Home / Romansa / PAK BOS MAU CLBK / 6 - Apartemen Yang Kosong

Share

6 - Apartemen Yang Kosong

Author: Siez
last update publish date: 2026-07-23 12:40:01

Rachel tidak menjawab. Ia hanya duduk di genangan air hujan, basah kuyup, melihat ambulans yang membawa Gerard pergi menjauh dengan sirene yang meraung-raung.

Pada saat itulah, Rachel tahu bahwa ia harus benar-benar pergi. Malam ini juga.

Pukul empat pagi. Hujan sudah reda.

Ambulans telah pergi. Mobil mewah keluarga Winston telah pergi. Gang sempit di Bronx itu kembali sepi.

Rachel masuk ke dalam apartemennya dengan tubuh yang basah kuyup. Ia membangunkan ibu dan ayahnya yang masih tertidur karena mabuk.

"Bu, Ayah, kita pergi sekarang," kata Rachel dengan suara yang sangat tenang, tetapi matanya kosong.

"Rachel, kamu kenapa? Kamu basah kuyup, Nak "

"Kita pergi dari New York malam ini juga, Bu. Aku sudah melunasi semua utang Ayah. Semua bunganya juga sudah aku lunasi. Aku masih punya sisa uang untuk kita menyewa apartemen kecil di Boston. Aku sudah diterima kerja sambilan di sana. Kita mulai hidup baru, ya, Bu? Tanpa utang, tanpa rentenir, tanpa kenangan di sini."

Rachel menunjukkan bukti transfer dari cek seratus ribu dolar itu. Ia telah pergi ke ATM 24 jam di tengah hujan tadi dan melunasi semuanya. Semua utang judi ayahnya sebesar $87.000, plus bunga $10.000, telah ia lunasi. Sisanya digunakan untuk biaya pindah dan hidup selama di Boston.

Maria Vels menangis dan memeluk putrinya. Ia tidak mengerti apa yang terjadi, tetapi ia tahu putrinya telah melakukan pengorbanan yang sangat besar.

Setengah jam kemudian, sebuah taksi tua berhenti di depan gedung itu. Rachel, Maria, dan Frank yang masih linglung, membawa dua koper besar yang berisi seluruh hidup mereka. Mereka masuk ke dalam taksi itu.

Sebelum taksi itu pergi, Rachel menoleh untuk terakhir kalinya ke arah apartemen kosong itu. Apartemen yang menjadi saksi bisu cinta pertamanya dan juga kuburan cinta pertamanya.

"Selamat tinggal, Ger," bisiknya pelan, sebelum taksi itu melaju pergi meninggalkan Bronx dan meninggalkan semua kenangan tentang Gerard Winston.

Di Rumah Sakit Presbyterian, Manhattan.

Gerard terbangun dengan rasa sakit yang menusuk di kepalanya. Cahaya putih dari lampu rumah sakit yang terang menyilaukan matanya. Bau obat-obatan yang menyengat menusuk hidungnya.

Ia mencoba untuk duduk, tetapi sebuah tangan yang lembut menahannya.

"Gerard, Sayang, jangan bangun dulu. Kamu masih lemah."

Itu ibunya, Tamara Winston. Wajah wanita yang biasanya sangat angkuh dan tidak pernah menangis itu kini sembap dan penuh air mata.

"Anakku... kamu sudah sadar... Ya Tuhan, terima kasih..."

Gerard menatap sekeliling. Ia berada di ruang VIP rumah sakit yang sangat mewah. Di lengannya terpasang selang infus. Di samping tempat tidurnya, ada monitor detak jantung yang berbunyi bip... bip... bip...

Ingatannya perlahan kembali. Hujan. Apartemen Bronx. Pintu yang terkunci. Pukulan dari ayah Rachel. Rachel yang menangis di balik pintu.

"Rachel?" tanya Gerard dengan suara serak. "Di mana Rachel?"

Tamara terdiam. Ia memeluk putranya lebih erat.

"Rachel tidak ada di sini, Sayang. Lupakan saja wanita itu. Dia bukan yang terbaik untuk kamu, Gerard. Ibu sudah bilang—"

"DI MANA RACHEL?!"

Gerard tiba-tiba berteriak dengan suara yang sangat keras hingga para perawat di luar terkejut. Dengan kasar, ia mencabut selang infus dari lengannya sendiri hingga darah menyembur keluar.

"Gerard! Apa yang kamu lakukan?! Kamu masih sakit!"

"Aku harus ke Rachel! Aku harus bertemu Rachel!"

Tamara mencoba menahan putranya, tetapi Gerard mendorong ibunya dengan kasar. Itu adalah pertama kalinya dalam hidupnya, Gerard mendorong ibunya.

"JANGAN SENTUH AKU! SEMUA INI GARA-GARA KAMU! KAMU YANG MEMBUAT RACHEL SEPERTI ITU!"

Dengan hanya mengenakan baju pasien rumah sakit yang tipis, dengan darah yang masih menetes dari lengannya dan pelipisnya yang diperban, Gerard berlari keluar dari rumah sakit. Ia mengabaikan teriakan ibunya, teriakan para perawat, dan para pengawal yang mencoba mengejarnya.

Ia berlari ke jalanan Manhattan yang masih basah setelah hujan. Ia memberhentikan sebuah taksi dengan paksa.

"Bawa aku ke Bronx! 1234 Park Avenue! CEPAT!"

Di dalam taksi, tubuh Gerard menggigil. Bukan karena dingin, melainkan karena takut. Takut bahwa firasat buruknya akan menjadi kenyataan.

Taksi itu berhenti di depan gang sempit itu. Gerard berlari secepat yang ia bisa, kakinya yang masih lemah hampir membuatnya terjatuh beberapa kali. Ia tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang melihat seorang pasien rumah sakit berlari dengan pakaian pasien di tengah jalan.

Ia tiba di depan Apartemen 3B.

Pintu apartemen itu terbuka sedikit.

Hati Gerard sedikit lega. "Rachel? Rachel, aku datang—"

Ia mendorong pintu itu dengan penuh harapan.

Dan harapannya hancur berkeping-keping.

Apartemen itu kosong.

Kosong melompong.

Tidak ada kasur tipis di lantai. Tidak ada meja belajar kecil Rachel yang penuh dengan buku-buku bekas. Tidak ada foto keluarga yang dulu tergantung di dinding. Tidak ada bau masakan Ibu Maria. Tidak ada apa-apa. Hanya debu dan lantai kayu yang lapuk.

Mereka telah pergi. Rachel telah pergi bersama kedua orang tuanya. Ia benar-benar menepati janjinya untuk pergi dari New York dan tidak pernah kembali lagi.

"RACHEL!"

Gerard berteriak. Teriakannya itu begitu keras, begitu putus asa, hingga menggema di seluruh gedung apartemen kosong itu.

"RACHEL! DI MANA KAMU! JAWAB AKU!"

Ia berlutut di tengah ruangan kosong itu. Baju pasiennya kotor karena debu. Darah dari infusnya menetes ke lantai. Ia memukul-mukul lantai kayu itu dengan tinjunya.

"KENAPA KAMU PERGI! KENAPA KAMU MENINGGALKAN AKU!"

"Tidak... jangan tinggalkan aku... aku mohon... Rachel..."

Teriakan Gerard berubah menjadi isakan yang menyayat hati. Seorang pewaris miliarder, yang selama ini hidup dengan segala kemewahan, kini berlutut di lantai apartemen petak yang kotor dan kosong, menangis seperti seorang anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PAK BOS MAU CLBK   7 - Dunia Tanpa Rachel

    Gerard Winston masih berlutut di tengah lantai kayu yang berdebu itu. Pakaian pasien rumah sakitnya yang tipis sudah kotor, darah dari bekas infus di lengannya menetes pelan ke lantai, dan pelipisnya yang diperban kembali mengeluarkan darah segar."Rachel..."Namanya ia bisikkan seperti sebuah doa yang tidak pernah dijawab.Di luar, suara ambulans dan suara teriakan para pengawal keluarga Winston semakin mendekat. Tamara Winston yang panik karena putranya kabur dari rumah sakit, menyusul ke sana dengan wajah yang pucat pasi."Gerard! Anakku!"Tamara berlari masuk ke dalam apartemen kosong itu dan memeluk putranya dari belakang. Tubuh Gerard yang tinggi dan dulu selalu hangat, kini dingin dan gemetar seperti es."Sayang, ayo pulang. Kita pulang, ya? Lupakan wanita itu. Dia sudah pergi. Dia tidak pantas untuk kamu." tukas Tamara.Gerard tidak menjawab. Ia membiarkan ibunya memeluknya, tetapi matanya tetap kosong menatap sudut ruangan tempat dulu meja belajar kecil Rachel berada. Di sudu

  • PAK BOS MAU CLBK   6 - Apartemen Yang Kosong

    Rachel tidak menjawab. Ia hanya duduk di genangan air hujan, basah kuyup, melihat ambulans yang membawa Gerard pergi menjauh dengan sirene yang meraung-raung.Pada saat itulah, Rachel tahu bahwa ia harus benar-benar pergi. Malam ini juga.Pukul empat pagi. Hujan sudah reda.Ambulans telah pergi. Mobil mewah keluarga Winston telah pergi. Gang sempit di Bronx itu kembali sepi.Rachel masuk ke dalam apartemennya dengan tubuh yang basah kuyup. Ia membangunkan ibu dan ayahnya yang masih tertidur karena mabuk."Bu, Ayah, kita pergi sekarang," kata Rachel dengan suara yang sangat tenang, tetapi matanya kosong."Rachel, kamu kenapa? Kamu basah kuyup, Nak ""Kita pergi dari New York malam ini juga, Bu. Aku sudah melunasi semua utang Ayah. Semua bunganya juga sudah aku lunasi. Aku masih punya sisa uang untuk kita menyewa apartemen kecil di Boston. Aku sudah diterima kerja sambilan di sana. Kita mulai hidup baru, ya, Bu? Tanpa utang, tanpa rentenir, tanpa kenangan di sini."Rachel menunjukkan bu

  • PAK BOS MAU CLBK   5 - Kamu Pembawa Sial

    Pukulan itu mengenai pelipis Gerard. Gerard terhuyung ke belakang, hampir jatuh ke genangan air hujan. Darah segar langsung mengalir dari pelipisnya, bercampur dengan air hujan yang dingin."AYAH! APA YANG AYAH LAKUKAN!" Rachel yang mendengar keributan itu langsung membuka pintu dan menjerit histeris. Melihat Gerard yang berdarah dan basah kuyup, hati Rachel hancur berkeping-keping untuk kedua kalinya malam itu."GERARD!"Rachel ingin berlari dan memeluk Gerard, ingin membersihkan darah di pelipisnya, tetapi Frank mendorong Rachel kembali masuk ke dalam."Masuk kamu! Jangan pernah bertemu dengan anak ini lagi! Keluarga mereka sudah menghina kita! Mereka pikir kita bisa dibeli dengan uang!""Pergi kamu! Pergi dari sini, anak manja!" teriak Frank kepada Gerard, lalu ia membanting pintu apartemen itu dengan keras hingga seluruh gedung bergetar.Suara kunci pintu yang dikunci dari dalam terdengar.Maria Vels yang melihat semuanya hanya bisa menangis dan memeluk Rachel yang sudah terduduk

  • PAK BOS MAU CLBK   4 - Gerard Ke Apartemen Rachel

    Hujan turun dengan sangat deras di Bronx malam itu.Langit New York yang biasanya dihiasi cahaya lampu gedung-gedung pencakar langit, malam itu hanya berwarna hitam pekat dan kelam. Air hujan menghantam atap-atap seng apartemen murah dengan suara yang keras, mengalir menjadi sungai kecil di jalanan yang berlubang.Di depan pintu Apartemen 3B, sebuah gedung petak yang catnya sudah mengelupas dan lampunya yang berkedip-kedip, berdiri seorang pemuda.Pemuda itu adalah Gerard Winston.Pakaian yang ia kenakan basah kuyup. Jaket varsity kesayangannya yang berwarna biru tua itu sudah tidak lagi terlihat biru, melainkan hitam karena air hujan. Rambutnya yang biasanya tertata rapi, kini menempel lepek di dahinya. Wajahnya pucat, bibirnya membiru karena kedinginan, tetapi matanya... matanya masih menyala dengan api yang sama. Api cinta yang terluka, api kebingungan yang mendalam, dan api penolakan yang tidak bisa ia terima.Sudah tiga jam ia berdiri di sana.Setelah menerima pesan putus yang ke

  • PAK BOS MAU CLBK   3 - Kalimat Seperti Belati Yang Menusuk

    Selama satu menit penuh, tidak ada balasan. Tanda centang dua biru itu menunjukkan bahwa Gerard telah membaca pesannya, tetapi tidak ada balasan. Rachel bisa membayangkan dengan jelas apa yang terjadi di kantin kampus yang sudah hampir tutup itu. Gerard pasti sedang mengerutkan keningnya, menatap layar ponselnya dengan bingung, mengira bahwa pacarnya sedang melontarkan lelucon yang sama sekali tidak lucu.Gerard: Apa maksud kamu, Rachel? Jangan bercanda seperti ini. Aku tidak suka bercanda seperti ini.Gerard: Rachel? Jawab aku.Gerard: Sayang?Air mata Rachel kembali mengalir. Ia menggigit bibirnya yang sudah pecah-pecah sampai berdarah agar tidak mengeluarkan suara isakan yang keras. Ia harus lebih kejam. Ia harus menjadi pisau yang lebih tajam.Rachel: Aku tidak bercanda, Gerard. Aku bosan. Aku benar-benar bosan dengan kamu dan dengan hubungan kita.Rachel: Aku bertemu dengan ibumu hari ini. Mrs. Tamara Winston menemuiku di kantornya.Balasan Gerard kali ini lebih cepat.Gerard: AP

  • PAK BOS MAU CLBK   2 - Kita Putus!

    Apartemen petak di Bronx itu terasa lebih sempit daripada biasanya pada malam itu.Bau apek dari dinding yang lembap bercampur dengan bau alkohol murahan yang menyengat dari ruang tamu. Di luar jendela yang kacanya retak, suara sirene polisi New York meraung-raung, menjadi musik latar yang akrab bagi warga Bronx. Namun, bagi Rachel Vels yang sedang duduk bersila di lantai kamarnya yang dingin, dunia di luar jendela itu seolah-olah telah berhenti berputar.Di hadapannya, di atas lantai kayu yang sudah lapuk, tergeletak dua buah benda.Benda pertama adalah selembar cek dari Chase Bank. Cek itu tampak sangat bersih, sangat putih, dan sangat kejam. Di sudut kanannya, tertulis angka dengan tinta hitam yang tegas: $200.000. Di bawahnya, ada tanda tangan yang anggun dan tajam: Tamara Winston. Dua ratus ribu dolar. Jumlah yang tidak pernah dilihat Rachel seumur hidupnya. Jumlah yang bisa melunasi semua utang judi ayahnya, membiayai operasi katarak ibunya, dan membawa mereka pindah dari aparte

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status