LOGINAku membalas pesan Lucas dengan menjawab, 'mungkin, kapan-kapan.' Lalu pulang dengan ayah yang terus bersemangat, kami baru pulang jam satu malam yang membuatku harus terjebak dengan Annie sepanjang malam.
Dan saat tiba di rumah, aku masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuh ku, menatap langit-langit dan berpikir, 'apa Lucas memang mau jalan sama aku?' aku bertanya pelan pada diriku sendiri dan tetap mencoba untuk bersikap normal. Tapi bagaimana dengan Tom? Apa dia memang memaksa untuk menghindar? Apa yang akan dia pikirkan jika tahu bahwa putra sulungnya meminta ku untuk jalan. Argh, sangat menyebalkan berada di posisi ini. Apalagi saat aku hendak ke kampus, ayah yang sedang demam meminta ku untuk melakukan sesuatu, aku kasihan padanya, Nyonya Davies yang sering mengurus rumah sekarang tidak datang karena anaknya sedang sakit. Sementara aku dan ayah harus mengurus rumah sendiri, lalu ayah demam, mungkin karena kelalahan. "Ada proyek baru untuk perusahaan, tapi ayah tidak masuk kantor, kau mungkin bisa membawanya ke rumah Tom." Aku menganga tipis, aku tidak bisa, aku betul-betul berusaha untuk menghindar dari Om Tom, aku tidak ingin melihatnya atau aku akan semakin gila padanya. "Tidak, aku tidak bisa Ayah." Aku menjawab ketus, ayah yang sedang bersandar dengan segelas jahe hangat di tangannya mengerutkan kening. "Lalu siapa yang akan aku suruh jika bukan kau? Proyek ini penting sekali. Tom yang tidak bisa ke kantor memaksaku mengerjakan semuanya dan aku kelelahan. Sekarang kau menolak membantu Ayah?" Aku menghela nafas danau tidak mau haruse dengarkan perintah ayah yang sedang sakit, dan sepulang dari kampus aku dengan gulungan kertas yang tentu hasil karya ayah dan flashdisk yang tentu berisikan proyek kini turun dari taksi lalu masuk ke area mansion keluarga Archer. Aku berdiri di pintu dan menekan bel yang tidak lama kemudian pintu terbuka. "Aku mencari Om Tom, apa dia ada?" Aku bertanya, seperti biasa pelayan rumah ini hanya mengangguk dan memundurkan tubuhnya. Dia berkata padaku, "Tunggu akan ku beritahu Tuan Archer." Aku hanya mengangguk dan menunggu di ruang tamu, duduk di sofa sambil menunggu Om Tom yang tidak datang sama sekali. Aku penasaran ke mana semua orang, Tante Amanda, Annie dan Lucas? Rumah besar ini terlihat seperti kastil Drakula yang kesepian. "Tuan Archer menunggu mu di ruangan pribadinya, kau bisa datang ke sana sekarang." Sontak aku berdiri dan menoleh setelah mendengar ucapan pelayan rumah yang sekarang menghilang. Aku tahu di mana ruangan Om Tom, rumah ini sudah cukup familiar bagiku dan dengan nafas yang berusaha aku atur, aku mulai berjalan ke arah tangga, mendaki anak tangga dan berjalan di lorong-lorong mansion. Kaki ku akhirnya berenti di pintu ruangan berwarna marun, ku ketuk pintu itu dan samar-samar terdengar, "Masuk." Pelan tangan ku membuka pintu dan aku melihat ruangan yang dicat coklat, klasik, dan menunjukkan arsitektur tenang, bau-bau kayu tercium cukup jelas dan aromanya sangat mirip dengan aroma tubuh Om Tom. Dia berdiri di samping meja dengan buku di tangannya, lalu saat menyadari kedatangan ku dia menaruh bukunya dan berjalan ke depan, ke depan meja, bersandar di sana, dengan tangan kanan yang memegangi tongkat kayu. Aku sengaja menyisakan celah di pintu karena jika aku menutup pintu sepenuhnya maka aku akan mati karena rasa canggung berduaan dengan Om Tom di ruangan yang sama. "Hai Lisa." Dia menatap ku dari jarak yang cukup jauh, aku hanya berdiri kikuk di tengah ruangan sambil memegangi gulungan kertas panjang dan flashdisk milik ayah. "Aku membawa proyek—" "Taruh saja di meja, aku akan melihatnya nanti. Dan kita punya sesuatu yang harus kita bahas." Mataku terangkat, memandangnya lekat-lekat lalu aku menaruh kertas gulungan itu di atas meja Om Tom. "Aku senang kalau Om Tom baik-baik saja." Aku mencoba bersikap hangat, aku tersenyum padanya dan dia mengabaikan ku. Om Tom kini duduk di atas mejanya, menatap ku dan aku berdiri sedikit dekat ke arahnya, nyaris begitu dekat. "Apa ada yang lain yang ingin kau katakan?" Om Tom bertanya, aku tidak bingung dengan apa yang dia maksud aku hanya mencoba terlihat bingung. "Apa maksud Om Tom?" Om Tom tersenyum tipis ke arah ku, lalu dia turun dari mejanya, berjalan setengah pincang dengan bantuan tongkat kayu yang hanya seukuran dengan pinggangnya. "Lisa." Langkahnya semakin dekat dan aku rasa aku tidak bisa menghindar, dia berhenti hanya sejengkal di hadapan ku. "Apa ada yang ingin kau katakan kepadaku?" Aku menelan saliva ku, lalu mengangkat pandangan ku padanya, berusaha untuk tetap tenang, dan berkata dengan percaya diri. "Mengenai apa yang terjadi di rumah sakit, bahwa aku mencium Om Tom, itu semua hanya salah paham, aku tidak berniat atau—" Apa ini? Aku terdiam, terkunci di tempat ku berdiri saat Om Tom dalam sekejap menjatuhkan bibirnya padaku, dia membungkuk untuk mencium ku?"Kau mencintai ku Lisa." "Sangat." Dan Lisa bersandar di dinding pintu, saat jaketnya merosot ke lantai dan meninggalkan gaun ungu lembut membalut tubuhnya. Tom berdiri di depannya, dia menjatuhkan tongkatnya dan tegak walau dengan kaki pincang yang terasa nyeri. "Ted bilang aku akan menyesal." "Persetan dengan Ted." Lisa mengalungkan tangannya di leher Tom sementara kedua tangan Tom berada di pinggang Lisa. Wajah mereka terlalu dekat sehingga napas satu sama lain terasa begitu jelas. "Bagaimana dengan Martin?" Lisa menunduk, perlahan lalu mengangkat kepalanya, "Ayah tidak akan tahu. Aku akan menikah dengan Lucas dan kita akan berada di atap yang sama. Namaku akan menjadi Lisa Archer. Dan kau ayah mertuaku." Sangat lembut, Tom dengan senyumnya bertanya, "Berjanjilah bahwa tidak akan ada yang tahu." "Tidak akan ada yang tahu." Lalu tangan yang tadinya berada di leher Tom kini terangkat ke kepala Thomas Archer, dia meremas rambutnya sembari berkata, "Sekarang, rasakan aku Tho
Moment 3: Martin "Akun tidak yakin bahwa dia akan datang." Seorang pria berambut coklat dengan tubuh kekar duduk bersandar di ruang rapat. "Ini sudah setengah jama dan Thomas Archer belum tiba." "Dia hanya punya nama dan kita bekerja untuknya, dan sekarang kita menunggunya." "Bahkan saat dia datang, pasti dia hanya duduk, bicara singkat lalu pulang." Seseorang yang lainnya tertawa kecil dan mereka berhenti saat Martin Braun masuk ke dalam sana, ke ruang rapat. "Beliau belum datang?" Pertanyaan yang diberikan oleh Martin pada mereka yang dibalas gelengan. Martin menghela napas, mengecek ponselnya. Dia menatap nomor ponsel Tom tapi kembali menurunkan ponselnya. "Kenapa tidak dimulai saja tanpanya?" Seseorang mengusulkan. "Lagi pula perusahaan akan tetap jalan walau tidak ada dia. Yang penting hanyalah tanda tangannya, Pak Martin?" Martin tidak menjawab, memulai rapat tahunan tanpa pemilik sah adalah sesuatu yang tidak terhormat, pikirnya. Dia berjalan masuk ke area rapat dan dudu
Moment 2: Thomas ArcherPantulan wajah itu menua, bahkan saat dia sudah memotong rapih rambutnya yang sempat menebal. Cambangnya kini menghilang dan dia melangkah pelan, semakin dekat ke arah cermin.Telunjuknya menyentuh sisi mata yang menua, yang sudah berkerut menyadari bahwa dia tidak pantas. Setidaknya dalam beberapa menit dia merasa kelayakannya sudah hilang untuk menyentuh siapa pun selain istrinya. Tapi menyentuh Amanda pun terasa sulit sebab wanita itu sibuk dengan dunianya dan Tom perlahan hilang minat. Dia kembali mundur singkat, langkahnya pincang menuju nakas yang berdiri di samping ranjang saat dia meraih kacamata dan mulai mengenakannya. Penglihatannya lebih jelas, dan segera dia mengenakan rompi biru dongkernya dan meminta pembantunya untuk memesankan dia taksi online. Yang tidak lama akhirnya datang, saat berada di dalam mobil dia bicara pada si driver, "Apa bisa aku meminta jasa Anda setelah ini? Jam tiga sore kira-kira." "Jasa driver Tuan?" "Iya. Tapi Anda jug
Moment 1: Lisa Martin mengatakan kepadanya bahwa dia dan Tom akan ada rapat hari ini. Lalu gadis ini berkata, "Aku mungkin akan pulang malam, Ayah." Martin mengernyit ketika dia nyaris memasukkan sepatu mengkilatnya ke dalam kaki berkaos biru putih. "Kok? Kan kamu udah lulus, kenapa tidak istirahat? Atau kamu mau ketemu Lucas lagi?" Dia mengejek, apple cheek pria itu terlihat jelas memerah dan Lisa hanya menggeleng. "Aku mau ketemu teman, udah lama nggak ketemu mereka." "Okey." Martin berdiri tegak lalu keluar dari rumah, dia menghilang menuju rumah keduanya, tempat kerja. Pada jam dua belas siang, Lisa kembali ke kamarnya mencoba bermacam-macam gaun yang cocok di depan cermin. "Hmmm ... Dia suka warna ungu." Susah payah gadis itu merombak lemarinya hingga dia menemukan gaun warna ungu lembut yang sudah lama tidak dia kenakan. Dia mencobanya terlebih dahulu dan masih sangat pas untuk tubuhnya yang mulai mengurus. Tak lupa menyediakan lensa agar tak perlu menggunakan kacamat
Lusa akan ada rapat di perusahaan, Martin baru saja mengirimkannya foto dia dan Lucas yang sekarang berada di rumah mereka, bersama dengan Lisa yang berada di tengah. Dia tidak merasakan apa pun, tidak bereaksi apa pun selain mematikan ponselnya dan duduk di kursi kayu di halaman depan mansion. Dia melakukan ini setiap kali dia ingin tenang. Dan kepalanya lebih dingin saat malam semakin gelap dan lampu-lampu mulai menyala. Dia juga melihat istrinya keluar dari mobil setelah seharian berada di tempat terapinya. Marc tampak setia di samping Amanda, membantu wanita itu berjalan dengan tongkat kaki empat. Marc bahkan mengantarnya hingga masuk ke dalam mansion. Mereka bahkan tak melihat Tom yang sejak tadi duduk di sana, sendirian dengan tongkat kayu dan mencoba untuk tidak memikirkan apa pun. Setelah tadi siang dia bicara dengan Richart dan sorenya dia bicara dengan Ted. Ted yang berada di apartemennya sendirian, hidup sendirian dan bahkan tidak ada yang tahu apakah dia punya seorang
Tom: Aku sudah bicara dengan Richart. Dia setuju untuk mengaku dan dipecat secara tidak hormat dari kampus Aku menatap pesan itu, apa aku akan lega atau tidak, entahlah. Tapi saat ini aku masih berbaring di atas ranjang ku. Ku taruh kembali ponsel ku dan ku tarik selimut ku. Aku juga menunggu kedatangan Ayah bersama Lucas dan aku yakin mereka sedang berada di coffee shop dan sedang berbincang kayaknya calon ayah mertua dan calon menantunya. Dan ya bahkan hingga sore aku masih belum menemukan ayah, sampai akhirnya malam akan segera tiba dan aku mendegar pintu rumah terbuka. Ku lepas selimut ku, aku masih dalam kondisi berbaring di atas ranjang dengan tubuh telentang. Lalu ku gerakkan kaki ku dan aku segera duduk di atas ranjang, aku meminggir dan kaki ku menyentuh lantai. Segera aku menyalakan lampu dan dengan kaos longgar dan celana pendek longgar ku kenakan aku kemudian keluar dari kamar, berjalan malas menuruni anak tangga. "Kau pikir kenapa pria itu tiba-tiba mengaku? Astaga, i







