Home / Romansa / PAID LOVE / ONE NIGHT STAND

Share

ONE NIGHT STAND

Author: TISYAMAN
last update publish date: 2021-04-08 22:26:44

Perawat membuka pintu yang bertuliskan nama Dr. Daniel Aksara. Laura mengangguk segan dan menebar senyum kepada perawat yang sudah membukakan pintu untuknya. 

Sikap urakan Laura masih kental, saat berada ditengah orang banyak. 

Perlahan Laura masuk ke dalam ruangan, dan langsung duduk tanpa permisi kepada dokter yang tengah berdiri menghadap nakas di belakang meja kerja. 

"H-halo, Dok." Sapa Laura bingung. 

Dokter yang berperawakan tinggi besar itu berbalik badan, untuk melihat pasien yang akan diperiksanya. 

Brugh! 

Laura langsung terperanjat saat melihat sosok lelaki berjas putih, yang menggunakan dalaman kemeja berwarna navy blue. 

"Laura?" ucap dokter Daniel yang terkejut dengan kehadiran Laura. 

Saat itu juga Laura beranjak dari kursi. Namun langkah Laura terlalu lambat. Dokter Daniel langsung menahan tangan Laura. 

"Jangan pergi!" Daniel menahan Laura sebelum ia keluar dari ruangan. 

Namun disaat Laura dan Daniel tengah shock, tiba-tiba Raline masuk ke dalam ruangan. 

"Mama?" Raline nampak kebingungan dengan posisi tangan Laura yang dipegangi oleh dokter. "Ada apa, Ma?" tanya Raline khawatir. 

"Ah, Mama cuma kaget aja. K-kamu bisa tunggu diluar dulu?" Laura berkilah. 

"Mama yakin?" 

Daniel yang tersadar langsung melepaskan tangannya dari Laura. 

"Mama mu tadi takut diperiksa. Karena itu aku berusaha menahannya," timpal dokter Daniel. 

"Baiklah. Tapi untuk hasil pemeriksaannya, Raline harus tau ya?" kata Raline menatap lekat ke arah Laura. 

Laura mengangguk dengan senyum yang terpaksa. 

Raline beranjak keluar dari ruangan. Lalu menunggu Laura di depan ruangan tempat Mamanya sedang diperiksa. Ada rasa khawatir di dalam benak Raline, saat melihat Laura dipegang oleh dokter Daniel. Dokter yang jelas-jelas baru, Raline lihat. Namun Raline berusaha tetap tenang dan berpikir positif. Kepercayaan Raline kepada Laura, sangat patut diacungi jempol. 

"Kamu tahu aku seorang dokter. Disini kamu pasien, jadi aku akan profesional," ujar Daniel menenangkan Laura. "Duduklah." 

Wajah Laura seketika tertunduk malu. 

Begitu juga dengan dokter Daniel. Wajah mereka berdua sama-sama memerah. Ada perasaan malu dan canggung di antara keduanya. Namun Daniel tetap bersikap profesional sebagai seorang dokter. Dokter tampan berusia 38 tahun itu, mulai melakukan pemeriksaan kepada Laura. Dengan perasaan sangat canggung, Laura mengkonsultasikan kesehatannya. Terutama hal yang sering dialaminya akhir-akhir ini di bagian perut. 

FLASHBACK …  

CLUB HOUSE MONALISA. 

Laura tengah berada di sebuah kamar hotel. Mengenakan kaos hitam polos dan jeans panjang berwarna biru dongker. Saat itu Laura masih berusia 19 tahun. Duduk diatas tempat tidur berukuran king size, Laura tengah menanti lelaki yang menginginkan keperawanannya. 

Di usia 19 tahun, Laura melepas keperawanannya demi uang. Demi menyambung hidup yang terluntang lantung di kerasnya kehidupan di Ibukota. Sebelumnya Laura hanya dipekerjakan untuk menemani lelaki hidung belang di ruang karaoke, club house yang dimiliki Mami Monalisa. Namun karena usia Laura sudah cukup matang, barulah Mami Lisa menawarkan uang kepada Laura dengan menjual keperawananya. 

Dengan polosnya Laura menyetujui tawaran gembong germo kelas kakap itu. Mami Lisa menjual keperawanan Laura dengan harga 100 juta. Sebelumnya Mami Lisa sudah memastikan jika Laura memanglah masih perawan. Jadi tidak ada kekecewaan bagi pelanggan yang sudah membayar mahal untuk itu. 

Kriet … Pintu kamar hotel terbuka. Seorang lelaki yang masih terlihat muda masuk ke dalam kamar. Kemeja yang dikenakan lelaki itu tampak berantakan. 

Laura yang sudah dilatih untuk full service, langsung menghampiri pelanggan pertama yang beruntung mendapatkan keperawanannya. Dengan tanggap Laura membantu lelaki itu masuk ke dalam kamar hotel. 

Laura melepaskan kemeja lelaki yang belum pernah dikenal sebelumnya. 

"N-namamu siapa?" tanya lelaki itu terbata-bata.

"Laura," jawabnya sambil tersenyum manis. "Kamu?" tanya Laura kemudian. 

"Panggil aku dokter saja," ucap lelaki yang baru saja dilantik sebagai dokter umum di salah satu rumah sakit swasta. 

"Baiklah." 

Laura menjawab seadanya dan hanya bisa tunduk patuh kepada pelanggan pertama yang membayar mahal dirinya. 

"Tapi sebelumnya aku tidak pernah melakukan hal ini. Maksudnya aku belum pernah menikah dan tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya," jelas lelaki yang ternyata bernama Daniel Aksara. Namun lelaki itu memilih merahasiakan nama dan identitas aslinya. 

"Aku sudah tahu semua masalahmu. Kamu sendiri juga sudah tahu 'kan, kalau aku juga pertama kali melakukan ini?" Ungkap Laura  suasana. Meskipun dirinya sendiri terlihat canggung. 

"Maaf." Ucap Daniel dengan wajah tertunduk.

Laura tersenyum tenang mendengar kata sederhana yang keluar dari mulut pelanggannya itu. 

"Kamu mau minum dulu?" tanya Laura beranjak menuju meja kecil yang sudah tersedia dua botol wine. 

"Jangan." Daniel menahan Laura. 

"Aku ingin malam ini kita seperti sepasang pengantin baru. Kamu bisa 'kan?" minta Daniel dengan wajah bersemu merah. 

Laura tersenyum patuh. 

"Bisa kita memulainya di kamar mandi?" mintanya lag. Daniel canggung namun dia berani menuntut. 

Laura mengangguk patuh saja. Di depannya adalah uang yang sangat banyak. Dia sudah tidak peduli dengan keperawanan lagi. 

Daniel melepaskan kancing kemejanya, tetapi Laura menahannya. Perempuan muda itu, mengambil momen awal. Seperti permintaan pelanggannya, Laura menjadi akan menjadi seperti seorang pengantin perempuan. 

Satu persatu kancing kemeja dibuka oleh Laura perlahan. Malam itu Laura hanya menggunakan riasan tipis, karena memang wajahnya sudah cantik natural. Belum lagi wajah blasterannya cukup kental dan menggoda banyak lelaki yang melihat paras cantik dan seksi itu.

Laura menanggalkan pakaian Daniel bagian atas, menyisakan celana bahan di bagian bawah. 

"Buka saja," titah Daniel. 

Laura tunduk patuh. Dilepaskannya celana hitam bahan milik pelanggannya itu dengan wajah memerah padam. Dia malu, layaknya kepiting yang baru direbus. Perlahan tapi pasti, semua kain terlepas dari tubuh Daniel. Laura cukup hebat untuk pemula. 

Beruntung Laura mendapatkan lelaki tampan dan gagah untuk pertama kalinya. Setidaknya Laura tidak rugi memuaskan lelaki yang memiliki wajah tampan seperti Daniel. Belum lagi usianya masih muda. Sama-sama pertama kali melakukan hubungan intim. Perjaka dan perawan. 

Laura membalut handuk putih di bagian pinggul Daniel. 

Tanpa membuang waktu, Daniel mencium lembut pipi Laura. Kemudian menjatuhkan bibirnya ke pelipis mata. Lalu terjun ke bibir seksi milik Laura. 

Laura merasakan sebuah kekecewaan dari pelanggannya itu. Sebuah perasaan marah yang tertahan. Entah apa yang sedang dihadapi lelaki yang rela membuang uang demi mendapatkan mahkota seorang PSK bernama Laura Ansara. 

Bak seorang profesional, Laura menekan penuh ciuman mesra yang dimulai oleh Daniel. Laura membuka kesempatan kepada lelaki itu untuk menjelajah di dalam mulutnya. Tubuhnya meremang hebat. Ia menggelinjang gelisah. 

Perlahan namun pasti, Daniel mulai merasakan hawa panas disekujur tubuhnya. Tangannya mulai liar, memegang pinggul Laura. Kemudian melepaskan kancing jeans yang masih Laura pakai dengan utuh. 

Laura merasa jika Daniel kebingungan melepaskan jeans sambil merekatkan bibir bersamaan. Tangan Laura turun mengambil alih, melepaskan pakaiannya. Sebuah lingerie hitam terpasang di tubuh Laura saat luarannya terlepas. 

Saat sadar jika Laura sudah menanggalkan jeans, Daniel melepaskan ciuman panasnya. Nafas Daniel terengah-engah setelah bertahan dalam lumatan keduanya. Keduanya sama-sama bernafas tersengal. Jantungnya memburu. 

Ada sesuatu yang menyembul di balik handuk. Semakin lama makin menegan dan menantang. Ia melihat lingerie yang dipakai Laura. Daniel memutuskan untuk menggunakan tangannya sendiri untuk melepaskan kaos hitam yang masih melekat di tubuh Laura. 

Sebuah pemandangan awam, muncul di hadapan Daniel. Cukup bagus untuknya menelusupkan wajahnya ke dada seorang PSK yang terlihat sangat indah dan seksi itu. 

"Nanti saja ke kamar mandi," minta Daniel gemetaran. 

Laura mengangguk sambil melepaskan lilitan yang menghalangi pemandangan Daniel. Jelas perempuan itu paham akan arah pandangan pelanggannya. 

"Aku saja," lanjut Daniel menawarkan diri. 

Laura membalikkan badan, seolah mengerti maksud Daniel.

*****

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PAID LOVE   BEGINNING

    “Kita mau kemana? Kan aku cuma bilang 30 menit, gak lebih!” Tanya Raline saat menyadari arah mereka pergi. “Aku lapar, mau makan.” Gavin menyahut seadanya. “What!?!” Raline terheran dengan tingkah lelaki di sebelahnya itu. Laju kemudi mobil begitu santai, bahkan tergolong pelan bagi Raline. “Vin, kita sudah sepakat untuk tidak saling bertemu lagi!” Crrriiiitt! Gavin membanting stir mobilnya mendadak. Menghentikan laju mobil seketika. Sontak Raline menutup rapat kedua matanya. Memegangi kencang lengan Gavin reflek. “GAVIN GILA!!!” “Kata siapa kita tidak akan bertemu lagi? Bagaimana bisa aku tidak bertemu denganmu? Bahkan dengan keadaan seperti ini, aku tidak tenang membiarkanmu sendirian.” Deg! Jantung Raline seperti dihantam batu keras. Desir darahnya mengalir perlahan. Entah kata-kata bagian mana yang membuatnya seketika mematung. Menatap teguh Gavin yang terlihat sendu menatap wajahnya. Ia merasakan tangan itu memegangi pipinya yang memerah padam. “Sehari gak bikin orang khaw

  • PAID LOVE   ISU PERSELINGKUHAN

    “Buat Raline agar bisa bekerja denganku. Jadikan dia asisten pribadiku.” “Rupanya anda belum puas menyakiti orang yang begitu menghargai anda sebagai lelaki. Dia sudah cukup banyak berjuang untuk hidupnya. Setidaknya tinggalkan dia tanpa menyakiti perasaannya,” ungkap Gasari mencoba untuk tetap tenang. “Disisiku dia akan lebih aman. Lakukan saja perintahku.” “Hm! Tidak selamanya kehidupan ini bisa sesuai dengan keinginan dan ego sendiri Tuan Gavin. Permisi,” pamitnya meninggalkan ruangan. Huft! Gasari menahan segala emosinya. Sesaat meninggalkan gedung tinggi milik Gavin, Gasari bergegas pergi kembali ke rumahnya. Rumah dimana Jelita, tinggal setelah diusir oleh suaminya, Hardian. Dimana Gasari lah yang memegang rahasia keluarga Hardian tentang Raline yang merupakan anak kandung dari Jelita. ***“Buat anak itu kesulitan menghadapi semua bantuan dari Jelita. Jangan biarkan anak itu menerima semua bantuan apapun dari Jelita. Laporkan apa saja yang dia lakukan, tanpa terkecuali deng

  • PAID LOVE   RAHASIA BESAR KELUARGA

    “Katakan padaku, itu anak siapa!” Teriak Hardian kepada istrinya. “Bisa bisanya setelah puluhan tahun kamu bilang itu anak kita? MUSTAHIL!” Sanggah Hardian tidak menerima perkataan istrinya sendiri. “Maafkan aku, tapi dia memang anak kita. Aku memang salah, tapi kenyataannya memang begitu sayang. Raline adalah anak kandung kita,” ujar Jelita dengan isak tangis. “TIDAK MUNGKIN!” Tolak Hardian mentah-mentah. “Apa dia anak lelaki miskin itu? Lelaki yang kamu cintai dulu?” Tanyanya memastikan. “Tidak, Raline memang anak kandung kita. Bukan anak orang lain! Kamu harus percaya sayang.” Brugh! Hardian mendorong Jelita agar menjauh darinya. Dunianya serasa runtuh, setelah pernikahan mereka hampir 33 tahun. Seorang lelaki berusia 57 tahun itu sulit menerima kenyataan yang terjadi. “PERGI! PERGI DARI RUMAH INI SEKARANG JUGA JELITA!!!” ***** “Kenapa kalian amat sangat tidak profesional seperti ini? Bukankah aku tinggal tanda tangani kontrak kerja ini saja? Kenapa tiba-tiba kalian malah ca

  • PAID LOVE   FINAL DIVORCE

    Membencinya ternyata hanya membuatku semakin membuat hatiku semakin tergila gila olehnya. Aroma tubuh bahkan setiap titik tanda di tubuh serta bekas luka fisiknya pun aku mengetahui posisinya. Bahkan saat mencintainya pun membuat perasaan ini membuatku takut akan membuat hatinya kembali terluka. -Gavin Jika mimpi itu benar terjadi sekarang, maka aku anggap ini adalah hadiah bunga tidurku paling membahagiakan. Dianggap gila dan bodoh pun aku nikmati keduanya tanpa mencela kegilaanku ini. Aku menyukai setiap sentuhan dan menikmati hal tergila setelah luka paling sakit di dunia ini. Apa aku sanggup berjalan jika ini benar benar menjadi hal tergila terakhir bagi hidupku yang masih saja memikirkannya? -Raline “Aku akan mengabulkan permintaanmu, tapi berjanjilah dengan apa yang akan aku lakukan setelahnya, kamu tidak boleh menghindarinya apalagi menolak keberadaanku.” Gavin menyerahkan surat perceraian yang sudah diberikan tanda tangannya. “Apa lagi yang perlu harapkan dariku yang ingin

  • PAID LOVE   21+ MIMPI GILA YANG JADI NYATA

    Hari dimana harusnya aku bahagia menjadi seorang wanita satu satunya milik Gavin, adalah waktu bersamaan dimana aku merasa dilecehkan oleh suamiku sendiri. Menjaga semua tubuh ini hanya untuk lelaki yang aku cintai, tapi malah dimakan habis oleh lelaki yang menyentuhku tanpa perasaan sama sekali. Dan, aku tidak akan pernah melupakan luka di hari itu. “Tidurlah bersamaku malam ini.” Wajah pasrah dan penuh harapan malam ini adalah kesempatan terakhir bagi Gavin untuk memperbaiki segalanya. “Aku akan memperbaiki segalanya, terutama sikap kasarku terakhir kali kita bersentuhan.” Aliran darah Raline seakan mengalir tanpa hambatan. Panas sekujur tubuh saat mendengar semua ucapan yang terdengar gampang sekali diucapkan oleh lelaki yang menoreh luka di hidupnya. “Gav, berhenti melakukan hal yang tidak bisa lagi untuk kita perbaiki. Aku sudah terlalu lama berdiam dan menunggu semua kejelasan status, bahkan hidupku selama ini tidak jelas arahnya akan kemana? Aku kesulitan Gav, kamu harusnya

  • PAID LOVE   21+ PERASAAN YANG BELUM SELESAI

    Wangi bunga bermekaran, lembut dan nyaman sekali untuk dihirup. Aroma tubuh yang masih sama dengan orang yang itu itu saja. Kulitnya yang sebelumnya putih bening, sekarang berubah lebih tan. Tampak glossy dan begitu menggoda. “Ah, sial! Berdirinya terlalu cepat!” Gavin membatin. “Aku lapar, boleh aku minta kamu memasak sesuatu untuk ku?” Pinta Gavin. “Tapi di depan tadi ada chef yang menyambut kita. Kenapa harus aku yang masak sih?” Gerutu Raline. “Aku maunya masakan dari tangan kamu, nanti aku bantu kamu memasak.” “Sakit bukannya istirahat, malah banyak minta request,” ocehnya tanpa sebab. “Aku bikin sup aja ya?” Gavin mengangguk manja. “Aku bantu ya?” “NGGAK PERLU YA, GAVIN MAHESWARI!” Dengan cekatan Raline mencoba mencari dapur yang cukup jauh dari kamar tempat Gavin beristirahat. “Ini rumah apa lapangan gold, sih? Terlalu luas untuk kami berdua.” Argh! “Raline stop! Jangan mikir hal hal gila disaat seperti ini. Aku sudah menyiapkan perceraian, jadi please otak! Berhenti b

  • PAID LOVE   SAHABAT KECIL

    Belum sempat Raline berterima kasih, Devin sudah berada di depan bersiap untuk turun dari bus. Tidak lama bus kembali melaju, Raline merasakan ada yang mengganjal di atas tempat duduknya. Raline me

  • PAID LOVE   IDOLA RALINE

    Gavin memiringkan senyumnya dengan tatapan tajam mengarah ke wajah Raline. Saat Gavin melangkahkan kakinya, sontak membuat Raline memundurkan posisinya menjauh. "K-kamu mau apa? Jangan macam-macam.

  • PAID LOVE   PLAYBOY KELAS KAKAP

    Ups! Decak Aletta sengaja menubruk tubuh Raline. “Hahaha!" Gelak tawa siswa-siswi lain riuh menertawakan si cupu nan malang Raline.

  • PAID LOVE   BENCI

    Keesokan harinya.Raline bersiap seperti biasa. Mengubah wajah cantiknya menjadi jelek, sebelum keluar dari rumah. Lalu mengen

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status