Share

Chapter 6

Penulis: Black Eagle
last update Terakhir Diperbarui: 2025-05-09 09:20:49

LISA POV 1

Tubuhku kaku, kenapa? Kedua tangannya, jemarinya menyentuh pipiku dan bibirnya masih berada di bibir ku. Aku bahkan tidak mampu menolak, atau membalas.

Tangannya, jari-jarinya semakin lembut menyentuh wajahku dan saat tubuhku merasa terangsang, aku perlahan mengangkat tangan ku ke wajahnya, menyentuh kedua pipinya dan mulai membuka bibir ku sendiri, apa yang aku pikirkan? Aku membalas ciuman Om Tom, bahkan lebih agresif.

Berapa detik sekarang? Berapa lama dia mencium ku? Berapa lama kami berciuman hingga akhirnya dia melepas bibirnya dariku?

"Ah."

Nafasnya terasa di wajahku, dan kini kami saling menatap satu sama lain, aku menelan saliva yang bercampur dengan miliknya, milik Om Tom.

Dia membelalakkan kedua kelopak mata yang terbingkai kacamata itu, aku juga memperbaiki kacamata ku yang tadinya bertabrakan dengan miliknya. Lalu seolah dia menyadari sesuatu tubuhnya mulai menghindar cepat.

"Lisa ... Astaga ... Aku minta maaf, Nak, aku betul-betul—"

Prak!

"Apa yang aku lakukan?"

Prak!

"Sialan! Dia anak sahabatmu! Bodoh!"

Prak!

Dia menampar pipinya sendiri beberapa kali, dan kakinya yang setengah pincang mundur ke arah meja. Aku masih kaku, membeku di tempat ku berdiri.

"Om ... Om Tom."

Dia berhenti dan bersandar di meja kerjanya, tangannya mengepal sementara pipinya memerah. Rambut tebalnya terlihat berantakan dan kami berada dalam senyap.

Tatapan kami bertemu dan aku bertanya pada diriku sendiri, kenapa aku tidak mampu bergerak setelah mendapatkan apa yang aku inginkan selama ini?

"Om benar-benar minta maaf, aku salah paham mengira—"

"Mungkin sebaiknya Om istirahat." Aku menyahut dengan nada suara yang pelan. "Om juga harus melihat proyek yang dibuat ayahku untuk Om, jadi aku sebaiknya pergi."

Aku merasakan ujung jemariku bergetar sementara Om Tom tak mengatakan apa pun, kami hanya saling menatap satu sama lain dalam beberapa detik sampai akhirnya keheningan pecah, aku nyaris terhentak saat bunyi deringan ponsel terdengar.

Lucunya kamu juga punya nada dering yang sama jadi saat itu aku dan Om Tom mengecek ponsel kami masing-masing.

"Iya, Lucas?" Dia bergetar, panggilan itu untuknya, dan aku kembali memasukkan ponselku ke dalam tas. Aku menatapnya saat raut wajah tegang miliknya berubah menjadi raut wajah lemas, dia bahkan nyaris terjatuh saat itu. "Apa maksudmu? Kenapa kau berkata omong kosong? Katakan dengan jelas, ada apa, Lucas?"

Aku hanya menatap sejenak, dan meraih tingkat kayu coklat milik Om Tom, bertanya pelan, "Apa terjadi sesuatu, Om?"

Matanya yang mengarah ke dinding kini dialihkan kepadaku, aku bisa merasakan ketegangan dalam dirinya, tentu, kami baru bertukar saliva sehingga ketegangan diantara kamu bahkan masih sangat terasa.

Tetapi ada yang berbeda, dia nyaris jatuh.

"Om."

Aku meraih lengannya dan dia menatapku dalam diam, bibirnya bergetar sambil berkata, "Amanda ...."

Dia nyaris pingsan, atau jatuh ke lantai seandainya aku tidak memeganginya erat-erat. Sampai saat ini aku masih bertanya, apa yang terjadi?

"Om Tom ... Om baik-baik saja?"

"Amanda kecelakaan ... Istriku di rumah sakit." Dia lemas, aku bisa merasakan tubuhnya tapi sesaat setelahnya dia kembali bangkit, tongkat kayu yang seukuran pinggangnya itu kini diraihnya. Dia mengambil ponselnya, lalu tak mengatakan apa pun padaku, Om Tom memilih pergi dari sana.

Aku berdiri di dalam ruangan kerja pribadi Thomas Archer dan sekarang setelah dia mencium ku, dia meninggalkan ku dan menuju kepada istrinya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Om Tom, Kekasih Gelapku    LISA, TOM DAN MARTIN

    "Kau mencintai ku Lisa." "Sangat." Dan Lisa bersandar di dinding pintu, saat jaketnya merosot ke lantai dan meninggalkan gaun ungu lembut membalut tubuhnya. Tom berdiri di depannya, dia menjatuhkan tongkatnya dan tegak walau dengan kaki pincang yang terasa nyeri. "Ted bilang aku akan menyesal." "Persetan dengan Ted." Lisa mengalungkan tangannya di leher Tom sementara kedua tangan Tom berada di pinggang Lisa. Wajah mereka terlalu dekat sehingga napas satu sama lain terasa begitu jelas. "Bagaimana dengan Martin?" Lisa menunduk, perlahan lalu mengangkat kepalanya, "Ayah tidak akan tahu. Aku akan menikah dengan Lucas dan kita akan berada di atap yang sama. Namaku akan menjadi Lisa Archer. Dan kau ayah mertuaku." Sangat lembut, Tom dengan senyumnya bertanya, "Berjanjilah bahwa tidak akan ada yang tahu." "Tidak akan ada yang tahu." Lalu tangan yang tadinya berada di leher Tom kini terangkat ke kepala Thomas Archer, dia meremas rambutnya sembari berkata, "Sekarang, rasakan aku Tho

  • Om Tom, Kekasih Gelapku    MOMENT OF DISASTER

    Moment 3: Martin "Akun tidak yakin bahwa dia akan datang." Seorang pria berambut coklat dengan tubuh kekar duduk bersandar di ruang rapat. "Ini sudah setengah jama dan Thomas Archer belum tiba." "Dia hanya punya nama dan kita bekerja untuknya, dan sekarang kita menunggunya." "Bahkan saat dia datang, pasti dia hanya duduk, bicara singkat lalu pulang." Seseorang yang lainnya tertawa kecil dan mereka berhenti saat Martin Braun masuk ke dalam sana, ke ruang rapat. "Beliau belum datang?" Pertanyaan yang diberikan oleh Martin pada mereka yang dibalas gelengan. Martin menghela napas, mengecek ponselnya. Dia menatap nomor ponsel Tom tapi kembali menurunkan ponselnya. "Kenapa tidak dimulai saja tanpanya?" Seseorang mengusulkan. "Lagi pula perusahaan akan tetap jalan walau tidak ada dia. Yang penting hanyalah tanda tangannya, Pak Martin?" Martin tidak menjawab, memulai rapat tahunan tanpa pemilik sah adalah sesuatu yang tidak terhormat, pikirnya. Dia berjalan masuk ke area rapat dan dudu

  • Om Tom, Kekasih Gelapku    MOMENT BEFORE DISASTER 3

    Moment 2: Thomas ArcherPantulan wajah itu menua, bahkan saat dia sudah memotong rapih rambutnya yang sempat menebal. Cambangnya kini menghilang dan dia melangkah pelan, semakin dekat ke arah cermin.Telunjuknya menyentuh sisi mata yang menua, yang sudah berkerut menyadari bahwa dia tidak pantas. Setidaknya dalam beberapa menit dia merasa kelayakannya sudah hilang untuk menyentuh siapa pun selain istrinya. Tapi menyentuh Amanda pun terasa sulit sebab wanita itu sibuk dengan dunianya dan Tom perlahan hilang minat. Dia kembali mundur singkat, langkahnya pincang menuju nakas yang berdiri di samping ranjang saat dia meraih kacamata dan mulai mengenakannya. Penglihatannya lebih jelas, dan segera dia mengenakan rompi biru dongkernya dan meminta pembantunya untuk memesankan dia taksi online. Yang tidak lama akhirnya datang, saat berada di dalam mobil dia bicara pada si driver, "Apa bisa aku meminta jasa Anda setelah ini? Jam tiga sore kira-kira." "Jasa driver Tuan?" "Iya. Tapi Anda jug

  • Om Tom, Kekasih Gelapku    MOMEN BEFORE DISASTER

    Moment 1: Lisa Martin mengatakan kepadanya bahwa dia dan Tom akan ada rapat hari ini. Lalu gadis ini berkata, "Aku mungkin akan pulang malam, Ayah." Martin mengernyit ketika dia nyaris memasukkan sepatu mengkilatnya ke dalam kaki berkaos biru putih. "Kok? Kan kamu udah lulus, kenapa tidak istirahat? Atau kamu mau ketemu Lucas lagi?" Dia mengejek, apple cheek pria itu terlihat jelas memerah dan Lisa hanya menggeleng. "Aku mau ketemu teman, udah lama nggak ketemu mereka." "Okey." Martin berdiri tegak lalu keluar dari rumah, dia menghilang menuju rumah keduanya, tempat kerja. Pada jam dua belas siang, Lisa kembali ke kamarnya mencoba bermacam-macam gaun yang cocok di depan cermin. "Hmmm ... Dia suka warna ungu." Susah payah gadis itu merombak lemarinya hingga dia menemukan gaun warna ungu lembut yang sudah lama tidak dia kenakan. Dia mencobanya terlebih dahulu dan masih sangat pas untuk tubuhnya yang mulai mengurus. Tak lupa menyediakan lensa agar tak perlu menggunakan kacamat

  • Om Tom, Kekasih Gelapku    Chapter 64

    Lusa akan ada rapat di perusahaan, Martin baru saja mengirimkannya foto dia dan Lucas yang sekarang berada di rumah mereka, bersama dengan Lisa yang berada di tengah. Dia tidak merasakan apa pun, tidak bereaksi apa pun selain mematikan ponselnya dan duduk di kursi kayu di halaman depan mansion. Dia melakukan ini setiap kali dia ingin tenang. Dan kepalanya lebih dingin saat malam semakin gelap dan lampu-lampu mulai menyala. Dia juga melihat istrinya keluar dari mobil setelah seharian berada di tempat terapinya. Marc tampak setia di samping Amanda, membantu wanita itu berjalan dengan tongkat kaki empat. Marc bahkan mengantarnya hingga masuk ke dalam mansion. Mereka bahkan tak melihat Tom yang sejak tadi duduk di sana, sendirian dengan tongkat kayu dan mencoba untuk tidak memikirkan apa pun. Setelah tadi siang dia bicara dengan Richart dan sorenya dia bicara dengan Ted. Ted yang berada di apartemennya sendirian, hidup sendirian dan bahkan tidak ada yang tahu apakah dia punya seorang

  • Om Tom, Kekasih Gelapku    Chapter 63

    Tom: Aku sudah bicara dengan Richart. Dia setuju untuk mengaku dan dipecat secara tidak hormat dari kampus Aku menatap pesan itu, apa aku akan lega atau tidak, entahlah. Tapi saat ini aku masih berbaring di atas ranjang ku. Ku taruh kembali ponsel ku dan ku tarik selimut ku. Aku juga menunggu kedatangan Ayah bersama Lucas dan aku yakin mereka sedang berada di coffee shop dan sedang berbincang kayaknya calon ayah mertua dan calon menantunya. Dan ya bahkan hingga sore aku masih belum menemukan ayah, sampai akhirnya malam akan segera tiba dan aku mendegar pintu rumah terbuka. Ku lepas selimut ku, aku masih dalam kondisi berbaring di atas ranjang dengan tubuh telentang. Lalu ku gerakkan kaki ku dan aku segera duduk di atas ranjang, aku meminggir dan kaki ku menyentuh lantai. Segera aku menyalakan lampu dan dengan kaos longgar dan celana pendek longgar ku kenakan aku kemudian keluar dari kamar, berjalan malas menuruni anak tangga. "Kau pikir kenapa pria itu tiba-tiba mengaku? Astaga, i

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status