LOGINTOM POV 3
"Apa yang kau lakukan, Lisa?" Matanya menatap bingung, Lisa, gadis itu mencium Tom? Putri dari sahabat Tom sendiri? Dalam sekejap, bahkan saat Tom belum mendapatkan jawaban, gadis ini langsung meninggalkan ruangan tempat di mana Tom dirawat. Alat infus masih menempel di punggung tangan Tom sehingga dia tidak bisa bergerak terlalu banyak, tapi melihat Lisa yang sekarang menghilang membuat pria setengah baya ini langsung bangkit dari baringnya. "Apa yang dia pikirkan, apa dia menawarkan ku nafas buatan?" Keningnya mengernyit tetapi kepalanya berdenyut memikirkan apa yang mungkin Lisa pikirkan. Tom ingin bertanya pada Lisa dengan mengirimi dia pesan tapi rasanya tidak etis jika bertanya hal yang sensitif dengan pesan. Pria ini larut dalam pikirannya sendiri, dan beberapa saat kemudian pintu kamar terbuka, Amanda, istri Tom, Annie putri bungsunya bersama Lucas putra sulung Tom datang dan membawa sesuatu untuknya. Mereka tampak sangat senang menyambut Tom yang baru saja sadar setelah mendapatkan beberapa perawatan. "Bagaimana perasaan mu?" Amanda bertanya, dia mengelus pipi Tom dan dia tersenyum pada istrinya. "Aku baik-baik saja, tapi aku rasa kaki ku mungkin dalam masalah." Senyum Tom memudar dan kue berbentuk mungil yang mereka bawa kemudian mereka potong lalu menyuapi Tom dengan satu potongan kue. "Apa Lisa datang kemari?" Lucas bertanya, Tom terhentak sejenak, apa dia akan berbohong atau berkata jujur? Sebaiknya dia diam saja. Pikirnya. "Katanya sih mau datang sama Om Martin, tapi kayaknya nggak jadi deh, lagian Ayah juga bakal pulang kan hari ini." Annie menjelaskan dan Tom hanya mengangguk. "Aku sudah beritahu Martin buat datang makan malam di rumah kita, tanda terima kasih buat Lisa yang sudah bantu kamu Tom." Tom hanya mengangguk, mengangkat alis dan tak mengatakan apa pun. Padahal saat itu, rasanya dia masih bisa merasakan sentuhan bibir Lisa yang kecil, atau dia hanya salah paham saja. Keluarga Tom tentu sudah menyiapkan segalanya untuk menyambut kepulangan Tom ke rumah, dan dia akan memilih sendiri tongkat apa yang akan dia gunakan untuk membantunya tetap bisa berjalan. Tongkat kayu yang hanya seukuran pinggang dengan gagang sedikit panjang dan berwarna coklat mengkilat, ya ini cocok untukya. Dia berada dalam kesunyian saat tiba di dalam kamarnya. Menatap istrinya yang sudah sibuk sejak Tom sampai di rumah. "Kau tidak perlu melakukan ini, aku bisa berterima kasih pada Martin dan Lisa secara langsung." Tom duduk di atas ranjang bersandar di sana dengan kaki yang terlentang ke depan. Istrinya menatap masuk ke dalam cermin, lalu merias bibirnya dengan lipstik merah, dia berkata, "Martin adalah orang yang penting untuk mu, untuk perusahaan, makan malam tidaklah merugikan bagi kita." Amanda membuat Tom menghela nafas, dia tampil modis dan elegan, sementara Tom menganggap bahwa istrinya terlalu berlebihan. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi, hingga bel pintu rumah berdering. "Oh itu mungkin mereka." Amanda langsung keluar dari kamarnya, sementara Tom dia berdiri dari duduknya, kakinya setengah pincang akibat kecelakaan yang dia alami. Dia berjalan ke arah jendela menatap langit yang semakin gelap, lalu pelan berdiri di hadapan cermin, menatap wajahnya yang semakin tua, dan menurutnya semakin terlihat tidak menarik. Tangannya mengelus lembut garis-garis halus diantara mata dan kulitnya. "Tidak mungkin Lisa bisa menyukai ku. Apa kota ini kehilangan anak muda sehingga dia ... Ah sudahlah." Tom berjalan keluar dari kamarnya, dia masih berusaha menyesuaikan tongkat yang dia gunakan, langkahnya pelan dan tangannya terasa cukup pegal memegangi tongkat. Tidak pernah terpikirkan bahwa dia akan kehilangan salah satu fungsi kakinya. Dia masuk ke area ruang makan dan di meja makan semua orang sudah lengkap, "Lisa." Dia bergumam hanya dia saja yang bisa mendengar gumamannya. Sekilas matanya menatap Lisa dan dalam sedetik mereka melakukan kontak mata, dan Tom berusaha mengalihkan pandangannya pada Martin, sosok yang dianggapnya sebagai sahabat. Semuanya berjalan lancar, makan malam yang menyenangkan, Tom banyak berbincang dengan Martin sampai akhirnya Martin meninggalkan rumah itu bersama putrinya. Tom kembali ke kamar dan berharap bisa istirahat walau kepalanya masih terasa tersiksa dengan pertanyaan, "Mengapa Lisa menciumku saat itu?" Saat istrinya terus berbicara di sampingnya, Tom mencoba untuk tetap tenang, dan akhirnya terlelap. Saat dia bangun, rasanya semuanya menghilang, istrinya kembali ke tempat kerjanya sendiri, Annie ke kampus, dan Lucas yang sibuk dengan organisasi politiknya. Thomas Archer yang masih dalam proses penyembuhan hanya sendiri di rumahnya, ditemani pelayan rumah tentunya tapi secara emosi dia betul-betul sendiri, hingga sore tak ada yang dia lakukan selain berada dalam kesunyian. Hingga akhirnya pintu kamarnya diketuk, suara dari luar berkata, "Tuan Tom, Nona Lisa ada di depan, katanya mau bertemu dengan Anda." Sontak Tom terhentak dan dia langsung berdiri, meraih tongkatnya dan berjalan ke pintu, tangannya cepat membuka pintu itu dan melihat pelayan wanita yang cukup tua berdiri di hadapannya. "Baiklah, suruh dia ke ruangan kerja ku." Pelayannya lalu pergi dari sana sementara Tom berjalan lincah dengan kaki yang masih kesulitan menuju ruangan pribadinya, ruangan kerja yang selalu menemaninya. Dia membuka pintu cat marun dan masuk ke dalam sana, mencoba terlihat sibuk dan berdiri di samping meja sambil meraih buku-buku yang sama sekali tidak dia baca. Suara ketukan dari luar pintu, Tom menjawab, "Masuk." Dia tidak menatap siapa yang datang tetapi dia sadar bahwa sekarang gadis itu masuk ke dalam ruangannya sehingga buku yang berada di tangannya kini dia taruh ke atas meja. "Aku membawa proyek—" "Taruh saja di meja, aku akan melihatnya nanti. Dan kita punya sesuatu yang harus kita bahas." Tom memotong ucapan Lisa lalu tatapannya mengarah pada gadis berambut sebahu, coklat gelap dengan kacamata persis milik Tom. "Aku senang, Om Tom baik-baik saja." Lisa, sambil menaruh gulungan kertas dan flashdisk yang dititip oleh ayahnya. Tom duduk di atas mejanya, dia menatap Lisa yang dekat tapi tidak begitu dekat dengannya, ragu tapi dia bertanya, "Apa ada yang lain, yang ingin kau katakan?" Tom bertanya pelan, dan dia memperhatikan gerak-gerik Lisa yang seakan panik. "Apa maksud Om Tom?" Mendengar pertanyaan balik dari Lisa, Tom turun dari mejanya, jalannya pelan karena kakinya masih terasa nyerih, dia menelan saliva dan jarak mereka bahkan hanya sejengkal, Tom mampu merasakan nafas Lisa yang begitu cepat. "Lisa." Dia semakin mendekat, "Apa ada yang ingin kau katakan kepadaku?" Lisa yang merasa tahu akan apa yang dimaksud oleh Tom kini mengangkat pandangannya, berusaha menjelaskan, "Mengenai apa yang terjadi di rumah sakit, bahwa aku mencium Om Tom, itu semua salah paham, aku tidak berniat atau—" Tom yang tidak tahan dengan penjelasan Lisa lalu menjatuhkan wajahnya, hidung mancungnya bertabrakan dengan hidung kecil Lisa, dia membiarkan bibirnya menyentuh bibir milik kecil mereka miliki Lisa. Gadis itu terhentak, bagai mematung sementara Tom menunggu reaksi Lisa. Tongkatnya jatuh ke lantai, dan Lisa bahkan tak menolak ciumannya."Kau mencintai ku Lisa." "Sangat." Dan Lisa bersandar di dinding pintu, saat jaketnya merosot ke lantai dan meninggalkan gaun ungu lembut membalut tubuhnya. Tom berdiri di depannya, dia menjatuhkan tongkatnya dan tegak walau dengan kaki pincang yang terasa nyeri. "Ted bilang aku akan menyesal." "Persetan dengan Ted." Lisa mengalungkan tangannya di leher Tom sementara kedua tangan Tom berada di pinggang Lisa. Wajah mereka terlalu dekat sehingga napas satu sama lain terasa begitu jelas. "Bagaimana dengan Martin?" Lisa menunduk, perlahan lalu mengangkat kepalanya, "Ayah tidak akan tahu. Aku akan menikah dengan Lucas dan kita akan berada di atap yang sama. Namaku akan menjadi Lisa Archer. Dan kau ayah mertuaku." Sangat lembut, Tom dengan senyumnya bertanya, "Berjanjilah bahwa tidak akan ada yang tahu." "Tidak akan ada yang tahu." Lalu tangan yang tadinya berada di leher Tom kini terangkat ke kepala Thomas Archer, dia meremas rambutnya sembari berkata, "Sekarang, rasakan aku Tho
Moment 3: Martin "Akun tidak yakin bahwa dia akan datang." Seorang pria berambut coklat dengan tubuh kekar duduk bersandar di ruang rapat. "Ini sudah setengah jama dan Thomas Archer belum tiba." "Dia hanya punya nama dan kita bekerja untuknya, dan sekarang kita menunggunya." "Bahkan saat dia datang, pasti dia hanya duduk, bicara singkat lalu pulang." Seseorang yang lainnya tertawa kecil dan mereka berhenti saat Martin Braun masuk ke dalam sana, ke ruang rapat. "Beliau belum datang?" Pertanyaan yang diberikan oleh Martin pada mereka yang dibalas gelengan. Martin menghela napas, mengecek ponselnya. Dia menatap nomor ponsel Tom tapi kembali menurunkan ponselnya. "Kenapa tidak dimulai saja tanpanya?" Seseorang mengusulkan. "Lagi pula perusahaan akan tetap jalan walau tidak ada dia. Yang penting hanyalah tanda tangannya, Pak Martin?" Martin tidak menjawab, memulai rapat tahunan tanpa pemilik sah adalah sesuatu yang tidak terhormat, pikirnya. Dia berjalan masuk ke area rapat dan dudu
Moment 2: Thomas ArcherPantulan wajah itu menua, bahkan saat dia sudah memotong rapih rambutnya yang sempat menebal. Cambangnya kini menghilang dan dia melangkah pelan, semakin dekat ke arah cermin.Telunjuknya menyentuh sisi mata yang menua, yang sudah berkerut menyadari bahwa dia tidak pantas. Setidaknya dalam beberapa menit dia merasa kelayakannya sudah hilang untuk menyentuh siapa pun selain istrinya. Tapi menyentuh Amanda pun terasa sulit sebab wanita itu sibuk dengan dunianya dan Tom perlahan hilang minat. Dia kembali mundur singkat, langkahnya pincang menuju nakas yang berdiri di samping ranjang saat dia meraih kacamata dan mulai mengenakannya. Penglihatannya lebih jelas, dan segera dia mengenakan rompi biru dongkernya dan meminta pembantunya untuk memesankan dia taksi online. Yang tidak lama akhirnya datang, saat berada di dalam mobil dia bicara pada si driver, "Apa bisa aku meminta jasa Anda setelah ini? Jam tiga sore kira-kira." "Jasa driver Tuan?" "Iya. Tapi Anda jug
Moment 1: Lisa Martin mengatakan kepadanya bahwa dia dan Tom akan ada rapat hari ini. Lalu gadis ini berkata, "Aku mungkin akan pulang malam, Ayah." Martin mengernyit ketika dia nyaris memasukkan sepatu mengkilatnya ke dalam kaki berkaos biru putih. "Kok? Kan kamu udah lulus, kenapa tidak istirahat? Atau kamu mau ketemu Lucas lagi?" Dia mengejek, apple cheek pria itu terlihat jelas memerah dan Lisa hanya menggeleng. "Aku mau ketemu teman, udah lama nggak ketemu mereka." "Okey." Martin berdiri tegak lalu keluar dari rumah, dia menghilang menuju rumah keduanya, tempat kerja. Pada jam dua belas siang, Lisa kembali ke kamarnya mencoba bermacam-macam gaun yang cocok di depan cermin. "Hmmm ... Dia suka warna ungu." Susah payah gadis itu merombak lemarinya hingga dia menemukan gaun warna ungu lembut yang sudah lama tidak dia kenakan. Dia mencobanya terlebih dahulu dan masih sangat pas untuk tubuhnya yang mulai mengurus. Tak lupa menyediakan lensa agar tak perlu menggunakan kacamat
Lusa akan ada rapat di perusahaan, Martin baru saja mengirimkannya foto dia dan Lucas yang sekarang berada di rumah mereka, bersama dengan Lisa yang berada di tengah. Dia tidak merasakan apa pun, tidak bereaksi apa pun selain mematikan ponselnya dan duduk di kursi kayu di halaman depan mansion. Dia melakukan ini setiap kali dia ingin tenang. Dan kepalanya lebih dingin saat malam semakin gelap dan lampu-lampu mulai menyala. Dia juga melihat istrinya keluar dari mobil setelah seharian berada di tempat terapinya. Marc tampak setia di samping Amanda, membantu wanita itu berjalan dengan tongkat kaki empat. Marc bahkan mengantarnya hingga masuk ke dalam mansion. Mereka bahkan tak melihat Tom yang sejak tadi duduk di sana, sendirian dengan tongkat kayu dan mencoba untuk tidak memikirkan apa pun. Setelah tadi siang dia bicara dengan Richart dan sorenya dia bicara dengan Ted. Ted yang berada di apartemennya sendirian, hidup sendirian dan bahkan tidak ada yang tahu apakah dia punya seorang
Tom: Aku sudah bicara dengan Richart. Dia setuju untuk mengaku dan dipecat secara tidak hormat dari kampus Aku menatap pesan itu, apa aku akan lega atau tidak, entahlah. Tapi saat ini aku masih berbaring di atas ranjang ku. Ku taruh kembali ponsel ku dan ku tarik selimut ku. Aku juga menunggu kedatangan Ayah bersama Lucas dan aku yakin mereka sedang berada di coffee shop dan sedang berbincang kayaknya calon ayah mertua dan calon menantunya. Dan ya bahkan hingga sore aku masih belum menemukan ayah, sampai akhirnya malam akan segera tiba dan aku mendegar pintu rumah terbuka. Ku lepas selimut ku, aku masih dalam kondisi berbaring di atas ranjang dengan tubuh telentang. Lalu ku gerakkan kaki ku dan aku segera duduk di atas ranjang, aku meminggir dan kaki ku menyentuh lantai. Segera aku menyalakan lampu dan dengan kaos longgar dan celana pendek longgar ku kenakan aku kemudian keluar dari kamar, berjalan malas menuruni anak tangga. "Kau pikir kenapa pria itu tiba-tiba mengaku? Astaga, i







