumpuni dalam karate, dan juga dikelilingi para ajudan serta semua sahabatnya, yang juga jago bela diri.
Dering ponselnya mengejutkan Vasant. Dia menyambar benda itu dari samping kiri, lalu mengecek nama pemanggil, dan mengangkat telepon dari adiknya.
"Mas, di mana?" tanya Andrew Bahadri, dari seberang telepon.
"Rumah teman," sahut Vasant. "Ada apa?" desaknya.
"Mas ditanyain Mama. Katanya mau pulang ke Bandung?"
"Minggu depan, deh. Sekarang aku lagi nggak enak badan."
"Sakit?"
"Cuma demam."
"Minum obat."
"Ya."
"Oh, ya. Kata Mama, ajak juga Kak Dilara. Mama pengen ketemu."
"Lihat sikon, deh. Rara lagi sibuk."
Vasant menutup sambungan telepon sembari menggerutu dalam hati. Dia memang tidak menerangkan jika hubungannya dengan Dilara telah berakhir.
Vasant tahu, kedua orang tuanya sangat menyayangi Dilara, yang dianggap sebagai kunci kesuksesan Bahadri Company, dalam dunia bisnis Indonesia.
120Minggu berganti menjadi bulan. Siang itu, Dilara, Qiran, Yasuo, dan keluarga besar mereka, serta para bos, telah berada di hotel milik orang tua Edna di Pekalongan. Mereka tengah menyaksikan prosesi akad nikah antara Vasant dan Edna. Dilara mengerjapkan matanya yang mengabut. Dia bahagia dengan penyatuan kedua orang tersebut, yang langsung memutuskan untuk menikah, setelah kembali dekat sejak pulang ke Indonesia 3 bulan silam. Saat acara sungkeman, suasana bertambah haru. Terutama ketika Edna berpindah dari depan orang tuanya dan orang tua Vasant, lalu Edna bersimpuh di depan Hamzah dan Mega, yang segera mendekap keponakan mereka itu dengan erat. Setelah Edna menjauh, Vasant memohon restu pada kedua orang tua Dilara, yang bergantian memberikan wejangan pada sang pengantin pria, yang membalasnya dengan anggukan.Di deretan kursi ujung, pasangan pengantin baru itu mendekap Yasuo dam Dilara secara bergantian. Mereka berbincang sesaat, sebelum Vasant dan Edna bergeser ke kanan guna
119Acara akikah Tadashi Qiran Elvana, berlangsung dengan khidmat, pada Sabtu pagi. Tenda biru menutupi jalan depan rumah Bryan, hingga ke rumah Yasuo yang berada di ujung blok B cluster 7. Puluhan kendaraan mewah para tamu, memenuhi tanah kosong di ujung blok depan, yang merupakan perbatasan antara blok A dan B. Selain itu, banyak mobil juga menumpang parkir di sepanjang jalan blok A dan C, yang penghuninya sudah mengizinkan depan rumahnya digunakan sebagai tempat parkir. Seusai pengajian, Yasyo menggendong putrinya untuk mendatangi semua tetua keluarga, guna melaksanakan acara gunting rambut. Eiji dan Dean mengikuti langkah Yasuo, sambil membawa nampan kecil berisikan wadah kaca, serta gunting kecil. Mereka mendatangi Tadashi Makoto dan Hamzah terlebih dahulu. Kedua Kakek itu bergantian menciumi dahi Qiran, sebelum menggunting rambut cucu mereka sesuai dengan kunciran, yang telah dibuat Daphne dan Dhyani. Setelahnya, Yasuo bergeser ke kiri. Ustaz Sulaiman, Istaz Mawardi, Hamdi,
118Seorang pria paruh baya, jalan mondar- mandir di selasar depan ruang bersalin, di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta Selatan. Pria yang mengenakan t-shirt cokelat muda itu merasa cemas, karena istrinya sudah beberapa jam di ruang bersalin, tetapi bayinya tak kunjung lahir.Kedatangan sekelompok orang dari ujung lorong, membuat pria tersebut berhenti melangkah. Dia menghela napas lega, karena akhirnya bala bantuan telah tiba. Pria itu menyalami semua tamu, lalu dia menerangkan situasi yang terjadi di dalam ruang tindakan. Lelaki tersebut tidak memprotes saat kelima rekannya berpindah ke dekat dinding, lalu mereka menempelkan telapak tangan kanan ke dinding. Yasuo mengamati saat kelima murid paguyuban olah napas Margaluyu itu, menembakkan tenaga dalam masing-masing sambil memfokuskan pikiran pada sosok Dilara di dalam ruangan. "Masuk, Yas," tukas Benigno, sesaat setelah mendengar rintihan Dilara dari dalam ruangan. "Dia nggak ngizinin aku buat nemenin, Ben. Karena tadi, ak
117Ruang rapat Hotel CJC di pusat Kota Guangzhou, pagi itu dipenuhi banyak orang berseragam hitam dan biru. Mereka duduk rapi di deretan ratusan kursi, sambil fokus mengamati podium. Wirya menyampaikan pidato dengan bahasa Mandarin yang fasih. Dia membahas banyak kemajuan di semua unit kerja dan tempat proyek, yang ditangani tim PB, PBK serta CJC.Wirya juga menerangkan perubahan struktur manajemen PBK area China dan sekitarnya, yang akan dimulai per 1 Januari tahun depan. Setelah Wirya turun dari podium dan mundur ke tengah-tengah area depan, Chyou menaiki podium. Pria bertubuh tinggi itu menyapa hadirin dalam bahasa Mandarin dan Indonesia, yang dibalas khalayak dengan semangat. Berbeda dengan Wirya yang berpidato tentang pekerjaan, Chyou justru menyampaikan berbagai program perusahaan keempat klan, yang akan membangun lebih banyak hunian kelas menengah ke bawah, di banyak kota di seputar China. Hal itu tentu saja disambut antusias oleh khalayak. Mereka bersorak sambil bertepuk
116Yasuo memandangi Alvaro yang tengah menggerutu, karena tidak diajak Wirya ke Guangzhou. Yasuo nyaris tertawa, ketika pria blasteran itu berhasil menelepon Wirya, yang sejak tadi sulit dihubungi. Yasuo tersenyum kala Alvaro mengomeli sahabatnya menggunakan bahasa Spanyol, yang dibalas Wirya dengan bahasa Mandarin. Yasuo akhirnya terbahak, begitu pula dengan rekan-rekannya yang berada di ruang rapat kantor BHARATHAYA. "Aku kesal, W. Kudunya diajakin!" geram Alvaro. "Kamu, kan, baru balik dari Sulawesi, Var. Cicing, atuhlah," balas Wirya dari seberang lautan. "Salman dan Gilang juga baru balik. Kenapa diangkut?" "Sudah lewat 3 hari setelah mereka pulang dari Sumatera. Cukup istirahatnya." "Aku masih sanggup on 72 jam!" "Berisik! Minta pecatkah?" "Ehh, aku yang punya PBK!" "Bukan dari sana, tapi dari GUNZ." "Berani mecat aku jadi komisaris GUNZ, aku balas pecat kamu dari BHARATHAYA!" "Mangga. Berarti huruf A hilang 1, jadi BHRATHAYA." "Huruf H-nya juga hilangin aja. Aku mu
115Mendekati hari perkiraan lahiran, Dilara mengalami kecemasan akut, yang membuatnya ketakutan berlebihan. Yasuo meminta bantuan Benigno, Falea, bahkan Wirya, untuk menenangkan Dilara. Ketiga orang tersebut bergantian datang ke rumah Yaauo di malam hari, guna mendengarkan curahan hati perempuan tersebut. Malam itu, Wirya berkunjung bersama ketiga anak lelakinya. Mereka turun dari motor besar, kemudian memasuki rumah melalui pintu depan yang dalam kondisi terbuka lebar. Dilara menyambut para tamu dengan senyuman. Dia mengambil Shahzain dari gendongan Bayazid, lalu Dilara mengajak bocah berusia setahun lebih itu untuk duduk di karpet tebal, yang telah dihamparkan di ruang tengah. Bunyi motor kedua yang berhenti di carport, menjadikan Dilara penasaran. Dia berdiri dan mengecek ke depan, kemudian dia berteriak, sebelum mendekati kedua perempuan berbeda generasi, yang baru turun dari motor matic. "Aku bawa makanan dari warungnya Jane," terang Vanetta, seusai beradu pipi dengan sang







