Home / Romansa / PAK BOS MAU CLBK / 36 - Ini Bukan Mimpi

Share

36 - Ini Bukan Mimpi

Author: Siez
last update publish date: 2026-08-23 10:10:05

Sinar matahari gurun Las Vegas yang super terang dan super panas menyelinap masuk melalui celah gorden tebal suite mewah itu, membentuk garis-garis cahaya keemasan di atas karpet mahal yang masih berantakan dengan pecahan botol wiski semalam.

Di atas kasur king size di kamar kecil milik Rachel, dua orang manusia sedang tertidur dalam posisi yang sangat mesra. Rachel Vels tertidur pulas dengan dress hitamnya yang masih terpasang sedikit kusut dengan rambutnya yang berantakan menutupi seba
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PAK BOS MAU CLBK   98 - Kita Harus Pergi

    Rachel sudah tidak tenang hatinya sejak melihat Gerard di dalam rumah sakit.Sejak pertemuan dua meter di depan kaca NICU tadi, sejak Gerard memanggilnya Venetta, sejak Gerard bertanya siapa Rachel, jantung Rachel berdegup tidak karuan, ia sangat takut kalau nantinya Gerard akan mengingat dirinya dan akhirnya mengambil anaknya.Apalagi ada Tamara dan Elena di rumah sakit yang sama. Di koridor yang sama. Hanya sepuluh meter dari NICU anaknya.Rachel yang masih duduk di kursi roda di depan kaca NICU, dengan perban operasi sesar yang masih perih, dengan infus yang masih menempel di tangan, dengan mata bengkak, langsung menarik lengan Vincent yang berdiri di belakang kursi rodanya."Vin... Vin..." bisik Rachel dengan suara pelan, tapi panik.Vincent langsung berjongkok, sejajar dengan kursi roda Rachel."Iya, Rae? Kamu kenapa? Sakit perutnya? Jahitannya sakit? Aku panggil suster ya?"Rachel menggeleng cepat, air matanya langsung tumpah lagi."Bukan... bukan jahitannya, Vin... hati aku...

  • PAK BOS MAU CLBK   97 - Cucuku Kah?

    "Aku mau lihat... aku mau lihat siapa yang nangis..." kata Gerard dengan napas terengah.Ia ambil tongkat hitam berukir W yang bersandar di samping bed, berdiri dengan sempoyongan. Kepalanya masih sakit, tapi kakinya melangkah sendiri mengikuti suara tangisan itu, keluar dari ruang observasi, ke koridor sepi menuju NICU.Tamara dan Elena panik, ikut mengejar dari belakang."Gerard! Jangan jalan dulu! Kamu masih lemah!"Gerard tidak peduli. Ia berjalan tertatih dengan tongkat, mengikuti suara oeeeek... oeeeek... yang semakin jelas.Sampai di depan kaca besar NICU, ia berhenti.Di depan kaca itu, ada kursi roda. Di kursi roda itu, ada punggung wanita dengan rambut cokelat panjang yang berantakan, dengan baju pasien rumah sakit yang sobek di lutut, dengan tangan menempel di kaca.Punggung itu... sangat dikenal.Gerard berdiri di belakang kursi roda itu, dengan jarak dua meter, dengan tongkat di tangan, dengan jantung berdebar sangat cepat."Venetta?" panggilnya pelan, dengan suara serak.

  • PAK BOS MAU CLBK   96 - Little Vels

    Ruang operasi itu hening, hanya diisi deru napas tertahan dan bunyi monitor yang berpacu cepat. Di atas meja operasi, Rachel berjuang di antara dua dunia. Napasnya tersengal, wajahnya pucat, kedua tangannya mencengkeram seprai dengan sisa tenaga. "Tekanan darahnya turun! Siapkan transfusi!" seru dokter jaga. "Detak jantung janin melemah, Dok!" Tim dokter tidak punya pilihan lain. Dengan persetujuan keluarga yang gemetar di luar, keputusan itu diambil dalam hitungan detik. Beberapa menit yang terasa seperti jam berlalu, hingga akhirnya — sebuah tangisan kecil, tipis dan lemah, memecah keheningan itu. Oeeeek... oeeeek... Bayi itu lahir. Di usia kandungan tujuh bulan, dengan berat yang belum genap, kulitnya masih kemerahan dan keriput. Prematur. Namun hidup. Paru-parunya bekerja. Tangisannya adalah tanda bahwa ia berhasil sampai ke dunia. "Bayinya selamat. Prematur, tapi stabil. Bawa ke NICU sekarang," ucap dokter dengan lega, meski dahinya masih dibasahi keringat. Rache

  • PAK BOS MAU CLBK   95 - Siapa Venetta?

    Monitor jantung di Bed 3 berbunyi keras. Tututututut!Nadi Gerard naik ke 185, tidak teratur."Mr. Winston! Mr. Winston! Tarik napas! Tenang!" kata dokter, panik.Tapi Gerard tidak bisa tenang. Kepalanya sakit luar biasa, seperti ada film yang diputar cepat di dalam kepalanya. Bayangan wanita hamil baju pengantin seperti menghantui dirinya sendiri. Rasanya seperti terus berputar dan tak mau diam saja."Rachel... Venetta... wanita hamil... baju pengantin..." gumam Gerard dengan mata setengah terbuka, menatap tirai biru tipis di sebelahnya yang bergoyang karena angin AC."Rachel itu siapa... siapa..."Gerard sangat berpikir keras. Ia mencoba mengingat semuanya. Tapi sulit. Ingatannya seperti tak bisa berkompromi dengan keadaannya sekarang. Yang ada, dia hanya sakit kepala dan dadanya sakit karena denyut jantungnya semakin kencang

  • PAK BOS MAU CLBK   94 - Rachel Vels

    Di waktu yang sama - Di jalan raya yang berbeda - 30 menit sebelumnyaDi dalam mobil SUV hitam W-Hotel yang melaju kencang dari Newport menuju New York, Gerard duduk di kursi belakang bersama Elena. Tamara ada di mobil lain di belakang, bersama Dr. Arasto.Gerard sudah dijemput jam delapan pagi tadi sesuai janji, setelah kabur ke Millfield pagi-pagi. Ia sudah kembali ke hotel, sudah mandi, sudah ganti baju. Tapi wajahnya masih pucat, kepalanya masih berdenyut sejak melihat Rachel, eh Venetta, di Kara Farm pagi tadi."Sayang, kamu pucat banget, kamu kenapa?" tanya Elena sambil memegang tangan Gerard.Gerard tidak menjawab. Ia menatap jendela mobil, menatap hutan yang sama yang tadi pagi ia lewati dengan truk pickup petani. Hutan tempat bus Greyhound itu sekarang terguling.Tiba-tiba saja, tepat di perba

  • PAK BOS MAU CLBK   93 - Dibawa Ambulans

    Suara benturan keras memecah keheningan hutan malam. Bus Greyhound yang besar ditabrak dari depan samping oleh sedan hitam yang melaju 100 km/jam. Kaca depan bus pecah berhamburan. Badan bus oleng ke kanan, menabrak pembatas jalan, lalu terguling miring ke parit kecil di pinggir jalan pegunungan.Jeritan penumpang terdengar."Aaaaaa!!!"Rachel yang sedang bersandar di bahu Vincent, langsung terlempar ke depan, kepalanya membentur bangku depan. Tapi kedua tangannya langsung refleks memegangi terus perutnya, melindungi perutnya dengan seluruh tenaga. Entah bisa atau tidak, yang pasti Rachel berusaha melindungi anak di dalam kandungannya."Bayi aku... bayi aku..." teriak Rachel dengan suara kesakitan, memegangi perutnya erat, tidak peduli lututnya berdarah karena tergores besi bangku.Bus berhenti terguling miring, mesin masih menyala, asap keluar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status