LOGIN“Bali? Kamu serius akan mengajakku ke Bali? Whoa! Mimpi apa aku semalam?” tanya Eleni gembira.“Benarkah? Mengapa kamu tidak mengatakannya padaku?” Emiko ikut bertanya.Tanpa banyak bicara, Zayn hanya menunjukkan layar ponsel yang menampilkan e-tiket perjalanan ke Bali dengan business class.“Ck! Boros sekali! Bali itu dekat. Mengapa harus kelas bisnis?” ujar Eleni menyembunyikan rasa senangnya.“Agar aku bisa duduk berduaan dengan Emiko,” jawab Zayn menarik dagu istrinya paksa dan mencium bibirnya.“Astaga! Apa aku akan menjadi obat nyamuk! Pastikan aku mendapat kamar hotel dengan dinding yang tebal agar tidak mendengar suara-suara kalian saat bermesraan!” ujar Eleni sambil mengipasi wajahnya yang merona.Zayn dan Emiko hanya tertawa geli untuk menanggapi.“Kapan kita berangkat? Aku harus menyelesaikan pekerjaan dulu,” tanya Emiko.“Besok pagi. Hm, kita mungkin harus membawa pekerjaan ke sana. Liburan kali ini khusus untuk menghibur Eleni,” jawab Zayn.“Wah! Mengharukan! Terima kasih
“Zayn, kamu tadi juga melihatnya, bukan? Apa Riko tadi kesandung sesuatu? Apa yang membuatnya terpental? Aku hanya mendengar suara teriakan peringatan yang membuatku menoleh, lalu melihat seseorang berputar sampai tergeletak di lantai dan tidak bisa bangun lagi. Kejadiannya secepat cahaya. Sungguh membingungkan,” ujar Eleni menyambung perkataannya.Gadis itu masih mengunyah seraya menampilkan raut wajah kebingungan.“Entahlah. Aku hanya fokus pada Brian yang tiba-tiba mengeluarkan benda tajam. Untungnya tidak mengenaimu,” jawab Zayn masih melirik ke arah istrinya yang tetap diam.“Bagaimana keadaannya sekarang? Apa tadi kamu memanggil ambulans untuk menolong Riko?” tanya Eleni membuat Emiko bernapas lega karena pembicaraan telah teralihkan.Mata elang Zayn melihat respons Emiko, tetapi pertanyaan Eleni membuatnya refleks menjawab, “Apa kamu masih mengkhawatirkan laki-laki itu?”“Tidak tidak! Hm, aku hanya … takut kita akan disalahkan,” jawab Eleni lirih.“Aku sudah mengurus semuanya.
“Perempuan gila! Apa kamu siluman? Tiba-tiba datang tak diundang. Jangan kamu kira aku akan takut! Pergi sana! Jangan ikut campur masalah kami!” Dengan susah payah dan dalam keadaan terbaring di atas aspal, Riko berteriak memaki Emiko.Tubuhnya terasa seperti sudah tidak pada tempatnya lagi. Sakit bukan gambaran yang tepat karena laki-laki itu merasa sedang berada di ambang kematian dan hidup.“Huft!” Emiko meniup poninya dan memutar bola matanya malas. “Dasar licik! Bisanya main sembunyi-sembunyi untuk menyerang dari belakang. Bangunlah kalau masih mampu!”“Argh! Siapa kamu! Aku akan menuntutmu atas serangan yang kamu lakukan.” Riko masih saja marah walaupun badannya sulit digerakkan.“Tuntut saja! Siapa takut?” jawab Emiko.Di sisi lain, Zayn sudah berhasil membuat Brian melepaskan benda tajam yang dibawanya. Laki-laki itu mendadak lemas saat melihat Riko tidak berdaya. Pun dia lupa tujuannya ingin menyakiti Eleni.“Riko! Bangun, woi! Bercandamu tidak lucu!” Brian berjalan perlahan
Raut wajah terkejut yang sangat kentara itu membuat kemarahan Eleni kembali memuncak.“Eleni? Mengapa kamu ada di sini?” Brian buru-buru mendekati gadis yang dikiranya masih berstatus sebagai kekasih itu.Eleni buru-buru mundur dan mengangkat kedua tangannya. “Stop! Cukup jelaskan dari posisimu itu, mengapa kamu menjalin hubungan denganku? Berapa upah yang kamu dapatkan dari laki-laki itu untuk membalas dendam?”“Sayang! Ayolah! Jangan menuduhku begitu!” ujar Brian membuat gadis itu seketika bergidik.“Jangan berani memanggilku dengan sebutan sayang! Itu menjijikkan!” jawab Eleni dengan tatapan tajam.“Baiklah!” Brian masih saja berusaha melangkah perlahan untuk mendekati gadis itu.“Aku bilang berhenti! Jangan mendekatiku!” teriak Eleni histeris.“Eleni, tenangkan dirimu! Mari kita bicara di unit apartment milik Riko! Bisa kamu lihat, di sini ada banyak orang,” jawab Brian seraya mengedarkan pandangan ke sekitar. Akan tetapi, laki-laki itu segera menghentikan perkataannya, karena ter
“Zayn?!”Emiko dan Eleni kompak melebarkan netranya karena sangat terkejut dengan kehadiran laki-laki itu.“Jangan bergerak dan jangan turun dari mobil! Aku akan duduk di bangku penumpang bagian belakang,” ujar Zayn dengan tatapan tajam ke arah Eleni yang seakan telah lupa caranya berkedip.Pun Emiko sampai belum menutup mulutnya yang sedikit terbuka sambil mengikuti arah pergerakan Zayn.Hanya dalam hitungan detik, Zayn sudah duduk di bangku penumpang bagian belakang dan segera bergeser ke tengah.“Zayn ….”“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Zayn dengan tatapan ke arah Eleni, karena gadis itu yang tadi sudah mengirimkan pesan untuk meminta izin.“Aku … itu ….” Tatapan Zayn yang mengintimidasi membuat Eleni tidak bisa berkata-kata.“Zayn, kami sedang mengintai ….”“Riko. Apa kamu mengabaikan peringatan Oma Rosa?” Zayn masih saja menatap Eleni dengan raut wajah marah.“Bukan begitu ….”“Zayn, tolong dengarkan penjelasan kami dulu!” ujar Emiko berusaha menengahi pembicaraan antara
Emiko sudah terbiasa melihat seseorang yang tadinya terlihat tenang, berubah menjadi penuh emosi. Jadi, dia sama sekali tidak terpengaruh oleh kilat kemarahan Eleni saat menceritakan secara detail tentang kekasihnya itu.“Makanan ini terlalu lezat untuk dinikmati dengan hati yang kesal. Makanlah terlebih dahulu! Setelah perut kenyang, pikiran akan bekerja dengan baik.” Emiko berkata.Perlu waktu sebentar bagi Eleni untuk menenangkan diri, sebelum gadis itu melanjutkan makan.“Apa kamu pernah menangani kasus rumit seperti yang aku alami?” tanya Eleni.“Banyak yang lebih rumit. Meskipun begitu, aku tidak bisa mengatakan bahwa masalah yang kamu alami ini sepele atau tidak, sebab setiap orang memiliki batas kerumitan masing-masing,” jawab Emiko.Eleni hanya mengangguk-angguk sambil berusaha mengeluarkan tulang ikan yang tidak sengaja ikut masuk ke dalam mulut.“Ngomong-ngomong, apa yang kamu katakan pada suamiku untuk meminta izin?” tanya Emiko.“Aku hanya mengatakan akan menculikmu untuk







