LOGINRachel tidak menjawab. Ia hanya duduk di genangan air hujan, basah kuyup, melihat ambulans yang membawa Gerard pergi menjauh dengan sirene yang meraung-raung.
Pada saat itulah, Rachel tahu bahwa ia harus benar-benar pergi. Malam ini juga.
Pukul empat pagi. Hujan sudah reda.
Ambulans telah pergi. Mobil mewah keluarga Winston telah pergi. Gang sempit di Bronx itu kembali sepi.
Rachel masuk ke dalam apartemennya dengan tubuh yang basah kuyup. Ia membangunkan ibu dan ayahnya yang masih tertidur karena mabuk.
"Bu, Ayah, kita pergi sekarang," kata Rachel dengan suara yang sangat tenang, tetapi matanya kosong.
"Rachel, kamu kenapa? Kamu basah kuyup, Nak "
"Kita pergi dari New York malam ini juga, Bu. Aku sudah melunasi semua utang Ayah. Semua bunganya juga sudah aku lunasi. Aku masih punya sisa uang untuk kita menyewa apartemen kecil di Boston. Aku sudah diterima kerja sambilan di sana. Kita mulai hidup baru, ya, Bu? Tanpa utang, tanpa rentenir, tanpa kenangan di sini."
Rachel menunjukkan bukti transfer dari cek seratus ribu dolar itu. Ia telah pergi ke ATM 24 jam di tengah hujan tadi dan melunasi semuanya. Semua utang judi ayahnya sebesar $87.000, plus bunga $10.000, telah ia lunasi. Sisanya digunakan untuk biaya pindah dan hidup selama di Boston.
Maria Vels menangis dan memeluk putrinya. Ia tidak mengerti apa yang terjadi, tetapi ia tahu putrinya telah melakukan pengorbanan yang sangat besar.
Setengah jam kemudian, sebuah taksi tua berhenti di depan gedung itu. Rachel, Maria, dan Frank yang masih linglung, membawa dua koper besar yang berisi seluruh hidup mereka. Mereka masuk ke dalam taksi itu.
Sebelum taksi itu pergi, Rachel menoleh untuk terakhir kalinya ke arah apartemen kosong itu. Apartemen yang menjadi saksi bisu cinta pertamanya dan juga kuburan cinta pertamanya.
"Selamat tinggal, Ger," bisiknya pelan, sebelum taksi itu melaju pergi meninggalkan Bronx dan meninggalkan semua kenangan tentang Gerard Winston.
Di Rumah Sakit Presbyterian, Manhattan.
Gerard terbangun dengan rasa sakit yang menusuk di kepalanya. Cahaya putih dari lampu rumah sakit yang terang menyilaukan matanya. Bau obat-obatan yang menyengat menusuk hidungnya.
Ia mencoba untuk duduk, tetapi sebuah tangan yang lembut menahannya.
"Gerard, Sayang, jangan bangun dulu. Kamu masih lemah."
Itu ibunya, Tamara Winston. Wajah wanita yang biasanya sangat angkuh dan tidak pernah menangis itu kini sembap dan penuh air mata.
"Anakku... kamu sudah sadar... Ya Tuhan, terima kasih..."
Gerard menatap sekeliling. Ia berada di ruang VIP rumah sakit yang sangat mewah. Di lengannya terpasang selang infus. Di samping tempat tidurnya, ada monitor detak jantung yang berbunyi bip... bip... bip...
Ingatannya perlahan kembali. Hujan. Apartemen Bronx. Pintu yang terkunci. Pukulan dari ayah Rachel. Rachel yang menangis di balik pintu.
"Rachel?" tanya Gerard dengan suara serak. "Di mana Rachel?"
Tamara terdiam. Ia memeluk putranya lebih erat.
"Rachel tidak ada di sini, Sayang. Lupakan saja wanita itu. Dia bukan yang terbaik untuk kamu, Gerard. Ibu sudah bilang—"
"DI MANA RACHEL?!"
Gerard tiba-tiba berteriak dengan suara yang sangat keras hingga para perawat di luar terkejut. Dengan kasar, ia mencabut selang infus dari lengannya sendiri hingga darah menyembur keluar.
"Gerard! Apa yang kamu lakukan?! Kamu masih sakit!"
"Aku harus ke Rachel! Aku harus bertemu Rachel!"
Tamara mencoba menahan putranya, tetapi Gerard mendorong ibunya dengan kasar. Itu adalah pertama kalinya dalam hidupnya, Gerard mendorong ibunya.
"JANGAN SENTUH AKU! SEMUA INI GARA-GARA KAMU! KAMU YANG MEMBUAT RACHEL SEPERTI ITU!"
Dengan hanya mengenakan baju pasien rumah sakit yang tipis, dengan darah yang masih menetes dari lengannya dan pelipisnya yang diperban, Gerard berlari keluar dari rumah sakit. Ia mengabaikan teriakan ibunya, teriakan para perawat, dan para pengawal yang mencoba mengejarnya.
Ia berlari ke jalanan Manhattan yang masih basah setelah hujan. Ia memberhentikan sebuah taksi dengan paksa.
"Bawa aku ke Bronx! 1234 Park Avenue! CEPAT!"
Di dalam taksi, tubuh Gerard menggigil. Bukan karena dingin, melainkan karena takut. Takut bahwa firasat buruknya akan menjadi kenyataan.
Taksi itu berhenti di depan gang sempit itu. Gerard berlari secepat yang ia bisa, kakinya yang masih lemah hampir membuatnya terjatuh beberapa kali. Ia tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang melihat seorang pasien rumah sakit berlari dengan pakaian pasien di tengah jalan.
Ia tiba di depan Apartemen 3B.
Pintu apartemen itu terbuka sedikit.
Hati Gerard sedikit lega. "Rachel? Rachel, aku datang—"
Ia mendorong pintu itu dengan penuh harapan.
Dan harapannya hancur berkeping-keping.
Apartemen itu kosong.
Kosong melompong.
Tidak ada kasur tipis di lantai. Tidak ada meja belajar kecil Rachel yang penuh dengan buku-buku bekas. Tidak ada foto keluarga yang dulu tergantung di dinding. Tidak ada bau masakan Ibu Maria. Tidak ada apa-apa. Hanya debu dan lantai kayu yang lapuk.
Mereka telah pergi. Rachel telah pergi bersama kedua orang tuanya. Ia benar-benar menepati janjinya untuk pergi dari New York dan tidak pernah kembali lagi.
"RACHEL!"
Gerard berteriak. Teriakannya itu begitu keras, begitu putus asa, hingga menggema di seluruh gedung apartemen kosong itu.
"RACHEL! DI MANA KAMU! JAWAB AKU!"
Ia berlutut di tengah ruangan kosong itu. Baju pasiennya kotor karena debu. Darah dari infusnya menetes ke lantai. Ia memukul-mukul lantai kayu itu dengan tinjunya.
"KENAPA KAMU PERGI! KENAPA KAMU MENINGGALKAN AKU!"
"Tidak... jangan tinggalkan aku... aku mohon... Rachel..."
Teriakan Gerard berubah menjadi isakan yang menyayat hati. Seorang pewaris miliarder, yang selama ini hidup dengan segala kemewahan, kini berlutut di lantai apartemen petak yang kotor dan kosong, menangis seperti seorang anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya.
Ngin... ngin... ngin...Sirine ambulans putih North Country Hospital meraung memecah jalan raya Route 7 yang sepi. Mobil-mobil pickup petani Vermont menepi memberi jalan. Di dalam ambulans, suasananya tegang dan dingin ber-AC.Gerard terbaring di tandu dengan selang oksigen di hidung, mata masih terpejam, wajah pucat. Di sampingnya, Elena duduk memegang tangan Gerard erat, coat bulu putihnya masih kotor lumpur Millfield di bagian bawah, tapi ia tidak peduli. Tangannya yang satu memegang ponsel, mencoba menelepon dengan tangan gemetar.Tim paramedis di depan fokus menyetir cepat."Tekanan darah 150/95, agak tinggi. Nadi 98. Saturasi 96. Stabil tapi sinkop," kata paramedis kepada partnernya.Elena mendengar itu langsung menelepon.Akhirnya Gerard sampai di rumah sakit bersama dengan Elena. Ambulans berhenti di depan IGD kecil North Country Hospital di Newport, rumah sakit yang bangunannya hanya dua lantai, jauh berbeda dengan Mount Sinai di Manhattan yang gedungnya 20 lantai.Pintu IGD
Ibu Kara yang baru sampai, ia melihat Rachel berdiri di ambang pintu dengan perut besar terlihat jelas, langsung menarik tangan Rachel masuk ke dalam gudang, ke balik tumpukan karung pakan ayam yang tinggi."Rae! Masuk! Masuk dulu, Nak! Jangan di sini! Nanti perempuan itu lihat kamu!"Ibu Kara memeluk Rachel erat, menyembunyikan tubuh Rachel yang gemetar di balik karung."Bu... Gerard... dia pingsan, Bu," bisik Rachel dengan suara putus-putus, menangis di bahu Ibu Kara."Ibu tahu, Nak. Ibu lihat. Tapi kamu jangan keluar, Nak. Kamu janji tidak mau memperlihatkan wajah, kan? Kalau kamu keluar sekarang, semua janji kita gagal, Nak. Bayi kamu bisa ketahuan, Nak."Rachel mengangguk di dalam pelukan Ibu Kara, tapi matanya tetap mengintip dari celah karung pakan, melihat Gerard dari kejauhan.Vincent berdiri mematung, melihat dua wanita yang mencintai pria yang sama, dalam versi yang berbeda, berada di tempat yang sama tapi tidak bisa saling mendek
"TOLONG!" teriak Vincent dengan suara yang memecah seluruh lembah Millfield. Teriakan panik, teriakan takut, teriakan orang yang merasa bersalah karena hampir saja membongkar kebenaran."Gerard! Hei! Bangun! Gerard!"Tidak ada jawaban. Napas Gerard pendek-pendek, tidak teratur. Wajahnya yang biasanya pucat karena terlalu banyak kerja di ruangan AC, sekarang pucat kebiruan. Bibirnya mulai kering.Elena yang sedang jongkok di kandang ayam dengan sarung tangan plastik, sedang menjelaskan kepada tim quality control tentang standar kebersihan W-Hotel, mendengar teriakan Vincent."Gerard?"Ia menoleh. Telur organik yang sedang ia pegang untuk difoto, jatuh dan pecah di tanah. Kuning telur premium yang harganya lima dolar per butir di New York, pecah begitu saja.Begitu melihat Gerard tergeletak, Elena langsung berlari."Sayang! Ya Tuhan!"Ia berlari dengan rok span hitam dan coat bulu putih, dengan boots mahal yang haknya tingg
Vincent menatap Gerard, menatap tongkat hitam berukir W itu, menatap cara Gerard berdiri yang masih tertatih."Serius? Kamu tidak kenal aku?" tanya Vincent bingung."Apakah kita pernah bertemu sebelumnya, Pak Vincent?""Harusnya kamu kenal aku. Kita pernah ketemu. Kenapa sekarang kamu seperti tidak kenal sama sekali?" Vincent benar-benar heran.Gerard menghela napas. Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan, ia jujur kepada orang asing tanpa disuruh Zack atau Tamara."Aku amnesia. Setelah kecelakaan beberapa bulan lalu. Sejak itu aku tidak ingat apa-apa. Tidak ingat masa lalu." jelas Gerard.Vincent mengangguk pelan. Wajah tegangnya berubah menjadi prihatin."Oh... jadi begitu. Pantas..."Gerard menatap Vincent lekat-lekat."Jadi, kamu kenal aku? Apakah kita sangat dekat?" tanya Gerard, suaranya mulai pelan tapi menekan.Vincent menggeleng cepat, mencoba terlihat santai."Aku han
Elena yang tidak menyadari ketegangan itu tersenyum lebar dan melambai ke Gerard."Sayang, sini! Ini dia peternakannya! Bagus kan? Udara segar banget kan?"Gerard berjalan pelan dengan tongkat, mendekati Vincent yang masih melotot."Hi, selamat siang. Kalian dari Kara Farm?" sapa Gerard dengan suara tenang, suara CEO yang dingin, tanpa tahu bahwa pria di depannya adalah orang yang selama ini menjaga wanita yang ia mimpikan setiap malam.Vincent masih tidak bisa berkata-kata.Setelah sapaan awal yang canggung, Elena langsung masuk ke mode profesional. Ia mengeluarkan clipboard, memberi isyarat ke tim quality control untuk mulai foto-foto kandang, cek suhu cooler, dan ambil sampel telur langsung dari sarang."Oke, kita mulai dari kandang ayam ya. Saya mau lihat kebersihan, sirkulasi udara, dan pakan," kata Elena sambil memakai sarung tangan plastik.Tim quality control langsung menyebar. Ibu Kara dan Pak Osborn mengikuti Elena dengan se
Elena turun dari armrest, jongkok di depan Gerard, memegang kedua lutut Gerard dengan lembut."Ayolah, sayang. Sekali saja. Biar sekalian refresh otak.""Refresh otak?""Iya. Kamu sejak operasi itu selesai dan kamu pulih, kamu terlalu sibuk. Terlalu lelah. Kamu kerja setiap hari, Senin sampai Minggu. Tidak pernah libur. Ayahku juga bilang kamu butuh udara segar, bukan hanya AC kantor."Gerard diam, tidak menjawab.Elena melanjutkan, dengan suara yang dibuat selembut mungkin."Setidaknya bisa melihat alam, sayang. Aku sudah cek di sekitar Vermont banyak tempat yang menarik. Ada hutan maple yang daunnya masih merah, ada danau yang beku, ada peternakan-peternakan kecil yang cantik. Bisa melepaskan penat. Kamu kan suka alam, sayang. Dulu waktu di Wharton kamu suka hiking, kan?"Gerard menatap Elena. Kata hiking terasa asing. Ia tidak ingat pernah suka hiking. Semua cerita tentang Wharton terasa asing. Tapi kata alam, kata melepaskan penat







